Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 30-06-2009 |



Aku ikhlas membiarkannya… bahkan mendo’akannya… dan kuanggap ia sedang menjalankan tugas mulia. Sebagai orang yang sedang menjalankan tugas mulia, ia bisa kembali, bisa juga tidak akan pernah kembali. Tapi biarlah… setidaknya aku begitu merasakan kebahagiaan yang berselimutkan harapan. Kebahagiaan yang tiada duanya. Harapan yang bersemangat, hidup, dalam setiap detak langkah. Aku sangat berharap, ia kembali, dan bisa menggapai harapan itu. Jika tidak, aku tetap akan mencoba untuk berbahagia menyaksikan angin, air, bumi, langit, dan semuanya: mengetahui arti sebuah kesendirian dan betapa agung cinta yang sesungguhnya.

 

Kuhantar kepergiannya dengan ikhlas, meski diiringi deraian air mata… kuhantarkan, kuhantarkan dengan tatapan, hingga ia menghilang. Sejenak aku tertegun, karena sungguh tak kuasa untuk melangkah. Namun, aku harus kuat, bersemangat, membawa sepenggal kebahagiaan dalam harapan, melangkah maju hingga batas penghabisan…***

 

Soréang, 29 Juni 2009