Kategori: Sosok | Diterbitkan pada: 17-04-2009 |

Sejak memutuskan untuk terjun secara total menjadi pekerja seni, rupanya Marissa telah membaca isyarat akan kesuksesannya. Sejak dulu, Marissa sudah sangat berbakat untuk membaca bahasa isyarat. Buktinya, Marissa mendapat gelar Magister Humaniora dari Universitas Katolik Atmajaya, Fakultas (LTBI) Linguistik Terapan Bahasa Inggris, jurusan Psycholinguistics, dengan spesialisasi Pengajaran Bahasa Inggris untuk Anak-anak Tunarungu (bisu-tuli) dan selanjutnya Marissa pun bisa menuntaskan S-3, mendapat gelar Doktor dari Institut Pertanian Bogor, jurusan Pengelolaan Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup.
Marissa Haque namanya. Artis film yang berjaya pada tahun 1980-an. Mari kita tengok kiprahnya dalam dunia film. Misalnya pada film “Kembang Semusim” (1981), “Bawalah Aku Pergi” (1982), “Yang Tercinta”(1990), “Sepondok Dua Cinta” (1989), ”Biarkan Bulan Itu” (1987), “Dia Bukan Bayiku” (1986), “Sebening” (1985), “Matahari-Matahari” (1985) “Melintas Badai” (1985), “Yang Kukuh dan Yang Runtuh” (1984), “Tinggal Landas Buat Kekasih” (1984), “Kontraktor” (1984), “Serpihan Mutiara Retak” (1984), “Saat-saat Yang Indah” (1984), “Anak Suamiku” (1983), “Seandainya Aku Bisa Memilih” (1983), “Merindukan Kasih Sayang” (1983), “Asmaraku Asmaramu” (1983), “Hukum Karma” (1983), “Asmara Dibalik Pintu” (1983), “Tangkuban Perahu” (1982), “IQ Jongkok” (1982), “Bukan Istri Pilihan” (1982), dsb. Film “Yang Tercinta” menjadi nominasi untuk film terbaik dalam FFI 1991.
Marissa Haque juga membintangi beberapa judul sinetron, sepert ”Kembang Setaman” (1998), “Dibawah Purnama Aku Berdoa” (1997), “Masih Ada Kapal ke Padang” (1994), “Salah Sambung”(1993), “Jendela Hati”(1991), “Perempuan Perempuan” (1990). Sinetron “Perempuan Perempuan” menjadi nominasi untuk seri drama terbaik dalam Festival Sinetron I 1992.
Selain itu, Marissa juga adalah seorang model ternama. Ia pernah menjadi model untuk berbagai perusahaan nasional dan internasional, badan-badan pemerintah
Dari kiprahnya di dunia film dan model, Marissa telah banyak mendapatkan berbagai penghargaan. Pada tahun 1982 sampai dengan 1986, Marissa berturut0turut terpilih sebagai Aktris Terpopuler

Sukses menjadi aktris film, Marissa pun melanjutkan langkahnya menjadi seorang produser. Film dan sinetron pun diproduksinya, seperti “Sepondok Dua Cinta” (1989), “Yang Tercinta” (1990), “Kembang Setaman” (1998, 20 episode), “Gelang Besi” (1998, 14 episode), “Dibawah Purnama Aku Berdoa” (1997, 27 episode), “Antara Jakarta dan Perth I” (1996, 6 episode “Antara Jakarta dan Perth II” (1997, 12 episode),), “asih Ada Kapal Ke Padang” (1995, 15 episode), “Salah Asoehan” (1994, 6 episode), “Salah Sambung” (1993, 26 episode), “Tetanggaku Idolaku” (1992, 12 episode), “Perempuan-Perempuan” (1992, 2 episode). Sebagai produser dan penulis skenario “Salah Asoehan”, Marissa memperoleh tiga penghargaan dalam Festival Sinetron
Selain sinetron, Marissa pun membuat beberapa judul film dokumenter. Diantaranya Indonesian Women Blue Colar, untuk UI dan Kalyana Mitra (1997), “The Horse Dancers and the Sinden Singer” Sang Sinden dan Jaran Kepang (2003), “Almost Sunrise” (“Matahari Terbit Sebentar Lagi” )- tentang buruh pabrik kretek di Jawa Timur (2003), Ipung, Gadis Puisi (2003), Lastri, Gadis Photo Model (2003), Wiwiek, Berhasil Keluar dari Lokalisasi (2003), Lastri di Tuban (2003), “Lilies sang Sinden” (2003), Borobudur (2003), The Indonesia Shadow Puppet (2003), “Bodehi Puppeteers in Athens” (2002), “The Rite of The Mask” (Pertunjukan topeng Ikranegara) (2002), “There is Still a Hope” (“Masih Ada Asa”), tentang TKW di Hongkong (2002), dsb.
Marissa Haque dilahirkan di
Marissa menuntut ilmu di Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Jakarta, lalu melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta, jurusan Hukum Perdata; Program MFA di Universitas Ohio, Athens, AS, jurusan Film, Program MA di Universitas Ohio, Athens, AS, jurusan Televisi dan Space Communications / Satelit), Program Magister Manajemen di Universitas Gadjah Mada, jurusan HRO (Human Resource and Organizations). Marissa mendapat gelar Magister Humaniora dari Universitas Katolik Atmajaya, Fakultas (LTBI) Linguistik Terapan Bahasa Inggris, jurusan Psycholinguistics, dengan spesialisasi Pengajaran Bahasa Inggris untuk Anak-anak Tunarungu (bisu-tuli) dan gelar Doktor dari Institut Pertanian Bogor, jurusan Pengelolaan Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup.
Marissa sempat menjadi asisten Pengacara selama setahun, konsultan hukum, dosen tamu di berbagai universitas negeri dan swasta, guru pendidikan khusus tunarungu, dan akhirnya menjadi seorang pekerja seni. Selanjutnya Marissa pun tertarik untuk terjun ke dunia Politik, dengan alasan bahwa disana ia menemukan amanah yang harus dikerjakan, dan ada pembelaan yang harus dilakukan untuk masyarakat kecil, serta beribu-ribu tugas-tugas kemasyarakatan lainnya.
Karier politiknya langsung melesat ketika bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan terpilih sebagai anggota DPR-RI pada tahun 2004. Sebagai pendatang baru dikancah perpolitikan
Marissa yang merasa tidak pernah meninggalkan PDIP, pada awal januari 2007 kemudian diberhentikan keanggotaannya oleh Megawati Soekarnoputri karena ia menolak keputusan yang telah ditetapkan partainya yaitu mendukung Ratu Atut Chosiyah , SE binti Prof. Dr. Tb. Chasan Sochib menjadi Calon Gubernur Banten 2007 - 2012. saat itu, dalam pilkada Banten, 2006, ia menerima tawaran Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Sarikat Indonesia (PSI) untuk dicalonkan sebagai wakil gubernur Provinsi Banten. Marissa mendampingi Zulkiflimansyah sebagai kandidat wakil gubernur. Langkah tersebut dianggap bertentangan dengan kebijakan resmi PDI-P yang mendukung Penjabat Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Kemudian, PDI-P memperingatkannya, tetapi Marissa tidak mempedulikan. Marissa dipecat dari keanggotaan PDI-P dan resmi diberhentikan dari keanggotaannya di parlemen. Sejak 5 Januari 2007. Ia resmi bukan lagi anggota DPR-RI dari Partai PDI-Perjuangan. Posisinya sebagai anggota DPR-RI digantikan Wila Chandrawila Supriadi. Ini merupakan buntut kekalahannya dari Ratu Atut Chosiyah dan pasangan wakil gubernurnya.
Pada bulan Oktober 2007, Marissa menyatakan bergabung dengan PPP (Partai Persatuan Pembangunan) bersamaan dengan Paula Simangunsong dan pelantikan dilakukan di DPP PPP, Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat. Marissa diberikan amanah menjabat Ketua Bidang Lakmis ( Lembaga Keuangan Mikro Syariah ). Untuk calon anggota legislatif, Marissa menjadi caleg untuk daerah pemilihan
Kegiatan lain Marissa adalah menjadi Duta Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) yang populasinya tinggal 50-60 ekor diderah Ujung Kulon, Pandeglang, Provinsi Banten. Ia sangat aktif menyebarluaskan informasi pelestarian badak cula satu ini bersama lembaga dunia WWF. Dari kegiatan penyelamatan badak itu, ia kemudian mempelajari seluk-beluk ilmu hukum dan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup di PSL-IPB,
Pada bulan Oktober 2008, Marissa berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan S-3 nya dan mendapatkan gelar Doktor. Bersama alumni IPB lainnya dan beberapa wartawan Lingkungan Hidup Marissa kemudian turut mendirikan Yayasan Daun yang bergerak didalam hal menyuarakan pentingnya menjaga keseimbangan dan kelestarian hidup dalam konsep sustainable development (pembangunan berkelanjutan).
Marissa juga tercatat sebagai mahasiswi Pasca Sarjana FEB (Fakultas Ekonomi-Bisnis) – UGM (universitas Gajah Mada), Jakarta-Yogyakarta. Bersama Ikang Fawzi suaminya yang mengambil bidang berbeda Startegic Management, Marissa mengambil jurusan Human Resource and Organizations. Lebih jauh, Marissa adalah alumni Fakultas Linguistik Terapan Bahasa Inggris Universitas Katolik Atmajaya,
Beberapa jaringan radio di Jakarta dan
Selain aktif di PPP, Marissa juga berkegiatan di berbagai organisasi, seperti IKADIN Depok, status, sebagai Ketua Bidang Kehormatan; DPP MAI (Masyarakat Agrobisnis & agroindustri Indonesia) sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan; HKTI (Himpunan Keluarga Tani Indonesia) sebagai Anggota; PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) sebagai Anggota; PPFI (Persatuan Pengusaha Film Indonesia); KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam), status sebagai Anggota Pokja Hukum dan Pemerintah DN; DPP LPKD (Lembaga Pengembangan Kapasitas Daerah) sebagai Wakil Ketua.
Sebagai seorang Doktor, tentu saja Marissa pun suka menulis. Tulisannya dimuat di berbagai majalah, tabloid, koran, dengan topik ibu dan anak, keluarga dan masyarakat, agama, film, seni dan ilmu pengetahuan, perempuan dan politik. Misalnya di The
Diolah dari berbagai sumber oleh Dhipa Galuh Purba
terutama dari:
http://id.wikipedia.org/wiki/Marissa_Haque#Film
http://www.marissahaque.net




Marissa Haque itu pejuang sejati dan Kekasih allah. Indonesia butuh seribu dan sejuta orang perempuan setegar dia. Allahu Akbar!