Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 03-01-2008 |

iman-februari

Tak pernah ada bisa yang tahu, kapan dan di mana, ajal akan datang menjemput nyawa. Seperti yang telah dialami oleh Iman februari, seorang seniman muda yang tengah meniti karirnya dalam bidang seni Sunda. Pada usianya yang baru menginjak 25 tahun, Iman telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Inna Lillahi, Wa inna Illaihi Roziun.

 

Empat hari menjelang acara Revitalisasi Spirit tradisi/Parade Longser di STSI Bandung. Tepatnya hari kamis, tanggal 6 September 2001. Ketika delapan grup longser sedang giat-giatnya mempersiapkan diri untuk menggelar karyanya, Sanggar Seni Damar Bumi Citraloka terpaksa harus kehilangan salah seorang pemain andalannya. Iman Februari, telah meninggalkan dunia dengan penuh ketenangan. Penyakit tumor ganas yang dideritanya, baru diketahui oleh rekan-rekannya dalam hari-hari terakhir menjelang maut.

Siapa yang mengira, jika Iman telah sekian lamanya menyembunyikan sebuah penyakit yang sangat berat. Sebab dalam kesehariannya, pemuda kelahiran 14 Februari 1976 itu, begitu ceria dan selalu penuh dengan canda tawa. Tak pernah terlihat murung, atau menceritakan penderitaannya yang sangat memilukan. Semangat hidupnya begitu menggelora. Seakan Iman pun tak peduli dengan penyakitnya. Dia terus berjuang dengan tangannya sendiri. Mungkin Iman tak ingin membuat rekan-rekannya merasa bingung, apalagi turut memikirkan deritanya. Bahkan Iman selalu mencoba untuk tetap kelihatan sehat, segar dan bugar.

Iman lebih dikenal dengan nama ‘Ari’. Sebuah nama yang dibuat oleh dirinya sendiri. Dan nama itu begitu mengakar dalam kehidupannya sehari-hari. Wajahnya yang tampan, penampilannya yang sederhana, dan sikapnya yang berbudi, mengundang rasa simpatik diantara kalangannya. Tidak heran jika banyak rekan wanita, yang jatuh hati pada Iman. Tetapi Iman selalu menanggapinya dengan bijaksana. Tentu saja saat ini semuanya baru mengerti, mengapa Iman lebih memilih untuk menjadi seorang sahabat, daripada seorang kekasih terhadap teman wanita yang mencintainya.

Terjun dalam dunia kesenian, bagi Iman bukanlah hanya untuk mengisi hari-hari terakhirnya. Dia begitu serius dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari kesenian. Mengawali langkahnya, Iman menjadi aktor utama dalam longser yang diproduksi oleh ASV Production dan TVRI Bandung, diantaranya adalah longser yang berjudul; Digugu Ditiru, POH, Propokator, Telepon, Ngarumpak Hukum, dan Kasasar. Semuanya telah ditayangkan di layar kaca. Dan bukan hanya asal muncul saja, Iman pun mampu bermain dengan mulus dan lepas. Actingnya sangat bagus, sehingga Iman selalu mendapat casting sebagai pemeran utama. Bila sudah beracting komedi, Iman sanggup mengocok perut penonton dengan gaya-gaya komedinya yang sangat khas.

Iman pun pernah larut dalam berbagai garapan Sandiwara Sunda di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung. Diantaranya dengan LS. Ringkang Gumiwang, ketika mementaskan pagelaran ‘Hanoman Trigangga’. Bahkan tidak hanya sampai disana, perjalanan Iman pun dilanjutkan pada dunia sinetron. Dengan kemampuannya yang cukup bagus, Iman pernah bermain dalam sinetron Kian Santang (TVRI), Boboko (ESA Production- RCTI), dan berbagai garapan sinetron produksi Esa Production.

Bulan Agustus tahun 1999, Iman termasuk salah seorang pendiri Sanggar Seni Damar Bumi Citraloka (Komplek Bumi Panyileukan). Kemudian Iman pun berjuang dengan gigih dan tanpa pamrih, untuk turut memelihara dan melestarikan seni budaya Sunda. Dalam garapan longser pertama Damar BCL, yang berjudul ‘Naskah Proklamasi’, Iman berperan sebagai ‘Mang Amanta’, seorang tokoh orang tua yang kampungan. Didampingi oleh Ella Shintia, yang memerankan tokoh istrinya Mang Amanta. Hasilnya cukup memuaskan. Setidaknya, penonton di Gedung LandMark Convention Hall, sangat terkesan oleh pasangan Iman dan Ella.

Mungkin untuk yang pertama kalinya, Iman terjerat oleh cinta lokasi dengan Ella. Setelah dia harus mengalah demi temannya, untuk meninggalkan gadis yang dia cintai dengan setulus hatinya, Ika Maryana Wati. Walau bagaimana pun, Iman tetap meruapakan seoran laki-laki normal yang sangat manusiawi untuk jatuh cinta. Terlepas dari urusan penyakitnya yang selalu membayanginya dalam setiap saat.

Ari adalah lelaki baik hati,” Begitulah yang dikatakan oleh Ella, seraya mengusap air matanya yang menetes membasahi kedua pipinya.

Dia adalah laki-laki yang berjiwa besar.” Ika berkata dengan suara yang lirih. Kesedihannya tak bisa disembunyikan oleh raut wajahnya. Membuat saudara-saudara Iman pun tak dapat menahan isak tangisnya. Kepergian Iman, sungguh suatu cobaan yang sangat besar. Sebab Iman pun merupakan salah satu tulang punggung keluarga. Selama hidupnya, Iman tak hanya mengurusi dunia kesenian. Sampai pada titik kritis penyakitnya, Iman masih bekerja di sebuah perusahaan swasta Bandung. Sebagai tanda, bahwa Iman adalah sosok laki-laki yang tak lepas dari sebuah tanggung jawab.

Bukan hanya keluarganya yang merasa kehilangan Iman. Bukan pula hanya Ella Shintia dan Ika Maryana Wati. Seluruh rekan-rekannya mengalami perasaan yang hampir sama. Mungkin dikarenakan Iman, yang dalam kesehariannya selalu bersikap baik dan sangat humoris. Kejadiannya sungguh tiada terduga sama sekali, disaat karirnya sedang menanjak dengan cukup baik. Walau bagaimana pun, maut telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Tak ada yang bisa menawarnya. Sehingga tiada jalan lain, kecuali pasrah dan menerima segala kehendak Illahi.

Selamat jalan, Iman Ari Februari, semoga Alloh SWT mengampuni segala dosa-dosanya, menerima segala amal perbuatannya yang baik, dan semoga Iman ditempatkan pada tempat yang mulia di sisi-Nya, Amin Yaa Robbal ‘alamiin. Dan tak lupa, kepada seluruh keluarga yang ditinggalkannya pun, semoga tetap dalam ketabahan dan kesabaran, dalam menghadapi cobaan ini, Amin Ya Robbal ‘alamiin.***

 

DHIPA GALUH PURBA