Kategori: Suatu Hari | Diterbitkan pada: 19-12-2008 |

Komplek Bumi Panyileukan, Bumi harapan, Permata Biru, dan beberapa daerah lainnya di kawasan Bandung Timur terendam banjir. Tidak terkecuali Ranggon Panyileukan, banjir di tahun ini begitu ganas. Saya pun berusaha menyelamatkan barang-barang sebelum semuanya melebur musnah. Saya tidak punya barang-barang mewah kecuali buku-buku yang sangat berarti bagi hidup saya.
Solusinya adalah pindah ke wilayah yang datarannya lebih tinggi, karena saya trauma dengan banjir. Alhamdulillah, saya mendapatkan rumah kontrakan di Kompleks Manglayang Regency, yang berada di Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Jarak dari jalan raya memang cukup jauh. Kalau naik ojek, ongkosnya Rp 5.000,-. Tapi tidak apa-apa, yang penting tempat tinggal saya aman dari banjir.
Di Manglayang Regency, saya menemukan suasana yang sangat indah. Udara sejuk, tiis tingtrim paripurna… ditambah pula dengan para tetangga yang semuanya sangat bersahabat.
Di kaki Gunung Manglayang, saya menikmati sebuah rumah kontrakan yang camperenik, penuh dengan tanaman bunga. Harganya pun tidak terlalu mahal, Rp 2,5 Juta/ tahun. Bahkan ada beberapa rumah kontrakan yang lebih murah. Misalnya ada yang Rp 1 juta/ tahun, tetapi rumahnya masih standar. Ada pula yang sama sekali tidak memasang tarif (bayar berapa pun boleh, asal saya merawat rumah tersebut). Sayang rumahnya masih standar, belum pake pagar, belum ada dapur, dan sebagainya. Jadi, saya pilih yang harganya sedang, tetapi aman. Tepatnya di blok F4.
Dan sungguh mengejutkan, sekaligus membahagiakan. Ternyata di sekitar tempt tinggal saya ada seorang sahabat yang sudah lama tinggal di sana. Bahkan ia menjadi sekretaris RW. Namanya Kang Rudi H. Tarmidzi, yang sehari-harinya bekerja menjadi sekretaris redaksi Majalah Mangle. Alhamdulillah, hidup ini memang tidak sendiri.

Beberapa minggu ke belakang, saya sangat sibuk memindahkan barang-barang dari Ranggon Panyileukan ke Manglayang. Jadi, saya belum sempat membalas komentar-komentar di website ini. Oleh karena itu, saya mohon maaf kepada para pengunjung Galuh-Purba.Com, terutama kepada para komentator. Untungnya Pak Rochajat Harun tetap setia mengirim tulisan, sehingga web ini tetap diupdate setiap saat, dengan menampilkan tulisan dari para kontributor, terutama Pak Rochajat Harun.***
DHIPA GALUH PURBA








Kang dhipa… mugia tetap sabar. sing betah di manglayang regency. pasti kang dhipa tiasa ngadamel karya2 nu langkung pinunjul deui amiiiin
Yi Dhipa,
Tak tak ge enggal jodoan atuh. Moal katirisan geura. Teu nanaon sanaos ka baraya ge. Pan aya paripaos alo asa sawo, bibi asa hui. Ngan ulah ka neng Mery we nya. Eta mah jatah akang yi! Hi….3x
Ass.wr.wb
Punten abdi nepangken, azis ti manglayang regency blok B11 No. 15, teu nyangki tokoh anu karyana ku abdi sering dibaca geuning ayena jadi tatanggi, iraha nya kira-kira tiasa papendak, jigana kang dhipa sibuk terus, mudah-mudahan bae aya kesempatan pendak.
Hatur nuhun.
wassalam
Ass.wr.wb.
Tak kenal maka tak sayang..
Punten abdi age bade nepangkeun, abdi bu kasi di F7 No.20 tatanggi Pa Dhipa he he, sapalih bumina nenek..nembe terang ayeuna geuning ieu teh Dhipa Galuh Purba seniman sunda nu terkenal tea..mung langki tepang da Pa Dhipa mah jalmi sibuk pisan dugi ka ngalihna deui ti manglayang ge teu terang-terang..he he..salam kenal we ah wios telat oge