Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-06-2009 |


Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA

 

Selepas SMP, harapan saya untuk menjadi penyanyi dangdut seperti Rhoma Irama semakin pudar. Sebab, meskipun saya melanjutkan sekolah di Bandung, keadaan ekonomi saya kurang mendukung saya untuk berproses belajar musik atau belajar menyanyi. Saya tidak punya waktu banyak untuk mengembangkan minat dan bakat saya. Sebab, sepulang sekolah, saya langsung ke pintu gerbang Panyileukan, berganti baju, mengambil becak, dan menambang becak sampai tengah malam. Pagi-pagi ke sekolah, dan segera pulang untuk menambang becak. Begitulah setiap hari, sehingga tubuh saya pun rusak. Kulit jadi agak hitam, ikut-ikutan merokok, pernah juga meminum minuman keras, tawuran, dan berbagai irama kehidupan di jalanan yang sungguh mengerikan. Keras. Sangat keras. Gara-gara ikut demontrasi bersama tukang becak, saya pernah dianiaya oleh beberapa orang oknum tentara hingga babak belur, dan akhirnya menginap di Polres Bandung Timur (24 Agustus 1995). Semakin jauh rasanya untuk bisa bertemu Rhoma Irama, belajar bermain musik, apalagi menjadi penyanyi dangdut. Masih hidup pun sudah untung. Ketika sedang digalakan pemberantasan premanisme, calo-calo angkot pun jadi sasaran. Saya tidak berani lagi jadi calo. Padahal, saya bersahabat dengan para sopir, tidak pernah memeras, dan bahkan sopir-sopir angkot banyak yang justru menyayangi saya. Itu yang saya rasakan.

 

Meski begitu, saya mempertahankan untuk tetap sekolah. Terlambat masuk dan ngantuk di dalam kelas adalah santapan sehari-hari. Tapi saya suka menghapal sambil duduk di becak, menunggu penumpang. Dan Alhamdulillah, sejak kelas 1 sampai lulus, saya selalu menempati 10 besar ranking kelas. Selama sekolah di SMA, buka proses berkesenian yang saya jalani, melainkan menempuh berbagai pekerjaan di jalanan, menambang becak, menjadi calo angkutan kota Cibiru-Cicadas, menjadi kernetnya, menjadi tukang ojek, bekerja di matrial, dan sebagainya. Satu hal yang tidak berubah dalam diri saya adalah tetap menyukai Rhoma Irama dan tetap menulis buku harian. Sedangkan terjun ke dunia kesenian sudah hampir terpupus dalam hati saya. Harapan saya hanya lulus sekolah, mendapatkan pekerjaan, mengumpulkan uang, dan melamar Arin ke Cimendong.

 

Di sekolah, sulit mencari kawan pun yang menampakkan dirinya menyukai lagu Rhoma Irama. Tapi mungkin juga benar kata Andrea Hirata, banyak masyarakat yang yang enggan jujur atau tidak mau mengakui kehebatan Rhoma Irama. Padahal, mereka sebenarnya diam-diam menyukai. Tapi, dalam pergaulan dengan kawan-kawan di sekolah, saya tetap secara terbuka memperlihatkan kekaguman saya kepada Rhoma Irama. Kalau ada kesempatan, saya selalu menyanyi lagu Rhoma Irama di depan kelas atau pada acara-acara tertentu.

 

Dan pada saat SMA keinginan saya untuk bertemu Rhoma Irama telah terkabul. Pada hari Minggu, 6 November 1994, Rhoma Irama dan KH. Zaenuddin MZ menggelar konser bertajuk “Nada dan Da’wah” di Stadion Siliwangi Bandung. Hari itu, saya sangat berseri-seri, karena mau menonton Rhoma Irama. Saya berangkat sendirian, membeli karcis (tidak norobos lagi), dan menyaksikan idola saya di tengah terik matahari.  Serasa bermimpi menyaksikan Rhoma Irama, yang sejak duduk di bangku SD begitu diidolakan. Tidak terasa, saya pun meneteskan beberapa titik air mata. Saya sangat bahagia, karena ternyata stadion Siliwangi sangat dipadati penggemar Rhoma Irama.

 

Setelah selesai pertunjukan, para penonton merangsek ke dekat panggung, ingin bersalaman dengan Rhoma Irama dan KH. Zaenudin MZ. Tentu saya pun ikut-ikutan berdesakan menuju Rhoma Irama. Tapi sungguh sial, petugas keamanan segera membubarkan para penonton, mengusir kami agar memberikan jalan kepada Rhoma Irama. Saya sempat terkena pukulan pentungan petugas, karena saya memaksa ingin bersalaman dengan Rhoma Irama. Dan… saya harus memupus dalam-dalam keinginan saya untuk bersalaman dengan Rhoma Irama, karena penjagaan begitu ketat. Namun di luar stadion, mata saya tertuju pada sebuah kerumunan orang. Saya mendekatinya. Dan ternyata mereka sedang melihat-lihat poto pertunjukan yang tadi berlangsung. Tukang poto memajang poto-poto, dan menjualnya dengan harga Rp 1000,-. Saya langsung membeli satu buah poto Rhoma Irama. Saya sangat senang dengan poto itu, dan tetap menyimpannya sampai hari ini.

 

Meski saat itu saya sudah tidak punya harapan untuk terjun ke dunia kesenian, tetapi “kila-kila” (pertanda) ke arah itu sudah ada sejak SMA. Suatu hari, saya ditugaskan oleh guru SMA untuk mewakili sekolah, mengisi acara di Paguyuban Pasundan. Saya harus beracting memerankan tokoh “Otto Iskandar Dinata”, dan menghapal naskah yang cukup panjang. Naskah tersebut adalah cuplikan pidato “Si Jalak Harupat” ketika sedang menentang Belanda. Saya mendalami naskahnya, mencoba memahami maksudnya, dan berlatih setiap hari. Saya pun sempat dilatih oleh Wahyu Wibisana, seorang budayawan yang saya kagumi. Singkat cerita, pertunjukan pun berlangsung. Alhamdulillah, saya sangat puas memainkan tokoh Otto Iskandar Dinata. Entahlah bagi para penonton. Tapi… saya mendapat pujian dari Wahyu Wibisana, guru-guru saya, dan beberapa pengurus Paguyuban Pasundan. Selain itu, beberapa orang siswi dari sekolah yang berbeda, menghampiri dan meminta berpoto bersama saya.

 

**

 

Alhamdulillah saya lulus dari SMA Pasundan 7 Bandung pada tahun 1996, dengan hasil yang sangat memuaskan. Namun saya tidak melanjutkan kuliah, karena… ya… itulah, terbentur dengan kendala ekonomi. Saya memilih untuk berwiraswasta membuka konstruksi rangka beton di Jl. Raya Cipadung (sekarang Jl. A.H. Nasution), Bandung . Sebab, saya sudah merasa berpengalaman mempelajari seluk-beluk masalah besi sejak masih SMA. Saya pekerja keras, yang bekerja tanpa kenal waktu. Dunia besi telah menjadikan saya semakin jauh dari cita-cita yang tertanam di masa kecil. Tapi saya tidak banyak lagi keinginan, selain mencari uang yang banyak, membeli rumah, mobil, dan menikahi Arin. Saya tahu, Arin di Jakarta. Dan saya belum berani menemuinya dalam keadaan saya yang masih serba kekurangan, meski saya tidak menganggap Arin sebagai gadis materialistis. Saya hanyalah mencoba berpikir realistis.

 

Hanya berjalan kurang dari dua tahun, perusahaan kecil yang bernama Konstruksi Rangka Beton GALUH JAYA harus gulung tikar terkena dampak krisis moneter. Saya hampir tidak mampu membayar dua orang karyawan saya, dan tentu saja harga besi pun naik dengan drastis. Saya banyak mengalami kerugian yang cukup besar, sehingga akhirnya saya memutuskan berhenti menjadi “bos” GALUH JAYA. Beberapa saat, saya kebingungan, menjadi pengangguran. Bukan saja mengejar Rhoma Irama yang sudah hampir padam di hati ini, karena mengejar Arin pun saya hampir putus asa. Surat-surat curhat untuk Arin, tidak berani saya kirimkan. Dan untuk makan dan merokok sehari-hari, saya terpaksa turun lagi ke jalanan, menjadi tukang ojek di Kompleks Bumi Panyileukan, Bandung. Dalam keadaan seperti itu, saya tetap gemar mendengarkan lagu Rhoma Irama dan tetap menulis buku harian.***(Bersambung)

 

Kaki Gunung Manglayang, 30 Méi 2009