Gejala Positif Film Anak Negeri

Catatan DHIPA GALUH PURBA

 

TERTUTUP sudah jalan pintas dalam memproduksi sebuah film. Seiring dengan era keterbukaan informasi yang melanda dunia, masyarakat penikmat film semakin leluasa menentukan pilihan. Film mancanegara beredar bebas di nusantara, dan sangat mudah serta relatif murah untuk didapatkan. Bersamaan dengan itu pula, afresiasi masyarakat terhadap film pun semakin meningkat. Ketika sebuah televisi memutar tayangan sinetron  yang menjiplak film luar negeri, serentak surat pembaca di media massa bertebaran menghujat. Di jejaring sosial dan blog dunia maya, niscaya akan menjadi perbincangan hangat. Cibiran dan cemoohan masyarakat akan menimpa para sineas film yang mengambil jalan curang seperti itu.

Begitu juga film-film tidak bermutu yang hanya mengeksploitasi kemolekan tubuh, misalnya, akan terlewatkan begitu saja tanpa meninggalkan makna apa-apa. Dengan maraknya televisi swasta yang berlomba menyuguhkan tontonan menarik, telah mengakibatkan persaingan yang begitu ketat untuk memikat mata penonton. Dengan begitu, tidak mungkin para sineas perfilman bisa sembarang melahirkan karya yang asal-jadi. Masyarakat semakin selektif dalam memilih materi tontonan yang layak. Terlebih televisi umumnya yang menjadi sarana hiburan keluarga, ditonton bersama sanak keluarga, yang memerlukan kesepakatan secara langsung atau tidak langsung untuk menentukan pilihan tayangan. Dalam situasi seperti itu, tentu saja orangtua akan berinisiatif untuk memilih tayangan yang selain menghibur, juga memiliki unsur pendidikan yang akan bermanfaat bagi anggota keluarganya.

Maka dari itu, Forum Film Bandung (FFB) yang hadir di tengah masyarakat, diharapkan bisa menjadi salahsatu lembaga yang dapat menilai sekaligus mengkritisi secara obyektif terhadap berkembangnya film dan sinetron. Dengan adanya FFB, diharapkan adanya peningkatan kualitas dari film dan sinetron Indonesia. Penghargaan untuk para sineas film tentunya bisa menjadi motivasi untuk melahirkan karya yang bermakna. Sebuah karya yang tidak hanya mempertimbangkan keuntungan materi semata, melainkan memiliki nilai-nilai pendidikan dan pesan moral yang mengakar.

Belakangan ini ada kecenderungan positif berkenaan dengan perkembangan film nasional. Ada banyak film yang diangkat dari sebuah novel terpilih, yang kemudian disambut antusias oleh masyarakat penonton. Misalnya di tahun 2013 telah beredar di berbagai bioskop, film Refrain (diangkat dari novel karya Wina Efendi), Moga Bunda Disayang Allah (diangkat dari novel karya Tere Liye), Manusia Setengah Salmon (diangkat dari novel karya Raditia Dika), La Tahzan, dan lain sebagainya. Patut dinantikan juga, sebuah film yang diangkat dari novel mega best seller karya Dr. Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sebuah novel roman yang terbit pertama kali pada tahun 1939, dan selalu diperkenalkan kepada para siswa sejak duduk di bangku SMP. Maka dari itu, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, mestinya menjadi tontonan wajib pula bagi para siswa khususnya.

Lebih menggembirakan lagi ketika novel-novel tersebut banyak yang memiliki latar budaya tanah air, meski diantaranya ada yang selalu berorientasi ke luar negeri. Seolah-olah kesuksesan itu identik dengan luar negeri atau bisa menginjakkan kaki di luar negeri. Jika ada pandangan seperti itu, patut disebut orang yang tidak punya kepercayaan diri.

Film yang bagus adalah cerita yang bisa menumbuhkan  kepercayaan diri dan rasa cinta terhadap budaya bangsa. Hal ini semakin disadari oleh para sineas film. Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, memiliki alam nan indah, dan berkarakter mandiri. Cerita dari tanah ibu pertiwi tak akan pernah habis, dan akan selalu dicintai oleh anak negeri. Tidak perlu lagi meniru atau terpengaruhi film luar negeri, yang tentu saja karakternya pun sangat berbeda. Percaya diri dengan tanah air dan manusia negeri sendiri.

Kini afresiasi masyarakat semakin menuju titik temu dengan para pemerhati film semisal FFB. Pilihan masyarakat banyak memiliki kesamaan dengan pilihan para pengamat FFB. Ini menunjukkan telah adanya peningkatan afresiasi masyarakat yang cukup pesat, saat ketajaman afresiasi masyarakat bisa menyamai pengamat FFB. Gejala positif seperti inilah yang akan memicu para sineas film untuk lebih meningkatkan daya kreativitasnya dalam melahirkan karya adiluhung.***

Leave a Comment