Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 22-09-2007 |

Oleh DHIPA GALUH PURBA

SUDAH merupakan tradisi di komplek perumahan ini. Tiap menjelang lebaran, para penghuninya akan sibuk untuk persiapan mudik. Semua penghuninya memang para pendatang dari kota lain. Baik dari kabupaten, atau pun dari luar propinsi. Yang jelas, tak ada seorang kepala keluarga pun yang asli dilahirkan di sini. Wajar saja, sebab pembangunannya saja baru selesai tiga tahun yang lalu. Termasuk aku pun, baru setahun lamanya tinggal di sini. Rumah ini kuperoleh dengan cara menyicil. Istri dan seorang anakku begitu menikmati tempat tinggal ini. Mungkin dikarenakan rumah ini sedikit lebih besar dibandingkan dengan rumah kontrakan yang kutempati sebelumnya.

Tetangga sebelah, baru saja membeli sebuah mobil yang baru. Tentunya untuk dipakai mudik. Pulang ke kampung halaman. Memamerkan mobil baru. Memperlihatkan kesuksesannya di perantauan. Adu gengsi dengan para perantau lain. Atau apa saja yang biasa dilakukan di kampung halamannya. Dan aku pun harus pulang ke kampung. Tak ada alasan bagiku untuk tidak pulang. Apalagi ibuku telah mengirim surat seminggu yang lalu. Dalam surat itu dikabarkan bahwa ayahku sakit keras. Dan yang paling penting, ibuku meminta bantuan uang untuk berobat ke rumah sakit.

“Kapan kita pulang, Pah?” istriku tiba-tiba saja bertanya seperti itu. Membuatku tertegun beberapa saat dan membuyarkan segala lamunan.

“Emh, mungkin besok atau lusa. Kapan Mamah libur?” jawabku sambil balik bertanya pada istriku.

“Besok juga aku sudah libur. Tapi hanya diberi waktu lima hari saja.” jawabnya sambil menyandarkan kepalanya. Kuelus-elus rambutnya yang terurai panjang. Maya, itulah nama istriku. Sejak SMA (sekarang SMU), aku berpacaran dengannya. Kesetiaan dan kasih sayangnya yang tulus, membuatku begitu mencintainya. Dia tak hanya menjadi temanku saat bahagia, namun dalam keadaan apa pun, dia tetap setia mendampingiku. Sampai pada akhirnya aku pun menikahinya. Pernikahan yang dilaksanakan dengan sederhana sekali. Tak ada acara pesta apa pun. Hanya dihadiri oleh para kerabat dan sahabat dekat. Maya tetap menyayangiku.

Termasuk ketika aku di-PHK dari tempat kerjaku tiga bulan yang lalu, Maya tetap tabah dan sabar. Tugasnya menjadi bertambah. Selain menjadi ibu rumah tangga, dia pun memerankan kepala rumah tangga. Maya yang menanggung kebutuhan rumah tangga. Padahal Maya bukanlah karyawan yang duduk pada kursi empuk. Justru dia hanyalah seorang buruh yang gajinya tidak terlalu besar. Tapi mau tidak mau, gajinya harus cukup untuk kebutuhanku serta anakku yang tahun ini sudah menginjak kelas enam SD.

Motor bututku yang usianya sudah sangat tua, seakan tak dapat lagi menjalankan pungsinya. Biasanya motor ini kugunakan untuk berangkat dan pulang bekerja. Tapi sekarang, amotor ini hanya kupakai mengantar istriku setiap pagi, dan menjemputnya setiap sore. Sedikitnya, motor ini dapat mengurangi beban ongkos istriku. Minimalnya bisa menghemat empat ribu rupiah. Sebab jika naik ojek, ongkosnya duaribu rupiah satu kali jalan. Kadang-kadang ada ojek yang meminta ongkos duaribu limaratus rupiah.

Setengah jam sebelum istriku turun dari angkot, aku sudah memarkirkan motor di pintu gerbang komplek. Itu sudah menjadi kebiasaanku setiap sore. Duduk diatas jok motor sambil memperhatikan orang-orang yang turun dari angkot atau bis kota. Mungkin ada yang pulang kerja, pulang kuliah atau pulang belanja. Ojek-ojek pun sibuk berburu penumpang yang baru turun tersebut. Ada kalanya seperti yang berebut. Sungguh penuh dengan kesibukan.

“Ojek, Mang!” tiba-tiba seorang wanita menyapaku seperti itu. Kulihat di pangkalan ojek memang tak ada motor satu pun. Mungkin semuanya sedang narik penumpang ke dalam komplek. Hingga tidak heran jika aku pun disangka ojek. Dan entah kengapa, aku menganggukan kepala. Kunyalakan motorku.

“Mau kemana, Bu?” tanyaku setelah motor melaju beberapa meter.

“Ke blok J.4 no.6,” jawabnya agak keras. Aku mengangguk dan membelokan motorku ke kiri, lurus, dan belok kanan lagi. Tepat di depan pekarangan rumah yang cukup besar, aku menghentikan motor. Wanita itu turun sambil memberikan uang duaribu rupiah. Kuterima dengan tangan bergetar. Ada kebahagiaan yang merasuk dadaku. Uang duaribu ini memiliki nilai yang sangat besar. Membuatku ketagihan untuk terus menarik penumpang, sambil menantikan kedatangan istriku.

Di tengah sibuknya ojek-ojek yang berburu penumpang, aku pun mulai ikut-ikutan larut. Namun walau begitu, tetap saja aku menjaga jarak dengan para tukang ojek yang asli. Kuberikan kesan, seolah-olah aku menjemput keluarga yang baru pulang. Dan kupikir, para tukang ojek pun tak akan terlalu mempedulikanku. Disamping orang lain pun banyak yang menjemput keluarganya, ditambah lagi dengan berjejalnya calon penumpang ojek. Para tukang ojek pun hampir kewalahan menghadapi penumpang yang begitu banyak. Memang, pemandangan seperti ini hampir terjadi setiap sore hari.

Satu, dua, bahkan sampai empat tarikan. Aku tak merasa lelah untuk terus menerus menarik penumpang. Dalam kantongku sudah tersimpan uang sebanyak delapan ribu rupiah. Jumlah yang sangat besar dan begitu berharga bagiku. Tekadku sudah bulat, untuk menarik ojek setiap sore, tentunya sambil menunggu istriku pulang kerja.

*

KETIKA seorang penumpang sudah naik ke atas jok motorku, tiba-tiba ada yang menghampiriku dengan tergesa-gesa. Seorang pemuda berwajah dingin.

Ngojek, Pa?” tanyanya sambil menatapku dengan tajam. Aku pun sudah tak asing lagi pada wajahnya. Dia adalah salah seorang tukang ojek yang biasa mangkal di depan gerbang komplek ini.

“Bukan, menjemput,” jawabku dengan pelan.

“Benar Bu? Apakah ibu dijemput oleh bapa ini?” dia bertanya pada penumpangku.

“Tidak,” jawabnya sambil turun dari motorku. Aku tak sempat lagi berpikir panjang, sebab terasa kepalaku dihantam oleh benda yang sangat keras. Aku jatuh tersungkur. Motorku terguling, hampir saja menimpa tubuhku. Belum reda menahan rasa sakit di kepalaku, tiba-tiba datang tukang ojek yang lainnya. Dengan membabi buta, mereka mengeroyok dan menghajarku habis-habisan. Aku berteriak memohon ampun. Namun mereka bagai kerasukan. Walau darah telah bercucuran dari mukaku, pukulan dan tendangannya semakin mengganas.

Sayup-sayup terdengar jeritan istriku. Mataku melirik ke arah jalan raya, dan kulihat istriku yang berlari sambil menyerobot ke arah tubuhku. Dia memelukku dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. Barulah tak kurasakan lagi hantaman yang menyakitkan itu. Mereka berhenti menyiksaku, walau dari mulutnya tetap keluar kata-kata yang lebih menyakitkan. Tinggalah istriku yang tak henti-hentinya menciumi wajahku yang berlumur darah. Orang-orang bergerumul. Namun mereka hanyalah memperhatikan dengan raut wajah yang acuh tak acuh. Tak ada yang mempedulikan.

“Ayo kita pulang, Pah. Besok kan mau mudik…” hanya istriku yang peduli.***


Kranggan, 1425 H

(Dimuat di Majalah Seni Budaya No. 157, November 2004)