Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 02-11-2007 |

Seingat saya, waktu masih kecil, kalau saya sedang di
Sebagai catatan, sebelumnya bapak saya pernah punya rumah di Jln. Maleber, tetapi selanjutnya dijual. Bapak pun tidak punya rumah. Setiap saya main ke
Kita kembali pada cerita keluarga Mang Asep. Istrinya, Bi Ai, dan putra-putrinya sangat baik. Bahkan setelah Mang Asep meninggal pun, hubungan saya dengan keluarga Mang Asep tetap terjalin dengan baik. Di antara putra-putri Mang Asep, ada seorang putrinya yang merupakan kawan bermain. Saya mengenalnya dengan nama Neng Mela. Baru di kelas III SMP, saya tahu namanya adalah Enden Ucu Djamillah. Camperenik sekali namanya, secantik wajahnya. Usianya satu tahun lebih tua, tetapi tampak lebih muda dari saya. Kalau tidak salah, kakak saya pernah mengatakan bahwa saya dan Neng Mela minum susu dari sumber yang sama waktu kami masih bayi. Kalau begitu, Neng Mela tidak ubahnya seperti adik kandung.
Nama Neng Mela banyak ditulis dalam buku harian saya semasa SMP. Anehnya, di sana dituliskan bahwa hati saya selalu bergetar setiap kali bertatap mata dengan Neng Mela. Pada tanggal 26 Maret 1993, saya berkunjung ke rumah Bi Ai dan bertemu dengan Neng Mela. Bahkan saat itu saya menginap di rumahnya. Tidak usah heran, menginap di rumah Neng Mela, sudah tradisi sejak kecil.
Pagi-pagi, 27 Maret 1993, saya masuk ke kamar Neng Mela, mau melihat album foto Neng Mela, mumpung pemilik kamarnya sedang mandi. Saya melihat foto Neng Mela sedang menyanyi. Wah… rupanya pandai bernyanyi. Sayup-sayup telinga saya pun menangkap nyanyian Neng Mela di kamar mandi. Tak lama kemudian, Neng Mela muncul di pintu kamar. Saya terkejut dan segera berpura-pura menulis sesuatu. Tapi Neng Mela tidak marah. Ia malah mempersilahkan saya untuk melihat koleksi foto-fotonya.
Pada hari itu, Neng Mela berangkat sekolah dan saya pulang ke rumah kakak, di Komplek Bumi Panyileukan. Tapi sorenya saya balik lagi ke rumah Neng Mela. Entah sedang ada acara apaan, yang pasti di rumah Neng Mela banyak tamu. Di buku harian saya dituliskan bahwa saya mau mengajak Eka menonton film ke bioskop. Eka adalah keponakan Neng Mela. Kata Bi Ai, kalau mau nonton ajaklah Neng Mela. Tentu saja saya senang, dan sudah merencanakan nonton ke bioskop bersama Neng Mela dan Eka. Tapi sayang… malam hari, hujan mengguyur Bandung. Nonton pun tidak jadi.
Pada tanggal 29 Maret 1993, saya main lagi ke rumah Neng Mela, tetapi ia masih di sekolah. O ya, ketika saya kelas III SMP, Neng Mela sudah kelas 1 di SMEA Negeri 1, Jl. Wastukancana, Bandung. Lalu, saya menyusul ke sekolahnya, tetapi kelas 1 sudah bubar. Kemudian saya balik lagi ke rumahnya, dan Neng Mela pun masih belum pulang. Entah kenapa, saat itu saya sangat kecewa. Besoknya saya merepro foto ke Yonas BIP. Tapi hari itu saya harus pulang ke Panjalu, karena sudah mulai masuk sekolah. Akhirnya saya menitip pesan kepada Neng Mela, minta tolong mengambilkan foto dan sekalian mengirimkannya ke SMPN Panjalu via pos.
Pada 7 April 1993, surat dari Neng Mela telah sampai ke Panjalu. Foto-foto yang direpro pun ada di dalam surat itu. Foto yang direpro adalah foto N dan foto Neng Mela. Dalam surat itu, Neng Mela menulis: “Mong, ieu fhoto tos janten. Fhoto nu hiji deui sareng saha yeuh… Difhoto sareng kabogoh nya…!” Pada keterangan waktunya, surat itu ditulis Neng Mela pada 3 April 1993. Ada makna tersendiri yang tersembunyi dalam tulisan Neng Mela. Saya tidak berani mengungkapkannya. Yang pasti, saya baru sadar bahwa Neng Mela tulisannya sangat rapih, bahasa Sundanya juga bagus. Ia hidup di tengah pergaulan kota, tetapi masih tetap menggunakan bahasa Sunda.
Sebulan lebih tidak bertemu dengan Neng Mela. Tapi di buku harian saya banyak bercerita tentang Neng Mela, baik flash back atau yang berkenaan dengan harapan. Baru pada 16 Mei 1993, saya bertemu dengan Neng Mela. Pada hari itu di rumah Neng Mela sedang berlangsung acara pernikahan Yuyu Rukmana dengan Mochammad Cecep Ahmad Muhlisadin. Yuyu adalah kakaknya Neng Mela. Tidak lama di rumahnya, karena saya ikut sama kakak.
Sorenya, saya meminjam motor kakak, dan main lagi ke rumah Neng Mela. Di rumahnya masih sibuk. Pada malam hari, saya pun kebagian tugas mengantar makanan ke Jatayu. Saya sangat bersemangat, karena mau membonceng Neng Mela. Ketika mau berangkat, lampu depannya mati. Tapi saya nekat, bawa motor tanpa lampu, juga tanpa SIM. Alhamdulillah, saya dan Neng Mela selamat, tanpa ada halangan apapun. Ya… halangannya cuma lampu motor yang mati. Sepulang dari Jatayu, saya membongkar lampu depan, memeriksa sekitar lampu. Bohlamnya tidak putus. Lantas, kenapa mati? Ketika diperiksa semuanya, ternyata lampu motor tidak apa-apa. Pantas saja mati, karena saklarnya tidak dihidupkan. Maklum motor pinjaman, jadi saya tidak tahu letak saklarnya. Saya tersenyum sendiri. Ketika Neng Mela menanyakan masalah lampu motor, saya menjawab bahwa ada kabelnya yang putus dan sudah disambungkan.
Pada tanggal 6 Juni 1993, gantian Neng Mela yang ke Panjalu. Saat itu adalah hari pernikahan kakak saya, Dewi Juwita Ningsih dan Cece Didin Wahyudin. Pada hari itu, N juga hadir. Sekilas, mata saya menangkap bola mata N yang memperhatikan Neng Mela. Sebelumnya, saya memang pernah kepergok N menyimpan foto Neng Mela di dompet. Entahlah, saat itu saya lebih suka menampilkan foto Neng Mela daripada N di dalam dompet.
Selanjutnya, saya melanjutkan sekolah di Bandung. Sebenarnya jarak saya dan Neng Mela semakin dekat, tetapi justru saya menjadi lebih jarang berkunjung ke rumah Neng Mela. Di buku harian saya hanya tercatat sekali berkunjung ke rumah Neng Mela, pada 19 September 1994. Saat itu saya ditemani Eva Wahyuni Muharam, adik kelas di SMA Pasundan 7
Masih di buku harian, saya menemukan sebuah sajak yang ditulis pada
Teruntuk: Djamillah
Tempat kasih sayangku bersemayam
Dikala datang kesunyian malam
Lihatlah adikku
Bintang-bintang indah menyapamu
Karena aku rindu kepadamu
Wahai awan yang hitam
Dimanakah adikku engkau tenggelamkan
Dimanakah adikku berjalan
Dimanakah adikku bertahan…
Oh angin malam
Sampaikan pelukku setiap malam
Pada adikku tersayang
Tanjakan Simpar,
Tentu, sajak yang sangat buruk, tidak memperhatikan logika kata, tidak nyeni. Biasanya langit bertaburan bintang ketika langit cerah. Tapi dalam sajak itu tiba-tiba ada awan hitam, yang menandakan langit mendung. Yang lebih lucu, kenapa saya bertanya kepada awan hitam dengan kata “tenggelam”? mungkin kata “tenggelam” lebih tepat ditanyakan kepada laut atau sumur di belakang rumah. Ah, sudahlah, itu adalah sajak saya di tahun 1993 yang sangat buruk. Begitulah anak kecil yang memaksakan diri mau romantis-romantisan*** (dhipa galuh purba)








aduh si akang dhipa nuju jatuh cinta nya???
wajar we atuh nya, da neng mela sakitu geulisna
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sampurasun…
Mong… kumaha damang? duuh sakedap deui ulang tahun yeeuuh…
Mong jantenna milih saha yeuuh..
Tong hilap ondang-ondang nya?
Duuh abi janten geer aya nu nyebat geulis…
Tos heula ah masih keneh geer yeuh
Wa’alaikumsalam wr.wb
duh… Enden Mella, asa waraas Nden. Meni bingah ngaos deui seratan Mela, sabada 15 taun ngantosan. Alhamdulillah… aya hibar pangdu’a ti sadayana. Kumaha sawangsulna Neng Mela, damang? sok dido’akeun sing sehat nyaaa. Teu kedah geer sagala, pan urang mah rayi-raka. Perkawis milih, nya teu langkung Gusti Alloh. Muhun tangtos, engke bakal diulem pami tos dugi kana waktosna mah.
DHIPA GALUH PURBA