Statistik

≈ Tulisan: 1881 tulisan
≈ Kategori: 43 kategori
≈ Komentar: 36247 komentar
≈ Hit: 4.143.406 kali

Kingkilaban

Katumbiri

Taman Sekar

Embun

Kampung Simpar, Desa Panjalu, Kabupaten Ciamis, 2003

NAMA Dusun Embun hanyalah rekaan saya. Nama yang dimaksud adalah Dusun Simpar atau Kampung Simpar. Kenapa disebut Dusun Embun? Sebab, Dusun Simpar merupakan salahsatu bagian dari Desa dan Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis. Sedangkan Panjalu kerap disebut sebagai “Kota Ibun”. Julukan itu bukan sekedar basa-basi. Silahkan berkunjung ke Panjalu, dan langsung nikmati sensasi ibun Panjalu.

 

Dalam beberapa tulisan fiksi, saya sekali-kali menyebut Dusun Simpar dengan nama “Simpar Kasumbar”. Itu pun hanya rekaan yang datang dari lubuk hati. Entahlah, tiba-tiba saja jari-jari ini secara reflek menulis “Simpar Kasumbar”.

 

Dusun Simpar adalah bali geusan ngajadi (tempat kelahiran) saya. Dalam hal lahir ke dunia, saya sama sekali tidak ingat kapan dan di mana persisnya. Namun, kedua orang tua yang memberitahu, bahwa di Dusun Simpar saya lahir, tepatnya 25 September 1977. Sekedar catatan, kini tanggal 25 September diperingati sebagai hari jadi Kota Bandung. Namun, hari jadi kota Bandung tidak terinspirasi oleh kelahiran saya. Sebab, kalau diklaim oleh saya, maka pengarang Sunda Deni Hadiansah pasti akan segera bereaksi, karena beliau pun lahir pada 25 September. Kendati demikian, salut buat Kang Sobana Hardjasaputra (l. Ciamis, 4 September 1944), yang pada tahun 1999 berhasil menjadi penemu hari jadi Kota Bandung, yakni: 25 September 1810.

 

Kembali ke Dusun Simpar. Kampung ini menjadi salahsatu lembur yang mengelilingi Situ Lengkong Panjalu. Kampung Simpar bertetangga dengan Banjarwaru (sebelah timur), Sriwinangun (sebelah selatan), Citengah (sebelah utara). Sedangkan kampung-kampung lain yang mengelilingi Situ Lengkong Panjalu, di antaranya Pabuaran, Dukuh, Cukangpadung, dsb.

 

Foto Kampung Simpar yang ditampilkan di sini, pengambilan gambarnya dilakukan dari halaman rumah Ceu Ii (kakak tertua saya), yang terletak di RT 7, termasuk dataran yang cukup tinggi. Lihat saja, dari halaman rumah Ceu Ii, kita bisa menyaksikan genting-genting rumah Kampung Simpar, pohon-pohon yang menjulang, juga Situ Lengkong Panjalu. Genting rumah orang tua saya salahsatu di antaranya. Tentu jauh lebih kecil dibanding genting rumah mertua Dr. H. Uce Karna Suganda, mantan Direktur Umum Bank Jabar.

Salah seorang yang sering saya ajak diskusi adalah Alo Ujang Sutimo. Beliau adalah pengusaha besi yang sukses di Bandung. Pada tahun 1976, Alo Ujang Sutimo berhasil merakit mesin pemotong besi. Beliau sangat jenius dan cerdas di bidang permesinan. Tanpa harus berbekal ijazah atau meraih gelar sarjana, kecerdasannya sanggup bersaing dengan para sarjana tekhnik. Beliau berangkat ke Bandung, setelah bisa membaca dan menulis (kurang-lebih 12 tahun), dengan berbekal uang hasil penjualan kambing. Kini, meski sudah menjadi pengusaha sukses, Alo Ujang Sutimo tetap berpenampilan sederhana. Siapapun yang bertemu dengan Alo Ujang Sutimo, tidak akan menyangka kalau beliau adalah seorang “Big Boss”. Sehari-hari, beliau berkomunikasi menggunakan Bahasa Sunda, dan sangat menyukai bacaan berbahasa Sunda, baik buku, koran, maupun majalah. Beliau, sering membantu saya, disaat saya sedang dalam kesulitan. Tidak ubahnya dengan H. Omo atau H. Terry, pengusaha besi yang sukses, pun dikenal menjadi sosok teladan. Untuk kawan-kawan seangkatan saya yang terbilang sukses dalam berwiraswasta dan membuktikan bisa “hidup tanpa ijazah”, diantaranya adalah Yuni Sri Wahyuni, Dadah, dan banyak lagi yang lainnya.

 

Kendati demikian, saya tidak mengukur derajat manusia dengan materi atau jabatan. Saya menghormati semua sesepuh, kawan seangkatan, para senior, dan adik-adik di kampung Simpar tercinta. Ada beberapa nama yang sampai hari ini melekat dalam ingatan dan begitu saya kagumi. Misalnya Mang Maja, yang begitu gigih mengajarkan pencak silat kepada anak-anak dan pemuda pada saat itu (termasuk kepada saya); Ustad Otong dan Ustad Aef yang sangat gigih mengajarkan mengaji; Mang Kandi, sopir angkutan Bandung-Panjalu (BP) yang namanya begitu khas dan dikenal oleh seluruh sopir angkutan; Ade Amran, yang begitu gigih berjuang melalui sebuah partai; Mang Syarif (alm), yang begitu gigih menjadi pengusaha toge sampai menjelang akhir hayat (saya pernah menjajakan toge Mang Syarif, mengelilingi kampung Simpar); dan para petani yang setiap pagi memanggul cangkul mengolah kebun, yang  saat itu selalu melewati rumah. Yang saya kagumi bukanlah terpaku pada hasil, melainkan proses yang konsisten. Saya kagum atas perjuangan mereka dalam berikhtiar menafkahi keluarga. Oleh karenanya, kalau sekali-kali saya pulang kampung, kebahagiaan saya adalah bertemu dan berjabat-tangan dengan orang-orang yang sejak kecil saya kagumi.       

 

Kampung Simpar juga merupakan lembur kelahiran artis penyanyi Pop Indonesia Iis Sugiarti (l. 14 Agustus 1965), yang pernah berjaya di blantika musik Indonesia ketika pada tahun 1980-an meluncurkan album “Di sini Aku Menanti” ciptaan Obie Mesakh. Kampung Simpar pun telah melahirkan pemain sepak bola. Mudah-mudahan kita masih mengingat nama Asep Somantri, salahsatu pemain Persib Bandung yang pernah merumput bersama pemain legendaris Robby Darwis, Yusuf Bachtiar, dsb. Ada juga wartawan sebuah koran harian nasional (Suara Pembaruan), bernama Aa Sudirman. Beliau juga menjabat sebagai Koordinator Redaktur Suara Pembaruan. Selain itu, kampung Simpar pun melahirkan seorang abdi negara penegak hukum, AKBP Drs. Nurfallah, SH., yang kini menjabat sebagai Wakil Direktur Reserse Kriminal (Reskrim) Polda Jawa Barat –setelah meniti kariernya dengan perjalanan yang cukup panjang, sebelumnya sempat menjadi Kapolres Toli-toli, Sulawesi Selatan.  

Kampung Simpar begitu luas, terdiri dari beberapa wewengkon, seperti Cigorowek, Cijengkol, Rancakatel, Mundu, Tanjung, Pasirhaur, Putat, Cisaat, dsb (data statistik yang lebih rinci, insyaAlloh akan segera menyusul). Menurut orang tua, saya lahir di sebuah rumah yang terletaak di belakang Masjid Jambe (Masjid Jami Simpar, yang sekarang bernama Masjid Al-Hidayah). Lokasinya lebih dekat ke wewengkon Cigorowek. Oleh karena itu, saya sangat menyukai nama Cigorowek.

Dalam beberapa tulisan fiksi, sering menggunakan nama lembur Cigorowek, terutama pada cerita humor. Di Majalah Seni Budaya, ada rubrik “From Cigorowek With Love”. Nama-nama tokohnya juga “meminjam” nama orang-orang yang terekam dalam benak saya. Contohnya: Kadus Ukar (beliau memang menjadi Kepala Dusun Simpar, ketika saya masih tinggal di Simpar), Ustad Otong (beliau memang seorang ustad terkemuka di Dusun Simpar), Mama Iking (beliau memang seorang tokoh Kiai terkemuka, guru ngaji saya dan guru ngaji hampir semua para akhwat dan ikhwan), Neng Lina, Hansip Baron, Ulis Kowi, Kulisi Ook, Atek, Doya, Aday, RT Lili, Mang Amanta, Mantri Cahyo, dsb. Tentu saja penunggu saya sangat berterimakasih kepada beliau-beliau, yang telah menjadi salahsatu sumber inspirasi dalam karya-karya penunggu saya. Semoga Alloh SWT membalas dengan kebaikan yang sebaik-baiknya, Amiiin.

Termasuk ketika menulis skenario sinetron “Wadal Buta Hejo” (PT. Lunar Jaya Film), seting lokasinya menggunakan nama Cigorowek. Dalam sinetron tersebut, ada tokoh Jumena (diperankan oleh Baron Hermanto), Lurah Ukar (diperankan oleh Wa Kabul), Neng Lina (diperankan oleh Yullia), Aceng (diperankan oleh Abeng), Durgapati (diperankan oleh Tedi Jomantara), Hansip Oding (diperankan oleh Ahmad), Ulis Kowi (diperankan oleh Kosim/ manager SOS), Buta Hejo (diperankan oleh saya), dsb. Penggarapan syuting “Wadal Buta Hejo” berlangsung di Kampung Bojongkonci, Katapang, Kabupaten Bandung.

simpar-panjalu

Kampung Simpar, Desa Panjalu, Kabupaten Ciamis, 12 Oktober 2007

Kembali ke Kampung Simpar. Menurut orang tua, dulu Kampung Simpar merupakan sebuah Desa. Sampai pada akhirnya terjadi longsor di Cibubuhan (Kurang lebih tahun 1908). Pada saat Simpar masih menjadi desa, yang menjabat kuwunya adalah Bapak Paranadinata (Alm). Merupakan sosok pemimpin yang patut dijadikan suri tauladan. Sangat mencintai dan menyayangi masyarakat. Tidak heran jika Bapak Paranadinata terpilih menjadi kuwu selama kurang lebih tujuh tahun.

Dari pernikahannya dengan Ibu Minda, maka terlahirlah putra tunggal yang kemudian diberi nama Muhammad Nas Dipawikarta. Sosok laki-laki yang mengikuti garis dari ayahnya. Peribahasa Sunda mengatakan Teng manuk teng, anak merak kukuncungan. Sebab pada saat itu, Bapak M.N. Dipawikarta pun menjabat lurah di Simpar.

Bapak M.N. Dipawikarta bersanding dengan bunga mekar kampung Simpar, bernama Ibu Siti Mariyah, putra sulung Bapak H. Mukhtar. Pada waktu itu, menurut cerita orang tua, Ibu Siti Mariyah diperebutkan oleh banyak pemuda. Tetapi yang berhasil meluluhkannya hanya Bapak M.N.Dipawikarta. Akhirnya Ibu Siti Mariyah pun jatuh cinta kepada Bapak M. N. Dipawikarta, bahkan sampai meniti mahligai perkawinan dan membangun rumah tangga.


Di depan makam Bapa E. Asikin Dipawikarta (Ujang Sutimo, kedua dari kiri), Tahun 1999

Bapak M.N. Dipawikarta melahirkan 13 orang putra. Dua diantaranya meninggal waktu masih bayi, yaitu putra ke-6, bernama Kania Binarum dan putra ke-10 yang bernama Darpi. Artinya, putra Bapak MN. Dipawikarta yang melahirkan generasi selanjutnya ada sebelas orang. Diantaranya: Encang Permata Ningrum, Purwa Dinata (Alm), Hj. Mindaresmi (alm), Siti Madfuah (Alm), Siti Maemunah (Alm), Siti Sukaedah (Alm), Hj. Enang, Bahrum (alm), Suwarna (Alm), E. Asikin Dipawikarta (Alm), dan Asep Edi Djuwaedi (Alm).

Sebelas putra-putri Bapak M.N. Dipawikarta telah melahirkan keturunan yang kini tersebar di mana-mana. Namun, siapa saja dan dimana tepatnya? Itu juga merupakan salah satu tujuan dibangunnya website ini, agar tidak pareumeun obor dengan saudara. Saya sendiri adalah putra bungsu Bapak E. Asikin Dipawikarta. Dan sekali lagi, tujuan saya “menyalakan obor” di website ini semata-mata hanyalah untuk lebih mempererat tali persaudaran dengan atau antar saudara, pun menambah saudara dalam arti yang lebih luas. Kebahagiaan terbesar dalam hidup saya adalah: memiliki banyak saudara dan tanpa harus punya musuh meski hanya seorang.

 

 

Salam Hangat Selamanya

 

Dhipa Galuh Purba

43 Komentar pada tulisan “Embun”

  1. hena - November 9th, 2007 at 06:13

    mo nanya..ada yang ngarti siapa H.Hasan Mustafa /Penghulu Ciamis yang menikah sama Wasiyem tahun 1900-an?Apa H. Hasan Mustafa Penghulu besar Bandung atawa bukan kitu..?balasna ka email urang nya’..
    haturnuhun Akang..

  2. Putrisunda - December 20th, 2007 at 22:12

    wah..waas ningali photona,panjalu memang raos tiis pisan.

    Leres, tiis tingtrim tumaninah. Tiis cepil hérang soca. Komo upami teu gaduh sametan mah, dijamin langkung tingtrim.

    DHIPA GALUH PURBA

  3. Putrisunda - January 3rd, 2008 at 21:30

    Muhun..sigana raos kulem..ngan panginten kedah gaduh salimut seueur


    Raos pisan. Salimut mah teu kedah seueur-seueur. Hiji oge cekap asal simbutna aya ramoan…
    DHIPA GALUH PURBA

  4. Putra Gumilar - March 5th, 2008 at 08:00

    Sebagai alumni SMAN 1 Panjalu, saya sangat bangga terhadap kebudayaan dan kehidupan di Panjalu. Untuk itu mari kita lestarikan adat istiadat dan kebudayaan Panjalu. Kalau bukan kita siapa lagi?

  5. Noviana Rinaldi - April 26th, 2008 at 16:10

    mo minta informasi lengkap tentang Panjalu.

    Terimakasih atas kunjungannya, saya senang mempunyai banyak sahabat. InsyaAlloh informasi tentang Panjalu akan diperbanyak.

    DHIPA GALUH PURBA

  6. Ceu Geuis - May 4th, 2008 at 02:43

    Sampurasun !!! Alhamdulillah urang bisa tepung jeung dulur bari jeung ngapung di awang-awang. Lur ! Naha enya aya keneh ” ibun panjalu” teh ? Da geuning ari euceu mulang ka lembur, ayeuna mah geus tara ngahodhod kudu siduru isuk (keur mah hawuna oge geus diganti ku kompor gas!).Maca tulisan Mong-mong,euceu jadi kagagas ngawawaas jaman keur budak: Isuk keneh rebun-rebun, bari ditungtun kuring leumpang nataan jalan satapak, muru Cilanglung mapay baraya. Unggal imah ditataan, tah eta teh baraya ! Tuh itu teh dulur! Teu kaitung sabaraha imah nu dianjangan. Wanci haneut moyan katingal raray Eyang marahmay, tanda sugema:”Isukan mah urang ka Cigorowek!”, saurna. (Kenangan terindah & amp; tak terlupakan bersama Eyang Dipawikarta). Hatur salam ka sadaya putu Eyang Dipawikarta……….hidup Simpar!!!


    Rampeees…
    Bingah pisan tiasa silaturahmi di dunya maya sareng Ceu Euis. Kumaha daramang? Mugia salawasna aya dina panangtayungan Alloh SWT.
    Ibun Panjalu, sanaos memang henteu siga kapungkur, dugi ka ayeuna tetep aya. Di wewengkon putat, contona, urang masih tiasa tepung sareng ibun panjalu. Memang matak kagagas, waas, marelang, da geuning budaya deungeun langkung mahabu tug dugi ka ngaprak ka tepis wiring.
    Bet matak kabita eta panineungan sareng eyang. margi… ti barang abdi emut kumelendang di tatar Simpar, teu kantos ngalaman paadu teuteup patepang raray sareng eyang.
    Salam baktos ka sadaya wargi di Karawang.

    DHIPA GALUH PURBA

  7. bugie - May 8th, 2008 at 13:46

    Ass.Wr.Wb

    Sampurasun…kang dhipa, duh asa caang yeuh alam dunya teh geuning, tos seep dengkak simkuring teh kang..milarian situs sunda.. eh geuning orang sunda teh ngarumpeulna didieu cenah dulur…. araya keuneh kitu baraya teh …punten banyol. nepangkeun simkuring bugie ti bandung kaleureusan nuju ngumbara di pulo borneo ieu teh…tos lami teuing simkuring teh dileuweung ..ah urang jalan - jalan ka kota mampir we ka warnet..eh mendak webset na urang sunada…nya langsung we..sae pisan kang ieu wab site teh teu eleh lah ku urang luar nagri nya..kang.. hapunten sataacana simkuring hoyong nga download caritana sijalak harupat..dimananya kang milarianna, mamanawi kagungan kang? eh kang…hiji deui kang naros manawi kenal sareng kang dian hendrayana damas? nuhun nya.haturnuhun sateacanna… hidup persib.


    Rampeeees…! Muhun alam dunya caang keneh. Sami-sami nyanggakeun salam pangwanoh, bingah pisan tiasa silaturahmi di dunya maya
    Perkawis lalakon Oto Iskandar Dinata, insyaAlloh urang paluruh heula. Upami tos aya, mangga engke dipdangkeun dina ieu web.
    Kang Dian Hendrayana kantenan sobat abdi. Upami teu aya pamengan, insyaAlloh ping 30 Mei 2008, abdi dipercanten jadi pamingpin produksi “Peluncuran CD Musikalisasi Sajak Sunda karya Kang Dian Hendrayana”. Tempatna bade lumangsung di Gedong Kasenian Rumentangsiang, Jl. Baranangsiang No. 1, Bandung. Ka saha bae anu baris ngaluuhan, mangga diantos kasumpinganana.

    DHIPA GALUH PURBA

  8. syarah - May 27th, 2008 at 09:13

    Wilujeng tepang.
    Asa reueus simkuring mah upami ngaguar website urang sunda teh, kaubaran ieu hate teh lir ningali film nyawang jaman katukang basa keur budak.
    buruan pinuh kukagumbiraan ,lembur pinuh kurasa babarengan ,gotong royong .malihan mah na hate sok ngagerentes naha bisa incu buyut ngomong basana sorangan? ah duka teuing ..(mugia ieu basa ulah leungit) .mangga urang biasakeun nyunda..tina omongan ,tina kahirupan sapopoe..hatur nuhun .cag…


    Sami-sami, wilujeng tepang.
    sae hayu urang biasakeun tur ngarasa reueus ku basa indung urang.
    Hatur nuhun parantos kersa linggih ka dieu.

    DHIPA GALUH PURBA

  9. lis - May 31st, 2008 at 08:29

    akhirna kalaksanakeun tah ka Simpar…raos tis,ngan hanjakal bade nguseup..ngaliwet teu kabujeng….
    da bisi ka wengian ka kuningan.
    salam ka tetehnya.


    Wah… pasti raoseun atuh nya. Kade pami ka Kuningan nyandak Jalan Jahim, ulah sok wengi-wengi ah, melang. Salamna insyaAlloh bade didugikeun.

    DHIPA GALUH PURBA

  10. lis - June 6th, 2008 at 16:30

    muhun eta meuni sieun ih…..teu ningali basa aya anu ngolebat,,mantak teu di wartoskeun..da bilih kaweur..
    tapi di gunung jaim pan enakeun lauk asin..sareng marap ongki…pokonamah kenangan ,eh kabar rizal kumaha?


    His… ulah sok nyingsieunan ka nu sieunan, bilih engke janten wanian. leres pisan di Gunung mah sagala rupi oge raos, komo pami nuju lapar mah nya. Rizal masih tetep Zajurig….

    DHIPA GALUH PURBA

  11. tha - June 15th, 2008 at 01:53

    emM..Menurut saya sebagai orang ciamis,sangat bangga dengan adanya Panjalu karena disana terdapat panorama alam yang sangat indah yaitu disitu lengkong…untuk itu saya menghimbau untuk tetap menjaga dan merawatnya!!!!! terima kasih…


    salut buat anda yang mencintai lemah cai sendiri. Betul, keindaham alam harus dijaga, dirawat, jangan malah dirusak. Biar Ciamis tetap manis, sejuk, indah, dan selalu amis budi…

    DHIPA GALUH PURBA

  12. Yanto - September 17th, 2008 at 05:49

    saya nggak nyangka ternyata uwa saya (Ujang Sutimo) masuk juga di internet


    Oh, ini suannya Alo Ujang? aeh.. na mani asa pabaliut kieu pancakaki teh. Ok.. trims atas komentarnya, saya pamannya Ujang Sutimo… :)

    DHIPA GALUH PURBA

  13. teuddy - September 23rd, 2008 at 16:30

    ini teh websitex sp sih salam kenal dari saya asli orang panjalu, ikut gabung di web ini.


    Ini websitex kita bersama, diperuntukan bagi orang mana saja, apalagi dari Panjalu. Ayo, kita bergabung, berkumpul, bersilaturahmi di sini! Silahkan keluarkan unek-unek, saran, kritik dan apa saja mengenai website ini, mengenai Panjalu, Ciamis, Bandung, Jawa Barat, Indonesia, dan dunia; Mengenai seni, budaya, ekonomi, politik, dsb…

    DHIPA GALUH PURBA

  14. on2hood - September 25th, 2008 at 10:51

    Beu beu… matak waas macana, ngiring ngarengkol didieu sakedap juragan… punten ah

    Mangga sanaos bade teras tibra tug dugi ka ngaguher ogenan… sing tumaninah kadinyah ah…

    DHIPA GALUH PURBA

  15. Yanto - October 10th, 2008 at 05:09

    sumuhun saya teh suannya pa ujang :) putra ke 2 ma Ende (adik bungsu pak Ujang). janten abdi mah mernahna aki nya? Ki mongmong uapam teu lepat mah nya?


    Oh… muhun sae atuh Alhamdulillah tiasa silaturahmi di dunya maya. Salam bakos ka sadaya kulawargi. Leres pisan Aki Mongmong. Tapi omat di payuneun istri mah ulah sok nyebat “Aki”, bilih disangki tos aki-aki. Apan abdi mah ABG keneh.

    DHIPA GALUH PURBA

  16. Yanto - October 12th, 2008 at 10:13

    :) siap atuh… kedah kumaha atuh nyebatna…?


    His… tetep we nyebat mah AKI. Tapi… disingkat nya. Disingkatna ulah pengkerna, tapi payunna. Upami disingkat pengkerna mah jadi: “KI”, tah… ari disingkat payunna mah jadi: “A”. Conto kalimat: “Damang, A?” Tuuuh… pan henteu siga neybat “AKI”. Padahal tujuanna mah sami wae “AKI”…

    DHIPA GALUH PURBA

  17. YANTO - October 19th, 2008 at 08:37

    heheheheh….. sumuhun atuh Ki eh A.. :) tos aya photoan ayeunamah. eta caket pa ujang nu nganggo kopeah teh abdi. tosa lami pisan eta photoa na….


    Halahhh geuning berenyit keneh baheula mah nya? Ayeuna saageung kumaha? Mugia we sing jangkung luhur simbar dada gagah siga aki…

    DHIPA GALUH PURBA

  18. Neni Setiawati - October 24th, 2008 at 07:27

    Sampurasun Abdi mah ti Pabuaran simpang Ka maparah tea Putrina Mang Sobari Polisi sareng Ma Ipin nu dagang Surabi tea,alumni SMP Panjalu tahun1977 da ayeuna mah abdi di Samarinda,gaduh rerencangan Elin Barlina di Simpar.asa waas ari ningali lembur tina internet teh,ngan nya kitu ku tebihna ari nuju lebaran teu tiasa mudik kalembur deui,janten teu tiasa manggihan rerencangan sakolah,da ayeuna mah tos janten nini nini tos incuan mun bisih tepang sareng rerencangan abdi anu di Simpar,Pabuaran,Sukamantri salam kasadayana
    Nuhun nya.

    Euleuh-euleuh… aya ku wararaas nyaaaa, lulusan 1977 (mareng pisan sareng taun kelahiran abdi). Mugia salawasna aya dina panangtayungan Alloh SWT bubuara di Samarinda. Mangga, engke bade dipaluruh sobat-sobat anu di Simpar. Manawi gaduh putu istri hiji, kanggo rerencangan abdi nu nuju milari jodo, Pandu Radea urang Panjalu sareng Dadan Sutisna urang Tanjungsari…

    DHIPA GALUH PURBA

  19. Yanto - November 2nd, 2008 at 16:07

    eta teh teu lepat taun na photo teh, da taun 1999 mah abi tos kelas 1 SMA tapi asa alit pisan. Ari ayeuna mah abdi tos ageung kuliah oge tos rengse. da kantos pependak sareng A oge.. :) satuan kapengker upami teu lepat mah. Da ayeuna abi ge di Bandung sareng Pa Ujang di Cibeureum.


    Taun sabaraha atuh nya? Tapi… da ukuranna A. Ayeuna A masih keneh gagah teu tebih tina poto, jadi asa taun 1999 eta poto teh.
    Salam baktos ka Alo Ujang. InsyaAlloh engke bade nganjang ka Leuweunggede, sono tos lami henteu ngadu bako… Kamari boboran di lembur teu kabujeng ngadu bako, margi A nuju sibuk apel.

    DHIPA GALUH PURBA

  20. AAN ANDRIYANSAH - November 7th, 2008 at 04:54

    Euleuh aya ku waas saparantos maos “Ibun Panjalu”. Kampung simpar tempat diborojolkeunana sim kuring. Tempat-tempat di Simpar anu disebatan ngagugah panineungan simkuring mangsa alam katukang. Ngarit keur domba jeung marmot di Rancakatel,Panganginan; ngala suluh ka Cigenteng,Sempur,Pasir Haur, Sawera; ngojay di balong pa Dawi, diajar ngaos ku Mama Iking. Nuhun ah, parantos ngagugah deui panyawangan kuring mangsa keur budak. Salam na bae ka urang Simpar nu sami keur ngalumbara.


    Haturan… aya wargi salembur geuningan, hatur nuhn tos rurumpaheun nyawang bulan di langit dusun embun. Alhamdulillah kaemutan eta nami “Sawera”. Muhun, kapungkur sering pisan kasabit-sabit “Sawera” teh. Tapi ari “Sempur” mah asa nembe terang ayeuna. Hanjakal abdi mah rada ngedul ngala suluh teh. Kapungkur memang rerencangan teh sok ka leuweung, ngala suluh. Tapi abdi mah hoream hawana teh, teu tiasa tuak-taek, pucal-pacul, komo ngarit. Batan ka leuweung mah mending keneh ka terminal Panjalu, sok ngenekan mobil Si Akang urang Cikole. Emut keneh, buruh ngenekan teh antara Rp 500,- dugi ka Rp 1.500,- (kumaha ramena muatan we). Tah… ngojay di balong Pa Dawi mah rajin pisan. Ngubek balong dugi ka sok dibuburak. Aya tajug di luhureun balong Pa Dawi. Tapi batan dianggo netepan mah kalah dianggo gegelutan nurutan dina film. Nu eleh, langsung tigujubar ka balong.

    DHIPA GALUH PURBA

  21. ASEP SAYAGIRI - November 23rd, 2008 at 00:07

    Kang,punten yeuh, nyungkeun foto IIS nya, tapi ku abdi tos diserat sumberna ti dieu.
    Kaleresan abdi keur masang lagu top iis di blog Nostalgia.

    punten we ieu mah, dipasihkeun henteuna da tos di pasang he he he he nya
    sindang atuh ka blog abdi lah.
    Panjalu ? .. . wadudu . . . nagri endah kabina bina, hoream balik mun ka dinya. Eta oge lantaran pernah ka imah babaturan di Mala usma, ayeuna jadi bos beusi di Bandung.
    Nuhun ah . .

  22. Rochajat - November 25th, 2008 at 09:33

    Alah asa wararaas ngaos eta dongeng Embun. Ras we jadi emut ka lembur sorangan di kampung Pasawahan Tarogong Garut. Jadi weh hayang balik. Padahal di lembur teh geus teu araya sepuh mah.
    Ih ayi Dhipa eta mani nyeredet ningal neng Iis. Wargi keneh tateh? Sanaos abah geus kolot ge hoyong we atuh dikenalkeun. Peupeuriheun ka neng Mega mah ukur dina dunia maya wungkul. Iraha2 mah abah ge hayang nganjang ka Kawali, sakalian ningal patilasan karajaan Galuh. Malah ka mahasiswa Pariwisata ge tos diajakan. Mani birak pisan maranehna teh. Pajarkeun teh sakalian rek PKL cenah.

  23. dadun - December 21st, 2008 at 05:51

    assalamualaikum….kang saya minta informasi manawi kenal sareng IBU DIDIH FARIDAH yang ngajar di MA RIJALULLHIKAM JATINAGARA katanya rumahnya di panjalu depan MA NURUL HUDA……klo ada email aja ke GMAIL raydanny48@gmail.com atau di MSN daniel.dans@hotmail.com diantos……..wassalam

  24. zaeskinzz_69 - January 24th, 2009 at 20:24

    Waaahhh……..aya Riungan Obrolan uy….

    awas ah bahaya laten Feodalisme…

    Awas oge ah Bahaya pisan kana ngarana Imprealis..

    da ge’ning Di bangsa urang ge kacida karasa na…

    nu ngarana “ningrat, kaya” jeung “rahayat, biasa” tong sampai aya jeda nu matak beda karasa….

    piturut nu alus…
    tong ningali harta..

    loba nu bela ka lembur, tapi tong ningali nu keur di luhur hungkul…

    naaa teu pantes mang entis urang ciuncal abus ka internet???

    da mun ceuk kuringmah pantes kusabab apal bela pati na mang Entis ka lembur sorangan lain ngan saukur mere harta jeung mamawa runtuyan katurunan…

    tah tingali mang entis..

    kmeumeut kuring…
    bisaan naek tangkal kalapa..
    najan lain nu mang entis tapi mang entismah bisa ngala kalapana..
    ulin ka balong sok ngala lauk loba pisan sanajan lain balong mang entis…
    mang entis mah pada arapaleun salembur oge..da osok gegelutan jeung batur salembur…
    lebaran kamari oge gegelutan jeung pamuda salembur tapi mang entis sosoranganan..
    walaupun eleh mang entis mah tetep we geus boga hayam hiji najan geus digebugan mang entis na, eta hayam di cokot deui kunu bogana….

    nonton mengbal ka lembur batur mang entis mah sok pang hareupna..

    moal geumpeur kusasaha…..

    hiks…
    hiksss…

    mang Entis…

    Sing Damai nya Di Surga…..

    Ayeunamah Mang entis Teh Tos Pupus…
    ninggal keun putra anu teu puguh runtuyan kaluargana..

    anu ngan jadi bahan gonjakan balarea..

    sing tabah we anaking…

    Ti AA doa jang Nde Sing Bisa Beres Sakola Ti Rusia Tong Hilap Uih Ka Lembur….

    _zAESKINZZ_

  25. kang acun ti jondol - February 14th, 2009 at 06:47

    kanggo teuddy ..belum tahu yah inih teh web sitex urang panjaluh…he he he kemanah sajah atuh ted
    makanyah jangan lama-lama bubuara jadi weh gagap kana basa sarakan …aahh…ari sitex teh naon ted

  26. kang acun ti jondol - February 14th, 2009 at 06:54

    buat hena kalau nanya h mustopa ka sayah nanyana.
    da sayah oge kenal jeung wasiat..eh wasiem mah

  27. ise - February 18th, 2009 at 15:28

    Hanjakal teu ti kapungkur ngahubungi akang, janten we telat mendakan situs ieu, namung sawios telat oge nya! daripada teu sama sakali kenal.
    Saur sepuh, karuhun sim kuring oge aya teureuh panjalu mung tacan terang ti saha-sahana, ayeuna aya dusun embun di dunia maya matak kabita paparahuan (numpak parahu) atanapi rarakitan (numpak rakit) di situ panjalu.
    Manawi aya foto situ panjalu (nu asri keneh nya Kang!) tampilkeun di situs nya? da bageur….
    Mangga kang, wilujeng wengi….

  28. ise (alya) - February 21st, 2009 at 13:31

    Assalamu’alaikum
    Sampurasun…
    Alhamdulillah tiasa ningali kampung nu digambarkeun kaendahanna taya hinggana sanaos di dunia maya, pami tiasa mah hoyong foto situ panjalu nu asri keneh (lebetkeun nya kang?)
    Saur sepuh, karuhun sim kuring oge masih katurunan panjalu namung duka ti palih mana sareng saha jenenganna.

  29. Iskandar Permana - March 28th, 2009 at 07:47

    wilujeng tepang ah ka sadaya warga simpar khususna…kaleresan sim kuring oge pami mudik lebaran ka simpar da kaluarga asli ti simpar mung sakola damel mah di bandung…kaleresan pun aku masih aya di simpar (H. Sukanda)…raos tiis pamirsa ari di simpar teh….sono pisan ka lembur teh….

  30. yoppy yohana/Ki Ibun - April 23rd, 2009 at 08:18

    Alhamdulillah
    Nuhun dulur….bagea Ki lanceuk Kang Dhipa tos ngabuka website kanggo silaturahim urang Panjalu. Bingah janten kamotivasi kanggo nyerat n curhat di website ieu. nuhun pisan

    Nepangkeun, sim kuring Yoppy Yohana ti Maparah-Panjalu,kelahiran 1978, alumni SMPN 1 Panjalu lulus tahun 1995.
    Eh Alhamdulillah ayeuna tos 3 tahun ngawulang di SMPN 1 Panjalu, bingah tepang sareng guru2 Yov kapungkur. Ayeuna tiasa heureuy damel sareng.

    Mungkin kang Dhipa kelas 3, Yov mash kelas 1…klo sekarang yg sering ktemu dengan kakak tingkat dulu diantaranya Haris dari Simpar, Irwan putra P Entom, Andri kaum dll….

    Alhamdulillah…diawali dari niat n nyaah k Panjalu…Sono k Panjalu, bangga k Panjalu…setelah 2 Tahun honor di Bandung…Yov milih ujian PN di Ciamis Alhamdulillah katampi.

    Eh…Barokahna tanah Panjalu…Warisan ti Eyang Prabu….dugi k ayeuna Panjalu nikmat, langkung nikmat ayeuna Yov tos d Panjalu tepang sareng dulur d Internet…syareatna kang Dhipa…

    Anu karaos, sareng katingali ku Yov tanah Panjalu+Situ Lengkong teh tiasa nyejahterakeun n ngabeungharkeun rakyat Panjalu oge sekitarna.

    Ari doa n ilmu orang suci mah diijabah sareng manjang, nyaeta doa ti anu ngadirikeun Panjalu khususna Waliyullah Sunan Rohmat alias Eyang Prabu Borosngora alias Ki Mursyid alias Eyang Jamin alias Aki Prabu Kian Santang, sareng nami2 nu sanesna…”Hapunten sepuh….abdi nyebat nami sepuh…bakat ku bangga…abdi sebagai buyutna saeng turunan nu sanesna tiasa ngaraokeun kaberkahan tanah Panjalu….”

    Alhamdulillah teu pareumeun obor, abdi tiasa tepang sareng buyut2 nu sanesna oge.

    Nuhun kang Dhipa sakali deui…tos ngabuka silaturahim….
    Salam ka sadaya buyut2 Panjalu oge

    Yoppy Y./Ki Ibun

    Wass..

  31. Iyan Heryana - April 30th, 2009 at 03:13

    ibun panjalu tiasa malidkeun munding

    tradisi ibun panjalu masih aya, keleresan abdi sering mulih ka Sukamantri (cikole) ngajugjug kampung Rinduwangi desa Mekarwangi, di kampung pribados kapungkur aya keluarga anu ngajabat di pemarentahan jawa barat ( Pak Ero. Alm, Pak Ohim, Pak Sumirat, Pak Agus Rachman, Pa. Engkos (ABRI) sadayana putra Pa H. Padmadisastra, Alm.) sesepuh di kampung pribados. keleresan ngalangkung ka kampung simpar ngawitan didinya perseling mobil/motor di pindahkeun kana gigi rendah gas di tincak rada jero ngawitan naek kantos motor pribados di soledat danjalan leueur duka kawalat atanapi gagabah da angkat ti bumi pa Oleh. Alm + Bidan Mimin salah sahiji mantri salain pak Cahyo di sriwingun tos bade magrib maklum enjing hoyong ningali Pa Umar Wirhadikusumah bade ngeresmikeun Listrik masuk desa. waktu sore atawa isuk-isuk ibun panjalu sumping di puncak gunung dugi ka sesah ningali jalan sakapeung situ lengkong katingali sapalih da kahalangan ibun. jeng sok aya ibu anu namina saminggu leres teu kang.

    Punten kang upami undak unduk basa teu mernah maklum teu biasa nulis bahasa sunda manawi hoyong diajar. ka kang “Galuh”

  32. suwendra slamet - July 13th, 2009 at 17:40

    sim kuring dina jam ayeuna nembe diajar internetan, teras emut weh ka kang dhipa. saparantos dibuka situsna, aduh mani kasep poto-potona mung hanjakal teu aya sim kuring he he salam wae ti urang panjalu ka nu di bandung. biasa weh kang sim kuring mah muka internet teh 2 minggu sakali he he

  33. idan - October 24th, 2009 at 06:47

    sok waas ku sora tongeretna abdimah,,,,

  34. diajar basa sunda - December 12th, 2009 at 00:53

    Walah aya orang panjalu di dieu geuning, salam tepang abdi ti urang Rajadesa. Bingah ari ningal urang sunda aktip dina internet teh.

  35. tatang sumirat - December 13th, 2009 at 02:35

    memang benar yang ditulis di atas dan kami dapat merasakan setiap melewati kampung tersebut.Bahkan dapat dibuktikan dalam keadaan apapu,,,,,,

  36. Tita Masitoh - December 20th, 2009 at 16:23

    Ah Mani Wararaas Ari Maca eta judul teh sok ahayang uih ka kampung soalna teu tebih ti kampung abdi panjalumah abdimah Ti Ciawi. Salam Kenalnya

  37. Suheryana Bae - December 21st, 2009 at 08:15

    Margi Panjalu teh Ciamis, nya ngiring bingah aya urang Galuh nu jenengan Galuh Purba sedang berjuang menjadi seniman yang moyan. Alhamdullillah beberapa tulisannya saya baca di koran berbahasa Indonesia dan Sunda. Muhun Kang Rai, teu kenging hilap ka tanah kelahiran. Selamat berjuang ….. salam silaturrahim.

  38. danur wenda prawira - February 7th, 2010 at 13:54

    abi oge ti simpar…………………..simpar top margotop

  39. Iyan - November 19th, 2010 at 03:34

    Iyan Heryana - April 30th, 2009 at 03:13

    ibun panjalu tiasa malidkeun munding

    Artikel abdi anu di luhur judulna eta tiasa Nuhunkeun di Hapus Nya.

    Hatur nuhun salam ka sadaya dulur2 Panjalu sareng Sukamantri.

  40. Lily fahlevi - December 15th, 2010 at 19:25

    wilujeng enggal-na wae..

    ieu sanes cariosan atanapi guneman pamohalan carita rumpaka-mah.ieu sakadar handalam rasa anu katulis dina wilahna dada.sim kuring sami ti palihan sukamantri,langkung tepatna ti rinduwangi[handapeun gunung bitung].sim kuring sanes kerabat cep Ohim,sumirat atanpi tereuh menak lembur.ukur kerak lembur anu ngabekur dina tungtung tu’ur.
    ah..asa teu nyambung nyak kang?tapi keun wae lah,itung hereuy bandung…heheheh..!punten juragan.

  41. fitri - August 26th, 2011 at 16:24

    nepangkeun simkuring oge turunan panjalu,,ti cibeureum.buyutna eyang kramadinata,,manawi ..wireh poekeun obor,,putuna aki suwitamihardja((aki mantri))..nembe terang aya kolom ieu..hatur nuhun ka seniman galuh ….

  42. fasyew - November 7th, 2011 at 14:11

    assalamuala’ikum sdayana ..

    nepangkeun abdi fasyew ,, abdi oge aya wargi di desa panjalu teh ,, abdi oge mun mudik sok ameng ka ditu ..

    wassalamuala’ikum ..

  43. Dr.rudiruhdiat padmadisastea - July 2nd, 2012 at 06:18

    Alhamdulillah geuning aya nu emut ka kulawargi pung aki alm h.abdul syukur padmadisastra. Nu di carioskeun pak iyan teh, listrik masuk desa, pun bapak kaleresan nu janten kepala desana. Hatur nuhun

Silahkan Isi Komentar Disini, Jika Tidak Menggunakan Facebook.

Pencarian


InstaForex