Embun

Embun di Balik Dedaunan

KETIKA masih duduk di bangku SMPN Panjalu, Ciamis, sering bangun kesiangan gara-gara semalaman begadang membaca komik atau novel dewasa. Bangun tidur kuterus ganti baju seragam dan berlari ke sekolah. Sambil berjalan, tak lupa mengusap dedaunan untuk mengambil embun, yang kemudian dibasuhkan ke wajah. Cuci muka dengan embun. Setiap pagi, embun Panjalu mengendap di balik daun. Betapa sejuknya cuci muka dengan embun dari dedaunan di Panjalu.

Itulah sebabnya Panjalu dikenal sebagai “Desa Embun”. Kalimat “Embun Panjalu” pernah saya lihat menghiasi kaca mobil angkutan jurusan Panjalu-Indihyang, Tasikmalaya. Embun yang puluhan tahun hampir tak pernah saya rasakan lagi. Kalau sekarang bangun kesiangan, mau tidak mau harus cuci muka dengan air PDAM. Tak bisa lagi mengandalkan embun di balik dedaunan.

Saya lahir di Kampung Simpar, salahsatu “Dusun Embun” di “Desa Embun”. Di kampung Simpar, Desa Panjalu, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat, saya memulai mengenali dunia ini dan belajar menjalani kehidupan, sampai usiaku menginjak 15 tahun. Setelah itu, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Bandung. Kuliah, bekerja, berkarya di Bandung dan Jakarta, sampai akhirnya menetap di Jakarta. Dari satu kost ke kost lainnya, dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya, dari satu kota ke kota lainnya, berpindah-pindah mencari jalan untuk menggapai cita-cita.

Panjalu, Jatayu, Panyileukan, Cipadung, Cibiru, Pekayon, Bantargebang, Cikoko, Arus, Utan Kayu, kelapagading, Cakung, dan entah berapa nama lagi tempat-tempat yang pernah saya jadikan untuk berteduh. Satu yang tidak pernah berubah, saya berasal dari sebuah kampung di Panjalu yang setiap menjelang Iedul Fitri selalu menjadi satu-satunya destinasi mudik.

Dalam hal lahir ke dunia,  sama sekali tidak ingat kapan dan di mana persisnya. Namun, orang tua yang memberitahu, bahwa saya di Dusun Simpar,  25 September 1977. Sekedar catatan, pada tahun 1999, Prof. Sobana Hardjasaputra (l. Ciamis, 4 September 1944) menyatakan bahwa  hari jadi Kota Bandung adalah 25 September 1810. Sejak itulah,  saya bisa menumpang perayaan ulang tahun pada Hari Jadi Kota Bandung.

Kampung Simpar menjadi salahsatu kampung yang mengelilingi Situ Lengkong Panjalu. Tetangga sebelahnya adalah Kampung Banjarwaru (sebelah timur), Sriwinangun (sebelah selatan), Citengah (sebelah utara). Sedangkan kampung-kampung lain yang mengelilingi Situ Lengkong Panjalu, di antaranya Pabuaran, Dukuh, Ranjeng, Cukangpadung, dan lain sebagainya.

Kampung Simpar begitu luas, terdiri dari beberapa wewengkon, seperti Cigorowek, Cijengkol, Rancakatel, Mundu, Tanjung, Pasirhaur, Putat, Cisaat, dsb. Dalam beberapa tulisan fiksi, saya lebih asyik memilih  nama lembur Cigorowék, terutama pada cerita humor.

Di Majalah Seni Budaya, pernah ada rubrik “From Cigorowek With Love”. Nama-nama tokohnya juga “meminjam” nama orang-orang yang terekam dalam ingata saya. Contohnya: Kadus Ukar (beliau memang menjadi Kepala Dusun Simpar, ketika saya masih tinggal di Simpar), Ustad Otong (beliau memang seorang ustad terkemuka di Dusun Simpar), Mama Iking (beliau memang seorang tokoh Kiai terkemuka, guru ngaji saya dan guru ngaji hampir semua para akhwat dan ikhwan), Neng Lina, Hansip Baron, Ulis Kowi, Kulisi Ook, Atek, Doya, Aday, RT Lili, Mang Amanta, Mantri Cahyo, dsb. Tentu saya sangat berterimakasih kepada beliau-beliau, yang telah menjadi salahsatu sumber inspirasi dalam karya-karya saya. Semoga Alloh SWT membalas dengan kebaikan yang sebaik-baiknya, Amiiin.

Kampung Simpar juga merupakan kampung kelahiran artis penyanyi Pop Indonesia Iis Sugiarti (l. 14 Agustus 1965), yang pernah berjaya di blantika musik Indonesia ketika pada tahun 1980-an meluncurkan album “Di sini Aku Menanti” ciptaan Obie Mesakh. Kampung Simpar telah melahirkan pemain sepak bola. Mudah-mudahan kita masih mengingat nama Asep Somantri, salahsatu pemain Persib Bandung yang pernah merumput bersama pemain legendaris Robby Darwis, Yusuf Bachtiar, dsb. Ada juga wartawan sebuah koran harian nasional (Suara Pembaruan),  Aa Sudirman. Beliau juga pernah menjabat sebagai Koordinator Redaktur Suara Pembaruan. Selain itu, kampung Simpar pun melahirkan seorang abdi negara penegak hukum, AKBP Drs. Nurfallah, SH., yang pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Reserse Kriminal (Reskrim) Polda Jawa Barat –setelah meniti kariernya dengan perjalanan yang cukup panjang, sebelumnya sempat menjadi Kapolres Toli-toli, Sulawesi Selatan. Termasuk melahirkan Agus Junara, yang pernah menjabat sebagai Bupati Tangerang di jaman orde baru.

Salah seorang yang sering berdiskusi santai adalah Alo Ujang Sutimo. Beliau adalah pengusaha besi yang sukses di Bandung. Pada tahun 1976, Alo Ujang Sutimo berhasil merakit mesin pemotong besi. Beliau sangat jenius dan cerdas di bidang permesinan. Tanpa harus berbekal ijazah atau meraih gelar sarjana, kecerdasannya sanggup bersaing dengan para sarjana tekhnik. Beliau berangkat ke Bandung, setelah bisa membaca dan menulis (kurang-lebih pada usia 12 tahun), dengan berbekal uang hasil penjualan kambing. Kini, meski sudah menjadi pengusaha sukses, Alo Ujang Sutimo tetap berpenampilan sederhana. Siapapun yang bertemu dengan Alo Ujang Sutimo, tidak akan menyangka kalau beliau adalah seorang “Big Boss”. Sehari-hari, beliau berkomunikasi menggunakan Bahasa Sunda, dan sangat menyukai bacaan berbahasa Sunda, baik buku, koran, maupun majalah. Tidak ubahnya dengan H. Omo atau H. Terry, pengusaha besi yang sukses, pun dikenal menjadi sosok teladan. Untuk kawan-kawan seangkatan saya yang terbilang sukses dalam berwiraswasta dan membuktikan bisa “hidup tanpa ijazah”, diantaranya adalah Yuni Sri Wahyuni, Dadah, dan banyak lagi yang lainnya.

Kendati demikian, saya tidak mengukur derajat manusia dengan materi atau jabatan. Saya menghormati semua sesepuh, kawan seangkatan, para senior, dan adik-adik di kampung Simpar tercinta. Ada beberapa nama yang sampai hari ini melekat dalam ingatan dan begitu saya kagumi. Misalnya Mang Maja, yang begitu gigih mengajarkan pencak silat kepada anak-anak dan pemuda pada saat itu (termasuk kepada saya); Ustad Otong dan Ustad Aef yang sangat gigih mengajarkan mengaji; Mang Kandi, sopir angkutan Bandung-Panjalu (BP) yang namanya begitu khas dan dikenal oleh seluruh sopir angkutan; Ade Amran, yang begitu gigih berjuang melalui sebuah partai hingga terpilih menjadi Anggota DPRD Kab. Ciamis; Mang Syarif (alm), yang begitu gigih menjadi pengusaha toge sampai menjelang akhir hayat (saya pernah menjajakan toge Mang Syarif, mengelilingi kampung Simpar); dan para petani yang setiap pagi memanggul cangkul mengolah kebun, yang  saat itu selalu melewati rumah. Yang saya kagumi bukanlah terpaku pada hasil, melainkan proses yang konsisten. Saya kagum atas perjuangan mereka dalam berikhtiar menafkahi keluarga. Oleh karenanya, kalau sekali-kali saya pulang kampung, kebahagiaan saya adalah bertemu dan berjabat-tangan dengan orang-orang yang sejak kecil saya kagumi.

Menurut cerita orang tua,  Kampung Simpar dulunya merupakan sebuah Desa, hingga terjadi longsor di Cibubuhan (Kurang lebih tahun 1908). Pada saat Simpar masih menjadi desa, yang menjabat kuwu adalah Bapak Paranadinata (Alm). Merupakan sosok pemimpin yang, kabarnya, patut dijadikan suri tauladan. Sangat mencintai dan menyayangi masyarakat. Tidak heran jika Bapak Paranadinata terpilih menjadi kuwu selama kurang lebih tujuh tahun.

Dari pernikahannya dengan Ibu Minda, lahir putra tunggal yang kemudian diberi nama Muhammad Nas Dipawikarta. Sosok yang secara genetic mengikuti garis keturunan dari orangtuanya. Peribahasa Sunda mengatakan “Teng manuk teng, anak merak kukuncungan”. Sebab pada saat itu, Bapak M.N. Dipawikarta pun menjabat lurah di Simpar.

Selanjutnya M.N. Dipawikarta menikah dengan  Siti Mariyah, putra sulung Bapak H. Mukhtar. Pada waktu itu,  kabarnya,  Siti Mariyah menjadi sosok perempuan yang diperebutkan  banyak pemuda. Tetapi yang berhasil meluluhkannya hanya  M.N. Dipawikarta, sampai akhirnya  Siti Mariyah jatuh hati kepada  M. N. Dipawikarta, dan bersepakat membangun  mahligai perkawinan.

M.N. Dipawikarta melahirkan 13 orang putra. Dua diantaranya meninggal waktu masih bayi, yaitu putra ke-6, bernama Kania Binarum dan putra ke-10 yang bernama Darpi. Artinya, putra  MN. Dipawikarta yang melahirkan generasi selanjutnya ada sebelas orang. Diantaranya: Encang Permata Ningrum, Purwa Dinata, Hj. Mindaresmi, Siti Madfuah, Siti Maemunah, Siti Sukaedah, Hj. Enang, Bahrum, Suwarna, E. Asikin Dipawikarta, dan Asep Edi Djuwaedi. Semuanya sudah dipanggil Yang Maha Kuasa.

Sebelas putra-putri M.N. Dipawikarta telah melahirkan keturunan yang kini tersebar di mana-mana. Namun, siapa saja dan dimana tepatnya? Itu  merupakan salah satu tujuan dibangunnya website ini, agar tidak pareumeun obor (tidak saling mengenal) dengan saudara. Saya sendiri adalah putra bungsu Bapak E. Asikin Dipawikarta. Dan sekali lagi, tujuan saya diantaranya adalah “menyalakan obor” di website ini semata-mata untuk lebih mempererat tali persaudaran dengan atau antar saudara, pun menambah saudara dalam arti yang lebih luas. Kebahagiaan terbesar dalam hidup saya adalah: memiliki banyak saudara dan tanpa harus punya musuh meski hanya seorang.




Saya cucu seorang lurah dan buyut seorang kuwu di Desa Embun. Hal ini yang perlu digaris bawahi. Sebab, kehidupan keluarga saya tidak sementereng jabatan kakek atau uyut. Saya lahir di tengah keluarga biasa, kalau terlalu kasar dikatakan miskin. Sejak saya ingat dunia ini, kesulitan ekonomi selalu menghantui hari-hari kami. Tidak punya kebun, sawah, tanah dimanapun, selain rumah yang kami tinggali di tanjakan Kampung Simpar. Semasa hidupnya, ayah bekerja di Pasar Besi Jatayu, Bandung. Bukan… bukan pemilik jongko besi. Hanya kuli biasa yang penghasilannya tidak menentu. Bahkan di hari-hari terakhir hidupnya, saya hanya tahu kalau ayah itu kegiatannya duduk di Pos Pasar Jatayu sambil membaca koran, merokok, dan minum kopi. Selanjutnya Alo Ujang Sutimo, membantu ayah, membangunkan sebuah kios rokok di pintu Pasar Jatayu. Bukan hanya membuatkan kios rokok, Ujang Sutimo pun yang memberikan modal usahanya sekaligus memberikan tempat tinggal di Gang Taruna, Jatayu, Bandung. Kalau saya liburan ke Bandung, ya… saya menumpang di sana, atau menumpang di rumah keluarga Mang Asep Edi Djuwaedi, di Jl. Padjadjaran, Bandung.

Itu yang membuat greget. Sejak duduk di Kelas VI SD, saya sudah tidak tahan untuk segera bekerja di kota. Kerja apapun yang penting dapat uang. Saya siap berjualan rokok di bis kota, kernet angkutan, atau pekerjaan kasar lainnya. Masalahnya saya pingin sepeda motor. Ayah tidak mampu membelikan motor. Lalu, saya turunkan permintaannya, meminta dibelikan sepeda saja. Itupun tidak pernah dikabulkan. Saya termasuk anak bandel yang sejak Kelas IV SD sudah keranjingan menonton film di THR (semacam bioskop misbar) dan menonton pertunjukan orkes dangdut. Anak bandel yang terlalu banyak keinginan, terlalu banyak permintaan, tanpa memikirkan kondisi orangtua.

Padahal saya pun tahu, kakak sulung, Hj. Tuti Sunarti, terpaksa hanya sekolah sampai tingkat SMA. Kemudian langsung bekerja di Makasar, Sulawesi Selatan. Setiap bulan, 95% gajinya dikirim ke ibu untuk membantu membiayai sekolah adik-adiknya, termasuk saya. Bagaimana bisa ia hidup di Sulawesi dengan 5% gajinya? Lalu, kakak saya yang kedua, H. Jumena Dipawikarta, pun tidak mampu melanjutkan kuliah. Selepas menyelesaikan pendidikan di SMAN Kawali, langsung bekerja, dan turut membantu biaya kehidupan kami. Sangat disayangkan, dua kakak saya itu semasa sekolahnya  menjadi murid cerdas dan selalu mendapatkan nilai istimewa. Semangat belajarnya tinggi. Bahkan H. Jumena, semasa sekolahnya sambil masantren juga, ngobong di Pondok Pesantren Sindangkerta. Seandainya dulu ada biaya untuk kuliah, mungkin dua kakak saya ini yang lebih layak mendapatkannya.

Pada tahun 1993, ketika saya duduk di Kelas III SMP, ayah meninggal dunia. Saya sudah bertekad, selepas SMP, mau merantau ke Bandung. Saya sudah tidak tahan dengan kemiskinan. Terlalu banyak keinginan saya, yang saya rasa hanya bisa saya raih dengan tangan sendiri. Kepercayaan diri saya waktu itu begitu tinggi. Saya yakin mampu melakukannya di Kota Bandung. Saya siap bekerja keras untuk mengubah nasib.

Beruntung kakak saya, Hj. Tuti mendaftarkan saya untuk sekolah di SMA Pasundan 7 Bandung. Jadi, saya tetap bisa sekolah dengan dibiayai oleh kakak. Namun, saya anak yang tidak bisa berdiam diri berpangku tangan. Terlalu banyak keinginan saya. Sehingga saya tidak tinggal diam. Sejak kelas I SMA, setiap pulang sekolah, saya langsung turun ke jalanan, menjadi tukang becak di Bumi Panyileukan, Kernet angkot, calo angkot, ojek, dan kuli di matrial bangunan. Sering kali saya tertidur di emper jalan atau di atas becak. Masa remaja saya, dihabiskan di jalanan dengan gembira. Kehidupan yang begitu keras, secara langsung saya alami. Tidak masalah, yang penting saya mencari uang dengan cara halal.

Ada satu kebiasaan yang saya lakukan pada saat itu. Kebiasaan yang dianggap “kebiasaan gila” oleh teman-teman di jalanan. Yaitu, kebiasaan menulis catatan harian dan menulis cerpen. Sering kali saya duduk di emper toko sambil menulis, dan tertidur disana. Beberapa teman di Komplek Panyileukan sudah menganggap saya orang gila yang bermimpi menjadi penulis. Tidak masalah juga, yang penting saya tetap merasa waras.

Dengan menulislah saya bisa menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati, dan kini sedang berjuang menuntaskan S3. Honorarium menulis dari Majalah Manglé, Seni Budaya, Bina Dakwah, Pasundan, Cupumanik, Koran Galamedia, Pikiran Rakyat, Kompas, Tribun Jabar, dan berbagai media lainnya telah begitu banyak menyumbang biaya kuliah dan biaya hidup saya. Tentu, termasuk honorarium menulis skenario dari beberapa Production House.

Selain itu, saya juga merasakan begitu banyak keberuntungan dalam menjalani hidup ini. Ada banyak jalan yang dimudahkan Allah SWT. Ada banyak dipertemukan dengan orang-orang baik hati, yang sangat membantu dalam menentukan langkah berikutnya dalam hidup saya. Sungguh saya sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik yang begitu besar jasanya dalam hidup saya; seperti Ching-ching Liana, Dadan Sutisna, Lia Refany, Hawe Setiawan, Enjang AS, Erwan Juhara, Danny Yogasmara, Asep Saeful Muhtadi, Asep Syamsul M. Romli, Suci Puspitasari, Cecep Burdansyah, Soeria Disastra, Netty Martin, Gustaf Harriman Iskandar, Ging Ginanjar, Miftahul Malik, Agus Bebeng, Ahmad Gibson Al Bustomi, Bambang Q Anees, Nandang Darana, Hadi Seta, Prawoto Soeboer Rahardjo, Marcel Sule, Wa Kabul, Agus Ahmad Safe’i, Teten Masduki, Nasrullah, Arturo Gunapriatna, dan masih banyak nama lagi.

Pernah suatu kali saya berbincang santai dengan seorang ustad. Kira-kira seperti ini hal yang saya sampaikan: “ustad, saya banyak menemui keberuntungan yang tidak saya duga dalam menjalani hidup ini. Padahal, saya merasa tidak pernah berbuat kebaikan kepada siapapun. Hal apa kira-kira yang menyebabkan keberuntungan itu?”

Jawaban ustad itu membuat saya terkejut dan mampu membangun kesadaran yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Begini kata ustad, “Keberuntunganmu diimbangi oleh kerja kerasmu sendiri dan doa ibumu, serta doa orang-orang yang menyayangimu. Tapi banyak orang yang bekerja keras, tetapi tidak mendapatkan keberuntungan seperti kamu. Nah… keberuntunganmu sepertinya ditanam oleh bapakmu yang selama hidupnya banyak berbuat kebaikan kepada orang lain. Mungkin dulu bapakmu orang yang sabar. Mungkin dulu bapakmu orang yang selalu mengalah. Bapakmu tidak sempat menuai kebaikan-kebaikan yang pernah ditanamnya, dan kamulah yang menuainya…”

Setelah mendapat jawaban dari ustad itu, saya sering berkunjung ke tempat yang pernah dikunjungi ayah, termasuk ke Pasar Besi Jatayu. Memang, dari cerita-cerita orang yang saya temui, persis seperti yang dikatakan ustad tersebut. Sejak itulah saya merasa bangga dan sangat bersyukur menjadi anaknya Pak Aceng Asikin Dipawikarta. Warisannya lebih berharga dari harta yang berlimpah. Saya tidak akan pernah menyesal punya ayah yang tidak mampu membelikan sepeda. Tidak akan pernah. Saya sangat bangga dan sangat menghormati ayah yang sampai detik akhir hidupnya tak pernah berhenti mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.

Kampung Simpar, Desa Panjalu, Kabupaten Ciamis, 12 Oktober 2007

—diperbaharui di Cakung, 7 Mei 2017

 

Salam Persaudaraan, Dhipa Galuh Purba

Leave a Comment