Embun

Kampung Simpar, Desa Panjalu, Kabupaten Ciamis, 2003
NAMA Dusun Embun hanyalah rekaan saya. Nama yang dimaksud adalah Dusun Simpar atau Kampung Simpar. Kenapa disebut Dusun Embun? Sebab, Dusun Simpar merupakan salahsatu bagian dari Desa dan Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis. Sedangkan Panjalu kerap disebut sebagai “Kota Ibun”. Julukan itu bukan sekedar basa-basi. Silahkan berkunjung ke Panjalu, dan langsung nikmati sensasi ibun Panjalu.
Dalam beberapa tulisan fiksi, saya sekali-kali menyebut Dusun Simpar dengan nama “Simpar Kasumbar”. Itu pun hanya rekaan yang datang dari lubuk hati. Entahlah, tiba-tiba saja jari-jari ini secara reflek menulis “Simpar Kasumbar”.
Dusun Simpar adalah bali geusan ngajadi (tempat kelahiran) saya. Dalam hal lahir ke dunia, saya sama sekali tidak ingat kapan dan di mana persisnya. Namun, kedua orang tua yang memberitahu, bahwa di Dusun Simpar saya lahir, tepatnya
Kembali ke Dusun Simpar. Kampung ini menjadi salahsatu lembur yang mengelilingi Situ Lengkong Panjalu. Kampung Simpar bertetangga dengan Banjarwaru (sebelah timur), Sriwinangun (sebelah selatan), Citengah (sebelah utara). Sedangkan kampung-kampung lain yang mengelilingi Situ Lengkong Panjalu, di antaranya Pabuaran, Dukuh, Cukangpadung, dsb.
Foto Kampung Simpar yang ditampilkan di sini, pengambilan gambarnya dilakukan dari halaman rumah Ceu Ii (kakak tertua saya), yang terletak di RT 7, termasuk dataran yang cukup tinggi. Lihat saja, dari halaman rumah Ceu Ii, kita bisa menyaksikan genting-genting rumah Kampung Simpar, pohon-pohon yang menjulang, juga Situ Lengkong Panjalu. Genting rumah orang tua saya salahsatu di antaranya. Tentu jauh lebih kecil dibanding genting rumah mertua Dr. H. Uce Karna Suganda, mantan Direktur Umum Bank Jabar.

Dr. H. Uce Karna Suganda (Kiri), Iis Sugiarti (Kanan)
H. Uce Karna Suganda sangat harum namanya. Beliau dikenal sebagai seorang dermawan di Kampung Simpar. Beliau aslinya dari Kampung Sriwinangun, dan menikah dengan gadis Simpar. Selain H. Uce Karna Suganda, banyak sosok dermawan lainnya di Kampung Simpar, seperti Alo Ujang Sutimo, H. Omo, H. Terry, dll. Salahsatu putra H. Terry terjun ke dunia musik, menjadi salahsatu personil musik dari TAHTA BAND, yang belakangan ini digandrungi para “ABG”. Namanya Mahesa, tetapi lebih akrab dipanggil “MAHE”.
Alo Ujang Sutimo adalah pengusaha besi yang sukses di
Kampung Simpar juga merupakan lembur kelahiran artis penyanyi Pop Indonesia Iis Sugiarti (l. 14 Agustus 1965), yang pernah berjaya di blantika musik
Kampung Simpar begitu luas, terdiri dari beberapa wewengkon, seperti Cigorowek, Cijengkol, Rancakatel, Mundu, Tanjung, Pasirhaur, Putat, Cisaat, dsb (data statistik yang lebih rinci, insyaAlloh akan segera menyusul). Menurut orang tua, saya lahir di sebuah rumah yang terletaak di belakang Masjid Jambe (Masjid Jami Simpar, yang sekarang bernama Masjid Al-Hidayah). Lokasinya lebih dekat ke wewengkon Cigorowek. Oleh karena itu, saya sangat menyukai nama Cigorowek.
Dalam beberapa tulisan fiksi, sering menggunakan nama lembur Cigorowek, terutama pada cerita humor. Di Majalah Seni Budaya, ada rubrik “From Cigorowek With Love”. Nama-nama tokohnya juga “meminjam” nama orang-orang yang terekam dalam benak saya. Contohnya: Kadus Ukar (beliau memang menjadi Kepala Dusun Simpar, ketika saya masih tinggal di Simpar), Ustad Otong (beliau memang seorang ustad terkemuka di Dusun Simpar), Mama Iking (beliau memang seorang tokoh Kiai terkemuka, guru ngaji saya dan guru ngaji hampir semua para akhwat dan ikhwan), Neng Lina, Hansip Baron, Ulis Kowi, Kulisi Ook, Atek, Doya, Aday, RT Lili, Mang Amanta, Mantri Cahyo, dsb. Tentu saja penunggu saya sangat berterimakasih kepada beliau-beliau, yang telah menjadi salahsatu sumber inspirasi dalam karya-karya penunggu saya. Semoga Alloh SWT membalas dengan kebaikan yang sebaik-baiknya, Amiiin.

Mahesa, drumber Tahta Band
Termasuk ketika menulis skenario sinetron “Wadal Buta Hejo” (PT. Lunar Jaya Film), seting lokasinya menggunakan nama Cigorowek. Dalam sinetron tersebut, ada tokoh Jumena (diperankan oleh Baron Hermanto), Lurah Ukar (diperankan oleh Wa Kabul), Neng Lina (diperankan oleh Yullia), Aceng (diperankan oleh Abeng), Durgapati (diperankan oleh Tedi Jomantara), Hansip Oding (diperankan oleh Ahmad), Ulis Kowi (diperankan oleh Kosim/ manager SOS), Buta Hejo (diperankan oleh saya), dsb. Penggarapan syuting “Wadal Buta Hejo” berlangsung di Kampung Bojongkonci, Katapang, Kabupaten Bandung.

Kampung Simpar, Desa Panjalu, Kabupaten Ciamis, 12 Oktober 2007
Kembali ke Kampung Simpar. Menurut orang tua, dulu Kampung Simpar merupakan sebuah Desa. Sampai pada akhirnya terjadi longsor di Cibubuhan (Kurang lebih tahun 1908). Pada saat Simpar masih menjadi desa, yang menjabat kuwunya adalah Bapak Paranadinata (Alm). Merupakan sosok pemimpin yang patut dijadikan suri tauladan. Sangat mencintai dan menyayangi masyarakat. Tidak heran jika Bapak Paranadinata terpilih menjadi kuwu selama kurang lebih tujuh tahun.
Dari pernikahannya dengan Ibu Minda, maka terlahirlah putra tunggal yang kemudian diberi nama Muhammad Nas Dipawikarta. Sosok laki-laki yang mengikuti garis dari ayahnya. Peribahasa Sunda mengatakan Teng manuk teng, anak merak kukuncungan. Sebab pada saat itu, Bapak M.N. Dipawikarta pun menjabat lurah di Simpar.
Bapak M.N. Dipawikarta bersanding dengan bunga mekar kampung Simpar, bernama Ibu Siti Mariyah, putra sulung Bapak H. Mukhtar. Pada waktu itu, menurut cerita orang tua, Ibu Siti Mariyah diperebutkan oleh banyak pemuda. Tetapi yang berhasil meluluhkannya hanya Bapak M.N.Dipawikarta. Akhirnya Ibu Siti Mariyah pun jatuh cinta kepada Bapak M. N. Dipawikarta, bahkan sampai meniti mahligai perkawinan dan membangun rumah tangga.

Di depan makam Bapa E. Asikin Dipawikarta (Ujang Sutimo, kedua dari kiri), Tahun 1999
Bapak M.N. Dipawikarta melahirkan 13 orang putra. Dua diantaranya meninggal waktu masih bayi, yaitu putra ke-6, bernama Kania Binarum dan putra ke-10 yang bernama Darpi. Artinya, putra Bapak MN. Dipawikarta yang melahirkan generasi selanjutnya ada sebelas orang. Diantaranya: Encang Permata Ningrum, Purwa Dinata (Alm), Hj. Mindaresmi (alm), Siti Madfuah (Alm), Siti Maemunah (Alm), Siti Sukaedah (Alm), Hj. Enang, Bahrum (alm), Suwarna (Alm), E. Asikin Dipawikarta (Alm), dan Asep Edi Djuwaedi (Alm).
Sebelas putra-putri Bapak M.N. Dipawikarta telah melahirkan keturunan yang kini tersebar di mana-mana. Namun, siapa saja dan dimana tepatnya? Itu juga merupakan salah satu tujuan dibangunnya website ini, agar tidak pareumeun obor dengan saudara. Saya sendiri adalah putra bungsu Bapak E. Asikin Dipawikarta. Dan sekali lagi, tujuan saya “menyalakan obor” di website ini semata-mata hanyalah untuk lebih mempererat tali persaudaran dengan atau antar saudara, pun menambah saudara dalam arti yang lebih luas. Kebahagiaan terbesar dalam hidup saya adalah: memiliki banyak saudara dan tanpa harus punya musuh meski hanya seorang.
Salam Hangat Selamanya
Dhipa Galuh Purba













mo nanya..ada yang ngarti siapa H.Hasan Mustafa /Penghulu Ciamis yang menikah sama Wasiyem tahun 1900-an?Apa H. Hasan Mustafa Penghulu besar Bandung atawa bukan kitu..?balasna ka email urang nya’..
haturnuhun Akang..
wah..waas ningali photona,panjalu memang raos tiis pisan.
Leres, tiis tingtrim tumaninah. Tiis cepil hérang soca. Komo upami teu gaduh sametan mah, dijamin langkung tingtrim.
DHIPA GALUH PURBA
Muhun..sigana raos kulem..ngan panginten kedah gaduh salimut seueur
Raos pisan. Salimut mah teu kedah seueur-seueur. Hiji oge cekap asal simbutna aya ramoan…
DHIPA GALUH PURBA
Sebagai alumni SMAN 1 Panjalu, saya sangat bangga terhadap kebudayaan dan kehidupan di Panjalu. Untuk itu mari kita lestarikan adat istiadat dan kebudayaan Panjalu. Kalau bukan kita siapa lagi?
mo minta informasi lengkap tentang Panjalu.
Terimakasih atas kunjungannya, saya senang mempunyai banyak sahabat. InsyaAlloh informasi tentang Panjalu akan diperbanyak.
DHIPA GALUH PURBA
Sampurasun !!! Alhamdulillah urang bisa tepung jeung dulur bari jeung ngapung di awang-awang. Lur ! Naha enya aya keneh ” ibun panjalu” teh ? Da geuning ari euceu mulang ka lembur, ayeuna mah geus tara ngahodhod kudu siduru isuk (keur mah hawuna oge geus diganti ku kompor gas!).Maca tulisan Mong-mong,euceu jadi kagagas ngawawaas jaman keur budak: Isuk keneh rebun-rebun, bari ditungtun kuring leumpang nataan jalan satapak, muru Cilanglung mapay baraya. Unggal imah ditataan, tah eta teh baraya ! Tuh itu teh dulur! Teu kaitung sabaraha imah nu dianjangan. Wanci haneut moyan katingal raray Eyang marahmay, tanda sugema:”Isukan mah urang ka Cigorowek!”, saurna. (Kenangan terindah & amp; tak terlupakan bersama Eyang Dipawikarta). Hatur salam ka sadaya putu Eyang Dipawikarta……….hidup Simpar!!!
Rampeees…
Bingah pisan tiasa silaturahmi di dunya maya sareng Ceu Euis. Kumaha daramang? Mugia salawasna aya dina panangtayungan Alloh SWT.
Ibun Panjalu, sanaos memang henteu siga kapungkur, dugi ka ayeuna tetep aya. Di wewengkon putat, contona, urang masih tiasa tepung sareng ibun panjalu. Memang matak kagagas, waas, marelang, da geuning budaya deungeun langkung mahabu tug dugi ka ngaprak ka tepis wiring.
Bet matak kabita eta panineungan sareng eyang. margi… ti barang abdi emut kumelendang di tatar Simpar, teu kantos ngalaman paadu teuteup patepang raray sareng eyang.
Salam baktos ka sadaya wargi di Karawang.
DHIPA GALUH PURBA
Ass.Wr.Wb
Sampurasun…kang dhipa, duh asa caang yeuh alam dunya teh geuning, tos seep dengkak simkuring teh kang..milarian situs sunda.. eh geuning orang sunda teh ngarumpeulna didieu cenah dulur…. araya keuneh kitu baraya teh …punten banyol. nepangkeun simkuring bugie ti bandung kaleureusan nuju ngumbara di pulo borneo ieu teh…tos lami teuing simkuring teh dileuweung ..ah urang jalan - jalan ka kota mampir we ka warnet..eh mendak webset na urang sunada…nya langsung we..sae pisan kang ieu wab site teh teu eleh lah ku urang luar nagri nya..kang.. hapunten sataacana simkuring hoyong nga download caritana sijalak harupat..dimananya kang milarianna, mamanawi kagungan kang? eh kang…hiji deui kang naros manawi kenal sareng kang dian hendrayana damas? nuhun nya.haturnuhun sateacanna… hidup persib.
Rampeeees…! Muhun alam dunya caang keneh. Sami-sami nyanggakeun salam pangwanoh, bingah pisan tiasa silaturahmi di dunya maya
Perkawis lalakon Oto Iskandar Dinata, insyaAlloh urang paluruh heula. Upami tos aya, mangga engke dipdangkeun dina ieu web.
Kang Dian Hendrayana kantenan sobat abdi. Upami teu aya pamengan, insyaAlloh ping 30 Mei 2008, abdi dipercanten jadi pamingpin produksi “Peluncuran CD Musikalisasi Sajak Sunda karya Kang Dian Hendrayana”. Tempatna bade lumangsung di Gedong Kasenian Rumentangsiang, Jl. Baranangsiang No. 1, Bandung. Ka saha bae anu baris ngaluuhan, mangga diantos kasumpinganana.
DHIPA GALUH PURBA
Wilujeng tepang.
Asa reueus simkuring mah upami ngaguar website urang sunda teh, kaubaran ieu hate teh lir ningali film nyawang jaman katukang basa keur budak.
buruan pinuh kukagumbiraan ,lembur pinuh kurasa babarengan ,gotong royong .malihan mah na hate sok ngagerentes naha bisa incu buyut ngomong basana sorangan? ah duka teuing ..(mugia ieu basa ulah leungit) .mangga urang biasakeun nyunda..tina omongan ,tina kahirupan sapopoe..hatur nuhun .cag…
Sami-sami, wilujeng tepang.
sae hayu urang biasakeun tur ngarasa reueus ku basa indung urang.
Hatur nuhun parantos kersa linggih ka dieu.
DHIPA GALUH PURBA
akhirna kalaksanakeun tah ka Simpar…raos tis,ngan hanjakal bade nguseup..ngaliwet teu kabujeng….
da bisi ka wengian ka kuningan.
salam ka tetehnya.
Wah… pasti raoseun atuh nya. Kade pami ka Kuningan nyandak Jalan Jahim, ulah sok wengi-wengi ah, melang. Salamna insyaAlloh bade didugikeun.
DHIPA GALUH PURBA
muhun eta meuni sieun ih…..teu ningali basa aya anu ngolebat,,mantak teu di wartoskeun..da bilih kaweur..
tapi di gunung jaim pan enakeun lauk asin..sareng marap ongki…pokonamah kenangan ,eh kabar rizal kumaha?
His… ulah sok nyingsieunan ka nu sieunan, bilih engke janten wanian. leres pisan di Gunung mah sagala rupi oge raos, komo pami nuju lapar mah nya. Rizal masih tetep Zajurig….
DHIPA GALUH PURBA
emM..Menurut saya sebagai orang ciamis,sangat bangga dengan adanya Panjalu karena disana terdapat panorama alam yang sangat indah yaitu disitu lengkong…untuk itu saya menghimbau untuk tetap menjaga dan merawatnya!!!!! terima kasih…
salut buat anda yang mencintai lemah cai sendiri. Betul, keindaham alam harus dijaga, dirawat, jangan malah dirusak. Biar Ciamis tetap manis, sejuk, indah, dan selalu amis budi…
DHIPA GALUH PURBA
saya nggak nyangka ternyata uwa saya (Ujang Sutimo) masuk juga di internet
Oh, ini suannya Alo Ujang? aeh.. na mani asa pabaliut kieu pancakaki teh. Ok.. trims atas komentarnya, saya pamannya Ujang Sutimo…
DHIPA GALUH PURBA
ini teh websitex sp sih salam kenal dari saya asli orang panjalu, ikut gabung di web ini.
Ini websitex kita bersama, diperuntukan bagi orang mana saja, apalagi dari Panjalu. Ayo, kita bergabung, berkumpul, bersilaturahmi di sini! Silahkan keluarkan unek-unek, saran, kritik dan apa saja mengenai website ini, mengenai Panjalu, Ciamis, Bandung, Jawa Barat, Indonesia, dan dunia; Mengenai seni, budaya, ekonomi, politik, dsb…
DHIPA GALUH PURBA
Beu beu… matak waas macana, ngiring ngarengkol didieu sakedap juragan… punten ah
Mangga sanaos bade teras tibra tug dugi ka ngaguher ogenan… sing tumaninah kadinyah ah…
DHIPA GALUH PURBA
sumuhun saya teh suannya pa ujang
putra ke 2 ma Ende (adik bungsu pak Ujang). janten abdi mah mernahna aki nya? Ki mongmong uapam teu lepat mah nya?
Oh… muhun sae atuh Alhamdulillah tiasa silaturahmi di dunya maya. Salam bakos ka sadaya kulawargi. Leres pisan Aki Mongmong. Tapi omat di payuneun istri mah ulah sok nyebat “Aki”, bilih disangki tos aki-aki. Apan abdi mah ABG keneh.
DHIPA GALUH PURBA
His… tetep we nyebat mah AKI. Tapi… disingkat nya. Disingkatna ulah pengkerna, tapi payunna. Upami disingkat pengkerna mah jadi: “KI”, tah… ari disingkat payunna mah jadi: “A”. Conto kalimat: “Damang, A?” Tuuuh… pan henteu siga neybat “AKI”. Padahal tujuanna mah sami wae “AKI”…
DHIPA GALUH PURBA
heheheheh….. sumuhun atuh Ki eh A..
tos aya photoan ayeunamah. eta caket pa ujang nu nganggo kopeah teh abdi. tosa lami pisan eta photoa na….
Halahhh geuning berenyit keneh baheula mah nya? Ayeuna saageung kumaha? Mugia we sing jangkung luhur simbar dada gagah siga aki…
DHIPA GALUH PURBA
Sampurasun Abdi mah ti Pabuaran simpang Ka maparah tea Putrina Mang Sobari Polisi sareng Ma Ipin nu dagang Surabi tea,alumni SMP Panjalu tahun1977 da ayeuna mah abdi di Samarinda,gaduh rerencangan Elin Barlina di Simpar.asa waas ari ningali lembur tina internet teh,ngan nya kitu ku tebihna ari nuju lebaran teu tiasa mudik kalembur deui,janten teu tiasa manggihan rerencangan sakolah,da ayeuna mah tos janten nini nini tos incuan mun bisih tepang sareng rerencangan abdi anu di Simpar,Pabuaran,Sukamantri salam kasadayana
Nuhun nya.
Euleuh-euleuh… aya ku wararaas nyaaaa, lulusan 1977 (mareng pisan sareng taun kelahiran abdi). Mugia salawasna aya dina panangtayungan Alloh SWT bubuara di Samarinda. Mangga, engke bade dipaluruh sobat-sobat anu di Simpar. Manawi gaduh putu istri hiji, kanggo rerencangan abdi nu nuju milari jodo, Pandu Radea urang Panjalu sareng Dadan Sutisna urang Tanjungsari…
DHIPA GALUH PURBA
eta teh teu lepat taun na photo teh, da taun 1999 mah abi tos kelas 1 SMA tapi asa alit pisan. Ari ayeuna mah abdi tos ageung kuliah oge tos rengse. da kantos pependak sareng A oge..
satuan kapengker upami teu lepat mah. Da ayeuna abi ge di Bandung sareng Pa Ujang di Cibeureum.
Taun sabaraha atuh nya? Tapi… da ukuranna A. Ayeuna A masih keneh gagah teu tebih tina poto, jadi asa taun 1999 eta poto teh.
Salam baktos ka Alo Ujang. InsyaAlloh engke bade nganjang ka Leuweunggede, sono tos lami henteu ngadu bako… Kamari boboran di lembur teu kabujeng ngadu bako, margi A nuju sibuk apel.
DHIPA GALUH PURBA
Euleuh aya ku waas saparantos maos “Ibun Panjalu”. Kampung simpar tempat diborojolkeunana sim kuring. Tempat-tempat di Simpar anu disebatan ngagugah panineungan simkuring mangsa alam katukang. Ngarit keur domba jeung marmot di Rancakatel,Panganginan; ngala suluh ka Cigenteng,Sempur,Pasir Haur, Sawera; ngojay di balong pa Dawi, diajar ngaos ku Mama Iking. Nuhun ah, parantos ngagugah deui panyawangan kuring mangsa keur budak. Salam na bae ka urang Simpar nu sami keur ngalumbara.
Haturan… aya wargi salembur geuningan, hatur nuhn tos rurumpaheun nyawang bulan di langit dusun embun. Alhamdulillah kaemutan eta nami “Sawera”. Muhun, kapungkur sering pisan kasabit-sabit “Sawera” teh. Tapi ari “Sempur” mah asa nembe terang ayeuna. Hanjakal abdi mah rada ngedul ngala suluh teh. Kapungkur memang rerencangan teh sok ka leuweung, ngala suluh. Tapi abdi mah hoream hawana teh, teu tiasa tuak-taek, pucal-pacul, komo ngarit. Batan ka leuweung mah mending keneh ka terminal Panjalu, sok ngenekan mobil Si Akang urang Cikole. Emut keneh, buruh ngenekan teh antara Rp 500,- dugi ka Rp 1.500,- (kumaha ramena muatan we). Tah… ngojay di balong Pa Dawi mah rajin pisan. Ngubek balong dugi ka sok dibuburak. Aya tajug di luhureun balong Pa Dawi. Tapi batan dianggo netepan mah kalah dianggo gegelutan nurutan dina film. Nu eleh, langsung tigujubar ka balong.
DHIPA GALUH PURBA
Kang,punten yeuh, nyungkeun foto IIS nya, tapi ku abdi tos diserat sumberna ti dieu.
Kaleresan abdi keur masang lagu top iis di blog Nostalgia.
punten we ieu mah, dipasihkeun henteuna da tos di pasang he he he he nya
sindang atuh ka blog abdi lah.
Panjalu ? .. . wadudu . . . nagri endah kabina bina, hoream balik mun ka dinya. Eta oge lantaran pernah ka imah babaturan di Mala usma, ayeuna jadi bos beusi di Bandung.
Nuhun ah . .
Alah asa wararaas ngaos eta dongeng Embun. Ras we jadi emut ka lembur sorangan di kampung Pasawahan Tarogong Garut. Jadi weh hayang balik. Padahal di lembur teh geus teu araya sepuh mah.
Ih ayi Dhipa eta mani nyeredet ningal neng Iis. Wargi keneh tateh? Sanaos abah geus kolot ge hoyong we atuh dikenalkeun. Peupeuriheun ka neng Mega mah ukur dina dunia maya wungkul. Iraha2 mah abah ge hayang nganjang ka Kawali, sakalian ningal patilasan karajaan Galuh. Malah ka mahasiswa Pariwisata ge tos diajakan. Mani birak pisan maranehna teh. Pajarkeun teh sakalian rek PKL cenah.