Embun

Kampung Simpar, Desa Panjalu, Kabupaten Ciamis, 2003

NAMA Dusun Embun hanyalah rekaan saya. Nama yang dimaksud adalah Dusun Simpar atau Kampung Simpar. Kenapa disebut Dusun Embun? Sebab, Dusun Simpar merupakan salahsatu bagian dari Desa dan Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis. Sedangkan Panjalu kerap disebut sebagai “Kota Ibun”. Julukan itu bukan sekedar basa-basi. Silahkan berkunjung ke Panjalu, dan langsung nikmati sensasi ibun Panjalu.

 

Dalam beberapa tulisan fiksi, saya sekali-kali menyebut Dusun Simpar dengan nama “Simpar Kasumbar”. Itu pun hanya rekaan yang datang dari lubuk hati. Entahlah, tiba-tiba saja jari-jari ini secara reflek menulis “Simpar Kasumbar”.

 

Dusun Simpar adalah bali geusan ngajadi (tempat kelahiran) saya. Dalam hal lahir ke dunia, saya sama sekali tidak ingat kapan dan di mana persisnya. Namun, kedua orang tua yang memberitahu, bahwa di Dusun Simpar saya lahir, tepatnya 25 September 1977. Sekedar catatan, kini tanggal 25 September diperingati sebagai hari jadi Kota Bandung. Namun, hari jadi kota Bandung tidak terinspirasi oleh kelahiran saya. Sebab, kalau diklaim oleh saya, maka pengarang Sunda Deni Hadiansah pasti akan segera bereaksi, karena beliau pun lahir pada 25 September. Kendati demikian, salut buat Kang Sobana Hardjasaputra (l. Ciamis, 4 September 1944), yang pada tahun 1999 berhasil menjadi penemu hari jadi Kota Bandung, yakni: 25 September 1810.

 

Kembali ke Dusun Simpar. Kampung ini menjadi salahsatu lembur yang mengelilingi Situ Lengkong Panjalu. Kampung Simpar bertetangga dengan Banjarwaru (sebelah timur), Sriwinangun (sebelah selatan), Citengah (sebelah utara). Sedangkan kampung-kampung lain yang mengelilingi Situ Lengkong Panjalu, di antaranya Pabuaran, Dukuh, Cukangpadung, dsb.

 

Foto Kampung Simpar yang ditampilkan di sini, pengambilan gambarnya dilakukan dari halaman rumah Ceu Ii (kakak tertua saya), yang terletak di RT 7, termasuk dataran yang cukup tinggi. Lihat saja, dari halaman rumah Ceu Ii, kita bisa menyaksikan genting-genting rumah Kampung Simpar, pohon-pohon yang menjulang, juga Situ Lengkong Panjalu. Genting rumah orang tua saya salahsatu di antaranya. Tentu jauh lebih kecil dibanding genting rumah mertua Dr. H. Uce Karna Suganda, mantan Direktur Umum Bank Jabar.

Salah seorang yang sering saya ajak diskusi adalah Alo Ujang Sutimo. Beliau adalah pengusaha besi yang sukses di Bandung. Pada tahun 1976, Alo Ujang Sutimo berhasil merakit mesin pemotong besi. Beliau sangat jenius dan cerdas di bidang permesinan. Tanpa harus berbekal ijazah atau meraih gelar sarjana, kecerdasannya sanggup bersaing dengan para sarjana tekhnik. Beliau berangkat ke Bandung, setelah bisa membaca dan menulis (kurang-lebih 12 tahun), dengan berbekal uang hasil penjualan kambing. Kini, meski sudah menjadi pengusaha sukses, Alo Ujang Sutimo tetap berpenampilan sederhana. Siapapun yang bertemu dengan Alo Ujang Sutimo, tidak akan menyangka kalau beliau adalah seorang “Big Boss”. Sehari-hari, beliau berkomunikasi menggunakan Bahasa Sunda, dan sangat menyukai bacaan berbahasa Sunda, baik buku, koran, maupun majalah. Beliau, sering membantu saya, disaat saya sedang dalam kesulitan. Tidak ubahnya dengan H. Omo atau H. Terry, pengusaha besi yang sukses, pun dikenal menjadi sosok teladan. Untuk kawan-kawan seangkatan saya yang terbilang sukses dalam berwiraswasta dan membuktikan bisa “hidup tanpa ijazah”, diantaranya adalah Yuni Sri Wahyuni, Dadah, dan banyak lagi yang lainnya.

 

Kendati demikian, saya tidak mengukur derajat manusia dengan materi atau jabatan. Saya menghormati semua sesepuh, kawan seangkatan, para senior, dan adik-adik di kampung Simpar tercinta. Ada beberapa nama yang sampai hari ini melekat dalam ingatan dan begitu saya kagumi. Misalnya Mang Maja, yang begitu gigih mengajarkan pencak silat kepada anak-anak dan pemuda pada saat itu (termasuk kepada saya); Ustad Otong dan Ustad Aef yang sangat gigih mengajarkan mengaji; Mang Kandi, sopir angkutan Bandung-Panjalu (BP) yang namanya begitu khas dan dikenal oleh seluruh sopir angkutan; Ade Amran, yang begitu gigih berjuang melalui sebuah partai; Mang Syarif (alm), yang begitu gigih menjadi pengusaha toge sampai menjelang akhir hayat (saya pernah menjajakan toge Mang Syarif, mengelilingi kampung Simpar); dan para petani yang setiap pagi memanggul cangkul mengolah kebun, yang  saat itu selalu melewati rumah. Yang saya kagumi bukanlah terpaku pada hasil, melainkan proses yang konsisten. Saya kagum atas perjuangan mereka dalam berikhtiar menafkahi keluarga. Oleh karenanya, kalau sekali-kali saya pulang kampung, kebahagiaan saya adalah bertemu dan berjabat-tangan dengan orang-orang yang sejak kecil saya kagumi.       

 

Kampung Simpar juga merupakan lembur kelahiran artis penyanyi Pop Indonesia Iis Sugiarti (l. 14 Agustus 1965), yang pernah berjaya di blantika musik Indonesia ketika pada tahun 1980-an meluncurkan album “Di sini Aku Menanti” ciptaan Obie Mesakh. Kampung Simpar pun telah melahirkan pemain sepak bola. Mudah-mudahan kita masih mengingat nama Asep Somantri, salahsatu pemain Persib Bandung yang pernah merumput bersama pemain legendaris Robby Darwis, Yusuf Bachtiar, dsb. Ada juga wartawan sebuah koran harian nasional (Suara Pembaruan), bernama Aa Sudirman. Beliau juga menjabat sebagai Koordinator Redaktur Suara Pembaruan. Selain itu, kampung Simpar pun melahirkan seorang abdi negara penegak hukum, AKBP Drs. Nurfallah, SH., yang kini menjabat sebagai Wakil Direktur Reserse Kriminal (Reskrim) Polda Jawa Barat –setelah meniti kariernya dengan perjalanan yang cukup panjang, sebelumnya sempat menjadi Kapolres Toli-toli, Sulawesi Selatan.  

Kampung Simpar begitu luas, terdiri dari beberapa wewengkon, seperti Cigorowek, Cijengkol, Rancakatel, Mundu, Tanjung, Pasirhaur, Putat, Cisaat, dsb (data statistik yang lebih rinci, insyaAlloh akan segera menyusul). Menurut orang tua, saya lahir di sebuah rumah yang terletaak di belakang Masjid Jambe (Masjid Jami Simpar, yang sekarang bernama Masjid Al-Hidayah). Lokasinya lebih dekat ke wewengkon Cigorowek. Oleh karena itu, saya sangat menyukai nama Cigorowek.

Dalam beberapa tulisan fiksi, sering menggunakan nama lembur Cigorowek, terutama pada cerita humor. Di Majalah Seni Budaya, ada rubrik “From Cigorowek With Love”. Nama-nama tokohnya juga “meminjam” nama orang-orang yang terekam dalam benak saya. Contohnya: Kadus Ukar (beliau memang menjadi Kepala Dusun Simpar, ketika saya masih tinggal di Simpar), Ustad Otong (beliau memang seorang ustad terkemuka di Dusun Simpar), Mama Iking (beliau memang seorang tokoh Kiai terkemuka, guru ngaji saya dan guru ngaji hampir semua para akhwat dan ikhwan), Neng Lina, Hansip Baron, Ulis Kowi, Kulisi Ook, Atek, Doya, Aday, RT Lili, Mang Amanta, Mantri Cahyo, dsb. Tentu saja penunggu saya sangat berterimakasih kepada beliau-beliau, yang telah menjadi salahsatu sumber inspirasi dalam karya-karya penunggu saya. Semoga Alloh SWT membalas dengan kebaikan yang sebaik-baiknya, Amiiin.

Termasuk ketika menulis skenario sinetron “Wadal Buta Hejo” (PT. Lunar Jaya Film), seting lokasinya menggunakan nama Cigorowek. Dalam sinetron tersebut, ada tokoh Jumena (diperankan oleh Baron Hermanto), Lurah Ukar (diperankan oleh Wa Kabul), Neng Lina (diperankan oleh Yullia), Aceng (diperankan oleh Abeng), Durgapati (diperankan oleh Tedi Jomantara), Hansip Oding (diperankan oleh Ahmad), Ulis Kowi (diperankan oleh Kosim/ manager SOS), Buta Hejo (diperankan oleh saya), dsb. Penggarapan syuting “Wadal Buta Hejo” berlangsung di Kampung Bojongkonci, Katapang, Kabupaten Bandung.

simpar-panjalu

Kampung Simpar, Desa Panjalu, Kabupaten Ciamis, 12 Oktober 2007

Kembali ke Kampung Simpar. Menurut orang tua, dulu Kampung Simpar merupakan sebuah Desa. Sampai pada akhirnya terjadi longsor di Cibubuhan (Kurang lebih tahun 1908). Pada saat Simpar masih menjadi desa, yang menjabat kuwunya adalah Bapak Paranadinata (Alm). Merupakan sosok pemimpin yang patut dijadikan suri tauladan. Sangat mencintai dan menyayangi masyarakat. Tidak heran jika Bapak Paranadinata terpilih menjadi kuwu selama kurang lebih tujuh tahun.

Dari pernikahannya dengan Ibu Minda, maka terlahirlah putra tunggal yang kemudian diberi nama Muhammad Nas Dipawikarta. Sosok laki-laki yang mengikuti garis dari ayahnya. Peribahasa Sunda mengatakan Teng manuk teng, anak merak kukuncungan. Sebab pada saat itu, Bapak M.N. Dipawikarta pun menjabat lurah di Simpar.

Bapak M.N. Dipawikarta bersanding dengan bunga mekar kampung Simpar, bernama Ibu Siti Mariyah, putra sulung Bapak H. Mukhtar. Pada waktu itu, menurut cerita orang tua, Ibu Siti Mariyah diperebutkan oleh banyak pemuda. Tetapi yang berhasil meluluhkannya hanya Bapak M.N.Dipawikarta. Akhirnya Ibu Siti Mariyah pun jatuh cinta kepada Bapak M. N. Dipawikarta, bahkan sampai meniti mahligai perkawinan dan membangun rumah tangga.


Di depan makam Bapa E. Asikin Dipawikarta (Ujang Sutimo, kedua dari kiri), Tahun 1999

Bapak M.N. Dipawikarta melahirkan 13 orang putra. Dua diantaranya meninggal waktu masih bayi, yaitu putra ke-6, bernama Kania Binarum dan putra ke-10 yang bernama Darpi. Artinya, putra Bapak MN. Dipawikarta yang melahirkan generasi selanjutnya ada sebelas orang. Diantaranya: Encang Permata Ningrum, Purwa Dinata (Alm), Hj. Mindaresmi (alm), Siti Madfuah (Alm), Siti Maemunah (Alm), Siti Sukaedah (Alm), Hj. Enang, Bahrum (alm), Suwarna (Alm), E. Asikin Dipawikarta (Alm), dan Asep Edi Djuwaedi (Alm).

Sebelas putra-putri Bapak M.N. Dipawikarta telah melahirkan keturunan yang kini tersebar di mana-mana. Namun, siapa saja dan dimana tepatnya? Itu juga merupakan salah satu tujuan dibangunnya website ini, agar tidak pareumeun obor dengan saudara. Saya sendiri adalah putra bungsu Bapak E. Asikin Dipawikarta. Dan sekali lagi, tujuan saya “menyalakan obor” di website ini semata-mata hanyalah untuk lebih mempererat tali persaudaran dengan atau antar saudara, pun menambah saudara dalam arti yang lebih luas. Kebahagiaan terbesar dalam hidup saya adalah: memiliki banyak saudara dan tanpa harus punya musuh meski hanya seorang.

 

 

Salam Hangat Selamanya

 

Dhipa Galuh Purba

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>