Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 31-03-2009 |


Oleh DHIPA GALUH PURBA

 

“The attraction are ritual ceremony with prayer in Sunda poem and the contest. This ceremony is to celebrate the circumcision of a child in Sunda way. “

*

DEMIKIAN sepenggal kalimat yang  dipetik dari situs jipi.com. Tiada lain merupakan suatu titik pandang pada upacara Sérén taun di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, jawa Barat. Acara yang sudah rutin digelar saban taun tersebut, tak luput mengundang perhatian masyarakat sampai pada tingkat nasioanal, bahkan dunia. Namun ironisnya, sebagian besar masyarakat Kuningan, nampaknya justru bersikap apatis dan apriori. Mereka beranggapan bahwa acara seren taun dan mapag taun tersebut, merupakan sebuah upacara ritual bagi penganut paham kepercayaan. Dan alasan itu cukup masuk akal, bila dikaitkan dengan historis awal mula pelaksanaannya.

Cigugur. Sebuah kota kecamatan yang terletak di lereng gunung Ciremai. Keadaan tanahnya cukup subur, sehingga sebagian besar masarakatnya pun memiliki mata pencaharian bercocok tanam (agraris). Ada juga yang beternak sapi, babi, dsb. Yang pasti masyarakat Cigugur tergolong sejahtera dan sudah berpikiran maju. Ada upaya untuk mengembangkan bibit-bibit unggul pertanian, dengan dukungan berdirinya sebuah koperasi yang dikelola secara baik.

Cigugur menjadi saksi bisu, tatkala sekitar awal abad ke-20, Pangeran Madrais menyebarkan agama Sunda.  Tidak sedikit yang turut menjadi pengikutnya. Bahkan penyebarana agama Sunda tersebut diteruskan oleh generasi berikutnya, Pangeran Téja Buana.  Sampai pada akhirnya, kurang lebih tahun 1964, Bung Karno mengeluarkan larangan  memeluk agama Sunda, berdasarkan pada beberapa pertimbangan. Pangeran Teja Buana tidak menentang keputusan itu. Bahkan Pangeran Teja memberikan keleluasaan kepada pengikutnya, untuk memilih agama yang sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Dan Pangeran Teja Buana sendiri, memilih untuk masuk ke dalam agama Katolik. Sehingga tidak heran, jika para pengikutnya pun banyak yang mengikutinya. Terbukti sampai sat ini banyak Komunitas Katolik yang menyebar di beberapa daerah Cigugur, Ciamis, Panawangan, Cilimus, dan sekitarnya. Dan upacara Sérén Taun sendiri, waktu pelaksanaannya adalah setiap tanggal 22 Rayagung, hari kelahiran Pangeran Teja Buana

Sampai saat ini idiologi agama yang dianut masyarakat Cigugur, tergolong heterogen. Ada yang memeluk agama Islam, agama Katolik, dan kepercayaan. Termasuk pada lingkungan intern keluarga Jati Kusumah, ketua acara Seren Taun, agama yang dianutnya heterogen. Contohnya terlihat di keluarga Siti Jenar, adik perempuan Jati Kusumah, yang memiliki sembilan orang keturunan. Ternyata di antara sembilan orang anaknya itu, agama yang dianutnya berbeda-beda. Kendati memang keluarga Jati Kusumah masih memegang tradisi warisan leluhurnya, termasuk yang feodal hirarki.

Keterkaitan antara Kota Cigugur dan Kota Kuningan tak mungkin terpisahkan. Sebab Kota Cigugur merupakan bagian dari Kota Kabupaten Kuningan. Sedangkan kelahiran Kota Kuningan begitu erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam di Tatar Sunda. Bahkan nama kota yang luasnya 1092 km2 ini, diangkat dari nama Pangeran Kuningan, putra Syeh Syarif Hidayattullah (Sunan Gunung Djati), dari istrinya yang bernama Ratu Ontin Nio atau Ratu Rara Sumanding. Sampai sekarang, tanggal 1 September diperingati sebagai hari jadi kota Kuningan, sebab pada saat itulah (tepatnya tahun 1498) Pangeran Kuningan dilantik menjadi pemimpin kerajaan, dengan mendapat gelar Pangeran Arya Adipati Kuningan.

            Ada semacam dilema, dalam menyikapi Upacara seren dan mapag taun di Cigugur tersebut. Tentu saja sangat beralasan. Seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, bahwa tradisi yang sudah berlangsung sejak tahun 1930-an tersebut dianggap sebagai ‘perayaan’ kaum penganut kepercayaan. Perjalanan sejarah, memang tak mungkin terhapus begitu saja. Kendati Jati Kusumah sudah menegaskan bahwa acara tersebut bukan perayaan suatu agama (Baca; Kepercayaan). Ini adalah acara silaturahmi orang-orang Sunda, dan juga suatu momen untuk memperkenalkan kekayaan seni budaya Sunda, dalam rangka memelihara, melestarikan, serta mengembangkan warisan leluhur (Living Tradition), di tengah maraknya arus budaya barat, yang semakin mengakar di masyarakat. ***

 

Black In News - Black Community