Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 22-09-2007 |

Oleh DHIPA GALUH PURBA

INI adalah kenangan dua tahun lalu yang tidak mungkin terhapus dari lubuk sanubari yang terdalam. Tepatnya ketika kasawelasan Persib bertanding dengan Persija di lapangan hejo Stadion Siliwangi. Saat itu, hujan deras mengguyur Bandung, hingga baju pun basah kuyup. Tapi aku tidak peduli, karena sik asik nongton di kelas cacah (sebaliknya VIP). Demi Persib, aku rela huhujanan.

Hanjakal sekali, pamaen Persija mah saat itu teh seperti yang enggan huhujanan. Buktinya half time atau turun minum atau reureuh nginum, koq sampai molor setengah jam. Rupanya team official Persija sudah mewaspadai bahaya penyakit yang hanya ada di Jawa Barat. Yakni panyakit kabulusan dan muriang panas-tiris. Maka dari itu, ketika Stadion Siliwangi diguyur hujan, mereka berusaha ngiuhan sampai hujan reda. Tapi hujan ngaririncik mah suka lama, sampai beberapa menit berlalu, hujan malah semakin deras.

Menurut kabar yang kurang bisa dipercaya, seorang anggota team official Persija sempat nge-SMS pawang hujan untuk mengantisipasi keadaan tersebut. Namun disaat pawang hujan sedang membaca semacam jangjawokan via handphone, tiba-tiba telepon selularnya mati, karena baterai-nya ngedrop.

Bobotoh Persib sudah hampir tidak sabar lagi, ingin menyaksikan lanjutan pertandingan babak kedua. Akhirnya Taufik Faturohman, ketua panitia saat itu, mencoba membujuk Persija, dengan cara memberikan solusi menghadapi hujan. Kata Kang Opik, kita harus sedia payung sebelum hujan dan sesudah hujan. Maka seorang anggota team official Persija segera terjun ke Pasar Baru untuk membeli payung.

Setelah payung tersedia, barulah kesebelasan Persija pun bersedia memasuki lapangan hijau. “Tenang, jangan takut menghadapi hujan, karena payung sudah tersedia!” begitulah kata Kang Opik, yang pada hari Minggu itu mempunyai tanggung jawab besar sebagai ketua panitia pelaksana pertandingan Persib melawan Persija.

Begitulah kurang-lebih kronologis yang menyebabkan pertandingan babak kedua tertunda selama setengah jam lebih, seperti yang dituturkan oleh Hansip Baron, seorang pengamat bobotoh Persib di kediamannya, Dusun Cigorowek. Bahkan Hansip Baron menganggap hal seperti itu sangat wajar terjadi dan tidak seberapa lama. Tentunya kalau dibandingkan dengan molornya waktu yang sering terjadi pada setiap pertandingan sepak bola di Cigorowek.

Untuk melangsungkan satu partai pertandingan saja, di Cigorowek mah memerlukan waktu minimal 10 jam. Hal tersebut berkenaan dengan kondisi lapangan yang berdekatan dengan gawir lungkawing Pasir Haur. Contohnya, kalau Jang Doya menendang bola dengan kekuatan penuh, bola pun bisa melambung ke arah gawir, dan ngasruk ke dapuran awi.

Maka dari itu, hakim lapangan, hakim garis, dibantu pawang ular, terpaksa harus apruk-aprukkan mencari bola. Pertandingan ditunda sampai bola ditemukan kembali. Paling cepat, bola baru bisa ditemukan dalam waktu setengah jam.

Kendala lainnya bisa berasal dari pemain. Terkadang ada pemain yang disusulan oleh pamajikan-nya, karena ada yang nagih kiriditan atau ada pemain yang harus ngampihkeun dulu domba atau hayam.

Karena tidak ada pemain cadangan, maka pertandingan terpaksa ditunda, sampai pemain tersebut datang lagi. Tidak heran jika para pemain selalu mekel timbel atau bako sebul. Disaat menunggu lanjutan pertandingan, para pemain suka botram dulu di tengah lapang, makan ngariung bersama team-nya masing-masing. Bahkan ada juga yang sempat liliwetan.

Namun yang paling sering menghambat jalannya pertandingan di Cigorowek, tiada lain adalah action segelintir pemain yang berlebihan. Pernah suatu kali, Jang Atek, striker PS Rancakatel, mau melakukan tendangan finalti. Saking bersemangatnya (karena ditongton oleh Kadus Ukar dan Neng Lina), maka Jang Atek mengambil ancang-ancang atau ngawahan terlebih dulu, dengan meniru-niru gaya libero Patricio Jimenez.

Sayang sekali, Jang Atek terlalu over acting. Betapa tidak, ngawahannya terlalu jauh, mundur sampai ke tengah lapangan. Dikira teh cuma mau sampai sana, da ini mah terus mundur sampai ke gawang, bahkan terus melewati gawang, dan ngasruk ke kebon awi. Kiper lawan pun sudah kesel menunggu yang mau nendang tea. Saking keselnya, sang kiper jadi nundutan, bahkan sempat mimpi diwawancarai Yoyo S Adiredja.

Jang Atek tidak muncul juga. Akhirnya semua sepakat untuk mencari Jang Atek, bisi ku mah onam. Puluhan penonton pun membantu mencari jejak Jang Atek, sang calon eksekutor tendangan finalti.

Ternyata Jang Atek sudah nyungseb di balik rungkun, dalam keadaan kapiuhan atau pingsan. Menurut Bi Iwah, saksi mata yang kebetulan sedang babad jukut di TKP, ketika Jang Atek berlari kencang, kaki kanannya karijet eurih sampai terjatuh. Jang Atek mengalami cedera pada bagian paha kirinya, serta harus mengalami perawatan intensif di rumah dinas Mantri Cahyo.

Sejak kejadian itu, Kadus Ukar mengingatkan kepada para pemain PS Rancakatel, agar tidak terlalu jauh mengambil ancang-ancang, kalau mau melakukan tendangan finalti atau tendangan bebas. Cukup mundur tiga sampai lima langkah saja, tegas Kadus Ukar yang saat ini sedang berusaha meminimalisasikan waktu pertandingan sepakbola di Cigorowek. Menurut kabar terakhir, sekarang mah untuk satu babak teh cukup tiga jam setengah, sudah termasuk mencari bola yang melembung ke dapuran awi dan menunggu pemain yang izin dulu.***

Ranggon Panyileukan, 1426 Hijriyah

Dimuat di HU. Galamedia, Sabtu Tahun 2007. Tanggal dan bulannya lupa lagi. Silahkan bagi yang mau berpartisipasi memberi tahukan, barangkali punya dokumentasinya.