Kategori: Sosok | Diterbitkan pada: 26-04-2009 |
Kelompok Nasyid DEBU akan meriahkan acara Bandung Islamic Book Fair, pada hari Selasa, 12 Mei 2009 di Landmark Convention Hall, Jl. Braga 129 Bandung. Kelompok Debu akan tampil menjelang berlangsungnya babak Final Festival Nasyid Tingkat Jawa Barat, yang juga digelar oleh IKAPI Jabar bekerjasama dengan HU. GALAMEDIA pada acara ”Bandung Islamic Book Fair 2009” sejak hari pertama berlangsung pameran.
Nama DEBU dikalangan masyarakat Indonesia, bukanlah nama yang asing di telinga mereka. DEBU memulai kariernya di jalur musik dakwah sejak tahun 2001 dengan mengeluarkan album pertamanya yang berjudul Mabuk Cinta, kemudian dilanjutkan dengan album kedua Makin Mabuk, dan yang ketiga Nyawa dan Cinta. Gubahan Pecinta merupakan album terbaru mereka yang dilengkapi dengan buku syair-syair Syekh Fattaah. Selain di Indonesia, DEBU mengeluarkan album Turki. Mereka sangat digemari oleh seluruh kalangan masyarakat. Ini terbukti dengan banyaknya DEBU melakukan pertujukan di daerah-daerah di Indonesia yang mana setiap pertunjukannya mampu menarik puluhan ribu penonton untuk menyaksikan penampilan mereka.
Grup musik yang dimotori oleh Mustafa ini kaya akan kreativitas dan inovasi-inovasi baru dalam mengembangkan musik yang mereka tekuni sekarang ini. Dalam bermusik, DEBU banyak menggunakan alat-alat musik dari berbagai macam negara seperti Santur dari Iran, Saz (Baglama) dan Yayli Tambur dari Turki, Oud, Suling Sunda dari Jawa Barat, Bass, Qanun, Biola, Dumbek, Jembe dari Afrika, dll. Semuanya diramu dalam suatu aransemen musik yang matang sehingga menghasilkan lagu-lagu yang berkualitas dan indah untuk di nikmati. Grup musik yang sebagian besar personilnya berasal dari Amerika ini di bimbing oleh Syekh Fattaah, Beliau menulis banyak syair dalam berbagai macam bahasa seperti: bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Spanyol, Parsi, Hindi, Itali, Turki dan Mandarin.
Sekilas Syekh Fattaah
Syekh Fattaah lahir di pesisir timur Amerika 64 tahun lalu pada saat perang dunia kedua, dan beliau dibesarkan di daerah pesisir barat. Dalam penggalian spiritualnya di Amerika, sesungguhnya sejak tahun 1981 Syekh Fattaah sudah melaksanakan kehidupan sufi.
Tahun 1982, setelah mendapat izin sebagai ‘Syekh’ dari seorang syekhnya (Tarekat Syadhili) yang berkebangsaan Irak, Syekh Fattaah mulai menulis syair dalam bahasa Inggris. Penulisan syair dalam bahasa Inggris itu sangat besar manfaatnya karena pada saat itu para Syekh pemegang tarekat hanya menulis syair dalam bahasa Arab sehingga tidak dipahami oleh para jemaahnya. Syair-syair Syekh Fattaah dalam bahasa Inggris itu dijadikan sebagai sarana pengamalan bagi murid-murid Syekhnya dan menjadi pengajaran bagi murid-murid Syekh Fattaah sendiri.
Tahun 1983, beliau menempuh perjalanan spiritualnya ke Pakistan setelah memperoleh izin Tarekat Chisytiyah dari syekhnya. Tak lama kemudian beliau melanjutkan perjalanannya ke Kosovo dan tahun 1989, seorang Syekh di sana memberinya izin untuk Tarekat Rufaai.
Tahun 1990 Syekh Fattaah pindah ke New Mexico dan membentuk kelompok musik yang diberi nama Dust on the Road. Pada saat itu, syair-syair religiusnya disajikan dalam makna umum. Di Taos, sebuah daerah New Mexico, beliau menggubah syair-syairnya ke dalam bahasa Inggris dan Spanyol. Saat itu, tak kurang dari 40 syair dibuatnya.
Tahun 1992, Syekh Fattaah dan komunitas bimbingannya pindah ke Questa, suatu daerah pegunungan sekitar 30 menit dari perbatasan Colorado. Disini pun, beliau tetap menulis syair-syair perjalanannya. Tahun 1996, perjalanannya berlanjut ke Republik Dominika. Di sana, tak kurang dari 40 syair berhasil digubahnya dalam bahasa Spanyol.
Tahun 1998, beliau pindah kembali ke Questa dan tahun 1999, inilah tahun kedatangan beliau ke Indonesia atas perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang membisikinya melalui hatif atau bisikan halus. Bersama murid-muridnya, beliau hijrah ke sini dan sampai sekarang, setelah delapan tahun, beliau belum ada keinginan untuk pindah ke mana pun.
Di Indonesia, Syekh sangat produktif dan menggubah banyak syair ke dalam berbagai bahasa. Antara lain bahasa Indonesia, Turki, Mandarin, Arab, Farsi, Spanyol, Hindi, Urdu, Italia dan Inggris. Sejak tahun 2001 hingga kini, syair-syairnya digubah dalam pola pantun. Tahun itu pula seorang Syekh dari Maluku memberinya izin Tarekat Qadiriyah. Genaplah kini empat izin tarekat disandangnya sehingga menjadikan beliau sebagai Syekh yang tak bisa diingkari wilayahnya. Bahwa beliau Haq untuk memberikan pelajaran berdasarkan perintah Allah dan sesuai dengan sunah Rasulullah SAW.

Latarbelakang DEBU
Sebelum pindah ke Indonesia, sebagian besar dari DEBU tinggal di sebuah kota kecil di daerah New Mexico, sebuah propinsi yang terletak di antara Texas dan Arizona, Amerika Serikat. Sudah lama mereka tinggal bersama dan membentuk sebuah komunitas yang sesuai dengan prinsip dan ajaran Islam. Di bawah bimbingan Syekh Fattaah, mereka mempelajari tasawwuf dan hidup sesuai ajarannya, yakni menjadi golongan sufi.
Saat itu, mereka bernyanyi sebatas kenikmatan untuk komunitas sendiri sekaligus menjadi bagian dari perkembangan spiritual. Sesekali mereka menyanyi untuk teman-teman ataupun tamu yang datang. Jadi, mereka tidak tampil secara publik dan tidak atas undangan karena secara sosial, komunitas Islam di sana memang sangat jarang ataubisa dibilang tidak ada.
Tahun 1997, sebagian dari mereka pindah ke sebuah negara di luar Amerika Serikat namun terletak didekatnya, yakni Republik Dominika. Sama seperti Amerika, kehidupan masyarakat di sana juga sangat liberal dan sekuler. Sungguh, bukan lingkungan yang ramah bagi mereka yang sangat rindu suasana Islami.
Allah memang Maha Tahu. Dialah yang punya kehendak dan rencana. Suatu malam, Syekh Fattaah mendapat ilham. Di antara sadar dan tidak, beliau mendengar hatif (bisikan halus) yang menyebutkan nama “Indonesia”. Beliau tersentak dan segera mengutarakan pada istrinya bahwa komunitas ini harus pergi ke Indonesia untuk bisa hidup sesuai impian.
Tetapi, di mana Indonesia?, Pertanyaan ini menjadi masalah karena mereka sama sekali tak tahu perihal Indonesia dan tak terpikir sebelumnya. Tetapi, Allah SWT telah membuka pintu-pintuNya sehingga tanpa kesulitan berarti, mereka menemukan sebuah situs seorang Indonesia di internet. Mereka pun menjalin silaturahmi dan menyampaikan keinginan untuk datang ke Indonesia.
Tiba di Indonesia
Maret 1999, sebagian dari mereka tiba di ibukotanya Indonesia, yakni Jakarta dan diterima oleh seorang ustad, Syekh Uqbah, kenalan mereka di internet. Mereka tinggal di Jakarta Selatan selama tiga bulan. Kemudian mereka diundang oleh Universitas Muslim Indonesia (UMI) di pulau Sulawesi untuk mengajar mahasiswa barunya dalam hal keagamaan.
Di tengah pedesaan berdiri disana sebuah pesantren milik UMI. Pesantren Darul Mukhlisin itu hanya bangunannya saja karena belum ada denyut kehidupan. Mereka mengajar para mahasiswa itu sambil melaksanakan kehidupan sehari-hari. Mereka mengajarkan Al Qur’an dan hadits serta bahasa Inggris. Setelah setiap salat lima waktu, Syekh Fattaah membimbing mereka untuk berzikir bersama para mahasiswa.
Mengamati pola perilaku mereka, Syekh Fattaah menyadari bahwa pada umumnya anak-anak muda itu tidak memahami tentang Islam secara mendalam. Banyak yang tak bisa membaca Al Qur’an dan tak tahu tata cara shalat. Karena itu, Syekh Fattaah makin menekankan zikir. Ia mencoba menyentuh minat para pemuda terhadap keindahan Islam dengan melantunkan puji-pujian terhadap Allah melalui zikir dan nyanyian. Syair-syairnya itu sarat akan pelajaran tentang adab dan akhlak serta uraian tentang Islam yang sejati sesuai pesan Nabi Suci Muhammad SAW. Pelan namun pasti mulai tampak tertanam dalam benak para mahasiswa. Mereka menjadi begitu manis dan sangat suka zikir. Setiap kali mereka melakukan zikir massal seraya bergoyang kiri kanan, gerak badan mereka bagai gelombang laut yang tenang dan menghanyutkan. Indah sekali.
Terbentuknya DEBU
Pada awal 2001, setelah tinggal selama hampir dua tahun di Sulawesi, mereka pindah kembali ke Jakarta. Dari pengalaman mereka dengan anak murid di universitas di Sulawesi, mereka mulai bersemangat untuk bersungguh-sungguh belajar musik, menyanyi serta main alat-alat baru. Mustafa, yang pada waktu itu berumur 20 tahun, menjadi komposer, arranger dan penyanyi utama. Begitulah grup musik beranggota 11 orang ini dilahirkan.
Awalnya DEBU mulai tampil di acara-acara kecil seperti di rumah-rumah kenalan, undangan di sekitar Jakarta, kemudian mulai tampil di sebuah acara di stasiun televisi swasta yang acaranya memenangkan penghargaan selama 2 tahun berturut-berturut. Kemudian dirilis album pertama DEBU yang berjudul Mabuk Cinta (Drunk with Love), berisi 10 lagu dalam bahasa Indonesia dan Arab.
Mabuk Cinta mulai dikenal di US dan Malaysia pada November 2003. Hit single berjudul “Cinta Saja” (Just Love), sering di mainkan radio-radio dan video klipnya ditayangkan di televisi, sehingga membuat grup ini mendapat perhatian dari masyarakat Indonesia dan Malaysia.
Album kedua Makin Mabuk (Even More Drunk), yang dirilis pada September 2004 juga sukses diterima masyarakat seperti album pertama.
Setelah dua tahun, DEBU telah selesai membangun sebuah studio kecil di dalam rumahnya. Kemudian pada September 2006 album ketiga Nyawa dan Cinta (Soul and Love) mulai beredar di masyarakat Indonesia.
Setahun kemudian, pada bulan September lalu dikeluarkan buku dan CD berjudul “Gubahan Pecinta: A Travel Guide” sebuah kompilasi syair-syair Syekh Fattaah dalam sembilan bahasa.




Indonesia memang tempat yang tepat bagi kelompok musik religius Debu asal Amerika Serikat.
Welcome here for all.