Kategori: Suatu Hari | Diterbitkan pada: 26-07-2009 |
Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA
Bertahun-tahun, enjelang tidur, saat berbaring di tikar atau kasur kapuk, sepasang mata menatap enternit sambil membayangkan kejadian yang sudah dialami, atau menghayal membayangkan kehidupan di masa yang akan datang. Di layar enternit, apapun bisa terlihat oleh mata hati. Sesuatu yang indah, mengagumkan, menyenangkan, menggairahkan, atau juga sesuatu yang menyakitkan, mengerikan, menakutkan, dan lain sebagainya. Terlebih lagi setelah Arin, kekasih semasa di SMP menghilang entah kemana, layar enternit sering kali menampilkan sosok Arin yang sedang melambai-lambaikan tangan sambil tersenyum manis. Manis sekali. Sekali manis, tetap manis. Enternit adalah layar super canggih yang bisa diakses tanpa harus melibatkan perangkat komputer dan listrik, dan berfungsi sebagai salahsatu pengantar tidur.

Menjelang tidur, menatap enternit
Saat itu, komputer merupakan barang yang sangat mahal. Jangankan membeli, untuk sekedar merental pun harus benar-benar memperhitungkan segala sesuatunya, termasuk memikirkan cara mengoperasikannya. Barulah menjelang berakhirnya tahun 1999, tiba-tiba mendapatkan jalan untuk berkenalan dengan komputer secara lebih dekat. Seorang sahabat sudah membeli komputer. Kabar yang sangat baik. Sebab, dengan begitu, tentunya bisa numpang ngoprek komputer. Tentu saja bukan hanya satu jam, melainkan berjam-jam memiliki kesempetan untuk mengutak-atiknya, tanpa harus memperhatikan detik-detik jam dinding. Hampir setiap hari mengunjungi kontrakan sahabat, bahkan menginap. Persahabatan pun semakin erat berkat adanya komputer.
“Seandainya di kontrakanku tidak ada komputer, apakah kamu akan tetap berkunjung ke rumahku?” tanyanya pada suatu kali.
“Tentu saja. Saya pasti akan tetap main dan menginap di sini…”
“Untuk apa?”
“Untuk belajar komputer…”
“Kan ceritanya seandainya…”
“Tidak baik berandai-andai. Buktinya sekarang di sini ada komputer!”
Pada pertengan tahun 2000, akhirnya dapat mengikuti jejak sahabat untuk memiliki komputer sendiri, meski hanya komputer rakitan yang kecepatannya bak mobil tahun 70-an sedang mendaki tanjakan Nagrek. Tapi yang penting komputer. Bisa digunakan untuk mengetik, mendengarkan musik, atau bahkan memutar video. Menjelang tidur pun tidak lagi memandang enternit, tetapi benar-benar layar monitor yang tampilannya bisa disaksikan secara kasat mata. Tak akan pernah terlupakan, tahun 2000 adalah tahun bersejarah; tahun pertama kali memiliki seperangkat komputer. Sejak memiliki komputer sendiri, sangat jarang berkunjung ke rumah sahabat. Hubungan pun semakin renggang, berkat… eh… gara-gara komputer juga J
Komputer bagaikan seorang kekasih. Setiap malam, hampir tidak pernah terlewatkan menghidupkan komputer, baik mengetik surat cinta untuk Arin atau sekedar mengutak-atik foto Arin dengan menggunakan aplikasi adobe photoshop 6. Foto Arin didesain sedemikian rupa, membuat kerinduan kian menggebu. Ingin rasanya foto itu dikirimkan kepada Arin. Tapi… bagaimana caranya? Alamatnya saja tidak tahu.
“Kalau mau mencari Arin, coba saja cari di warnet. Siapa tahu bisa ketemu…” begitu kata seorang kawan yang sudah beberapa minggu terakhir sering keluar-masuk rumah sakit… eh… maksudya keluar-masuk warnet (warung-internet).
Tentu, bukan berarti Arin bekerja di warnet atau sama-sama doyan keluar-masuk warnet. Maksudnya, mencari jejak Arin melalui search enggine situs yahoo.com. Ide yang bagus dan cerdas. Itulah pertama kali terdorong untuk berkenalan dengan internet, sekitar bulan Agustus 2000. Meski sudah sering membuka komputer, tetapi mengoperasikan internet adalah sesuatu yang baru. Namun tidak terlalu sulit untuk beradaptasi dan mempelajari cara kerjanya. Apalagi dengan tersedianya search enggine, sangat membantu memudahkan untuk mencari segala suatu yang diinginkan. Sayang sekali, saat itu search enggine belum dapat menunjukkan keberadan Arin. Kalau pun tersambung dengan nama Arin, tetapi bukan Arin Susi yang ditemukan.
Kendati Arin belum bisa dilacak keberadaannya, tetapi daya pikat internet terasa sangat kuat. Ada banyak hal menarik yang bisa ditemukan di internet. Berita-berita mancanegara, karya-karya sastra, atau poto-poto tokoh idola merupakan sesuatu yang mengasyikan. Tinggal download saja sesuka hati, dikopi ke disket, lalu pindahkan ke komputer yang di rumah kontrakan. Sayang kalau dibaca di warnet, karena tiap detik sangat berharga. Untuk satu jam nongkrong di internet, rata-rata harus membayar Rp 4000,- sampai Rp 4.500,-. Jadi, lebih baik membawa disket sebanyak-banyaknya, dan kopikan saja file yang ingin dibaca. Dalam satu disket, hanya dapat memuat data maksimal 1,4 MB.

Menjelajahi dunia dengan internet
Letak rumah kontrakan yang berada di sekitar batas kota Bandung Timur, membuat sulitnya mencari warnet yang buka 24 jam. Sedangkan waktu yang bisa digunakan untuk berinternet ria adalah sepanjang malam, karena siangnya harus kuliah dan bekerja. Untung saja di daerah Jatinangor, ada beberapa warnet yang buka selama 24 jam. Dan yang menambah betah, penunggu warnet di Jatinangor rata-rata kaum hawa yang menawan. Sambil menunggu warnet, mereka pun biasanya sibuk browsing.
Hampir setiap malam berkunjung ke warnet di sekitar Jatinangor, bertegur sapa dengan penunggunya, lalu duduk di depan layar monitor sambil menikmati perjalanan keliling dunia, meski hanya melalui dunia maya. Biasanya memilih yang lesehan, untuk memudahkan mencari solusi seandainya kantuk menyerang. Tidak jarang setelah kelelahan browsing, langsung tertidur di warnet. Penunggu warnet seringkali membangunkan dengan berbagai cara. Awalnya sangat mengherankan, karena orang lain pun banyak yang tertidur, tetapi tidak suka dibangunkan. Baru mengerti setelah mencoba interopeksi diri. Jadi, bukan malasah tidur yang dipersoalkan, melainkan masalah… mendengkur. Tapi, siapa pula yang ingin mendengkur? Mendengkur itu kan sudah bagian dari takdir.
Fasilitas surat elektronik pun sangat membantu. Jika sebelumnya mengirimkan naskah untuk media cetak harus melalui pos atau bahkan langsung ke kantor redaksi, maka kali ini cukup ke warnet, dan mengirimkannya via email. Hanya dalam beberapa detik, naskah sudah sampai di tangan redaktur. Untuk memastikan naskah sudah ditrerima redaktur, tinggal chating saja. Biasanya para redaktur media cetak selalu on-line, apalagi malam hari. Masalah dimuat atau tidak, itu urusan lain.
Sekian lamanya mengakses internet hanya untuk mengambil dan mengambil. Dan lambat-laun mulai terbesit keinginan untuk mencoba memberi. Sebab, tangan diatas itu kan lebih baik. Internet adalah tempat untuk berbagi. Sungguh tidak seimbang jika setiap mengakses internet kerjaannya hanya mengambil. Sumber kekayaan konten di internet pun merupakan kumpulan dari kreativitas tangan-tangan “dermawan”. Tentu yang dimaksudkan disini hanyalah konten-konten yang baik dan mendidik, yang sekaligus memerangi serangan konten-konten buruk dan konten yang dapat menjerumuskan para pengaksesnya.
Memberikan sesuatu ke dunia maya pun ternyata menjadi semacam petunjuk jejak bagi Arin. Mencari Arin tidak berhasil, tetapi meninggalkan jejak untuk Arin ternyata merupakan jalan yang tepat. Pada tahun 2000 sampai 2002, mungkin saja Arin masih gaptek, belum berkenalan dengan internet. Namun, pada tahun-tahun selanjutnya, rupanya Arin mulai melek teknologi. Dan jejak dalam konten-konten yang dimuat di berbagai situs, rupanya telah menjadi petunjuk jalan bagi Arin. Apalagi ketika tiba saatnya musim membuat blog, jejak yang ditinggalkan untuk Arin semakin jelas. Sampai pada akhirnya, setelah merancang sebuah blog sederhana, Arin benar-benar menghampiri di dunia maya. Pertemuan itu ternyata bisa terjadi, setelah 19 tahun lamanya terpisah. Berkat internet, Arin telah kembali. Hampir setiap saat kami chating, atau saling berkirim email.
Kini, di tahun 2009, hampir setiap malam, menjelang tidur, sepasang mata menatap layar internet. Di layar itu benar-benar ada Arin, bukan sekedar hayalan seperti yang biasa tampak di layar enternit.***
ulang tahun ke-11 detikcom




Ehm..ehm..ehm…
Terima kasih buat Kang Dipa yang telah menjadi teman saya di Face book. Salam
bagus benar situs/blog nya kang…enak untuk dibaca..