Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 06-10-2007 |

Dadan Sutisna (Kanan) dan saya (kiri)
Namanya sudah saya kenal sejak masih duduk di bangku SMA, tahun 1993-1996. Waktu itu, saya keranjingan membaca Majalah Manglé, terutama rubrik “Barakatak”. Salahsatu penulis barakatak yang saya kagumi adalah Dadan Sutisna. Di bawah namanya selalu dicantumkan nama dan alamat sekolahnya, yaitu SMAN Tanjungsari, Sumedang.
Pernah terbesit keinginan untuk menemuinya dan berkenalan. Namun, saat saya duduk di bangku SMA, lebih sibuk dibandingkan sekarang. Sepulang sekolah, saya jadi penambang becak di Komplek Bumi Panyileukan, calo angkutan Cibiru-Cicadas, dan kuli di toko bahan bangunan Mulia Jaya. Oleh karena itu, masa-masa SMA, saya tidak punya waktu untuk bermain. Dan memang saya lebih menikmati pekerjaan daripada hura-hura yang tidak karuan.
Nama Dadan sudah melekat dalam hati saya, meski belum pernah bertemu dengan orangnya. Selain menulis barakatak, Dadan pun sangat produktif menulis sajak remaja dan carita pondok (cerpen berbahasa Sunda). Saya pun mulai membaca carpon, terdorong oleh ketertarikan pada setiap buah karya Dadan. Semakin kuat pula dorongan hati, untuk menemuinya dan berkenalan. Lebih dari itu, tentu saja saya ingin berguru menulis kepadanya.
Pada tanggal
Pada acara itulah pertama kalinya bertemu secara langsung dengan Dadan Sutisna. Tampak masih muda, dan badannya kecil. Saya memperhatikan sikapnya, sopan dan lugu. Bubaran acara tersebut, saya sempat menyapa Dadan, dan berkenalan. “Oh, ieu Kang Dipawikarta teh…” (Oh ini Kang Dipawikarta…) begitu kata Dadan. Mungkin Dadan pun pernah membaca tulisan saya di rubrik Barakatak Majalah Mangle. Memang, tulisan saya pun pernah dimuat d Majalah Mangle pada rubrik Barakatak, Pangalaman Paramitra, dan Carpon Lucu. Tapi kualitasnya tentu sangat jauh dibandingkan dengan tulisan-tulisan Dadan Sutisna. Waktu itu, saya menggunakan nama M.S. Dipawikarta. Sedangkan nama Dhipa Galuh Purba, baru saya umumkan pada tahun 1998.
Sejak itu, bertahu-tahun saya tidak pernah bertemu lagi dengan Dadan. Saya belum berani untuk berterus-terang tentang niat saya untuk berguru menulis. Ditambah lagi dengan kesibukan saya saat itu, mengelola Bengkel Konstruksi Rangka Beton “Galuh Jaya” di Jl. Raya Cipadung, Cibiru,
Ketika duduk di bangku kuliah, semangat untuk menulis bangkit kembali. Setiap ngojek, saya membawa kertas dan pulpen. Sambil menunggu penumpang, saya menulis cerpen atau apa saja yang ingin saya tulis. Dorongan untuk berguru kepada Dadan semakin kuat. Apalagi saya tahu, Dadan suah menjadi redaktur Majalah Mangle.
Pada bulan April 2000, saya memberanikan diri menemui Dadan ke Majalah Mangle. Inilah pertemuan kedua. Kali ini saya dan Dadan langsung akrab. Ia seorang pengarang yang rendah hati dan selalu menghormati siapa saja yang menemuinya. Kami ngobrol ke sana-kemari, dan alhamdulillah terasa semakin akrab.
Usianya satu tahun di bawah saya. Dadan lahir pada 22 Februari 1978. Meski usianya di bawah saya, tapi kecerdasannya jauh di atas saya. Dari sorot matanya, saya bisa membaca bahwa Dadan adalah seorang pemuda yang potensial, rajin, dan jenius. Firasat saya mengatakan bahwa saya tidak keliru kalau berguru mengarang kepada Dadan.
Pada 27 April 2000, saya berangkat ke Tanjungsari, untuk berkunjung ke rumah Dadan. Dari Tanjungsari, belok ke jalan menuju Pasirloa. Saat itu, saya baru pertama kalinya menginjak daerah tersebut, sehingga beberapa kali saya harus berhenti dan menanyakan arah menuju Pasirloa. Wah… sungguh indah pemandangan kampung-kampung yang saya lewati. Akhirnya, saya sampai juga ke Kampung Pasirloa, Desa Kadakajaya, kec. Tanjungsari, Kab Sumedang. Mencari nama seseorang di sebuah kampung, tentu tidak sulit. Apalagi mencari Dadan. Hampir setiap orang yang saya tanya, pasti tahu rumahnya Dadan. Ahirnya, sampai juga ke “Saung Pangreureuhan” Dadan Sutisna. Rumah panggung yang memiliki suasana sejuk dan nyaman.
Dadan juga seorang pengarang yang hidupnya sangat santai dan banyak guyon. Saya banyak tertawa, kalau sudah ngobrol dengan Dadan. Di Kampung Pasirloa, Dadan dipanggil dengan sebutan “Si Kuwu”. Kabarnya, julukan tersebut berawal dari tokoh longser yang ia perankan. Sampai sekarang, orang Pasirloa memanggilnya “Wu!” Maksudnya kependekan dari “Kuwu”.
Sejak itu, saya sering ke rumahnya Dadan, berguru menulis. Biasanya saya berangkat jam 12 tengah malam, selepas ngojek. Meski harus melewati daerah yang kabarnya angker, saya tidak peduli. Dadan tidak pelit. Ia menurunkan ilmunya tanpa mempersoalkan materi. Bahkan saya sering numpang makan dan ngopi di rumahnya, boro-boro ngasih uang mah.
Saya dan Dadan merencanakan untuk menerbitkan sebuah buku kumpulan humor berbahasa Sunda. Rencana tersebut segera direalisasikan. Atas dukungan Hj. Tuti Sunarti (Staff CV. Djatnika), akhirnya buku kumpulan humor Snda itu segea terwujud. Pada 14 Juni 2004, buku berjudul Ukur Banyol, karangan saya dan Dadan, sudah selesai dicetak sebanyak 1.000 eksemplar. Buku tersebut diterbitkan oleh PT. Mangle Panglipur. Namun, pemasarannya dijalankan oleh saya dan Dadan. Saya menyebarkan buku tersebut ke beberapa toko buku, termasuk Gramedia. Alhamdulillah, bukunya laris manis. Tapi… uangnya entah ke mana. Ya… begitulah, kami memang bukan ahli manajemen.
Buku Ukur Banyol merupakan buku pertama yang ditulis oleh Dadan dan saya. Berawal dari buku tersebut, Dadan banyak melahirkan buku-buku lainnya yang lebih berkualitas. Bahkan, buku cerita anak karya Dadan yang berjudul Nu Ngageugeuh Legok Kiara terpilih sebagai pemenang Hadiah Sastra Samsudi 2002 dari Yayasan Rancage, pimpinan Ajip Rosidi. Selanjutnya, buku Misteri Haur Geulis juga mendapat Hadiah sastra Samsudi 2004 dari Yayasan Rancage. Dadan Sutisna juga pernah meraih Hadiah Jurnalistik Moh. Koerdi pada tahun 2003, Hadiah Sastra LBSS pada tahun 2003, dll.
Pada 29 Oktober 2000, merupakan hari yang sangat membahagiakan. Hasil dari berguru menulis selama berbulan-bulan mulai menampakan buahnya. Saat itu, naskah saya berjudul “Situ Panjalu” terpilih menjadi juara III pada lomba menulis Cerita Rakyat Jawa Barat. Juara I adalah Dadan Sutisna, dengan tulisan berjudul “Purnama di Marongge”. Sedangkan juara II adalah Andi Indrianro, dengan naskah berjudul Sejarah Cirebon. Pada malam itulah, saya pertama kali merasakan indahnya mendapat piala penghargaan dalam lomba menulis. Saya tidak akan lupa, mengetik naskah tersebut di rumahnya Dadan, karena saat itu saya belum punya komputer.
Dadan Sutisna sangat tekun. Waktu masih SMA, ia jago matematika. Tidak heran kalau Dadan selalu cepat tanggap untuk beradaptasi dengan teknologi. Komputer sudah dikuasai. Bahkan lama-lama, saya sempat heran, darimana Dadan bisa belajar seputar multimedia dan web-site? Luar biasa, Dadan pernah menjadi Finalis Adikarya Desain Indonesia 2003, dengan mempersembahkan sebuah karya berjudul Longser: A Sundanese Folk Theatre.
Selanjutnya pada tahun 2005, masuk dalam 10 besar Bubu Aword, dengan menampilkan web berjudul Getting Padang. Saya nganter ke Jakata, menghadiri acara pembagian hadiah Bubu Aword. Sayang sekali, panitianya seperti yang kekurangan modal. Masa karya sebagus itu tidak dikasih hadiah uang. Bukannya komersil sih, tapi
Kemajuan Dadan semakin pesat di bidang web-site. Meski begitu, ia tidak meninggalkan garapan utamanya, yakni menjadi seorang pengarang Sunda. Kaya-karyanya semakin bagus dan sulit untuk tidak membaca karya-karya Dadan. O ya, Dadan pun menjadi redaktur Majalah Sunda Cupumanik. Alhamdulillah, di wilayah sastra Sunda, ada seorang yang sangat memahami dunia maya dan ngigelan perkembangan teknologi komunikasi. Web-site saya pun dirancang dan dibuat oleh Dadan, dengan diberi upah sebungkus rokok. Itupun rokoknya diambil lagi beberapa batang, karena saya pun perlu merokok.
Buku karya Dadan Sutisna yang benar-benar mengejutkan saya adalah Tujuh Langkah Mudah Menjadi Webmaster. Wah… hebat itu. Saya sangat bangga punya guru menulis yang banyak kabisa. Tentu buku ini tidak akan mendapat Hadiah Sastra Rancage, tetapi benar-benar membanggakan. Rasanya, di kalangan pengarang Sunda, baru Dadan yang sanggup menulis buku “serius” yang berkenaan dengan web-site.
Makanya, saya agak heran ketika Dadan malah kuliah di Bina Sarana Informatika (BSI). Saya pikir, dosen-dosennya pun belum tentu lebih cerdas dari Dadan. Tapi… ya balik lagi sama sikapnya yang rendah hati, menghormati orang lain dan selalu haus akan ilmu. Dalam segala hal, saya kalah oleh Dadan. Hanya dua hal yang sampai sekarang tidak bisa dikalahkan Dadan. Yaitu urusan menyetir mobil dan seputar perempuan. Dadan sangat berbeda dengan Godi Suwarna, Dadan tergolong lelaki yang tidak suka iseng-iseng godain cewek. Ia tipe lelaki setia.***









hahahahaha……
poto kang dipa siga BoBoho euy…..gaya siah
salute kanggo akang duaan….
duo sunda muda kiwari….
duet maut goyang panggung elehkeun atuh ku
duet maut goyang pena penulis sunda…
wilujeng kang, mugia sukses teras sadayana
Ha ha ha… nuhun kana pangrojongna…
Dhipa Galuh Purba
salut kango kang dadan oge kangdhipa
mugia janten urang sunda anu sajati..
tur majeng salamina
Respek pisan saya mah ka nu ngarora, euyeub ku prestasi, kreatif tur bisa ngigelan paneka jaman kawas kang Dhipa jeung kang Dadan teh. Palinter tapi teu guminter. Mugi tiasa janten bahan pieuntengeun keur nu karolot kawas kuring.
Ari eta dina poto kang Dhipa aya kongkorongan, siga-siga flash disk. Kade kang flash disk-na bilih tiriseun, ari sering-sering dicandak momotoran mah. Mun tiasa mah enggal gentos kang ku tanduk munding geura…………. he he heh ……
Sakali deui wilujeng …. mugi tiasa mayeng nyerat …….
duh eta..anu hiji tukang kacapi…anu hiji tukang nyanyi..
kadi hoyong seuri ningali photo ieu.
heuheuy….
eta dadan narsis abis di kaca soca..
wah….hebat kang mdah2 tambah sukses dam alumni sman tanjung sari berprestasi smua amin
Muhun hebaaat…. sok dirojong pisan para alumni SMAN Tanjungsari sing sarukses sadayana!
DHIPA GALUH PURBA
Mugia langkung produktif dina raraga ngamajukeun budaya sunda.
Amiiiin
DHIPA GALUH PURBA
atuh itu fotonya seblah kirinya rumah temen sy, si yopi, tp udh kuliah. hmm tanjung sari udah lama ga pulang kampung….
KUmaha daramang di Bandung kang Dadan ?