Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 06-10-2007 |
Oleh DHIPA GALUH PURBA
MALAM sunyi. Terpancarlah seberkas cahaya, membentur gelap gulita yang membayangi seluruh bundaran jagat raya. Terang benderang beradu dengan gelap gulita. Cahaya terpisah dan hampir menghilang. Tak ada lagi percikan sinar. Tinggallah kegelapan dalam pekatnya malam yang mencekam. Kalaupun ada percikan sinar, tidak bisa menyatu dengan kegelapan. Keduanya terpisah. Tak ubahnya dengan campuran air dan minyak.
Dari arah timur, terlihat sepasang mata kucing yang sangat tajam, dalam kegelapan. Bagaikan kilat, bayangan sebesar binatang rusa, berkelebat dengan cepatnya. Lalu melompat dengan cepat. Pergi. Menjauh, entah kemana. Disusul dengan bayangan kedua. Lebih besar dari bayangan pertama. Lalu dengan cepat pula melompat dan menjauh. Disusul oleh bayangan ketiga. Lebih besar lagi, dan lebih cepat lagi. Begitulah, tiada hentinya. Bayangan demi bayangan saling berkejaran. Yang mengejar, lebih besar daripada yang dikejar. Dalam hitungan yang kesekian kalinya, bayangan pun semakin tampak dengan jelas.
Ranting-ranting yang patah bersorak sorai, setelah terlepas dari dahannya. Daun-daun berguguran. Beterbangan diterpa angin yang berhembus dengan kencang. Bahkan lama kelamaan, angin pun lebih kencang menyapu setiap benda yang ditemuinya. Si mata kucing tak bisa lagi bertahan. Semuanya pun digiringkan ke arah timur. Semut, tikus, gajah, manusia, orang tua, anak-anak, laki-laki, perempuan. Semuanya berhamburan diterjang amukan angin. Sampailah pada sebuah lapangan yang sangat luas. Tak ada yang bisa melarikan diri. Sebab sekelilingnya telah dipagari oleh tarian api, hembuskan panas yang membara. Semuanya terhempas. Bergumul dalam ketidakberdayaan.
Ada gema yang menggetarkan dada. Suara yang pernah terdengar sebelumnya. Keras dan memekikan telinga.
“Kalian sudah tidak berdaya lagi. Kenapa? Kemanakah kekuatan yang baru saja digunakan untuk meraih ambisi? Bukankah kalian sangat kuat dan serakah?!”
Tak ada suara. Hening. Angin pun terdiam. Dari arah langit terdengar suara yang sangat dahsyat. Lebih keras. Bahkan Jagat raya pun berguncang.
“Sinatria telah bangun dari bertapa. Sebab kedatangan kalian telah membawa durjana!” begitulah rangkaian kata yang terucapnya.
“Aku terjaga, karena angkara…” terdengar suara kecil, yang dikuti oleh suara-suara lainnya. Saling mencerca.
“Aku mengusik, karena telah diusik!”
“Terusik!”
“Tengik!”
“Terbidik!”
“Terbalik!” dan suara-suara itu tiada hentinya saling membentak.
Tiba-tiba, terpancarlah sinar merah dari arah langit. Melesat, menerobos pekatnya malam, menembus bumi. Suara yang bergemuruh pun terhenti seketika. Sebab, entah dari mana datangnya, seekor kuda berjalan dengan perlahan, membelah kegelapan malam. Kuda hitam. Ditunggangi oleh seorang sinatria yang gagah dan tampan. Matanya memancarkan keteduhan dan kesejukan yang tiada tara.
“Ternyata kalian sudah tua atau menua dengan sendirinya. Tapi kenapa kalian telah lupa kepada Sang Hyang Widi? Ingat, kalian harus bersiap-siap. Sebab perahu untuk menyebrang, akan segera datang dengan cepat, untuk menjemput kalin semuanya!”begitulah yang dikatakan oleh Satria itu. Membuat semuanya terjerembab lagi untuk kedua kalinya.
“Sinatria, kami minta agar cerita ini diperpanjang lagi. Sebab kami belum menghitung segala yang telah kami perbuat!” ada yang berteriak dari arah timur.
“Sinatria, kami lupa menyimpan bungkusan!” disambung lagi dari arah barat.
“Sinatria, kami sedang membuat jembatan untuk menyebrang!” pekikan dari arah selatan.
“Kami ingin mengulang lagi masa lalu!” dari arah utara.
“Kami ingin kembali lagi!” dan ini entah dari mana. Yang jelas, semunya mengikuti teriakan tersebut.
Sinatria tersenyum. Angin malam tampaknya tak mau diajak untuk berdamai. Kuda hitam telah berlalu, membelah kegelapan. Meninggalkan keheningan yang mencekam. Sunyi senyap. Sinar merah menyembul dari dalam bumi. Berbalik, dan melesat kembali ke atas langit. Bagaikan pekikan di masa lalu; Tertawa dan menangis, Kenangan luka yang terbengis, abu memori jingga cita harmonis. Perahu yang membalik arah, dalam tatapan waktu yang tergoyah, memendam mahkamah, yang tak mesti terjadi di masa yang salah.***
Ranggon Panyileukan, 1422 H












