Arsip: Obituari
Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 22-10-2008 | Tak ada komentar »
Oleh Djasepudin
Buah kecintaannya berkarib dengan sastra Sunda salah satunya terus melahirkan pengarang Sunda potensial dan andal. Nama-nama pengarang kebanggaan sastra Sunda, yaitu Cecep Burdansyah, Hadi AKS, Budi Rahayu Tamsyah, Dian Hendrayana, Dadan Sutisna, dan sejumlah pengarang Sunda lainnya, sedikit banyak lahir dan nanjung berkat sentuhan Abah Duduh.
Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 22-10-2008 | 1 Komentar »
Oleh H Usep Romli H.M
DUNIA sastra Sunda kembali kehilangan putra terbaiknya sepanjang 2008 ini. Setelah Prof. Yosef Iskandar, kini Duduh Durahman menyusul menghadap Sang Khalik. Pengarang kelahiran Ciwidey, Kabupaten Bandung 26 Mei 1939 ini, meninggalkan alam fana Rabu (1 /9) pukul 15.30 WIB, setelah dirawat beberapa hari di RS Immanuel. Innalillahi wa inna ilaihi roji`un. Allohummaghfirlahu, warhamhu wa afihi wa fu`anhu, wa akrim nuzulahu.
Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 08-07-2008 | 2 Komentar »
Kuring rada cangcaya kénéh, da sacara saréat mah Kang Didi téh anom kénéh. Malah asa can kacaturkeun kawin. Ku kituna kuring nelepon balik ka Kang Dian, hayang ngayakinkeun éta béja. Tapi kang Dian ogé nampi wartos téh ti salahsawios personil kelompok musik Samba Sunda, sami deuih ngalangkungan SMS anu katampi jam 12 langkung cenah. Jadi, pupusna tiasa janten sekitar jam 00.00 WIB.
Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 30-03-2008 | 2 Komentar »

Drama “Juag Toéd” (1984) dipentaskan berkali-kali di Bandung, Jakarta, dan berbagai kota lain di Jawa Barat. Drama komedi ini tidak bisa lepas dari sejarah perkembangan seni tari jaipongan yang dipopulerkan menjelang akhir tahun 1970-an oleh Gugum Gumbira, Tati Saleh (alm.), dan Euis Komariah. Cerita dalam “Juag Toéd” merupakan semacam bantahan dan pembelaan Yoseph terhadap seni jaipongan. Pada saat itu, jaipongan diprotes oleh kalangan istri pejabat karena dianggap terlalu vulgar, erotis, dan hanya membangkitkan nafsu berahi. Drama “Juag Toéd” menyindirnya dengan mengambil setting tatar Sunda sebelum zaman perang. Pada zaman itu, istri seorang wedana disebut juag toéd dan bupati pun masih disebut kangjeng dalem.
Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 06-02-2008 | 2 Komentar »
RAF lahir di Banjarsari, Ciamis, 2 Oktober tahun 1929, buah pernikahan Bapak Udin Tampura dengan Ibu Ratna Permana. Pendidikan RAF dimulai dari HIS. Setelah itu, pada zaman Jepang, RAF melanjutkan pendidikan Pesantren, tepatnya di Pesantren Miftahul Huda Ciamis. Pada masa revolusi, RAF muda melanjutkan sekolah Pertanian di Tasikmalaya, dan Sekolah Menengah Atas di Bandung. Jenjang pendidikan tingginya di lalui di Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jakarta, sampai tingkat Sarjana Muda. Minat pada kesusastraan, menurut pengakuannya karena pengaruh E. Soewitaatmadja, kakak ibunya yang mengasuh RAF senjak kecil. Pada tahun 1963, RAF diangkat sebagai pegawai Perkebunan Negara IX sampai dengan pensiun dari PTP XII pada tahun 1983.
Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 03-01-2008 | 1 Komentar »
Siapa yang mengira, jika Iman telah sekian lamanya menyembunyikan sebuah penyakit yang sangat berat. Sebab dalam kesehariannya, pemuda kelahiran 14 Februari 1976 itu, begitu ceria dan selalu penuh dengan canda tawa. Tak pernah terlihat murung, atau menceritakan penderitaannya yang sangat memilukan. Semangat hidupnya begitu menggelora. Seakan Iman pun tak peduli dengan penyakitnya. Dia terus berjuang dengan tangannya sendiri. Mungkin Iman tak ingin membuat rekan-rekannya merasa bingung, apalagi turut memikirkan deritanya. Bahkan Iman selalu mencoba untuk tetap kelihatan sehat, segar dan bugar.
Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 20-12-2007 | Tak ada komentar »
Ku DHIPA GALUH PURBA
BUKU Biografi Ajengan Cipasung kungsi dipadungdengkeun di Radio Antassalam FM Bandung (103,9 FM), kalayan nara sumberna pangarang éta buku, Iip D. Yahya. Sanggeus didiskusikeun di Radio Antassalam FM Bandung, Biografi Ajengan Cipasung disawalakeun ku Pusat Studi Sunda (PSS). Dina éta sawala, midangkeun panyatur Iip D. Yahya, Éva Rufaidah (dosen UIN Sunan Gunung […]
Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 19-12-2007 | 1 Komentar »
Innalillahi wa Inna Illaihi Rozi’un
Sosok Kiai kharismatik yang dikenal “Ajengan Cipasung”, hari ini telah berpulang ke Rahmatulloh, pada jam 16.15 WIB.
Berkacamata tebal, berwajah selalu tenang, bersuara pelan namun lancar. Itulah penampilan lahiriah ajengan Pesantren Cipasung, Singaparna, K.H. Ilyas Ruhiyat.
Ketika pada Konbes NU 1992 namanya muncul sebagai pejabat sementara Rais ‘Am Syuriah PB NU, sebagian besar […]
Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 18-11-2007 | Tak ada komentar »
Ku Dhipa Galuh Purba
SALAKU anu mikalandep kawih-kawih karya Mang Koko, tangtu baé kuring wanoh ka jenengan Abu Hj. Iloh Siti Armilah (l. Cililin, 16 April 1921). Komo deui sabada Tatang Benyamin (salah sawios putra Mang Koko) ngadadarkeun yén rumpaka Abu pisan anu ngabalakan Mang Koko ngawitan nganggo rumpaka ti nu sanés. Saméméhna Mang Koko sok […]
Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 08-11-2007 | Tak ada komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
Namanya diabadikan dalam pasanggiri tembang Sunda piala “Saodah Cup”. Ia pun mendapat penghargaan dari Yayasan Pancaniti atas prestasinya menjadi juru mamaos tembang Sunda (1980). Selain itu, Nyi Mas Saodah pun piawai mencipta lagu. Selain “Kinanti Kaum”, lagu-lagu karya Nyi Mas Saodah di antaranya “Pandan Arum”, “Sekar Wangi”, “Pupundén Ati”, dsb.
Nyi Mas Saodah […]