Statistik

≈ Tulisan: 1881 tulisan
≈ Kategori: 43 kategori
≈ Komentar: 37772 komentar
≈ Hit: 4.332.400 kali

Kingkilaban

Katumbiri

Taman Sekar

Arsip: Sajak Indonesia

Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 09-05-2014 | Tak ada komentar »

Oleh DHIPA GALUH PURBA

 
…limbah-limbah nurani
sampah-sampah kemanusiaan
terbuang di sungai Citarum.
Meluap, menggenangi rumah-rumah,
masjid-masjid, gereja-gereja,
dan ruang-ruang
derita berkepanjangan…
 
..hari ini puluhan ribu rumah terendam.
Alam tak seimbang
syahwat pembangunan,
membabibuta menggasak alam…
Keserakahan…
Kedzaliman…
Tak peduli lahirkan penderitaan berkepanjangan…
 
7 April 2013

Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 27-09-2011 | Tak ada komentar »

Sajak DHIPA GALUH PURBA

Aku melihat matahari di matamu

Tapi kesetiaanku melebihi matahari

Melebihi matamu

Aku melihat mata hati di matamu

Tapi cintaku melebihi mata hati

Melebihi matamu…

Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 21-11-2010 | Tak ada komentar »

Tsunami undur diri
Menyisakan kota dan desa yang dihabisi
Alam raya puas merenah
Meninggalkan manusia yang kalah

Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 01-09-2008 | 4 Komentar »

Hingga sampailah kaki ini ke tepi Ramadhan
alunan suara nan merdu dari menara masjid
luluhkan bangunan keangkuhan
bertalu-talu beduk mengetuk
jiwa yang bergumul kebusukan

Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 13-08-2008 | 5 Komentar »

Badut tersenyum tanpa duka
Badut menari, menyanyi
Membaca puisi nada hati
Badut tersenyum
Sebab ia tak ingkar janji
Sebab ia tlah disakiti
Sebab ia tlah dikhianati

Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 11-08-2008 | 2 Komentar »

wahai setitik luka, beginilah ceritanya:
aku bercinta dengan pelangi yang membentang
dari langit dusun embun sampai ke langit Amerika
kami lalui dengan irama warna-warni nan indah
ku bawa pelangi bertengger di atas pohon
berenang di air sejuk
bergumul di rerumputan
kukenalkan pada awan, bintang, bulan
angin, tanah, dan semuanya…

Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 24-07-2008 | Tak ada komentar »

Kotaku tergenang gelimang impian

Terputuslah jejak darah itu

Saat air mata memerah dan membelenggu

Langkah meragu di pintu bisu

Pencarian