Arsip: Cerpen Indonesia
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 20-11-2008 | Tak ada komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
Ketika aku sedang mengafresiasi kenikmatan goreng bala-bala, gadis itu tiba-tiba datang dan duduk di sampingku; mengenakan kaos ketat dan rok mini, satu jengkal di atas lututnya. Tentu saja kedua mataku secara replek pula mencuri pandang ke arah wajahnya. Tampak matanya masih merah, seperti yang baru bangun tidur. Namun permukaan wajahnya sudah ditebali make-up. Tidak ketinggalan, hidungku segera melaporkan semerbak aroma yang menyengat.
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 20-11-2008 | Tak ada komentar »
Cerpen RIEKE DIAH PITALOKA
Setiap pagi, bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari.
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 24-09-2008 | 1 Komentar »
Cerpen DHIPA GALUH PURBA
Masuk ke Jalan Simpang Dukuh. Sampailah ke pesisian sungai Kalimas. Airnya mengalir dengan tenang. Tidak bening, malah kotor, namun pohon-pohon yang menghiasi sepanjang sungai, membawa suasana yang sejuk dan segar. Di sebrangnya pun terdapat sebuah taman bunga yang terlihat begitu indahnya. Walau malam hari, ditambah dengan mendungnya langit, tapi keasriannya tetap terlihat dan terasa. Lampu yang remang-remang di taman Kalimas, sepertinya masih dianggap terlalu terang. Sebab beberapa pasang manusia malah bersembunyi dibawah pohon yang cukup rindang, atau di tempat yang lebih gelap lagi.
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 24-07-2008 | Tak ada komentar »
Berita besar. Tentu saja, sebab untuk pertama kalinya hampir semua pemuka agama sepakat terhadap keputusan raja, tanpa melakukan protes atau demonstrasi besar-besaran. Tidak ada seorang pun yang berani meragukan kebenaran perintah tersebut. Termasuk kaum agamawan dan kaum spiritualis di seluruh penjuru negeri Maksiat. Hal inilah yang membuat semua rakyat kompak memberlakukan perintah itu.
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 07-10-2007 | Tak ada komentar »
Oleh TS. ASIKIN
ANGIN yang menerpa tubuh ini masih sedingin tujuhbelas tahun yang lalu. Belaiannya masih sesyahdu dulu, dan hembusan nan sejuk membuat aku terlena dalam buaiannya. Walau kini aku datang membawa hati yang terluka, menghambur ke pelukanmu dengan kepedihan yang tiada terperi. Tapi engkau tetap ramah menyambutku.
Kusangka engkau dulu adalah kota yang berkabut. Yang […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 07-10-2007 | 1 Komentar »
Oleh: DHIPA GALUH PURBA
KAWANKU adalah seorang penulis amatir yang tinggal nun jauh di kampung halaman, Cigorowek tercinta. Beliau sangat rajin mengirim surat. Hampir setiap jam, beliau mengabarkan perkembangan terakhir di Cigorowek melalui surat elektronik alias e-mail.
Belakangan ini, kawanku banyak mengirim kabar tentang kasus pencurian. Seperti yang terjadi pada keluarga Aki Ukro. Malam Rabu […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 06-10-2007 | Tak ada komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
kutatap hamparan di tanah serambi mekah
tak kutemukan lagi, rona wajahmu nan riang
kepedihan, luka menyayat jiwa, warnai rona manusia
entah di mana rona wajahmu, Rona…
*
AMARAHKU; seandainya tsunami itu nama seorang manusia, akulah yang akan mencabik-cabik dan membunuhnya. Jika ia nama binatang, aku pula yang akan memburu dan menyembelihnya. Kalau nama pepohonan, aku […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 06-10-2007 | 3 Komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
KABARNYA ibuku mengadakan acara syukuran di kampung, sebagai tanda suka cita atas kelulusanku. Kambing jantan kesayangannya pun, akhirnya jadi juga disembelih. Entah karena (pada akhirnya) aku mau menuruti pesan mendiang ayahku, yang sangat mengharapkan agar aku kuliah di IAIN. Atau mungkin juga dikarenakan hanya akulah satu-satunya yang menjadi harapan keluarga, untuk […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 06-10-2007 | Tak ada komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
MALAM sunyi. Terpancarlah seberkas cahaya, membentur gelap gulita yang membayangi seluruh bundaran jagat raya. Terang benderang beradu dengan gelap gulita. Cahaya terpisah dan hampir menghilang. Tak ada lagi percikan sinar. Tinggallah kegelapan dalam pekatnya malam yang mencekam. Kalaupun ada percikan sinar, tidak bisa menyatu dengan kegelapan. Keduanya terpisah. Tak ubahnya […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 06-10-2007 | Tak ada komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
JEJAK darah itu tak mungkin terhapus pada titian anak tangga yang pernah kau lalui. Seraya tinggalkan sepenggal memori di dasar lubuk hati. Sekejap keindahan atau setitik kasih yang—mungkin—sangat tulus. Saat itu—tapi tidak saat ini—ingin kucercah semua kisah yang memenuhi […]