Arsip: Cerpen Indonesia
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 17-04-2009 | 1 Komentar »
Oleh Marissa Haque Fawzi
Tiba-tiba dunia terasa semakin kelam dari malam sesungguhnya. Aminah tak mampu lagi bernafas. Namun ia masih berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dalam lemahnya ia berdoa: “La ilaha Illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimiin.” Yang artinya ‘Maha suci Engkau, Maha Mulia Engkau, hamba ini seorang aniaya’ (doa Nabi Yunus ketika diperut ikan Paus). Tidak ada tempat lain untuk berlindung serta memohon pertolongan kecuali kepada Nya.
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 20-11-2008 | Tak ada komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
Ketika aku sedang mengafresiasi kenikmatan goreng bala-bala, gadis itu tiba-tiba datang dan duduk di sampingku; mengenakan kaos ketat dan rok mini, satu jengkal di atas lututnya. Tentu saja kedua mataku secara replek pula mencuri pandang ke arah wajahnya. Tampak matanya masih merah, seperti yang baru bangun tidur. Namun permukaan wajahnya sudah ditebali make-up. Tidak ketinggalan, hidungku segera melaporkan semerbak aroma yang menyengat.
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 20-11-2008 | 1 Komentar »
Cerpen RIEKE DIAH PITALOKA
Setiap pagi, bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari.
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 24-09-2008 | 2 Komentar »
Cerpen DHIPA GALUH PURBA
Masuk ke Jalan Simpang Dukuh. Sampailah ke pesisian sungai Kalimas. Airnya mengalir dengan tenang. Tidak bening, malah kotor, namun pohon-pohon yang menghiasi sepanjang sungai, membawa suasana yang sejuk dan segar. Di sebrangnya pun terdapat sebuah taman bunga yang terlihat begitu indahnya. Walau malam hari, ditambah dengan mendungnya langit, tapi keasriannya tetap terlihat dan terasa. Lampu yang remang-remang di taman Kalimas, sepertinya masih dianggap terlalu terang. Sebab beberapa pasang manusia malah bersembunyi dibawah pohon yang cukup rindang, atau di tempat yang lebih gelap lagi.