Arsip: Kemuning
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 02-11-2007 | 7 Komentar »
Di pangkalan becak pintu gerbang Komplek Bumi Panyileukan, Tahun 1993. Saya (x) bersama beberapa orang penambang becak dan seorang pedagang cendol.
14 Juli 1993 merupakan hari pertama menginjakan kaki di kampus SMA Pasundan 7, Jl. Kebonjati 31, Bandung. Saya sendiri tinggal di rumah kakak, Komplek Bumi Panyileukan, Cibiru, Bandung (Sekarang menjadi Kecamatan Panyileukan). Tadinya saya sempat […]
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 02-11-2007 | 2 Komentar »
Seingat saya, waktu masih kecil, kalau saya sedang di Bandung, saya sering tinggal di rumah paman (Mang Asep Edi Djuwaedi). Sejak rumahnya di Jln. Jatayu, terus pindah ke Jln. Garuda, dan sekarang di Jl. Hari Hadi Somantri No. 1, Pajajaran, Bandung. Mang Asep adalah adiknya bapak saya. Dulu, sejak masih ngompol di kasur, saya sering […]
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 02-11-2007 | 2 Komentar »
Hubungan saya dan Susi kian akrab. Seperti pada acara study tour ke Jakarta (13-14 Desember 1992), saya sering menemani Susi berjalan-jalan. Pokoknya ia sangat baik. Di Jakarta, saya kehabisan makanan. Dan Susi bermurah hati membagi bekal makanannya. Begitulah seterusnya, Susi menjadi salahsatu sahabat terbaik saya semasa SMP. Bahkan pada tanggal 17 Desember 1992, Susi berkunjung ke rumah saya. Tapi saya tidak GR. Sebab, kedatangan Susi tidak murni didorong keinginan hatinya. Susi hanya mengantar Reni Haerani. Sedangkan maksud kedatangan Reni adalah untuk menemui Irwan, pacarnya. Saat itu, Reni dan Irwan sedang terbelit persoalan yang cukup rumit. Saya diminta Irwan dan Reni untuk membantu memecahkan persoalan mereka. Di rumah saya pun ada Abot dan Jurig, yang sudah tidak sabar mau berangkat ke Bandung. Jadi, sepulangnya Reni, Susi, dan Irwan, saya langsung berangkat ke Bandung bersama Abot dan Jurig. Tentu saya tidak mengantar Susi, karena saat itu saya tidak punya kendaraan apapun. Di buku harian saya tertulis, seandainya saya punya sepeda motor, pasti saya akan mengantarkan Susi.
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 02-11-2007 | 1 Komentar »
Dari kiri: Abot, Jurig, dan Dhipa Galuh Purba, dipoto di taman Alun-alun Bandung, tahun 1993
Abot dan Jurig adalah nama samaran atau semacam julukan dua kawan saya semasa SMP. Nama asli Abot adalah Wawan Hermawan. Ia tinggal di Mandalare, Panjalu. Sedangkan nama asli Jurig adalah Rizal Jazuli. […]
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 02-11-2007 | Tak ada komentar »
Dari kiri: Yuyu, Sofia Indriani, Iis maesyaroh, […]
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-11-2007 | Tak ada komentar »
SEJAK tahun 2004 sampai pertengahan 2006, saya menyewa kamar kost di Pondok Mustika, Jl. Manisi No. 38 (belakang), Pasirbiru, Cibiru, Bandung. Pondok Mustika tidak terlalu populer di kalangan mahasiswa UIN SGD Bandung. Waktu itu, penghuni Pondok Mustika tidak ada seorang pun mahasiswa UIN SGD Bandung, selain saya. Pondok Mustika hanya terdiri dari enam kamar, satu […]
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 06-10-2007 | 7 Komentar »
Dadan Sutisna (Kanan) dan saya (kiri)
Namanya sudah saya kenal sejak masih duduk di bangku SMA, tahun 1993-1996. Waktu itu, saya keranjingan membaca Majalah Manglé, terutama rubrik “Barakatak”. Salahsatu penulis barakatak yang saya kagumi adalah Dadan Sutisna. Di bawah namanya selalu dicantumkan nama dan alamat sekolahnya, yaitu SMAN Tanjungsari, Sumedang.
Pernah terbesit keinginan untuk menemuinya dan […]
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 24-09-2007 | 3 Komentar »
Tahun 1992 ketika minggat dari kampung dan bekerja sebagai tukang aspal di Bandung.
Di suatu hari yang begitu terik, panas mentari terasa membakar kulit. Saya sedang menggali tanah, untuk pengerjaan pengaspalan jalan. Tubuh saya sudah dibanjiri keringat. Dalam situasi seperti itu, tiba-tiba seorang gadis keturunan Tionghoa menghampiri saya. Kira-kira usianya 20 tahunan. Wajahnya cantik, putih […]
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 22-09-2007 | 3 Komentar »
Tahun 1992. Pertengahan semester III, ketika saya masih duduk di bangku SMPN Panjalu, Ciamis, pernah mengalami kejenuhan dalam menuntut ilmu. Saking jenuhnya, saya sudah memutuskan untuk berhenti sekolah. Tentu saja tidak memberitahu orang tua, karena pasti bakal dimarahi.
Diam-diam saya meminjam uang Rp 3. 000,- kepada Teti dan Yuyu, dua orang sahabat yang begitu baik hati. […]