Arsip: Kemuning
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-06-2009 | 2 Komentar »
Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA
Di kelas saya, ada seorang kawan yang tergila-gila pada lagu rock metal. Namanya Dani Sugandi. Itulah saingan saya selanjutnya, karena Maman kebetulan ditempatkan di kelas lain. Bahkan persaingan dengan Dani tidak hanya ketika menyanyi di depan kelas. Sebab, dalam setiap perbincangan tentang musik, kami sering berdebat. Dan puncaknya, terjadilah perkelahian saya dan D, karena saya tersinggung ketika D mencemooh lagu-lagu Rhoma Irama. Perkelahian itu terjadi sepulang sekolah, di dekat pintu gerbang SMPN Panjalu. Tentu, sangat menyita perhatian kawan-kawan lainnya. Ada yang langsung melerai, dan ada pula yang malah berhamburan menjauh dari kami. Dan mungkin saja saat itu kawan-kawan saya menertawakan, setelah mengetahui duduk persoalan yang mengakibatkan perkelahian saya dan D, yakni: saya tersinggung gara-gara D mencemooh lagu Rhoma Irama.
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-11-2008 | Tak ada komentar »

Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 21-08-2008 | 5 Komentar »
Tiba-tiba ia yang mengajak beristirahat, beberapa meter sebelum sampai ke Curug Satu. Tapi bukan karena lelah, melainkan ingin menikmati suasana di tempat tersebut yang begitu sejuk. Pohon rindang menjadi tempatnya bersandar, angin tingtrim membelai rambutnya. Betapa indahnya alam Curug Tujuh. Kami berbagi cerita, merenung, dan merasakan berbagai gejolak di dalam jiwa. Tak ada rasa lelah seperti yang saya rasakan ketika naik gunung Ciharum bersama Dadan Sutisna. Tidak ada! Yang ada hanya kesejukan, kedamaian, keindahan.
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 15-08-2008 | 6 Komentar »
Serangan mag kali ini terasa lebih dahsyat. Dari jam 10.00 WIB sampai jam 14.00, saya masih merasakan sakit yang luar biasa. Akhirnya saya teringat kisah pertama kali terserang mag di Rental Cygnus. Solusinya adalah berbaring tanpa bergerak, dengan kedua tangan di atas dada. Kali ini, saya benar-benar sulit untuk bernafas, sehingga saya mulai komat-kamit membaca ayat-ayat Alloh, dan bersiap jika saya harus tutup usia. Selain membaca ayat-ayat Alloh, bibir saya pun bergetar memohon maaf kepada ibu saya, keluarga saya, saudara-saudara saya, sahabat-sahabat saya, atas segala kesalahan yang terasa dan tidak terasa. Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara Heri (seorang karyawan Cupumanik) mengaji Al-Quran. Saya semakin yakin, bahwa mungkin saat itulah akhir dari hidup saya. Dan saya sudah pasrah, karena bernafas pun sangat sakit. “Allohu Akbar… saya orang yang bergelimang dosa, telah siap menghadap-Mu, jika saat ini saya harus berpulang… Subhannalloh… subhannaloh… Astaghfirullohal adzim… Allohu Akbar… Ya Alloh ampuni dosa-dosa saya. Saya tidak pernah korupsi, kecuali darmaji waktu SMP. Saya tidak pernah menganiaya orang lain, kecuali berkelahi dan pernah menang, pernah juga kalah berlumur darah. Ampuni saya ya Alloh, saya pernah berpacaran dengan dua orang wanita dalam waktu yang bersamaan. Ya Alloh… saya bukan ahli surga, tapi tidak mungkin kuat jika dimasukan ke dalam neraka…” itulah beberapa hal yang sempat terucap di hati saya.