Arsip: Artikel Indonesia
Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 21-08-2008 | Tak ada komentar »
Banyak pengunjung Nyiar Lumar dari luar Ciamis yang tidak lupa memuji kecantikan mojang-mojang Ciamis. Selain cantik, ditambah amis budi. Itulah anak cucunya kerabat Citraresmi Diah Pitaloka. Putri kerajaan Sunda yang keayuannya menandingi bidadari, dan membuat Raja Majapahit mabuk kepayang. Sebagai lelaki normal, Gajahmada pun sebenarnya menginginkan Citraresmi Diah Pitaloka. Maka dari itu, ia tidak rela kalau Pitaloka jatuh dalam pelukan lelaki lain, tanpa terkecuali Prabu Hayam Wuruk.
Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 21-08-2008 | Tak ada komentar »
Jika lumar ditafsirkan sebagai makna simbolis yang merujuk pada kerinduan setiap orang terhadap sesuatu yang dibayangkan sebagai cendawan waktu yang bercahaya, agaknya bisa disebut bahwa Nyiar Lumar adalah peristiwa yang menjadi semacam ikhtiar untuk merawat kembali sebuah gagasan. Gagasan ruang-ruang masa lalu yang menjadi medium bagi menghadirkan ruang peristiwa hari ini dengan segenap ekspresi yang tersimpan di dalamnya. Dalam konteks inilah sakralitas diciptakan, bukan menciptakan. Orang-orang sengaja berbaju hitam, atau yang mendadani dirinya dengan atribut-atribut yang menarik perhatian. Cianjuran, seni terbang, performance art, hingga lengking mistis Bi Raspi dengan Ronggeng Gunungnya, menjadi sekumpulan penanda yang menekan pada atmosfir sakral yang dihadirkan ke tengah dimensi-dimensi peristiwa hari ini.
Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 06-08-2008 | Tak ada komentar »
Pasti biaya percetakannya sangat mahal. Tapi tidak masalah bagi yang banyak modal dan banyak akal. Mustahil calon wali kota tidak punya bekal yang tebal. Tidak terkecuali calon independen, tidak cukup hanya mengenakan sandal. Uang berhamburan untuk menunjukkan diri yang paling andal (tidak apa-apa asal uang halal). Para cikal bakal orang sentral berlomba melakukan amal. Berorasi mengangkat tema aktual meski agak dangkal. Tentu, ada yang ikut-ikutan loyal, ada yang cuma mengambal, ada yang mual, dan ada pula yang menganggap itu sebagai bualan yang gombal. Makanya jangan lupa terhadap nilai-nilai spiritual dan kultural. Ups … maaf, tidak bermaksud untuk menyangkal apalagi menggertak sambal. Calon orang sentral tidak boleh temperamental, karena bisa mengakibatkan konflik horizontal.
Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 03-07-2008 | 4 Komentar »

Upaya tersebut akhirnya terwujud . Berdirilah SMP yang kemudian diberi nama SMP Petang, diselenggarakan oleh SGI dan bertempat di Europese Lagere School, Logeweg 3 (kini Jalan Wastukencana).
SMP Petang yang rencananya akan dibuka tanggal 17 Agustus 1948, akan dipimpin oleh Bapak Abdurrahman Natadiria. Namun menjelang pembukaan ternyata Bapak Abdurrahman Natadiria ditangkap Belanda, dan akhirnya diputuskan bahwa untuk sementara Bapak R. Soetardjo ditunjuk sebagai Kepala Sekolah.
Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 02-06-2008 | Tak ada komentar »
Namun justru para pedagang kaki lima yang para pelakunya masyarakat kecil itu, sebenarnya sangat menunjang bagi kehidupan perekonomian masyarakat tingkat bawah. Sebut saja sebagai taméng-nya perekonomian rakyat kecil, yang secara simbolik disebutkan pada baris yang kedua: Citaméng.
Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 16-05-2008 | 1 Komentar »
NAMA Kang Ajip sudah saya kenal sejak saya masih duduk di bangku SMP. Guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda, sering menyebut nama Kang Ajip. Di buku panduan pun, nama Kang Ajip selalu terpampang. Sastrawan besar dan kritikus pemberani, demikian yang ada dalam benak saya. Saya benar-benar tidak menyangka jika besok-lusa akan merasakan duduk berdampingan, berdialog langsung, bersenda-gurau, sampai makan bersama. Sungguh merupakan suatu anugrah dari Alloh SWT. yang tidak ternilai.
Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 02-05-2008 | 12 Komentar »
Galuh memang pernah menjadi sebuah kerajaan. Akan tetapi ceritera tentang Kerajaan Galuh, terutama pada bagian awal, penuh dengan mitos. Hal itu disebabkan ceritera itu berasal dari sumber sekunder berupa naskah yang ditulis jauh setelah Kerajaan Galuh lenyap. Misalnya, Wawacan Sajarah Galuh antara lain menceriterakan bahwa Kerajaan Galuh berlokasi di Lakbok dan pertama kali diperintah oleh Ratu Galuh. Setelah banjir besar yang dialami oleh Nabi Nuh surut, pusat Kerajaan Galuh pindah ke Karangkamulyan dan nama kerajaan berganti menjadi Bojonggaluh. Dikisahkan pula putera Ratu Galuh, yaitu Ciung Wanara berselisih dengan saudaranya Hariang Banga. Perselisihan itu berakhir dengan permufakatan, bahwa kekuasaan atas Pulau Jawa akan dibagi dua. Ciung Wanara berkuasa di Pajajaran dan Hariang Banga menguasasi Majapahit. Selama belum ada sumber atau fakta kuat yang mendukungnya, kisah seperti itu adalah mitos
Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 23-04-2008 | 7 Komentar »
Sejarah primordial manusia berakar dari Tuhan, sebagai representasi paling sempurna dari kehadiran Tuhan pada makhluknya. Konsep dasar ini dalam dunia tasawuf dikenal dengan istilah tajalli. Konsep yang menjelaskan bagaimana segala sesuatu, termasuk manusia ada dan mengada; munculnya realitas plural dari yang tunggal. Konsep yang selanjutnya melahirkan rumusan tentang Insan Kamil, manusia sempurna.
Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 04-03-2008 | Tak ada komentar »
Jika masyarakat kurang peduli terhadap drama Sunda, tentu bukan persoalan kemasan pergelaran yang kurang menarik. Masalahnya lebih terletak pada usaha memperkenalkan drama Sunda kepada masyarakat. Contohnya, TVRI Jabar atau RRI Bandung yang biaya operasionalnya disubsidi pemerintah, ternyata tidak terketuk hatinya untuk mengadakan acara khusus seperti siaran langsung FDBS dari Gedung Kesenian Rumentang Siang.
Stasiun televisi lokal yang mengaku mencintai kebudayaan Sunda, tidak ada satu pun yang memanfaatkan FDBS X untuk dijadikan semacam acara istimewa dalam rangka memperkenalkan drama Sunda kepada masyarakat sekarang. Itu terjadi, kemungkinannya karena acara FDBS X dianggap tidak akan menghasilkan keuntungan materi.
Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 01-02-2008 | Tak ada komentar »
Oleh Muh. Rustandi Kartakusuma
HARI Minggu tanggal 31 Januari 1988 dalam salah satu ruangan Gedung Merdeka, Bandung, diadakan peringatan 50 tahun umur seorang sasterawan, yaitu Ajip Rosidi. Terlepas dari setuju-tidaknya dengan peringatan tersebut, ada beberapa hal yang lebih dari patut diketengahkan mengenai sasterawan tadi.
Pada umur 15 (lima belas) tahun hasil karyanya sudah dimuat dalam majalah […]