Arsip: Almamater
Kategori: Almamater | Diterbitkan pada: 18-10-2007 | 11 Komentar »
Di antara kawan-kawan seangkatan, Ence Irin termasuk mahasiswa yang paling cerdas. Sedangkan mahasiswi yang terjelita, menurut kacamata subyektif saya… mmmh… siapa ya? Sulit untuk mengubah arah mata. Sejak tahun 1998 saya sudah mengenali “Purnama di IAIN”. Ia sahabat saya. Namanya unik. Dibolak-balik pun namanya tidak akan berubah. Selain cantik, ia pun termasuk mahasiswi yang cerdas, sopan, baik hati, dan rendah hati. Maaf, sekali lagi, ini adalah menurut kacamata subyektif saya. Pertama kali mengenalinya, waktu ia masih aktif di Forum Alternatif Sastra (FAS). Lahirnya di Pandeglang Banten pada 24 Juli 1979. Ia telah menuntaskan masa pendidikan S-1 pada tahun 2001, dengan menulis skripsi berjudul “Analisis Kuasa Michel Focault terhadap Gender dan Pembangunan (Gender and Development/GAD)”. Bahkan ia pun sudah menuntaskan meraih gelar magister pada tahun 2004, dengan mempersembahkan sebuah tesis berjudul Kesetaraan Gender dalam Pemikiran Tasawuf lbnu Arabi. Kini ia menjadi dosen Filsafat Sosial di Fakultas Ushuludin UIN SGD.
Kategori: Almamater | Diterbitkan pada: 18-10-2007 | 5 Komentar »
Saya diterima menjadi mahasiswa STSI Bandung pada tahun 1998. Saat itu, ada empat jurusan yang tersedia di STSI Bandung, di antaranya Jurusan Teter, Tari, Karawitan, dan Seni Rupa. Saya memilih Jurusan Teater, dan mendapat Nomor Induk Mahasiswa (NIM): 98. 33. 027. Jika di SMA ada wali kelas, maka di perguruan tinggi ada Dosen Wali. Yang mendapat tugas menjadi dosen wali saya adalah Bapak Herman Effendi, seorang fotograper ternama.
Kategori: Almamater | Diterbitkan pada: 18-10-2007 | 17 Komentar »
Selain tiga walikelas, ada beberapa orang guru yang selalu saya ingat. Di antaranya Pak Ayi Muchlis (dulu menjabat sebagai guru BP dan pelajaran jasa, sekarang menjadi Kepala Sekolah SMA Pasundan 7 Bandung), Pak Deden (dulu menjabat sebagai pembina kesiswaan SMA Pasundan 7 Bandung, lalu menjadi Kepala Sekolah SMA Pasundan Banjaran, dan menjabat Kepala Sekolah SMA Pasundan 1 Bandung. Kini Pak Deden telah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa), Pak Cucu (guru Agama), Bu Yati (guru Bahasa Indonesia), Pak Syaeful (guru Bahasa Indonesia), Pak Usep (guru Olahraga), Bu Dini (guru Kesenian), dsb. Dari guru-guru yang selalu saya ingat, yang menjadi idola saya adalah Bu Yati. Entah karena mata pelajarannya yang saya sukai, atau cara mengajarnya yang tenang, atau mungkin juga karena wajahnya yang cantik. Yang pasti, saya selalu bersemangat kalau Bu Yati kebagian mengajar di kelas. Bu Yati sangat cocok kalau menjadi pemeran utama film “Guruku Cantik Sekali”.
Kategori: Almamater | Diterbitkan pada: 18-10-2007 | 21 Komentar »
Sungguh beruntung saya memiliki wali kelas Pak Amas. Jika bukan Pak Amas walikelasnya, belum tentu saya bisa menuntaskan pendidikan di SMPN Panjalu. Sebab, semasa di SMP, saya sangat nakal, dan pernah berniat untuk berhenti sekolah. Pak Amas berusaha memberikan pengertian dengan penuh kesabaran. Sampai akhirnya, saya bisa merubah cara berpikir. Jadi, selain cerdas, gigih, dan sabar, Pak Amas pun sangat memperhatikan keadaan murid-muridnya. Pak Amas, walikelas saya, guru terbaik yang mampu mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan cermat, sampai akhirnya saya sangat menyukai mata pelajaran tersebut.
Kategori: Almamater | Diterbitkan pada: 18-10-2007 | 4 Komentar »
Kini, bangunan SDN IV telah rusak parah dan sangat memprihatinkan. Kabarnya, bangunan SDN IV akan direnovasi oleh Drs. H. Uce Karna Suganda, seorang dermawan di Panjalu, pensiunan Direktur Umum Bank Jabar. Ya, saya hanya bisa berdo’a, semoga kampus SDN IV segera dibangun, untuk kelancaran kegiatan transper ilmu pada generasi calon-calon pemimpin negeri ini.