Catatan Survey ke Kabupaten Kuningan

Catatan Tim Survey BAPPEDA Propinsi Jawa Barat

 

HARI Kamis,  20 Juni 2013, saya dan rombongan tim Survey Penyusun Kebijakan Pemanfaatan Potensi Budaya Lokal dan Bentang Alam Bagi Pengembangan Destinasi Ekowisata Jabar & Ekonomi Kreatif BAPPEDA Propinsi Jawa Barat, mengunjungi Kabupaten Kuningan. Diantaranya Ir. Hj. Hany Yuhani, MPM, Gustaff Harriman Iskandar, Hendra Hermawan, dan dua orang lainnya. Berangkat dari Kota Bandung pukul 21.00 WIB, dan tiba di Kuningan  hari Jumat dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB. Tim Survey beristirahat di Hotel Grand Purnama, Jl. Siliwangi, Kuningan.

 

Selanjutnya, pada pukul 09.00 WIB, kami menuju Kantor Bappeda Kabupaten Kuningan untuk mengikuti Focus Group Discussion (FGD). Sepanjang perjalanan dari hotel menuju Kantor Bappeda, Kota Kuningan belum memiliki ciri khas tertentu yang bisa menunjukkan identitas khusus Kota Kuningan. Namun di Taman Kota Kuningan berdiri patung kuda, yang sudah cukup menjadi identitas Kuningan. Patung kuda “Si Windu”, yang dalam sejarah Kuningan digambarkan sebagai kuda putih pemberani yang senantiasa ditunggangi Senapati Ewangga, panglima perang Kuningan yang selalu mendampingi Adipati Kuningan dalam setiap pertempuran penting. Sampai di tatar Sunda ada sebuah peribahasa ”Leutik-leutik gé kuda Kuningan” (biar kecil tapi Kuda Kuningan). Hal ini tentunya dikaitkan dengan kegagahan ”Si Windu” yang konon merupakan turunan dari kuda semprani.

Di Waduk Darma Kuningan, Jawa Barat

Nama Kuningan sendiri diangkat dari nama Pangeran Kuningan, putra Syeh Syarif Hidayattullah (Sunan Gunung Djati), dari istrinya yang bernama Ratu Ontin Nio atau Ratu Rara Sumanding. Sampai sekarang, tanggal 1 September diperingati sebagai hari jadi kota Kuningan, sebab pada saat itulah (tepatnya tahun 1498) Pangeran Kuningan dilantik menjadi pemimpin kerajaan, dengan mendapat gelar Pangeran Arya Adipati Kuningan.

 

Untuk wisata kuliner, memang ada ciri khas Kuningan yang cukup dikenal. Misalnya para pedagang tape beras ketan yang dikemas dalam ember. Selain itu, kesejukan Kuningan masih terasa, karena pohon-pohon yang rindang berbaris sepanjang jalan. Namun dalam kaitannya dengan sejarah dan seni budaya Kuningan, sepertinya tidak terlalu kentara. Dalam bidang kesenian misalnya, Kuningan sangat erat kaitannya dengan kelahiran seni angklung generasi baru, yang dirintis oleh  Daeng Sutigna, seorang guru di Kuningan. Daeng pertama kali menyelaraskan notasi angklung dengan berbagai eksperimen, agar angklung diminati oleh anak muda, yakni merubah notasi pentatonis menjadi diatonis.

Waduk Darma Kuningan, Jawa Barat

 

Kuningan juga merupakan kabupaten yang kaya akan potensi wisata ekologi yang berbasis budaya, sejarah, dan teknologi. Sebut saja misalnya Balong Darmaloka, Waduk Dharma, Situs Purbakala Cipari, Puncak Gunung Ciremai, Cibulan, Goa Maria, dan lain-lain. Bahkan di Kuningan pun ada sekelompok masyarakat adat Cigugur, yang masih eksis sampai dengan sekarang. Dengan begitu kaya potensi wisata alam, idealnya di setiap sudut Kota Kuningan marak dengan promosi pariwisata dan seni budaya. Kalau memungkinkan, nama jalan pun ada baiknya mengambil salahsatu tokoh seni budaya yang mengharumkan Kota Kuningan, semisal Daeng Sutigna, seperti halnya di Kota Tasikmalaya yang mengabadikan nama Mang Koko (maestro karawitan) menjadi nama ruas jalan di sekitar Indihyang.

 

Kami tiba di Kantor Bappeda Kuningan sekitar pukul 09.30 WIB. Kantor Bappeda Kuningan terletak di Jalan Raya RE. Martadinata 92. Di halaman kantor Bappeda, ada sebuah spanduk terpampang, bertuliskan “Selamat Memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional”. Hal itu menunjukkan bahwa Kuningan memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan hidup bahasa Sunda.

 

FGD dibuka oleh Waluya, Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Kuningan. Para peserta FGD diantaranya adalah beberapa orang staf Bappeda Kabupaten Kuningan, staf Disbudpar Kabupaten Kuningan, seniman, budayawan, pelaku ekonomi kreatif, dan dosen perguruan tinggi di Kuningan.

 

Dalam FGD, tim survey dapat menyerap berbagai informasi, masukan, dan ide kreatif yang bisa diperdalam lagi berkenaan penyusunan Penyusun Kebijakan Pemanfaatan Potensi Budaya Lokal dan Bentang Alam bagi Pengembangan Destinasi Ekowisata Jabar & Ekonomi Kreatif, khususnya di Kabupaten Kuningan. Misalnya, dengan bermodal kesuburan alam dan kehidupan agraris masyarakat Kuningan, pernah dikembangkan wisata pedesaan (working village), dimana para wisatawan tinggal di pemukiman warga, dan mengikuti kegiatan sehari-hari warga.

 

Selain itu, kaulinan (permainan) kolecer (semacam kincir angin, yang terbuat dari bambu) pernah dikembangkan pula. Bahkan rencananya di Kuningan akan digelar Festival Kolecer. Kuningan pun memiliki Kebun Raya seluas 154 hektar. Sayang sekali dalam pengelolaannya tidak melibatkan masyarakat sekitar. Begitupun juga dengan Goa Maria yang belum dikelola secara maksimal. Padahal, daya tarik Goa Maria cukup memikat, tidak akan kalah dengan Goa Maria Lourdes Perancis. Atau juga permainan saptonan, adu ketangkasan naik kuda sambil melempar tombak, yang dikaitkan dengan kegagahan kuda yang ditunggangi senapati pemberani Ewangga,

 

Berkenaan dengan pakaian tradisional, batik Kuningan juga turut dikembangkan, dan pemerintah mendukung dengan cara mewajibkan seluruh pegawai pemerintah agar mengenakan batik Kuningan setiap hari Kamis. Kerajinan lain pun dikembangkan, seperti di sanggar Teater Sado. Namun, mahalnya tenaga kerja menjadi kendala, karena pada akhirnya hasil kerajinan Kuningan kalah bersaing harga dengan daerah lainnya.

 

Gedung kesenian baru saja selesai dibangun  untuk mewadahi kreativitas masyarakat Kuningan, tetapi ruang-ruang untuk berkreasi masih tetap belum mencukupi dikarenakan begitu banyak anak muda di Kuningan, atau sekitar 60%. Terutama untuk para pelaku ekonomi kreatif, selain minimnya ruang ditambah dengan jalinan komunikasi antar komunitas yang belum terbangun. Maka dari itu perlu ada semacam wadah, misalnya bernama Forum Pengembangan Ekonomi Daerah, yang terbuka untuk seluruh elemen masyarakat.

 

Dengan memiliki banyak destinasi wisata unggulan di Kuningan, sebenarnya pola relasi antara wisata dan pengembangan ekonomi masyarakat akan terbangun sendirinya. Maka perlu ada strategi sistematik dalam penggalian potensi wisata ekologi berbasis budaya untuk mencapai pariwisata berskala dunia.


Leave a Comment