Catatan Kecil Sebelum Lomba di ”Pesta Sastra 2014” Balai Bahasa Jabar

Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA

 

Hari ini, Kamis, 21 Agustus 2014, jam 08.00 WIB akan digelar ”Festival Sastra” yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Barat, di Hotel Ibis, Jl. Braga No. 8, Bandung. Ada Lomba Musikalisasi Puisi, Lomba Bercerita, dan Lomba Membaca Cerpen.

Saya mendapat amanah dari Balai Bahasa Jabar untuk menjadi salahsatu juri Lomba Membaca Cerpen. Biasanya saya membuat catatan lomba seusai acara berlangsung. Tidak diwajibkan oleh panitia, tetapi saya selalu membuat catatan seusai lomba.

Kali ini saya akan membuat catatan kecil pra lomba, yang semoga saja ada manfaatnya bagi seluruh peserta atau para pembimbingnya.  

 

Pertama, hal penting dalam mengikuti lomba apapun adalah motivasi untuk menjadi juara. Itu harus ditanamkan dalam diri. Artinya, harus merasa yakin akan menjadi juara. Jika tidak merasa yakin akan menang, lebih baik tidak ikut lomba, karena pasti akan kalah. Apalagi kalau niatnya hanya untuk turut berpartisipasi, sudah pasti hasilnya pun hanya ”partisipasi”. Pokoknya, mengikuti lomba apapun, harus memiliki niat untuk menang dan menjadi juara.

Berniat untuk menjadi juara, tidak sama dengan sombong. Sebab, dengan niat yang kuat untuk menjadi yang terbaik, tentunya akan memotivasi untuk tampil dengan maksimal. Sedangkan untuk mengampilkan yang terbaik, diperlukan latihan yang sungguh-sungguh dan persiapan yang matang. Peserta yang berniat menjadi juara, pasti akan melakukan hal tersebut. Sementara peserta yang hanya turut berpartisipasi, pasti persiapannya pun hanya alakadarnya, sehingga penampilannya pun seadanya.

Berniat untuk menjadi juara, tidak sama dengan keharusan menjadi juara pada hasil akhirnya. Setelah tampil dengan mulus dan lepas, dijamin akan merasakan kepuasan. Seandainya sudah tampil habis-habisan, tetapi masih tetap kalah, biasakanlah untuk berbesar hati dan mengakui keunggulan peserta yang menjadi pemenang. Kekalahan dalam sebuah kompetisi, bukanlah akhir dari segala-galanya. Justru kekalahan itu yang akan menjadi dorongan semangat untuk berlatih lebih serius lagi, seraya mempersiapkan diri untuk menyongsong kompetisi selanjutnya.

Bagi yang juara, tidak perlu menjadi jumawa. Bagi yang kalah, belajarlah untuk mengakui kekalahan secara ksatria. Menang dan kalah hanyalah hasil dari sebuah kompetisi. Sementara sikap ksatria, bisa dimiliki oleh siapa saja, baik pemenang atau pun yang kalah.

”Wajar saya kalah, karena saya mah hanya turut meramaikan saja. Latihan pun gak pernah…” ini contoh pernyataan yang kurang baik.

”Saya kalah karena saya dicurangi oleh juri yang berkonspirasi dengan juara!” ini pun merupakan pernyatan seorang yang tidak ksatria. Kalau pun benar ada kecurangan, biarkan masyarakat yang menilai, atau mengkritisi juri dengan cara yang elegan. Namun jangan khawatir, juri sebuah lomba yang terbukti melakukan kecurangan, biasanya tidak akan dipercaya lagi untuk menilai sebuah lomba. Berkenaan dengan lomba di ”Pesta Sastra 2014” ini, sampai malam ini, saya tidak tahu siapa dan dari mana saja pesertanya. Dan saya memang saya tidak ingin tahu, untuk menjaga keobyektifan saya dalam melakukan penjurian. Tapi, seandainya dalam pelaksanaan lomba, ada satu atau dua orang yang saya kenal, atau bahkan ada Ibu Guru mantan pacar sekalipun, misalnya, saya tidak akan terpengaruh.

Lantas, bagaimana sikap seorang ksatria ketika kalah dalam sebuah kompetisi? Jelas, menerima kekalahan dengan lapang dada, dan mengakui keunggulan peserta yang menjadi juara. Katakan, ”Kamu hebat! Padahal saya sudah berlatih maksimal, tampil maksimal, tetapi kamu lebih baik dari saya!”

Ya, tanamkan sikap ksatria sejak dini. Sebab mengikuti sebuah kompetisi di usia dini, pada intinya adalah melatih mental untuk bersaing di masa yang akan datang. Mental untuk siap menang dan siap kalah, yang bukan sekadar kata-kata.

 

**

Berdasarkan ketentuan panitia, ada tiga judul cerpen pilihan untuk para peserta. Diantaranya “Basa Situ Léngkong Geus Salin Jinis”, “Nu Ngaganjel Haté”, dan “Manuk”. Ketiga-tiganya pernah dimuat di halaman Manglé Rumaja. Ditambah satu judul cerpen untuk babak final, berjudul ”Jendral”.

Dalam lomba memmbaca, standar penilaian biasanya dari intonasi, artikulasi, penjiwaan, dan ekspresi. Biasanya para peserta lebih banyak berlatih di wilayah intonasi dan artikulasi. Padahal, penjiwaan dan ekspresi merupakan hal yang tidak boleh disepelekan. Ekspresi lahir karena adanya penjiwaan. Sementara penjiwaan itu memerlukan proses yang tidak hanya terpaku pada naskah, melainkan latar belakang cerita.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan catatan saya mengenai pembacaan sajak ”Pitaloka” (dalam Lomba Baca Sajak di UPI beberapa waktu yang lalu). Mana mungkin peserta yang membacakan sajak ”Pitaloka” bisa melakukan penghayatan terhadap sajak tersebut, kalau dia tidak pernah mendapay pengetahuan tentang cerita Perang Bubat, tidak kenal latarbelakang Citraresmi Pitaloka, dan lain-lain.

Demikian pula ketika mau membacakan cerpen ”Basa Situ Lengkong Geus Salin Jinis”, misalnya, tidak cukup hanya membaca isi cerpen tersebut. Tapi, perlu juga mendapatkan pengetahuan semisal: dimana letak Situ Léngkong? Seperti apa Situ Léngkong? Apanya yang berubah di Situ Léngkong? Bagaimana lentong masyarakat di sekitar Situ Léngkong? Lebih bagus kalau sudah pernah berkungjung ke sana. Tapi, minimalnya bisa melihat dari poto dan video. Atau paling tidak, bisa membayangkan Situ itu seperti apa? Berbagai hal di luar teks yang sangat berhubungan dengan naskah, akan sangat membantu dalam proses penjiwaan. Jangan sampai ketika membacakan Situ Lengkong, malah membayangkan Jl. Lengkong Besar atau Jl. Lengkong Kecil. 

Leave a Comment