Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 06-04-2008 |

Tahun 1992. Saya minggat dari Panjalu, tidak mau melanjutkan sekolah. Dengan bekal pemberian Teti Rp 4.000,-, saya berangkat ke Bandung, naik mobil BP (Bandung-Panjalu). Selama dalam perjalanan, saya berpikir keras menentukan tujuan. Tentu saja tidak menemui kakak atau ayah, karena mereka pasti balik memarahi saya dan menyuruh pulang ke Panjalu.

Sampailah ke Bandung, dan saya menuju Jatayu sambil tetap kebingungan mencari tempat tinggal. Ketika saya sedang makan di sebuah warung kecil, ada seorang anak sebaya saya yang mengajak ngobrol. Sebut saja namanya Udi Beca. Dia tidak sekolah. Sehari-harinya bekerja menjadi buruh pengaspalan jalan. Saya tertarik, dan menawarkan diri untuk ikut bekerja. Udi menyanggupinya, dan mengajak saya ke Gang Hanura, untuk dikenalkan pada bosnya, seorang pemborong pengaspalan. Entahlah, saya lupa namanya bosnya, karena saya tidak berusaha mengingatnya.

Alhamdulillah, untuk sementara waktu, saya bisa tinggal di rumah Udi, dan ikut bekerja mengaspal jalan. Dari mulai menggali, mengangkut tanah dengan dolak, membakar aspal, dan sekaligus mengaspalnya. Saat itu, lokasi pengaspalannya terletak di Komplek Melong, Cijerah. Setiap hari, dari Jatayu naik angkot Ciroyom-Cijerah menuju lokasi pekerjaan. Bekerja membanting tulang, dengan upah hanya Rp 3.000,-/hari. Namun saya tidak menyesal, karena itulah jalan yang saya pilih. Dalam hati saya hanya terpikirkan bagaimana caranya saya mengumpulkan uang yang banyak, membeli baju, celana, sepatu, sepeda motor, dsb.

Udi adalah teman setia. Dia selalu menjadi kawan saya dalam suka dan duka. Suatu kali di Cijerah, pernah ada anak sebaya saya yang melintasi jalan yang baru saja diaspal (belum kering). Dia mengendarai sepeda motor, dan dengan seenaknya merusak pekerjaan saya. Kontan saya marah, dan mengucapkan sumpah serapah pleus mengabsen penghuni kebun binatang. Dia tidak berani berhenti, hanya menoleh sebentar dan menarik gas motor. Namun tidak lama kemudian, dia datang lagi, membonceng dua orang kawannnya, dan langsung menghampiri saya.

Saya sudah bisa menduga, mereka pasti bermaksud mengeroyok saya. Oleh karena itu, saya bersiap-siap untuk melawan. Namun, tiba-tiba Udi mendahului menyerang mereka sambil membawa balincong. Mereka ketakutan, berlari menuju motornya, dan langsung kabur. Udi mengejarnya sambil berteriak menantang mereka. Kecepatan motornya semakin bertambah, dan mereka menghilang di belokan jalan. Sejak saat itu, saya tidak pernah bertemu lagi dengan mereka.

 

gang-hanura

Gang Hanura, Jatayu, Bandung, saksi sekelumit perjalanan.

Di tempat tinggal saya, Gang Hanura Jatayu, saya pun pernah terjerumus dalam pergaulan yang buruk. Hampir setiap malam, meminum minuman keras sampai teler. Dalam waktu singkat, saya dikenal sebagai seorang pemabuk. Lagi-lagi, Udi yang selalu mengurusi saya disaat sedang mabuk berat. Seperti pada suatu malam, Udi menemukan saya tertidur di WC dalam keadaan pingsan, setelah muntah-muntah. Udi membersihkan muntah di pakaian saya, dan memapah saya menuju rumahnya. Dan banyak lagi kebaikan Udi yang tidak akan pernah terlupakan. Selain Udi, saya pun pernah ditolong oleh Erwan (putranya kakak sepupu), ketika saya mau dikeroyok di rel kereta api, dekat mulut gang Hanura. Saat itu, saya dalam keadaan mabuk parah.

Bekerja keras, meminum minuman keras, dan membikin masalah, demikian keseharian saya di Gang Hanura. Selintas, saya sudah dapat dipastikan menjadi produk manusia yang gagal. Ada beberapa sahabat lain di Gang Hanura, yang namanya masih diingat, yaitu Akew, Dadan, dsb. Sedangkan kerabat saya yang sering direpotkan saya, di antaranya Asep Maja dan istrinya, Kang Cece sekeluarga, dsb.

“Udi, sahabat saya yang baik. Entah dengan cara apa saya bisa membalas jasa-jasamu…”

Sampailah pada suatu hari, ketika mengerjakan pengaspalan jalan di Jalan Andir, Bandung. Saya bertemu dengan Ching-Ching. Ceritanya, bisa dibaca dalam tulisan berjudul “Ching-Ching Liana”.

Ranggon Panyileukan, 25 September 2007

DHIPA GALUH PURBA