Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 07-08-2009 |
(Makalah Workshop “Peranan Pers dalam Perjuangan Kemerdekaan, 6 Agustus 2009, di Landmark Convention Hall, Jl. Braga 129, Bandung)
Oleh CECEP BURDANSYAH
KEMERDEKAAN, apalagi membicarakannya pada bulan Agustus, ingatan saya selalu pada sepasukan pejuang membawa bambu runcing dan bedil laras panjang untuk mengusir penjajah dari tanah air.
Itulah yang diajarkan di kelas sepanjang saya duduk di bangku sekolah. Setidaknya saya dan siswa lainnya mengenal Perang Padri, Perang Diponegoro, Perang Aceh, dan perang-perang lainnya di tahun 1945. Saya tak asing dengan nama Pangeran Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien. Itu adalah nama-nama pahlawan nasional yang menghiasi buku pelajaran sejarah. Saya juga mengenal nama Moh Toha, tokoh Bandung Selatan yang menggempur markas Belanda di Dayeuhkolot. Tapi perang demi perang itu selalu berakhir dengan kekalahan. Perang Aceh yang panjang dan sangat heroik pun akhirnya kalah.
Serangkaian adegan heroik cukup mendominasi alam pikiran saya sebagai siswa yang dididik di lembaga pendidikan di Indonesia. Tentu juga siswa lainnya. Pelajaran sejarah merebut alam kemerdekaan dengan nuansa “kekerasan” itu, tak mustahil terus berlangsung sampai sekarang.
Sikap heroik selalu diidentikan dengan memanggul senjata, bambu runcing, lalu menembus barikade musuh. Tak heran Bung Tomo ada tugunya, juga Moh Toha. Kalau kemudian ada persepsi bahwa sejarah memperjuangkan kemerdekaan di Indonesia lebih beraroma kekerasan, kita tak perlu heran, karena pelajaran sejarah di sekolah menggiring siswa ke alam heroik bernuansa kekerasan.
Lalu, dalam sejarahnnya di Indonesia, apakah ada cara memperjuangkan kemerdekaan selain dengan cara kekerasan? Di sinilah persoalannya. Kerangka sejarah Indonesia lalai dalam menulis perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan dengan ikhtiar berpikir diabaikan, sedangkan ikhtiar dengan kekerasan mendapatkan porsi dominan. Wajarlah kalau kemudian Sartono Kartodirdjo mengkritik metode penulisan sejarah di Indonesia, karena selalu berpusar pada peristiwa berskala besar yang gampang dilihat mata, sedangkan peristiwa kecil padahal besar kontribusinya dalam memerdekakan bangsa Indonesia seringkali luput dari perhatian.
Beruntung bangsa ini memiliki Pramudya Ananta Tour dan Ajip Rosidi. Dua orang ini amat berjasa membukakan mata kita untuk melihat cara lain bangsa kita dalam memperjuangkan kemerdekaan. Berkat kejelian, ketekunan dan eksplorasinya, Pramudya Ananta Tour berhasil mengungkapkan jejak seorang anak bangsa yang dilupakan, padahal sangat besar jasanya membawa bangsa Indonesia ke alam pencerahan menuju alam merdeka.. Dialah RM Tirto Ahi Soerjo. Pram menjulukinya sebagai “Sang Pemula”, karena Tirto-lah yang memulai babak baru dalam sejarah persuratkabaran di Indonesia.
Begitu pula Ajip Rosidi, berhasil mengungkap jejak Raden Moehammad Moesa, panghulu di Garut yang membawa masyarakat Sunda ke alam modernitas. Bahkan sarjana dari Jepang, Mikihiro Moriyama, menyebut dalam judul bukunya “Semangat Baru”. Terlepas dari kerjasamanya dengan kaum kolonial, Moesa-lah yang membawa masyarakat Sunda dari alam takhayul ke alam rasional, dari tradisi manuskrip ke tradisi cetak.
*
Sebagai bangsa Indonesia dan sebagai masyarakat Sunda, saya perlu menyebut kedua orang tadi. Tirto dan Moesa pernah tenggelam dalam sejarah Indonesia, padahal kedua orang itu memiliki kontribusi dalam menentukan arah kemerdekaan Indonesia, yang hingga kini masih bersambung, bahkan akan berlanjut terus. Mungkin bisa lebih dari dua orang, kalau pengetehuan saya menjangkau khasanah sejarah dan budaya komunitas etnis lain di tanah air ini. Di daerah lain pasti ada tokoh semirip Tiro dan Moesa dalam perjuangannya.
Berkat kedua orang ini, akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 bangsa Indonesia memulai langkahnya sebagai masyarakat menuju alam moderen. Kemoderanan tentu ditandai dengan budaya baca tulis. Walaupun saat itu bangsa kita masih dicengkram kolonial, tetapi alam pikir masyarakatnya sudah menunjukkan kemerdekaannya. Pentingnya kemerdekaan berpikir dan berpendapat.
Hal itu ditunjukkan dengan upaya perintisan budaya melek baca. RM Tirto Adhi Surjo dengan keberaniannya untuk miskin. Ia gigih melawan arus kebijakan kolonial, hingga berhasil melahirkan surat kabar pertama di Indonesia: Soenda Berita. Koran ini lahir di Cianjur, Februari 1903, berkat bantuan Bupati Cianjur RAA Prawiradiredja II ((1862-1910).
Tirto yang lahir pada 1880 dan wafat 1918, walaupun keturunan bangsawan, ia bersikap menolak arus utama kebijakan kolonial. Kalau keturunan bangsawan saat itu selalu sekolah di sekolah Belanda, ia memilih di sekolah bumi putera. Ia juga menolak jabatan di pemerintahan Hindia, dan memilih menulis lalu merintis melahirkan surat kabar. Kebetulan ia bertemu dengan Bupati Cianjur yang juga berpikiran maju. Bupati RAA Purwadiredja dikenal sebagai bupati yang menolak sistem lintah darat yang merajalela di jaman penjajahan.
Sikap Tirto ini tak kalah heroik dengan memanggul senjata dan melakukan aksi kekerasan. Bahkan jejaknya lintas generasi. Walaupun sekarang sudah era internet, surat kabar masih menjadi ciri dari masyarakat moderen. Tapi sikap heroik Tirto ini terluapakan oleh sejarah. Entah apakah metodologi penulisan sejarah yang keliru, seperti digugat oleh Sartono Kartodirdjo, atau memang ada tendensi politik sejarah yang ingin mengerdilkan peran Tirto. Kalau pemerintah kolonial mengerdilkan Tiro bisa kita maklumi, tapi kalau pemerintah orde lama, orde Seoharto hingga pemerintah yang sekarang, merupakan kekeliruan besar.
Beberapa surat kabar yang dirintis dan dikelola Tirto antara lain Pembrita Betawi (harian), Tirto sebagai redaktur. Soenda Berita (Mingguan, 1903), Tirto sebagai pendiri dan pemilik, Medan Priaji (mingguan), Tirto sebagai redaktur kepala. Soeloeh Keadilan (bulanan), Tirto sebagai direktur, Poetri Hindia (dua mingguan), Tirto sebagai direkturnya.
Moehammad Moesa yang lahir lebih dulu dari Tirto Adhi Surjo,1822 dan wafat 10 Agustus 1886, memilih cara yang berbeda dalam menyikapi kebijakan kolonial. Ia kooperatif dengan arus kebijakan kolonial. Namun sikap kooperatifnya itu, walaupun disebut-sebut ada juga untuk kepentingan agenda politiknya sendiri, membawa manfaat bagi masyarakat Sunda. Langkahnya mendobrak tradisi manuskrip ke tradisi cetak merupakan keberanian yang tak dimiliki oleh orang sejamannya.
Moesa tidak hanya menulis karya sastra yang monumental seperti Panji Wulung, tapi juga masalah-masalah yang dibutuhkan oleh masyarakat, seperti masalah bertani, berbahasa, bertatakrama. Hal ini pun kemudian dilakukan oleh Tiro dalam surat kabarnya, dengan membuka rubrik seperti resep memasak atau pun resep bertani. Karya-karya Moesa antara lain Wawacan Wulangkrama (pelajaran tatakrama), Wawacan Wulang Tani (Pelajaran untuk Petani), Elmoe Nyawah (pengetahuan mengolah sawah tadah hujan), Wawacan Wulang Murid (pelajaran untuk murid), Wawacan Wulang Guru (pelajaran untuk guru).
Apa yang dirintis oleh dua orang ini, ketika Indonesia masih dalam cengkraman penjajah, mendapat sambutan baik dari masyarakat. Artinya, sebelum ada yang namanya pemerintah Indonesia, media massa, bahasa Indonesia maupun Sunda, baik surat kabar, majalah dan perbukuan, bisa dikatakan cukup subur.
Lihat saja, bersasarkan Katalog Majalah Terbitan Indonesia koleksi Perpustakaan Nasional dan Surat Kabar koleksi Perpustakaan Nasional 1810-1984 yang dicatat oleh Ajip Rosidi, di tiap daerah di Jawa Barat ini subur majalah yang diterbitkan oleh swasta. Di antaranya Djadjaka Pasoendan (Bogor, 1919-1920), Al Imtisal (Tasikmalaya, 1927-1939), Atikan Ra’jat (Garut, 1931), Mitra (Bogor, 1934-1940), Al Mochtar (Tasikmalaya, 1933-1940), Kaboedajaan Oerang (Bandung, 1936-1941), Papaes Nonoman (Jakarta, 1914-1918), Poesaka Soenda (Jakarta, 1922-1928), Parahiangan (Jakarta, 1929-1941, Tjahaja Pasoendan (Bandung, 1914-1917), Banteng Priangan (Bandung, 1929-1932), Bidjaksana (Bandung, 1933-1934), Al Moe’min (Cianjur, 1932-1939), Sekar Roekoen (Jakarta, 1921-1926), Sinar Pasoendan (Bandung, 1933-1942), Padjadjaran (Bandung, 1918-1923), Pasoendan (Bandung, 1929-1942), Priangan (Bandung, 1940-1941), Sipatahoenan (mula-mula di Tasikmalaya kemudian pindah ke Bandung, 1924-1942), Soerapati (Bandung, 1923-1926), Sora Merdeka (Bandung, 1920), Taufieq (Sukabumi, 1936), Timbangan (Tasikmalaya, 1937-1938), Tirtajasa (Bandung, 1929-1934), Toembal (Tasikmalaya, 1938-1941). (Ajip Rosidi dalam Tantangan Kemanusiaan Universal, Kenangan 70 Tahun Dick Hartoko, Kanisius, 1992).
Sedangkan jejak Tirto Adhi Soerjo yang menerbitkan surat kabar pertama Soenda Berita, juga menginspirasi masyarakat Jawa Barat untuk menerbitkan media massa cetak (Koran dan majalah). Menurut katalog surat kabar koleksi perpustakaan nasional yang dicatat Ajip Rosidi, bermunculan Koran dan majalah berbahasa Indonesia. Tercatat antara lain Boelan Poernama (Bandung, 1929-1932), Fikiran Ra’jat (Bandung, 1932-1933), Falsafah Islamijah (Sukabumi, 1936-1937), Istri Merdika (Bandung, 1923), Kemoedi (Bogor, 1934-1935), Pembela Islam (Bandung, 1929-1935), Pena Istri (Garut, 1932), Pengetahuan Islam (Purwakarta, 1935-1936), Penyoeloeh Rajat (Bandung, 1931), Penoendjoek Jalan Hak (Majalengka, 1922), Perdata (Bandung, 1926), Persatoean Hidoep (Bandung, 1930-1940), Pertoendjangan (Tasikmalaya, 1930-1931), Pewarta Perserikatan Normaalschool (Bogor, 1919-1940), Poetri Hindia (Bogor, 1909-1911), Sendjata Pemoeda (Garut, 1932-1939), As-Sjoero (Majalengka, 1929-1937), The Soebang Weekly (Subang, 1925-1941), Soeloeh Indonesia Moeda (Bandung, 1927-1932), Asia Baroe (Sukabumi, 1933-1940), Berita Periangan (Bandung, 1938-1939), Berita Oemoem (Bandung, 1937-1942), Cheribon Revue (Cirebon, 1936-1938), Eco (Bandung, 1938-1939), Fadjar (Cirebon, 1921-1922), Ichtiar (Tasikmalaya, 1928-1936), Kaoem Kita (Bandung, 1924-1925), Kaoem Moeda ((bandung, 1911-1940), Kedaulatan Rakyat (Bandung, 1932-1938), Koemandang Masjarakat (Cirebon, 1938-1940), Matahari (Bandung, 1921-1922), Mimbar (Serang, 1919-1920), Mimbar Ra’jat (Garut, 1925), Nicork Express (Bandung, 1935-1942), Pekabaran (Tasikmalaya, 1928-1929), Pemberita (Cirebon, 1927-1940), Perbintjangan (Bandung, 1936-1937), Pertimbangan (Bandung, 1916-1917), Priboemi (Cirebon, 1921-1922), Sedar (Bandung, 19301932). (Ajip Rosidi, Tantangan Kemanusiaan Universal, Kenangan 70 Tahun Dick Hartoko, Kanisius, 1992).
Kalau kita hitung, yang tercatat di katalog saja untuk media bahasa Soenda di Jawa Barat yang terbit antara 1914 sampai 1941, tercatat 25 terbitan. Sedangkan untuk koran dan majalah berbahasa Indonesia yang terbit antara tahun 1903 sampai 1942 terbit 41 terbitan. Tak mustahil ada yang tidak tercatat di katalog. Kemudian di provinsi lain bisa jadi sama suburnya. Oplah masing-masing media memang tidak tercatat. Tapi jumlah yang terbit kalau dibanding jumlah penduduk pada saat itu, menunjukkan gairah membaca cukup tinggi.
Yang perlu direnungkan, pada awal abad ke 20 bangsa Indonesia belum ada tanda-tanda akan lepas dari cengkraman penjajah. Pemerintah Kolonial pun dalam politik kebudayaannya tidak memberi ruang yang leluasa untuk tumbuh suburnya buku dan media. Balai Pustaka berdiri hanya sebagai kelanjutan politik etis Belanda, penerbitannya dikontrol sebatas cerita-cerita klasik, cerita rakyat daerah, terjemahan dari literature barat , baru kemudian karya-karya kesusastraan baru.
Walaupun politik kolonial belum memberi ruang yang leluasa, masyarakat tidak menyerah, tetap gigih menerbitkan buku, majalah, dan koran. Awal abad 20 itu boleh dikatakan penerbitan buku, majalah dan koran marak. Di kalangan penulis, penerbit buku dan media citak, juga masyarakat pembacanya, sepertinya di alam pikirnya hidup bahwa untuk cita-cita kemerdekaan itu pertama kali daya intelektual harus diisi, diasah dan diuji melalui berwacana di media.
Hal itu bisa dilihat pada generasi 1945, saat Indonesia lepas dari penjajah, lahir tokoh-tokoh yang secara intelektual sangat dihormati oleh bangsa lain, termasuk penjajah. Nama-nama seperti Soekarno, Iwa Kusuma Sumantri, Sjahrir, Hatta, Djuanda, Tan Malaka, Agus Salim, Mr Roem, dan tokoh-tokoh lain tak mustahil sejak masa anak-anak alam pikirnya dihidupi oleh bacaan-bacaan yang terbit pada awal abad ke 20. Nama-nama sastrawan juga, seperti Ajip Rosidi, Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisyahbana, Akhdiat Kartahadimadja, HB Jassin, dan yang lainnya bisa dipastikan dihidupi oleh buku dan media sejak masa kecilnya.
Lalu bagaimana masa setelah kita lepas dari penjajah? Apakah buku, majalah, surat kabar, dari isi dan jumlahnya sebanding dengan jumlah penduduknya? Lagi-lagi, politik kebudayaan yang dikembangkan oleh rejim Soeharto, malah sebaliknya seperti membinasakan upaya masyarakat pada awal abad ke 20. Penerbitan buku dan media massa dikontrol oleh kekuasaan. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer dianggap meracuni masyarakat, majalah dan koran satu persatu dicabut “nyawanya” karena mengancam stabilitas kekuasaan. Indonesia raya, Pedoman, Sinar Harapan, Majalah Tempo, Editor, Detak, dicabut “nyawanya”. Bahkan Kompas pun pernah mengalami nasib yang sama, berhenti terbit sementara. Politik kebudayaan Soeharto merampas inetelektual masyarakat, sehingga memiskinkan alam batin dan alam pikirnya.
Sekarang, setelah satu dekade rejim Soeharto tumbang, masyarakat harus memulai lagi dari nol dalam soal mengembangkan bacaan. Kita layak prihatin, buku-buku buah tangan penulis bangsa kita masih jauh dibanding karya terjemahan. Sebagai langkah memulai dari awal, walaupun resikonya bangsa kita banyak dipengaruhi oleh alam pikir penulis luar, memang tidak terlalu merisaukan asal penerbit tidak padam semangat untuk tetap menggali dan menerbitkan karya-karya penulis bangsa sendiri.
Sedangkan untuk penerbitan surat kabar, gairah ada namun kemampuan untuk bersikap profesional, baik dalam sikap jurnalistik maupun manajemen, masih tertatih-tatih. Yang bisa menegakan sikap profesional dan memberi kehidupan bagi para jurnalisnya masih jadi milik perusahaan pers bermodal kuat. Hegemoni pemilik modal terhadap surat kabar itu ada plus minusnya. Plusnya media menjadi kuat, namun minusnya, kalau jumlah medianya bisa dihitung jari, maka bisa terjadi hegemoni dalam penggalangan opini di tengah masyarakat. Padahal fitrah masyarakat itu puspawarna.
Akhirul kata, kemerdekaan itu harus diperjuangkan sepanjang kita masih bernafas. Masyarakat yang merdeka adalah masyarakat yang tak mau didikte oleh satu pendapat, ia selalu membutuhkan banyak pendapat sebagai bahan pertimbangan demi mencapai kematangannya.
Dan untuk membuat kita merdeka, kita mutlak memerlukan buku dan surat kabar yang jumlahnya melimpah. Dengan satu bacaan, kita akan terseret jadi bebek dan mudah digiring. Dengan banyak bacaan, kita akan terasah untuk menjadi diri sendiri. *
Penulis, Pemimpin Redaksi Harian Pagi Tribun Jabar



