“Budak Saha” Wina

MASIH tentang pencarian orang tua, Wina melantunkan album “Budak Saha” setelah sukses menggebrak blantika musik pop Sunda dengan lagu “Indung” (ciptaan Uko Hendarto). Wina adalah penyanyi pon Sunda yang terbilang remaja dalam usia, tetapi sudah matang dalam membawakan lagu pop Sunda. Suaranya merdu dan sangat nyunda, ditunjang lagi dengan wajahnya yang rupawan. Tidak diragukan lagi jika Wina merupakan penyanyi remaja yang sukses dalam meyakinkan masyarakat pecinta lagu pop Sunda.

Nama lengkapnya Wina Juliana (l. Bandung, 4 Juli 1992), putra pasangan Lilih Tarliah dan Ma’mun Husen. Sejak Wina masih duduk di bangku kelas 1 SDN Coblong 1 Bandung, ia sudah hobi menyanyi, dan sangat didukung oleh ibunya yang juga penyanyi pop Sunda. Wina pernah menjadi juara pasanggiri pupuh yang digelar di UPI Bandung, dengan dewan juri Tatang Benyamin Koswara (Ketua Yayasan Cangkurileung), Dian Héndraya (Penyiar Bandung TV), dan Ano Karsana (Dosen Jurusan Pensatrada, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Musik UPI Bandung).

Penyanyi remaja yang mengidolakan Détty Kurnia ini pernah mengeluarkan album duet bersama ibunya, yang berjudul “Dimana Bapa“.

Saya pernah berjumpa dua kali dengan Wina. Pertama, ketika saya masih bertugas di Radio Antassalam FM Bandung. Saat itu, saya punya banyak kesempatan untuk berbincang-bincang agak lama dengan Wina beserta ibunya. Wina seorang anak yang ramah, senang bergurau, dan tentunya enak diajak ngobrol. Tidak banyak para remaja seusia Wina yang memiliki kesadaran untuk mencintai kesenian sunda. Kebanyakan para remaja zaman sekarang lebih bangga menyanyikan lagu-lagu Barat, daripada melantunkan lagu yang menggunakan bahasa miliknya sendiri. Mereka merasa lebih modern jika menyanyikan lagu Barat, dan mengaggap kampungan pada lagu-lagu berbahasa daerah, seperti bahasa Sunda. Ciamis punya penyanyi pop Sunda Aci Jesica, Sukabumi punya Rita Tilla, dan Bandung punya Wina Juliana.

Kira-kira setahun kemudian, saya bertemu dengan Wina untuk kedua kalinya, tetapi saya benar-benar menyesalinya. Kenapa menyesal? Karena saat itu, saya baru bangun tidur, kesiangan, lalu berangkat ke kampus. Sebelumnya saya mengisi bahan bakar dulu di Pom Bensin. Ketika sedang mengisi bahan bakar, ada seorang gadis mungil menyapa saya. Ia pun sama sedang mengisi bahan bakal kendaraannya. Saya hanya tersenyum sambil mengangguk, dan segera meninggalkannya. Sepanjang jalan, sambil mengemudikan kendaraan, saya berpikir dengan keras, siapa gadis mungil itu? Saya benar-benar lupa. Bahkan setelah tiga hari, saya sudah bmelupakan gadis itu. Saya menganggap gadis itu kemungkinan salah melihat orang.

Selang seminggu, ketika saya sedang merapikan file poto di komputer, tiba-tiba mata saya tertuju pada poto seorang gadis mungil, yang berjumpa di Pom bensin Bumi Panyileukan, Jl. Soekarno-Hatta, Bandung. Astagaaa…! Saya benar-benar terkejut, itu kan poto… Wina Juliana. Jadi, gadis mungil di pom bensin itu… Wina. “Maafin A Dhipa, Win. Waktu itu A Dhipa masih lulungu, dan benar-benar lupa, sehingga saya tidak sempat balik menyapa, hanya tersenyum. Kalau saya tahu gadis itu Wina, tentu akan saya ajak mampir, minum téh manis dulu di Ranggon Panyileukan. Sekali lagi, punten nya… Wina, da Wina mah soléhah…”

**

LAGU Wina berjudul “Budak Saha” (ciptaan: Deddy Krisna) memang merupakan lagu yang paling menonjol dalam album Budak Saha, dibandingkan dengan sembilan lagu lainnya. Saya tidak akan membahas wilayah musiknya, karena saya tidak kompeten dalam bidang itu. Saya hanya akan sedikit mengomentari rumpaka-nya (syair). Mari kita simak rumpaka lagu berjudul “Budak Saha” di bawah ini (berdasarkan teks dalam video klipnya):

Dipikir siang jeung weungi

Hirup teh naha nyorangan

Dirasa-rasa da puguh aya nu boga

Ema bapa anjeun dimana

Teu sangka kunasib diri

Hirup teh pahat tulalis

Lami gede cicing diyayasan

Ema bapa anjeun dimana

Duh gusti

Ari abdi budak saha

Teu puguh laratannana

Batin cerik balilihan

Ari abdi budak saha

Ieu hate terus tumanya

Na dimana anu ngandung

Na dimana nu ngayuga

Ari abdi budak saha

Ieu hate terus tumanya

Na dimana ari indung

Na dimana ari bapa

Perhatikan teks rumpaka yang dicetak tebal. Itu merupakan kekeliruan dalam penulisan. weungi seharusnya: wengi; pahat tulalis seharusnya pahatulalis; laratannana seharusnya laratanana; dan cerik seharusnya ceurik. Ini merupakan gejala yang sulit diluruskan dalam teks-teks video klip lagu pop Sunda. Mestinya tim produksi jangan hanya memikirkan “diambil mudah dan cepatnya saja”, tetapi sangat penting memikirkan sisi pendidikan bahasa Sunda. Teks dalam video klip itu dibaca oleh banyak masyarakat, dan jika salah tentu saja akan menyesatkan pemahaman terhadap bahasa Sunda. Apalagi kalau mencoba menggunakan (é) taléng untuk kata yang memerlukannya, seperti kata: “haté”, “gedé”, “téh”, dsb.

Ketika saya sedang siaran, pernah ada seorang pendengar bertanya melalui telepon: “Kang Dhipa, naon hartosna: mudunkeun leunyay?” Tentu saya mengerutkan kening, karena baru kali itu mendengar kalimat “mudunkeun leunyay”. Kemudian, saya balik bertanya, di buku apa kalimat tersebut dan bagaimana kalimat lengkapnya? Ia menjelaskan bahwa kalimat tersebut ia baca dari teks video klip lagu “Teuteup jeung Imut” (cipt: Nano. S).

Saya tidak bisa menahan tawa. Bukan Kang Nano. S yang keliru membuat rumpaka lagu, tetapi kemungkinan tim produksinya yang sadéngé-déngéna tanpa berusaha bertanya lebih jelas. Saya tahu, Kang Nano. S, selain pencipta lagu adalah seorang seorang sastrawan Sunda yang tidak mungkin membuat kalimat mudunkeun leunyay. Kalimat yang benar adalah “mudunkeun lenyap”. Merupakan sebuah kalimat yang sungguh hasil dari berpikir kreatif, mengandung gaya metafor, sangat indah terdengarnya, mudunkeun lenyap, dan sulit pula mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Maka dari itulah, sekali lagi, tim produksi harus belajar serius mengerjakan teks lagu-lagu pop Sunda. Jika tidak tahu atau kurang yakin, bukalah kamus bahasa Sunda atau tanyakan langsung kepada pencipta lagunya.

Sedangkan kesalahan fatal dalam penulisan teks video klip “Budak Saha” adalah kata “gusti”. Saya memahami konteks kalimatnya, bahwa kata “gusti” yang dimaksud dalam lagu tersebut adalah “Tuhan”. Oleh karena itu, tentu saja huruf awalnya harus menggunakan huruf besar, Gusti.

Salahsatu adegan dalam video klip “Budak Saha” (Refro Valentino Jaya Abadi)

Tema lagu “Budak Saha” sudah cukup bagus, mengandung pesan moral yang tersembunyi dengan cukup rikip. Jeritan seorang anak yang dibesarkan di “yayasan”, dan merindukan kasih sayang orang tua kandungnya yang entah dimana. Hanya saja, kata “yayasan” terasa cukup mengganggu. Kenapa tidak memilih kata lain, seperti “Panti Asuhan” atau “Panti Sosial”.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang-lebih artinya adalah sebagai berikut:

Siang dan malam berpikir

Kenapa hidup sebatangkara

Sebab tentu ada yang melahirkan

Ibu bapak kalian dimana

Tak sangka oleh nasibku

Hudupku sebatang kara

Dibesarkan di yayasan

Ibu bapa kalian dimana

Oh Tuhan…

Kalau aku anak siapa

Tak jelas asal-usulnya

Hati terasa pedih

Kalau aku anak siapa

Hati ini terus bertanya

Dimanakah yang mengandung

Dimanakah bapakku

Kalau aku anak siapa

Hati ini terus bertanya

Dimanakah ibu

Dimanakah bapak

Tentu saja sebuah lagu tidak pernah lepas dari kelebihan dan kekurangannya, karena tidak akan ada karya yang benar-benar sempurna. Oleh karena itu album Budak Saha sangat penting dimiliki oleh masyarakat pecinta lagu-lagu pop Sunda. Bila membeli VCD album Budak Saha ini, dijamin tidak akan mengecewakan.***

DHIPA GALUH PURBA

Judul Album : Budak Saha

Penyanyi : Wina

Arr Musik : Agus Litle & Edi Lamos

Kendang & Suling : Deden

Gitar : Agus Litle

Studio : LDR Digital Recording

Operator/ Mixing : Mans Loyor

Produksi : PT. Valentino Jaya Abadi

Lagu:

  1. Budak Saha (Ciptaan: Deddy Krisna)
  2. Inget ka Lembur (Ciptaan: Oon Bawami)
  3. rame-rame (Ciptaan: Wan Thea)
  4. Nu Dilamun (Ciptaan: Uko Hendarto)
  5. Cinta Nu Nganteng (Ciptaan: Oon Bawami)
  6. kapinis (Ciptaan: Uko hendarto)
  7. kahayang (Ciptaan: Endang Oghut)
  8. Asa Ngambang (Ciptaan: Uko Hendarto)
  9. Cisoca Paneda (Ciptaan: Yaya suhaya)
  10. Kumis (Ciptaan: Uko Hendarto)

Kepada para pecinta lagu Pop Sunda yang berminat untuk membeli VCD “Cimata Kembang”, silahkan membeli di toko-toko VCD kesayangan. 

MARI KITA HARGAI HASIL KARYA PARA SENIMAN POP SUNDA DENGAN CARA: TIDAK MEMBELI VCD BAJAKAN

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>