Kategori: Suatu Hari | Diterbitkan pada: 20-07-2009 |


Catatan DHIPA GALUH PURBA

 

SAYA turut berbelasungkawa terhadap para korban bom JW Marriott dan Ritz-Carlton, yang terjadi pada hari Jumat, 17 Juli 2009. Semoga mereka, para korban yang tidak berdosa itu mendapatkan tempat yang mulia di sisi Tuhan. Tentu, semoga pula para pelaku tindakan biadab tersebut segera ditangkap dan diadili. Apapun alasannya, pengeboman itu sangat tidak manusiawi dan patut dikutuk, karena sudah tidak usah diragukan lagi merupakan perbuatan terkutuk.

 

Ini merupakan salahsatu bukti lemahnya keamanan Republik Indonesia, paling tidak merupakan suatu kelengahan dari aparat keamanan kita. Para penegak hokum hanya terlihat gagah berani ketika menghadapi rakyatnya sendiri yang tidak bersenjata, semisal menghadapi para demonstran yang mencari keadilan, rakyat kecil yang lahannya digusur, atau para razia PSK yang kehabisan akal mencari kehidupan. Tetapi, pada saat menghadapi teroris yang menebar ancaman berbahaya, bisa-bisanya lolos dari penjagaan aparat keamanan. Padahal, Presiden SBY sering mengatakan bahwa pemerintahannya sangat mengutamakan stabilitas keamanan.

 

Namun sangat disesalkan ketika Presiden SBY begitu mudahnya mengaitkan peristiwa peledakan bom dengan perolehan hasil Pemilu. Dalam pidatonya di Istana Negara, Presiden SBY secara implisit menyatakan bahwa pelaku pengeboman diduga pihak yang kecewa dengan hasil Pemilu Presiden 2009. Seperti yang kita ketahui, banyak sekali pihak yang kecewa dengan hasil Pemilu, dikarenakan ketidakbecusan KPU dalam melaksanakan amanatnya. Persoalan DPT, penggelembungan suara, keberpihakan Ketua KPU kepada calon tertentu, dan lain-lain, merupakan faktor yang menjadikan kekecewaan pada hasil Pemilu. Tetapi,  bukan berarti kecewa pada hasil pemilu lantas melakukan teror bom. Tidak semestinya tragedy tersebut dipolitisasi untuk menjatuhkan lawan politik Presiden SBY. Ini sangat berbaha, karena bisa mengakibatkan konflik horizontal antara kelompok yang puas dan kelompok yang tidak puas pada hasil pemilu. Sudah mah tidak puas pada hasil pemilu, diduga teroris lagi.

 

Termasuk pidato “curhat” Presiden SBY sambil memperlihatkan foto-foto yang mengancam keselamatan dirinya, secara tidak langsung justru membeberkan kelemahan aparat keamanan. Dari mana foto-foto tersebut? Kenapa orang-orangnya tidak ditangkap? Keterlaluan kalau aparat keamanan tidak bisa menangkat orang yang mengancam keselamatan presiden. Saya pikir, lebih baik polisi segera bergerak dan bertindak dengan cepat menangkap orang-orang tersebut, lalu beberkan kepada media hasilnya. Memperlihatkan foto-foto kepada rakyat, justru hanya akan menimbulkan kecemasan. Saya juga sangat cemas terhadap keselamatan Presiden SBY setelah melihat poto-poto tersebut.

 

Sebelumnya, Presiden SBY pun telah mempertontonkan adegan satu babak “perbincangan via telepon selular” dengan Wapres Moch. Jusuf Kalla, yang belakangan saya baru tahu kalau Jusuf Kalla tidak menyadari kalau perbincangannya itu ditayangkan di televisi. Seperti adegan di sinetron saja. 

 

Akhirnya saya menganalisis bahwa pidato Presiden SBY kemungkinan untuk mengalihkan perhatian masyarakat pada hasil Pemilu. Presiden SBY sudah dipastikan memperoleh suara terbanyak dan terpilih lagi menjadi presiden pada periode selanjutnya. Jadi, beliau tidak mau ada pihak-pihak yang mempersoalkan permasalahan KPU, serta ingin melenggang ke istana tanpa ada hambatan apa-apa. Saya pun berharap demikian, semoga Presiden SBY selamat dan tentu dilantik lagi menjadi presiden tanpa halangan apapun, jika hal itu sudah merupakan kehendak rakyat. Memang sudah semestinya begitu. Namun, rasanya lebih bijak lagi jika tidak melukai hati rakyat yang kecewa terhadap kinerja KPU. Jelas, saya salahseorang yang sangat sangat kecewa terhadap ketidakbecusan KPU dalam menjalankan amanat rakyat.

 

Semoga seluruh rakyat Indonesia selalu ada dalam lindungan Allah SWT, Amiiin.***

 

Ranggon Panyileukan, 17 Juli 2009