Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 02-11-2007 |

abot-dan-jurig

                   Dari kiri: Abot, Jurig, dan Dhipa Galuh Purba, dipoto di taman Alun-alun Bandung, tahun 1993

Abot dan Jurig adalah nama samaran atau semacam julukan dua kawan saya semasa SMP. Nama asli Abot adalah Wawan Hermawan. Ia tinggal di Mandalare, Panjalu. Sedangkan nama asli Jurig adalah Rizal Jazuli. Ia tinggal di Ciomas, Panjalu. Kami memiliki karakteristik yang sangat berbeda, tetapi ada kesepakatan tidak tertulis yang menuntun untuk menjalin sebuah persahabatan.

Di sekolah dan di luar sekolah, kami sering bersama, saling membantu dalam berbagai kesulitan. Ketika murid laki-laki kelas “D” mendirikan perkumpulan bernama RENJANI, kami tidak ikut mereka, melainkan mendirikan semacam perkumpulan yang bernama DIVONE. Anggota DIVONE hanya bertiga, dan dalam kegiatan apapun, saya selalu ditunjuk menjadi pemimpin. Di antara kami bertiga, Abot merupakan “penyandang dana”, karena orang tuanya termasuk orang berada, pengusaha matrial di Jl. Dipatiukur 68, Bandung. Jadi, Abot yang sering mentraktir saya dan Jurig.

Bukan hanya main di Panjalu, kami pun sering jalan-jalan bertiga ke kota Bandung. Kenakalan kami sebatas merokok dan iseng-iseng menggoda cewek. Abot orangnya lugu, sopan, tetapi juga super cuek. Kalau berbicara, logat Mandalare-nya sangat kental, sering membuat kelas menjadi riuh. Bicaranya ceplas-ceplos, tetapi tidak suka menyinggung dan atau menyakiti hati orang lain. Saking cueknya, Abot sering kali kentut di dalam kelas. Semasa di SMP, Abot sangat acuh kepada kaum wanita. Nampaknya ia tidak pernah memikirkan untuk punya pacar. Namun, di antara kami, selanjutnya Abot adalah orang yang paling pertama menikah dan mempunyai anak.

Selepas SMP, Abot melanjutkan sekolah di SMA Al-Masoem Bandung, lalu pindah ke SMA Pasundan 8 Bandung. Setelah lulus SMA, Abot sempat masantren di Garut. Lalu, Abot menjadi seorang pengusaha matrial, melanjutkan jejak orang tuanya. Oleh karena itu, persahabatan dengan Abot tetap terjalin semasa SMA, meski beda sekolah, dan sampai sekarang, meski beda mata pencaharian.

Berbeda dengan Abot, Jurig orangnya rada cunihin, so tahu dan temperamental. Meski begitu, rasa kesetiakawanannya kuat. Ia mau melakukan apapun demi pertemanan, meski terkadang mengandung resiko yang cukup berat. Kalau tidak salah hitung, semasa SMP Jurig pernah lima kali jatuh cinta kepada kawan siswi SMPN Panjalu. Tapi tidak pernah sukses mendapatkan pacar. Ia selalu kalah bersaing dengan siswa lainnya, dan tentunya sering kali prustasi. Jurig termasuk orang yang cara berpikirnya rumit, dan sering kali merumitkan. Meski demikian, saat sekarang Jurig pun sudah mempunyai istri dan anak.

Sampai hari ini, saya masih sering bertemu dengan Abot, karena tempat tinggalnya cukup berdekatan. Sekali-kali saya berkunjung ke matrialnya di sekitar Cinunuk, Kabupaten Bandung. Hanya saja, Jurig sudah lama tidak bertemu. Saya hanya bisa berdo’a, semoga Jurig dan Abot menjalani sebuah keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah.*** (dhipa galuh purba)