Kategori: Suatu Hari | Diterbitkan pada: 18-09-2008 |

Anggota Téater Senapati sedang latihan drama “Hamzah Sang Singa Alloh” sambil ngabuburit
JAUH dari hura-hura. Sekelompok remaja berlatih drama dengan penuh semangat. Terlebih lagi setelah memasuki bulan Ramadhan tahun ini, mereka semakin meningkatkan intensitasnya. Setiap hari, mendalami kisah sejati sahabat Nabi, dari sore hari hingga Magrib. Berbuka puasa bersama dengan hanya meminum air biasa, tanpa disediakan menu mewah. Namun, mereka tetap bergembira dan menikmati suana Gedung Kesenian Rumentang Siang (GKRS)

Bermula dari latihan di ruangan kelas
Itulah kelompok Teater Senapati SMA Pasundan 3 Bandung, yang tengah mempersiapkan sebuah pergelaran drama Ramadhan “Hamzah Sang Singa Alloh”. Sebuah tarikh yang diadaptasi menjadi naskah drama berbahasa Sunda oleh Rosyid E. Abby, sekaligus disutradarai pula oleh Rosyid. Crew dan para aktornya tentu saja didominasi oleh siswa-siswi SMA Pasundan 3, ditambah dengan beberapa orang aktor dari Laskar Panggung Bandung dan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS). Adapun pertunjukan drama tersebut akan digelar pada 19, 20, dan 21 September 2008, di GKRS, Jl. Baranangsiang No. 1,
“Drama Ramadhan tahun ini merupakan garapan kami yang ketiga,” Demikian kata Wulan Permatasari, Ketua Teater Senapati. Kelompok teater yang berdiri pada 8 Mei 2002 tersebut telah melangsungkan pergelaran drama Ramadhan “Kasidah Cinta Jalma Nu Iman” (2006) dan “Sang Muadzin” (2007). Kedua pergelaran itupun merupakan buah karya sekaligus disutradarai Rosyid, yang sehari-harinya menjadi redaktur pelaksana tabloid Galura (group Pikiran Rakyat).

Paduan suara SMA Pasundan 3 Bandung
Meski baru berumur enam tahun, tetapi Senapati terbilang produktip menggelar berbagai pertunjukan drama, terutama yang menggunakan bahasa Sunda. Contohnya pergelaran dramatisasi sajak “Hiji Pamflet di Tanah Sunda Nu Merdeka”, drama “Si Kabayan Langlang Jaman”, beberapa paket pertunjukan longser untuk sebuah televisi lokal, dan selalu setia menjadi peserta Festival Drama Sunda yang diadakan setiap dua tahun sekali oleh Teater Sunda Kiwari.
Di sekolahnya, Teater Senapi menjadi salahsatu eskul yang bisa diikuti oleh setiap siswa yang berminat berkenalan dengan teater. Menurut Wulan, saat ini siswa SMA Pasundan 3 yang terdaftar menjadi anggota Teater Senapati berjumlah 40 orang. “Alhamdulillah, meskipun hanya 40 orang, yang penting serius dan solid. Buat apa banyak anggota jika tidak efektif…” kata Wulan sambil melirik ke arah panggung GKRS. Beberapa orang temannya sedang latihan bloking dan olah vokal dengan suara nyaring.
Dalam keadaan berpuasa, para personil Teater Senapati tetap bersemangat menjalani proses latihan. Bahkan latihan drama telah menjadi menjadi ajang yang efektip untuk ngabuburit. “Daripada kami main petasan atau bermain yang tidak karuan, mendingan latihan drama. Apalagi drama ini menceritakan perjuangan para pahlawan Islam. Kami jadi lebih tahu bagaimana sosok para pahlawan Islam sekaligus dengan pahit-getirnya dalam mensyi’arkan Islam,” Enci turut berkomentar. Hal tersebut selaras dengan tujuan Rosyid dalam menggarap drama islami. Menurut Rosyid, para remaja harus dikenalkan kepada tokoh-tokoh pejuang Islam, agar merasa reueus dan mengidolakannya. “Remaja zaman sekarang sedang mengalami krisis idola. Mereka malah mengidolakan tokoh-tokoh yang sama sekali tidak layak untuk diidolakan.” Demikian kata Rosyid di sela-sela latihan. Jika seorang remaja mengidolakan seorang tokoh, masih menurut Rosyid, tentu mereka akan berusaha meniru segala yang dilakukan tokoh tersebut.

Buka bersama dengan segelas air putih setelah latihan. Tampak Miftahul Malik (berkaus kuning), ikut buka puasa meskipun puasanya agak diragukan
Menjelang adzan Magrib, semuanya duduk di panggung membentuk lingkaran. Tentu saja untuk persiapan buka bersama. Tidak ada menu istimewa, kecuali air biasa. Meski begitu, mereka tetap gembira meski hanya tajil dengan segelas air putih. Tidak ada seorang anggota pun yang mempermasalahkan menu buka puasa. “Kita belajar untuk menerima apa adanya. Buka puasa dengan air putih pun merupakan kenikmatan luar biasa bagi orang yang berpuasa. Kita ini tidak seberapa dibandingkan dengan perjuangan para pahlawan Islam…” begitulah yang dikatakan Dadan Ramdhani, asisten sutrradara drama “Hamzah Sang Singa Alloh”. Selain berlatih sabar, minimnya menu buka puasa pun dikarenakan terbatasnya anggaran produksi. Sekali-kali, menurut Dadan, Alhamdulillah ada simpatisan budiman yang menyumbang makanan untuk tajil. Namun personil Teater Senapati ini lebih sering berbuka puasa dengan air biasa.
Selain untuk syi’ar Islam, Rosyid pun bermaksud lebih mendekatkan lagi bahasa Sunda kepada remaja. Dalam drama ini, masyarakat akan diajak menyaksikan romantisnya bahasa Sunda dengan cerita islami. “Bahasa Sunda adalah bahasa rasa, bahasa indung bagi orang Sunda. Dengan bahasa Sunda, diharapkan tarikh ini mudah dipahami masyarakat dan keuna kana mamaras rasa.” Ujar Rosyid.
Untuk lebih mengakrabkan dengan para remaja, Drama Ramadhan “Hamzah Sang Singa Alloh” dikemas menjadi drama musikal. Dalam drama ini, kental dengan musik dan lagu yang ditata oleh Una Dairy dan Yati, serta tarian yang ditata oleh koreograper M. Nana Munajat. Jenis drama seperti ini sudah berakar di Erova sejak zaman Vaudeville, Burlesque, dan Extravaganza. Tentu, alangkah baiknya kita menyaksikan langsung kreativitas para remaja yang peduli terhadap drama bernuansa Islam. Dengan hanya berbuka air biasa, mereka ingin menggelar pertunjukan yang luar biasa.***








Ass.
Mugia ageung tawakufna, simkuring bade nyarekan nu nulis caption foto nu nomer opat nu unina kieu:
“Buka bersama dengan segelas air putih setelah latihan. Tampak Miftahul Malik (berkaus kuning), ikut buka puasa meskipun puasanya agak diragukan.”
Kehed siah. Dasar musang berbulu domba. Teu rumasa, kuring teu rumasa. Kade nu maos ulah pencanten ka Dhipa Galuh. Bulan puasa kamari alhamdulillah….
Piraku we teu puasa ongkoh garapan drama islami. Tapi ketang da kuring mah merankeun kaom kafir.
Malahan kuring rek tumanya ka andika, naha unggnal tepung jeung kuring dina bulan puasa sok mamaksa kuring ka tukang soto? Kuring nu keur hayang jadi jalma soleh teh sok tara kuat ngahan panggoda saiton.
Puasa Taun hareup mah kuring moal ieu tepung jeung andika
Nganggap setan ka uing??? Ari nu sok mawa teh botol ti warung Kang Endut wanci lohor, na saha? Nyaho2 aya tagihan we ka uing pas magrib, “Bieu Malik nyokot teh botol, nitah dibayar ku dhipa.” kitu ceuk Kang Endut. Uing hulang-huleng, na keur nanahaon nyokot teh botol beurang2? Kapan batur mah paruasa. Cik geura insyaf silaing teh, ulah sok mirucaan teu bener…
DHIPA GALUH PURBA