Berakit-rakit di Situ Cangkuang, Garut

Catatan TIM SURVEY BAPPEDA Propinsi Jawa Barat

Udara sejuk sudah terhirup saat memasuki lokasi wisata Situ Cangkuang. Tersedia area parkir yang disediakan untuk para pengunjung Situ Cangkuang. Kawasan wisata Situ Cangkuang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Nama Cangkuang diambil dari nama salahsatu pohon yang tumbuh di kawasan Situ Cangkuang. Di sana terdapat beraneka ragam pohon, seperti pohon suren, pohon hantap, dan lain sebagainya. Untuk masuk ke lokasi wisata ini, para pengunjung harus membayar tiket yang relatif terjangkau, Rp 3.000,- untuk dewasa, Rp 2.000,- untuk anak-anak, dan Rp 5.000, untuk turis asing.


Naik rakit di Situ Cangkuang Garut

Ada keunikan yang membedakan Situ Cangkuang dengan situ lainnya. Misalnya perahu rakit yang disediakan untuk para pengunjung ukurannya lebih lebar dan memiliki ciri khas tersendiri. Perahu rakit ini bisa menampung penumpang sampai dengan 30 orang. Di atas rakit, tersedia tempat duduk yang dilengkapi dengan atap. Pengunjung juga bisa berjalan-jalan dengan leluasa dan berdiri bebas di atas rakit, tanpa terhalang oleh tiang dan atap, sambil melemparkan pandangan ke sekeliling Situ Cangkuang. Tampaklah hijaunya alam Garut, dengan pemandangan yang begitu indah. Sejauh mata memandang ke arah manapun, tampak gunung menjulang. Dari Situ Cangkuang terlihat Gunung Mandalawangi, Gunung Kaledong, Gunung Halimun, Gunung Batara Guru, Gunung Guntur dan Gunung Cikuray. Untuk bisa menikmati menikmati sensasi naik perahu rakit, pengunjung hanya dikenakan tarif sebesar Rp 4.000,-/ orang. Atau bagi yang hobi berenang, bisa bergabung dengan anak-anak Kampung Pulo yang tampak sedang berenang dengan riang gembira.

Rumah adat di Kampung Pulo

Rakit-rakit yang unik tersebut dikelola oleh masyarakat adat Kampung Pulo, yang tinggal di tengah pulau kecil Situ Cangkuang. Dengan adanya masyarakat adat di di Situ Cangkuang,  merupakan keunikan pembeda dengan situ-situ lainnya. Ditambah lagi dengan adanya Candi Cangkuang dan makam kuno Embah Dalem Arif Mummad, yang menjadikan kawasan Situ Cangkuang sebagai tempat wisata religi, khususnya bagi penganut agama Hindu dan Islam.

Sangat menarik ketika menyaksikan letak Candi Cangkuang yang bersebelahan dengan makam kuno Arif Mummad. Candi Cangkuang yang mempresentasikan tempat ibadah umat Hindu, bersebelahan dengan makam Embah Dalem Arif Muhamad, tokoh penyebar agama Islam yang diyakini sebagai keturunan Syarif Hidayatullah oleh masyarakat adat Kampung Pulo. Ada romantisme Hindu dan Islam yang tergambar ketika melihat dua jejak sejarah yang berdampingan tersebut.

Candi Cangkuang pertama kali ditemukan oleh seorang ahli purbakala bernama drs. Uka Tjandrasasmita, pada tanggal 9 Desember 1966. Uka menelusuri lokasi Candi Cangkuang atas petunjuk buku yang ditulis oleh seorang penulis Belanda bernama Vorderman, yang berjudul Notulen Bataviach Genoot Schap (1893). Setelah pondasi candi dan batu-batu bekas reruntuhan candi ditemukan, maka pada tahun 1974-1976, pemerintah mengadakan pemugaran melalui proyek Pembinaan Kepurbakalaan dan Peninggalan ansional Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Selanjutnya diresmikan pada 8 Desember 1976 oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Syarif Thayeb.

Candi Cangkuang Garut

Belum ditemukan jejak cerita yang berkaitan dengan Candi Cangkuang, karena di sekitar candi tidak ditemukan prasasti. Selain itu, tidak ada cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat berkenaan dengan Candi Cangkuang. Para ahli hanya bisa memperkirakan Candi Cangkuang merupakan peninggalan agama Hindu pada abad VII.

Sebaliknya, tokoh  Embah Dalem Arif Muhamad lebih akrab dengan masyarakat adat Kampung Adat Pulo, karena mereka mengaku keturunan tokoh tersebut. Arif Muhamad disebut-sebut sebagai salahseorang utusan Kerajaan Mataram, yang ditugaskan oleh Sultan Agung untuk menyerang tentara VOC di Batavia, pada permulaan abad XVII. Namun serangan yang dilancarkan pasukan pimpinan Arif Muhamad gagal, dan selanjutnya Arif memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram. Arif menetap di daerang Cangkuang sambil menyebarkan agama Islam.

Situ Cangkuang, Garut, Jawa Barat

Tidak heran jika para pengunjung yang datang ke kawasan Situ Cangkuang, banyak yang memiliki tujuan untuk berziarah ke makam Embah Dalem Arif Muhamad. Adapun kuncen Makam Embah Dalem Arif Muhamad adalah Ketua Kampung Adat Pulo. Para peziarah dipersilahkan untuk mengunjungi makam keramat Embah Dalem Arif Muhamad, kecuali pada hari Rabu. Sebab, hari Rabu telah dianggap sebagai hari larangan oleh masyarakat Kampung Adat. Seperti halnya di kampung adat lainnya, di Kampung Pulo pun memiliki beberapa aturan adat yang tidak boleh dilanggar. Misalnya tidak diperkenankan memelihara ternak berkaki empat, tidak boleh mencari pekerjaan di luar daerah Kampung Adat, tidak boleh memukul gong besar, bentuk atap rumah harus memanjang, dan jumalah rumah pun harus tetap enam, ditambah dengan satu masjid. Jadi, jumlahnya ada tujuh bangunan, yang dari dulu sampai sekarang tetap dipertahankan.***

Tim Survey Penyusun Kebijakan Pemanfaatan Potensi Budaya Lokal dan Bentang Alam bagi Pengembangan Destinasi Ekowisata Jabar & Ekonomi Kreatif Tahun 2013

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>