Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 06-10-2007 |

Diceritakan Oleh DHIPA GALUH PURBA

 

Kepergian penyair muda, Benny R Budiman, telah meninggalkan berbagai kenangan indah yang sulit untuk dilupakan. Seperti yang telah dicurahkan oleh kawan-kawan dekatnya, seperti Hawe Setiawan, Erwan Juhara, Soni Farid Maulana,  Ahda Imran, dsb. Terlebih lagi bagi istrinya sendiri, Nenden Lilis Aisyah (31). Kendati begitu berat menerima kenyataan ini, namun Nenden berusaha untuk tetap tegar dalam menghadapi cobaan ini. Berikut tuturan Nenden, ketika dijumpai di rumah orang tuanya, Jl. Raya Barat No. 89, Malangbong Garut Jabar.

 

*

 

Jauh hari sebelum bertemu Kang Benny (Benny R Budiman, red), saya sudah lebih dulu ‘mengenalnya’. Memang aneh tapi nyata, dan nyata tapi aneh. Sejak saya masih sekolah di SMP, saya sudah mulai belajar menulis. Baik cerpen atau pun puisi. Walaupun tulisan-tulisan saya hanya sebatas untuk dinikmati oleh diri sendiri, namun saya merasakan kepuasan batin yang luar biasa. Dalam salah satu cerpen yang dibuat saat itu (Masa SMP, red), saya memainkan seorang tokoh bernama ‘Benny’ dengan karakter yang diinginkan berdasarkan imajinasi saya. Tokoh Benny adalah sosok lelaki terbaik, yang memiliki kepribadian kuat. Namun dalam cerpen saya, tokoh Benny mengalami nasib yang kurang baik,  mati muda seperti halnya penyair Chairil Anwar. Itu memang hanya sebuah cerita. Dan pada waktu itu, saya belum kenal sama sekali dengan Kang Benny.

Singkat ceritanya, selepas menyelesaikan Sekolah Menengah Atas, saya melanjutkan kuliah ke IKIP (Sekarang UPI). Hingga sampai pada suatu hari, ketika seorang dosen tengah memberikan mata kuliah sastra. Beliau menyebut-nyebut seorang penulis yang bernama  ‘Benny R Budiman’. “Tahu enggak kalian pada Benny R Budiman? Dia itu aktivis di kampus kita. Kalau lagi nulis, pasti tak akan pernah berhenti minum kopi dan menghisap rokok.” Begitu kata  Pak Dosen. Membuat saya benar-benar terkejut. Belum apa-apa, hati saya sudah berdebar-debar. Sebab tokoh ‘Benny’ dalam cerpen saya pun, memang mempunyai kebiasaan seperti itu. Terkadang hidup ini penuh dengan misteri.

 

BERKENALAN, BERPACARAN, MENIKAH.

Tidak begitu sulit untuk berkenalan dengan Kang Benny. Disamping dalam satu kampus yang sama, Kang Benny itu orangnya memang mudah bergaul. Dan dari pertemuan pertama itu, saya semakin takjub. Sebab semakin nampak bahwa sosok Kang Benny persis seperti yang digambarkan dalam cerpen saya. Ini sulit dipercaya. Namun saya yakin akan kerbesaran Alloh SWT. Tak ada yang tak mungkin dalam kekuasaan-Nya.

Semakin hari, saya dan Kang Benny terasa kian dekat dan akrab. Ada getaran-getaran asmara yang mulai memenuhi relung kalbu saya. Terlebih lagi ketika pada suatu hari, Kang Benny pernah mengatakan satu hal yang sama dengan saya. Kang Benny mengatakan; Nenden adalah seorang wanita yang memiliki karakter harapan dan idaman saya. Tentu saja, hati saya semakin berbunga-bunga.

“Kang Benny, mau jadi balad atau kabogoh?” tanya saya pada suatu hari. Walau bernada canda, namun sebenarnya saya sangat serius.

“Kabogoh (Pacar)!” jawab Kang Benny sambil berlalu dengan ciri kasnya yang cuek. Membuat hati saya benar-benar bahagia. Saya yakin, bahwa saya tidak bertepuk sebelah tangan. Hingga pada akhirnya, kami menjalin hubungan cinta kasih. Bahkan tidak hanya sebatas berpacaran. Kami pun resmi menikah pada tahun 1998.  Alhamdulillah, kami hidup bahagia. Apalagi ketika Alloh memberi karunia yang tiada terhingga, dengan kelahiran dua anak kami.

 

ISARAT KEPERGIAN KANG BENNY

Saya bersumpah, tak ada harapan sedikit pun untuk memiliki seorang suami yang meninggal pada usia muda. Namun dikarenakan dalam cerpen saya dulu cerita seperti itu, maka tak urung ‘perasaan’ itu selalu ada dalam benak saya. Ditambah lagi ketika pada suatu hari, kami bertemu dengan seorang Dokter perempuan. Kata Kang Benny, beliau itu adalah seorang janda yang memiliki dua orang anak. Sudah lama ditinggal mati oleh suaminya. Namun sampai saat ini, dia tidak menikah lagi. Dan Kang Benny begitu mengagumi Bu Dokter tersebut.

Kang Benny memang terserang penyakit yang parah. Namun dia tak pernah mengeluh. Kalaupun dia merasa kesakitan, bukanlah erangan yang keluar dari bibirnya. Namun Kang Benny lebih memilih untuk mengumandangkan sholawatan. “Ini adalah Sholawat untuk berjihad…” ucap Kang Benny di sela-sela kesakitannya.                    

Kang Benny benar-benar seorang lelaki terbaik dalam hidup saya. Kendati dalam keadaan sakit parah, dia tetap berjuang dengan gigih, tanpa kehilangan semangat. Menulis, mengajar, dan melakukan pekerjaan lainnya demi keluarga. Dia ‘memaksa’ saya untuk melanjutkan kuliah S-2.  Sampai  pada akhir hayatnya, yang dipikirkan Kang Benny itu adalah kepentingan saya, bukan kepentingannya sendiri. Namun pada saat saya telah lulus S-2, ternyata Kang Benny meninggalkan saya. Dia tidak akan merasakan hasil dari jerih payahnya. Dia sungguh lelaki terbaik, suami yang sangat bertanggung jawab.

Saya baru mengerti sekarang, kenapa Kang Benny memaksa saya untuk menyelesaikan kuliah S-2. Ternyata hal itu dilakukannya demi untuk membuka ‘gerbang’ buat saya. Dan…

Nenden Lilis seakan tak mampu lagi untuk berucap. Dia tak kuasa menahan kesedihannya yang tiada tara. Seperti ada yang memaksa untuk keluar dari kedua sudut matanya. Sehingga Nenden mengakhiri kisahnya sambil berkata dengan agak terbata-bata.

“Perkawis Kang Benny, pertama mohon maaf kesalahannya, baik yang terasa maupun tidak terasa. Terutama pada detik-detik akhir hidupnya, Kang Benny intens juga menulis tentang Sunda. Bahkan tulisannya itu selalu kritis, taya tedeng aling-aling. Itu semua karena kecintaan dia pada Sunda.”

Benny R Budiman, lahir di Majalengka, tanggal 10 September 1965. Dan meninggal dunia di Malangbong, pada tanggal 3 Desember 2002, pukul 21.10 WIB. Telah disemayankan di TPU Cihaur Koneng, Malangbong Garut. Selamat Jalan Benny R Budiman. Semoga diterima di sisi Alloh SWT, Amiin. ***

 

Dimuat di HU. Galamedia, Desember 2002