Kategori: Ruang Publik | Diterbitkan pada: 06-04-2008 |

Asalamualaikum wr.wb


Aduh sedih juga membaca artikel akang tentang Bandung Lautan Api, karena generasi muda hampir tidak tahu mengapa mengungsi dan dimanakah jejak sejarah bekas pembakaran peristiwa BLA. Ada hal yang membuat saya sedih ketika menghadiri peringatan Peristiwa BLA di Hotel Homan, 23 Maret 2008, ketika itu yang hadir para pejuang yang usianya di atas 82 tahun bahkan ada yang 100 tahun.

Para sesepuh Bandung itu berpidato tentang merebut bagaimana perjuangan merebut Bandung dari sekutu, sehingga ditempuh strategi membumihanguskan dan mengungsi selama 3 tahun ke luar Bandung. Hal ini mereka lakukan bukan karena pengecut tetapi menghindari korban rakyat seperti Pertempuran Surabaya 10 November yang menelan korban jiwa lebih dari 20 ribu orang, dan dikenal dengan hari pahlawan. Namun para pejuang Bandung sangat rasional adanya ketidakseimbangan senjata antara pejuang dan sekutu. Namun ketika di Hotel Homan para pejuang itu banyak yang menitikan air mata mengingat penderitaan rakyat sekarang,tidak adanya kejujuaran, pengorbanan dan keberanian para pemimpin untuk membela rakyatnya, aduh sedih banget! mungkin mereka tahun depan sudah banyak yang meninggal.

Dalam buku yang saya tulis bersama teman-teman “Saya Pilih Mengungsi” diwawancara 50 responden dari tokoh militer, diplomat sampai pedagang kue ape sebagai pelaku BLA sebagian besar sudah meninggal. Ada hal yang membuat saya dan teman-teman akan menerbitkan kembali buku itu pertengahan tahun ini adalah Peristiwa BLA tidak masuk dalam peta sejarah nasional, alias tidak ada dalam buku babon SNI yang 6 jilid terbitan pemerintah itu. Padahal Peristiwa BLA memaksa sekutu pergi dari Jawa Barat dan diadakan perundingan Lingarjati.

Mudah-mudahan penerbitan ulang dengan edisi revisi yang lebih populer dibandingkan edisi 1 akan memberi amunisi para guru sejarah di Bandung untuk membuka kembali missinglink sejarah BLA di bangku sekolah dasar sampai SMU. Terutama pentingnya mengetahui pengorbanan rakyat sipil meningalkan Bandung, ketika kembali ke Bandung rumahnya sudah ditempati orang lain, kebanyakan yang menempati baru orang Cina.

Mudah-mudahan pemerintah kota Bandung bisa bekerja sama dengan kami penulis untuk memberi bahan kepada dunia pendidikan adanya missinglink sejarah BLA. Mudah-mudahan artikel Kang Dhipa Galuh Purba menjadi awal pemaknaan sejarah dan adanya kesadaran untuk menata kembali visi dan kota Bandung anu sudah semrawut sebagai kota metropolitan.