Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 24-09-2008 |
Oleh ROCHAJAT HARUN
TEMPO dulu para kasepuhan Sunda pernah meramalkan bahwa nanti
Tahun 1957, saya ngumbara ke
Namun kini, 50 tahun kemudian, sebutan Bandung Heurin ku Tangtung itu benar-benar terasa. Tak hanya karena padatnya penduduk, namun juga karena padatnya kendaraan baik motor, maupun mobil roda empat. Memang masuknya teknologi moderen ini tak bisa dihindari. Tentunya dengan segala resiko dan dampaknya, bagi lingkungan hidup dan kehidupan penduduknya. Antara lain polusi udara yang semakin membahayakan, suhu kota Bandung jauh meningkat Tempo dulu suhu Bandung berkisar antara 20-22 derajat Celsius. Namun sekarang hampir tiap malam apalagi siang hari diatas 28 bahkan lebih dari 32 derajat celsius. Setiap malam terasa hareudang bayeungbang.

Tahun 70-an begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumoh pernah meramalkan, bahwa melihat pertumbuhan penduduk yang begitu cepat, serta tidak adanya penataan dan penanganan lingkungan hidup, maka nanti pulau Jawa akan menjadi Pulau Kota. Saya teringat pula ucapan almarhum Prof Otto Sumarwoto, pakar lingkungan hidup dari ITB, yang menyarankan agar buah batu, yang dulu masih daerah persawahan, janganlah diganggu atau dijadikan daerah perumahan/ pemukiman. Sebab daerah itu merupakan cekungan wilayah Bandung untuk penampungan air tanah. Tapi sekarang? Daerah Buah Batu yang dulunya terdapat hamparan sawah kini telah ditanami dengan tanaman semen yang cukup padat. Baik berupa perumahan dinas, rumah-rumah kreditan maupun pribadi.
Demikian pula wilayah timur dan selatan Bandung, mulai Rancabolang, Bojongsoang, Cikoneng terus ke Dayeuhkolot dan sebagainya kini semakin padat dengan rumah-rumah pemukiman. Di daerah timur seperti daerah Cibiru, Pasirimpun, Cileunyi terus ke Rancaekek, kini sudah mulai dan akan terus dipadati perumahan dan bangunan pabrik. Ke sebelah utara mulai dari daerah Setiabudi, Cihideung yang dulunya merupakan daerah budidaya sayuran dan bunga-bungaan, terus ke daerah Lembang, Cisarua, Ciumbuleuit dan sebagainya, bahkan dilereng gunung Tangkuban Parahu, penuh sesak dengan berbagai tipe perumahan. Termasuk rumah-rumah mewah tempat peristirahatan yang nampaknya banyak yang tidak pernah dihuni.
Sekalipun para pakar lingkungan hidup berkoar-koar agar wilayah utara Bandung terutama didaerah perbukitan dan pinggiran hutan tidak lagi dijadikan wilayah permukiman, bahkan ada yang menyarankan agar dibongkar dan segera di hutankan kembali demi terjaminnya natural and forest conservation. Tapi, nyatanya operasi pembangunan jalan terus, semakin menjamur.
Kini Bandung Heurin ku Tangtung sudah menjadi kenyataan, tidak hanya karena padatnya penduduk, namun juga semakin banyaknya bangunan perumahan dan pabrik, juga semakin padatnya kendaraan bermotor. Saya tidak bermaksud menyalahkan pemerintah maupun siapa-siapa. Tapi inilah fakta penyebab yang menyebabkan Bandung heurin ku Tangtung, suhu udara yang semakin naik, polusi sudah semakin tinggi diatas standar. Menurut hasil penelitian pakar Lingkungan Hidup, katanya kota Bandung ini tingkat polusinya paling tinggi dibandingkan dengan kota-kota besar lainnyadi Indonesia.
Akhirnya, mudah-mudahan hal ini akan menyadarkan kita semua, baik pihak pemerintah, para investor bangunan, maupun insan penduduk kota Bandung dan para pendatang dari Jakarta dan sebagainya, agar benar-benar menyadari, memperhatikan dan terus mengupayakan agar faktor-faktor yang tadi sebagian telah diuraikan, yang banyak mempengaruhi kerusakan lingkungan hidup kota Bandung dan sekitarnya ini benar-benar dapat dihindari. Ini memerlukan kesadaran dan tindakan semua pihak, terutama perlunya perencanaan dan penataan lingkungan hidup yang lebih strategis, holistik dan sinergis dan workable. Semoga !***













Ass. Bapa
Dewi sangat setuju dengan artikel yang Bapak tulis. Meskipun saya sendiri tidak mengenal bandung benar- benar tempo dulu seindah apa, tetapi saya dapat merasakan bahwa Bandung kini sangat berbeda bila dibandingkan dengan Bandung pada saat saya kecil..
Kali ini, bandung semerawut dengan kendaraannya yang hampir sama dengan kota Jakarta, macet dimana- mana, keasrian Bandung sedikit demi sedikit sudah mulai terkikis dengan banyaknya pembangunan dimana- mana. Tak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Tugas kita sekarang hanyalah berusaha mengembalikan Bandung menjadi Bandung yang benar- benar PArijs Van Java..Amiin
Sok atuh Dewi Intan punya ideu apa untuk memajukan Bandung. Nanti kita sama2 kerjakan… Hidup Bandung!!!
DHIPA GALUH PURBA
Sekarang bukan lagi Bandung heurin ku tangtung, tapi tos dilandi jadi Bandung heurin ku motor. Tahun payun Bandung heurin ku bujur. He..he.he.
Langkung ka payun deui, Bandung heurin ku kabiingung jeung nu garering nangtung ngalanglayung katut nu kaduhung teu manggih tungtung
DHIPA GALUH PURBA
Ass.pa..
bukan penuh lagi bapa yang ada dah kaya semut dijalan” teh..
apa lagi motor,halah-halah..
da aji denger dari kakek atw kwluarga da yang namanya buah batu teh dulunya hutan..
asa percaya ga percaya.
jalan daerah binong deket rumah teh katanya perbatasan..
da asa gag percaya pa..
dulu aji pernah ngerasain waktu kecil yah sekitar kelas satu sd pagi-pagi jalan-jalan ke stasion kiaracondong teh meni seueur embun sareng kabut..
atuh asa ngimpi mun aya mah..
da tos penuh sesak sareng tos panas pisan pa..
pa kalo merubah tata kota apakah bisa???
seperti punclut pun bukannya daerah resapan air..
bingung da pa harus gimana..
da mau bilang ke pemerintah apa ada yang mau nanganin..
da perasaan malah kalah ma uang..
mau buat sesuatu kalo ada uang pasti lancar..
yang lain pasti dikesampingkan dulu..
padahal untuk masa yang akan datang pasti merugikan..
sekian komentar dari aji pa..
maaf pa kepanjangan ya pa..
ass.
Sehat Pa?
Bener banget pa, mestinya ditiap pintu tol menuju bandung da papan digital yang menunjukan jumlah mobil plat luar Bandung yang ada di bandung, maksudnya kalo bukan plat D dicatat automatis pa, kan data pas masuk tol bisa dicatat, nah mestinya jangan ada portal tol tanpa operator, jd bisa kedata. nah kan orang kalo liat bejibun mobil plat luar siapa tau timbul kesadaran. ya kalo mu gampang mah diadain diferent fee gitu pa,kan lumayan pemasukan ke pemda agak gede dikit.
moga bandung bisa jadi adem seadem dulu waktu saya masih digendong alm kakek. Amin….
kaya biasa
makasih banyak Pa Ilmunya