Audisi Korupsi Indonesia

Audisi Korupsi Indonesia

(AKI)

Sebuah Drama Monolog

Dhipa Galuh Purba

  

 

KETIKA saya gigit anu saya, serentak saya meringis, merasakan sakit yang sewajarnya. Berarti saya benar-benar tidak sedang bermimpi. Ini kenyataan seratus persen. Saya bahagia. Sangat Bahagia. Sangat bahagia sekali! Seandainya Neng Lina ada di sini, pasti ia akan meralat keputusannya, telah menolak cinta saya yang begitu tulus dan murni. Setulus murninya, semurni tulusnya.

Oh, kenapa saya begitu bodoh? Bukankah Neng Lina akan segera mengetahuinya? Seluruh layar televisi akan serempak menayangkan wajah saya. Wajah saya akan menghiasi lembaran surat kabar di tanah air. Neng Lina pasti tahu. Neng Lina pasti akan segera sadar.

Oh, Neng Linaku sayang… eh, maaf, saya harus konsisten untuk tetap menggunakan kata: saya. Tidak sekali-kali menggantinya dengan: aku. Apalagi I, Ana, Uing, Gua, Dalem, ambo, atau lainnya. Baiklah, saya ulang lagi: Oh, Neng Lina saya sayang… saya akan segera meminangmu! Kita akan hidup bersama dalam mahligai rumah tangga yang bahagia! Saling sayang dan saling silang menyambut masa yang akan datang…

Oh, tidak, tidak, Neng Lina sudah menikah dengan Si Kowi, teman sebangku saya waktu masih duduk di bangku SD. Si Kowi, ya Si Sarkowi! Kurang ajar! Kalau saja tahu akan begini, mana mungkin saya mau ngasih nyontek sama Si Sarkowi. Dasar manusia tidak tahu balas budi.

Tapi saya tidak peduli. Neng Lina harus tetap menjadi permaisuri saya sepanjang jaman. Saya tidak peduli meskipun Neng Lina sudah menikah dengan Si Sarkowi. Kalau perlu, Si Sarkowinya juga akan saya nikahi sekalian.

Aku berhasil! Aku bisa…. maaf, maaf…saya bisa! Neng Lina pasti melihat saya. Neng Lina pasti sangat takjub menyaksikan saya dalam keadaan seganteng dan segagah ini!

Apa Neng Lina sudah beli lagi Televisi ya? Soalnya kata Si Buruy, Televisi 20 Inch milik Neng Lina itu, minggu kemarin ada yang mencuri. Ah, itu bukan masalah besar. Menurut Si Buruy, pencuri yang menggerayangi rumah Neng Lina, agak berbaik hati. Soalnya televisi 20 inch milik Neng Lina itu, tidak diambil semuanya. Mereka, para maling itu, hanya mengambil 17,5 inch. Jadi di rumah Neng Lina masih tersisa 2,5 inch lagi. Lumayan kan. Dari pada kagak punya sama sekali. Neng Lina pasti menyaksikan wajah saya tampil di layar Televisi. Neng Lina pasti akan mengecup layar kaca. Tentunya Neng Lina akan begitu mengagumi saya, dan secara otomatis akan menjadi fans berat saya. Minta tanda tangan saya (Tapi sekarang sudah tidak musim lagi tanda tangan. Tidak populer alias kejamanan tinggal… eh, maaf, ketinggalan jaman. Neng Lina pasti akan minta tanda bibir, atau tak menutup kemungkinan jika minta tanda…). Hi hi hi… jadi malu.

Selamat malam, para hadirin-hadirot semuanya. Sungguh merupakan kebahagiaan yang tiada taranya, pada malam ini saya dapat hadir di sini. Saya hadir tidak hanya sekedar untuk memupus kerinduan para hadirin kepada saya. Namun saya juga tentunya akan menumpahkan air ma… maaf, maksud saya adalah untuk menumpahkan kegembiraan saya ini. Kegembiraan yang belum pernah saya temukan sepanjang hidup saya di dunia ini. Betapa tidak? Akhirnya, setelah melalui perjuangan yang panjang dan agak bertele-tele, saya dinobatkan sebagai peraih juara pertama. Saya sangat bangga dengan penghargaan ini. Sekali lagi, saya sangat bangga.

Dalam kesempatan ini, para juri menganjurkan saya, agar berorasi di depan hadirin-hadirot… ya sekedar menyampaikan berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam dada ini. Bahkan ada beberapa fans, baik fans ringan maupun fans berat, yang meminta saya, untuk menceritakan perjalanan saya, sejak keberangkatan dari Kota Cigorowek tercinta, sampai akhirnya berhasil membuktikan diri sebagai orang yang sangat berhasil di Indonesia. Namun sebelumnya, perkenankan saya untuk menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung saya. Pertama, tentu saja kepada para pendukung saya, baik di kota atau di desa. Baik laki-laki, waria atau wanita. Baik tua atau muda. Baik duda atau perjaka. Baik perawan atau janda. Maaf, bagi waria, saya masih mencari-cari istilah yang tepat.

Kepada para panitia AKI, Akademi Korupsi Indonesia, saya ngucapineh, maaf, saya mengucapkan terima kasih yang seee…dalam-dalamnya lautan. Berkat bimbingan dan petunjuk Anda semua, saya telah dianugerahi The Corruption Award, setelah mengalahkan ribuan pesaing tangguh yang begitu luarrr biasa. Bagi teman-teman senasib sepenanggungan yang belum seberuntung saya, janganlah berkecil hati, karena kesempatan masih terbentang luas, seluas langit dan bumi. Jangan pernah sakali-kali berputus asa, jangan berhenti untuk berlatih, dan jangan lupa ketik AKI spasi Among… Maaf, saya keceplosan. Semuanya sudah berakhir. Yang penting saat ini, mari kita berpangku tangan dan bersama-sama seiring-sejalan, pun senada dalam tekad: Maju terus perkorupsian di Indonesia!!!

Hadirin dan hadirot, para peminat korupsi yang saya hormati. Lebih dari 30 dasawarsa saya dikarantina. Tentunya dalam kurun waktu itu, teman-teman saya gugur satu persatu, kemudian pulang disertai linangan air mata. Sebulan yang lalu, Saudara-saudara masih dapat menyaksikan tiga nominator yang bersaing untuk mendapatkan anugerah bergengsi ini. Mereka yang tereliminasi, tentu saja memiliki beberapa kelemahan.

Kalau saya boleh mengkritisi, kawan-kawan saya kebanyakan tak bisa lolos atau kurang pandai mengelak di pengadilan. Kawan-kawan saya kurang perhatian pada kata-kata yang bermakna, seperti: kambing hitam. Padahal itulah kuncinya yang paling mujarab. Sayang sekali, mereka kurang paham, waktu saya membisikinya. Malah ada seorang di antaranya, minta izin kepada hakim, untuk membawa seekor kambing berwarna hitam, yang sengaja dibawanya dari kampung. Bodoh sekali kawan saya yang satu itu! Bukan kambing hitam itu, tapi kambing hitam ini.

Lihat saya! Contoh yang tidak pernah gentar menghadapi pengadilan model atau tipe apa pun. Termasuk berhadapan dengan Pengadilan Khusus Antikorupsi, yang disebut-sebut sebagai amanah Pasal 53, UU No. 30/2002 tentang KPTPK, Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Konon kabarnya, pengadilan ini menerima limpahan berkas kasus-kasus korupsi dari KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi. Alah… apapun namanya, bukan masalah besar bagi saya. Korupsi sudah menjadi bagian dari kebudayaan bangsa ini. Bukankah kita harus memelihara, melestarikan, dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan?

Tentunya hadirin-hadirot akan bertanya-tanya, kenapa saya menjadi satu-satunya orang yang suangat hebat? saya pun pasti mau menjawabnya; tidak akan ditambah-tambah, serta tidak mungkin dikurang-kurang. Jangan khawatir, dalam hal ini, saya tidak akan korupsi. Sesama tukang korupsi, saya tidak suka mengkorupsi, seperti halnya sesama bis kota, tidak boleh saling mendahului. Itu prinsip saya. Makanya, kini saya bisa lolos menjadi pemenangnya.

O ya, sebelum memaparkan trik atau kiat-kiat saya memenangkan kontes AKI ini, tadi saya telah berjanji untuk menceritakan kisah perjalanan saya. Perlu hadirin dan hadirot ketahui, bahwa sejak berusia remaja, saya sudah punya bakat yang sangat menonjol dalam hal kurupsa-korupsi. Waktu itu, sebenarnya cita-cita saya mau menjadi seorang artis sinetron, bintang film, atau model. Beberapa kali, saya ke luar-masuk sanggar acting atau agency. Tentu saja bayarannya mahal, lho… Ada uang pendaftaran, iuran perbulan, dan potongan honor 25 persen, setiap kali mendapat kesempatan untuk jadi figuran.

Kasihan sekali saya. Jangankan menjadi bintang ternama, malah lama-kelamaan modal saya hampir habis. Jangankan mewujudkan impian untuk bersanding dengan artis cantik dan bahenol, malah akhirnya Neng Lina pun memutuskan untuk menikah dengan Si Ontohod Sarkowi itu. Padahal saya sudah meyakinkan Neng Lina berkali-kali, “Neng, saya sudah jadi seorang artis!!! Artis, Neng…!” Uh, Neng Lina malah mencibir, sambil naik ke mobilnya. Mobil hadiah tunangan dari Si Sarkowi. “Dasar Mata Mobilan!!!” Teriak saya sambil memperlihatkan jari tengah. Tapi Neng Lina membalas, sambil berteriak juga, “Biarin! Dari pada mata sandalan…!!!”

Saya terluka, teramat parah. Sakiiit… tiada bandingannya. Yang kemudian mendorong tekad saya untuk mendapatkan semua yang disukai Neng Lina. Semangat saya membara, bagai api yang membakar pasar-pasar. Cita-cita saya semakin luhur, bagai tanah-tanah atau rumah-rumah yang tergusur. Darah saya mendesir seperti banjir, dan langkah saya semakin mantap, tak peduli siapa pun yang terinjak.  Hanya ada satu jalan menuju Neng Lina, yaitu membeli mobil. Ngeeeng…! Cekiiit…!

Ahirnya kesempatan pun datang. Suatu hari, saya mendengar kabar yang sangat membahagiakan, sekaligus menantang. Ada sebuah rumah produksi yang membutuhkan seorang artis, untuk dikontrak menjadi model iklan obat pembasmi tikus. Maka saya pun segera berkemas, untuk mengikuti casting.  Oh, waktu itu, saya belum punya mobil satu pun.  Lho, ini serius! Mungkin hadirin dan hadirot tidak percaya, karena hanya melihat pada saat sekarang saja. Hadirin dan hadirot tahunya saya punya seribu satu unit mobil mewah. Memang benar. Tapi sumpah pocong tah, dulu saya tidak punya mobil. Jangankan mobil, sepeda pun tidak punya. Jangankan sepeda, rorodaan pun tidak punya.

Saya naik mobil angkot. Itu pun tidak kebagian tempat duduk. Saya terpaksa harus berdiri di pintu layaknya kernet. Tapi no problem. Yang penting, saya bisa sampai ke tempat tujuan.

Kiriii! Stooop…! Heuuuup…! Saat itu, tiba-tiba saja mental saya naik 180 derajat, karena saya baru menyadari, bahwa ternyata orang-orang sudah mengenali saya. Artinya saya sudah cukup terkenal. Buktinya, sopir angkot pun menyapa saya, “Dari mana?” begitu ucapnya. Saya pun menjawab dengan so familliar. “Biasa, dari lokasi shooting nih. Kebetulan hari ini, saya dipanggil produser untuk membintangi sebuah iklan. Tapi, kalau mau minta tanda tangan, saya tidak keberatan koq…” Sayang sekali, mendengar perkataan saya, sopir angkot itu malah marah, “Dasar bego! Elu tadi naik dari mana?! Ini ongkosnya kurang, tahu!” begitulah bentaknya, dengan memamerkan bola mata yang sebesar jengkol. Dan yang lebih menyakitkan, hampir semua penumpang angkot, melihat ke arah saya sambil tertawa cekikan. Ya… termasuk wanita cantik yang sepanjang jalan, kedua pahanya begitu akrab dengan ketiga mata saya; dua yang tampak, ditambah mata hati.

Tidak masalah, bukan masalah besar bagi saya. Tinggal merogoh saku lagi, mencari-cari uang recehan. Memang uang recehan sudah habis, apa lagi uang lembaran. Artinya saya harus memecahkan persoalan dengan jalan terakhir. Saya memang selalu banyak inspirasi. Saat itu pun, saya teringat sosok atlit pelari jarak jauh. Saya mencoba mengikuti jejaknya…

Sampailah saya ke tempat casting model iklan. Namun saya tidak segera masuk, karena harus mempelajari dulu situasi dan kondisinya, termasuk mengukur kemampuan para pesaing saya.

Saya mengintipnya melalui kaca jendela. Tampak calon-calon model mengantri, lebih dari seratus orang.  Tekhnik casting-nya cukup sederhana. Mereka, para calon model itu, hanya dihadapkan dengan beberapa ekor tikus. Tapi sungguh menakjubkan, tikus-tikus yang jadi media casting itu, bukan tikus yang biasa kita temukan di dalam rumah. Ukurannya sangat besar. Tampaknya tikus impor yang pernah diceritakan Si Buruy. Katanya, tikus impor itu, suka nongkrong di terminal Peti Kemas. Tikus-tikus itu tidak pernah takut berhadapan dengan siapa pun. Jangankan kucing piaraan, bahkan ketika berhadapan dengan manusia pun, kabarnya tikus itu nyantai saja. Masih kata Si Buruy, Beh Sarmud pernah menggertaknya, tetapi tikus-tikus itu malah menghampiri Beh Sarmud sambil mengerdipkan sebelah matanya. Entah benar atau tidak, yang diomongkan Si Buruy itu. Ah, mengapa saya harus memikirkan hal itu? Yang penting, bagaimana saya membuat tikus-tikus itu lari? Begitulah yang ada dalam pikiran saya saat itu.

Dari sekian ratus peserta casting, tidak ada seorang pun yang bisa membuat tikus-tikus ketakutan. Tikus-tikus tampak cuek saja, dengan wajah tanpa dosa. Bahkan ada beberapa orang peserta, yang justru dikejar-kejar sama tikus itu. Tidak heran, kalau puluhan peserta lainnya banyak yang memilih untuk mengundurkan diri. Saya pun agak pesimis juga. Masalahnya, saya akui bahwa wajah saya kurang cocok untuk menakut-nakuti tikus. Diam-diam saya jadi menyesal, kenapa wajah saya sangat ganteng? Seandainya saya jadi Si Sarkowi, pasti saya bisa lulus dalam casting itu. Buktinya, di rumah saya sangat aman dari serangan atau godaan tikus yang terkutuk. Tak ada seekor tikus pun yang berani masuk ke dalam rumah, karena setiap sudut ruangan telah dipasangi potret Si Sarkowi.

Para hadirin dan hadirot peminat korupsi, tentunya semua akan mengira, bahwa saya pun gagal dalam casting itu. Betul sekali, saudaraku. Saat itu, singkat ceritanya, saya kemudian masuk ke ruangan casting, untuk mendaptarkan diri. Aneh bin ajaib, ketika tikus-tikus melihat wajah saya, semua tikus seperti yang merasa kaget dan serentak berhamburan melarikan diri. Ada yang tersangkut tali gordeng, ada juga yang tidak sempat lari. Tikus-tikus itu menggigil ketakutan sambil melihat ke arah saya. Yang tersangkut tali gordeng, langsung pingsan, dan segera dilarikan ke rumah sakit.

Kesimpulannya, tak ada yang dapat meragukan lagi, bahwa saya telah membuat tikus-tikus ketakutan. Namun bukan berarti saya lulus casting  untuk kemudian menjadi model iklan. Yang terjadi adalah sebaliknya. Saya malah didenda dan dinyatakan tidak berhak mengikuti casting,  dengan alasan yang kurang dimengerti. Saya dituduh mencuri star casting.

Ya, begitulah adanya. Harapan saya untuk menjadi bintang iklan obat tikus, akhirnya harus pupus di tengah jalan. Saya pun prustasi, dan memutuskan untuk banting setir; tidak lagi bercita-cita menjadi seorang artis atau model apapun. Keputusan saya sudah bulat, tak bisa diganggu- gugat lagi. Selanjutnya saya meniti karir menjadi seorang koruptor. Tak usah diceritakan bagaimana sepak terjang saya, karena semuanya pasti sudah sangat tahu. Yang pasti, saya telah sampai pada saat yang sangat mengharukan ini. Betapa sedihnya saya. Betapa bahagianya saya. Tidak sia-sia, saya melalui berbagai rintangan dan cobaan yang tiada surutnya. Saya telah berhasil mendapatkan anugerah  The Corruption Award. Maaf, saya mau menangis sebentar.

Seperti yang telah saya sampaikan tadi, bahwa keberhasilan saya ini, tidak lepas dari dorongan, bantuan, serta partisipasi kawan-kawan saya. Maka dari itu… sudah sepantasnya, sudah selayaknya, sudah semestinya, jika anugerah ini saya hadiahkan kepada salah seorang diantaranya. Kawan-kawan saya tercinta, siapakah di antara kalian yang ingin mendapatkan anugerah ini?

Para hadirin dan hadirot yang saya cintai dengan istimewa, begitu banyak kawan-kawan saya yang menginginkan anugerah ini. Bahkan ada di antaranya, yang sanggup menebusnya dengan millyaran uang. Tapi saya tidak tertarik, karena uang saya sudah sangat berlimpah. Kecuali seseorang yang menawarkan untuk barter dengan istrinya, saya sedang mempertimbangkan. Cantik sih…Tapi itu tidak mungkin! Saya tidak boleh merebut istri orang, dosa. Tapi… bagaimana dengan Neng Lina ya? Ah, Neng Lina kan mantan pacar saya.

Hadirin dan hadirot, Saya benar-benar kebingungan untuk memilih salah satu di antara kawan saya. Tapi apapun yang terjadi, saya tetap akan memberikan anugerah ini kepada seseorang. Siapa ya? Ah, saya tidak perlu menyebutkan namanya. Saya cukup memaparkan kriterianya. Tapi… tidak perlu juga tampaknya. Yang pasti, anugerah ini akan diberikan kepada kawan saya yang selama ini sangat setia menemani dan membantu berbagai kesulitan saya.  No, no… tidak juga. Buat apa memberi orang yang sudah setia? Lebih baik saya berikan kepada kawan saya, yang justru kurang setia, agar dia menjadi setia. Cukup logis dan bijaksana, bukan?

Ya, ya ya…anugerah ini, akan saya berikan kepada kawan saya yang kurang setia. Terimalah kawan, anugerah ini sangat berharga. Saya telah bersusah-payah untuk mendapatkannya. Anugrah ini adalah… hukuman mati!

Dor…. dor…. dor…! ***

 

Ranggon Panyileukan, 1424 H

 

 

DOWNLOAD NASKAH AKI

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>