Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 03-10-2007 |

Oleh FITRI SULASTRI

DARI hari ke hari, terasa begitu membosankan. Sama sekali tak ada perubahan yang berarti. Si Burhan yang setiap pagi kerjaannya cuma nongkrong (tak lupa sebelumnya ngebon dulu rokok dan air kopi ke warung Bi Darti). Mang Omad yang sejak beduk subuh, sudah menawarkan dagangan bubur ayamnya. Si Marni yang baru pulang dari pabrik. Bi Ocih yang tiada hentinya bertengkar dengan suaminya. Kang Obay yang baru pulang dengan badannya yang terlihat begitu lesu, sebab judinya kalah lagi. Si Kurdi pun sebagaimana biasanya, setiap subuh tak pernah lupa untuk ngintip Neng Sinta yang (kabarnya) suka mandi sambil berdiri.

Rutinitas yang membosankan. Orang-orang di kontrakan ini terlena dalam kehidupannya masing-masing. Yang bekerja di pabrik. Pegawai negeri. Tukang jamu. Mahasiswa. Tukang rental komputer. Tukang nongkrong. Ada juga yang hobinya berdandan seperti Neng Sinta. Atau yang lebih membisingkan lagi; gelak tawa Si Mamih (panggilan akrab pemilik kontrakan) yang kerasnya melebihi volume radio yang kumiliki.

Aku sangat mengenal orang-orang yang tinggal di Asrama Tanis ini. Bahkan aku juga tahu persis pada semua tingkah laku seluruh penghuninya. Wajar sekali, sebab aku jarang keluar dari lingkungan asrama ini. Entahlah, yang pasti aku lebih betah tinggal di dalam kamar. Dan akibat dari jarangnya keluar, aku jadi merasa malu jika sekali waktu harus keluar dari dalam kamar. Apalagi kalau Si Kurdi sudah mulai menggodaku dengan sangat menyebalkan. Huh…! Kelakuannya sungguh memuakan. Ingin rasanya kupentung saja hidungnya yang sebaliknya dari mancung itu. Jangan-jangan Si Kurdi juga suka mengintipku, kalau aku sedang mandi. Kendati bukan masalah itu yang membuatku jadi naik pitam, melainkan kelakuannya yang sudah hampir melewati batas dan sangat kurang ajar. Bayangkan saja, dia pernah menyapaku sambil mencolek pantatku seenaknya. Keterlaluan.

“Kelihatannya semakin montok aja Neng Asih ini. Suka minum jamu, ya?” begitu yang dikatakan oleh Si Kurdi sambil tertawa cengengesan. Rasanya aku ingin muntah melihatnya.

Memang benar jika Si Ayu (tukang jamu) suka masuk ke dalam kamarku. Tapi aku tidak pernah membeli jamu napsu makan atau jamu yang merangsang kemontokan tubuh. Paling-paling hanya membeli jamu telat bulan, atau lulur wajah, agar wajahku terlihat lebih cerah. Dan tak dapat kupungkiri, bahwa aku pun kurang suka pada Si Ayu. Bukan apa-apa. Hanya saja Si Ayu susah sekali untuk beranjak dari dalam kamarku. Dia suka ngajak ngobrol kesana-kemari tiada menentu. Sampai pada akhirnya, dia juga menanyakan urusanku yang sangat pribadi.

“Kalau Neng Asih itu, sudah kerja?” mula-mula hal itu yang ditanyakannya.

“Be…belum. Saya masih kuliah,” jawabku dengan sedikit gugup.

“Kenapa jarang keluar dari kamar? Kapan sih kuliahnya?” pertanyaannya bertambagh lagi.

“Kebetulan saja saat ini sedang libur,”

“Sudah punya pacar atau belum?”

“Belum,”

“Kok, Neng Asih kalah sama Neng Sinta. Tiap hari Neng Sinta ada yang ngejemput pake mobil,”

“Tidak apa-apa. Itu kan Neng Sinta,” jawabku tanpa mengacuhkannya.

“Apa Neng Asih belum berpikir ke arah sana?” Si Ayu semakin berani dengan pertanyaannya yang sangat memusingkan kepala. Kalau menuruti emosi, ingin rasanya kutampar saja pipi Si Ayu itu, dan kubantingkan pintu kamar dengan sekeras-kerasnya.

Satu-satunya yang bersikap agak mendingan adalah Mang Ohim, penjual rujak. Dia tidak suka banyak tanya. Dan Mang Ohim juga tidak banyak bicara, walaupun setiap hari aku selalu memesan rujak kepadanya. Hanya sorot matanya saja yang mungkin mengandung suatu kepenasaran. Hal itu disebabkan karena sebelumnya aku tidak suka makan rujak.

Tidak terasa. Siang dan malam begitu cepat bergulir dan silih berganti. Detik-detik melaju menyekap jiwaku. Walaupun suasana di Asrama Tanis tidak ada yang berubah. Para penghuninya semakin terlena dalam pelukan asrama ini. Neng Sinta kian bangga pada kedua pahanya yang mulus, dengan rok pendeknya. Si Omad (ada kemajuan sedikit), sekarang nongkrongnya sambil minum air kopi. Sepasang matanya hampir tiada henti memperhatikan keadaan sekeliling Asrama Tanis, seakan ingin menghitung jumlah kamar, atau mungkin sandal-sandal yang berserakan di depan pintu kamar. Aku pun terkadang merasa lucu dan geli. Kabarnya Si Omad itu mulai punya kebiasaan nongkrong, sejak ditinggalkan oleh istrinya yang selingkuh.

Si Mamih sepertinya tidak suka memikirkan tentang siapa dan orang mana yang menjadi penghuni kontrakannya. Baginya yang penting adalah uang setoran kontrakan tidak telat atau tidak tekor. Selain dari itu, semuanya serba bebas. Tentu saja Neng Sinta lebih bebas, dan (kabarnya) suka mengajak laki-laki untuk menginap di rumahnya. Mau apa lagi, kalau bukan mau begitu. Sayang sekali. Padahal Neng Sinta adalah gadis yang sangat cantik.

Hanya kenal sepintas saja dengan Neng Sinta itu. Pernah suatu kali ngobrol agak panjang lebar, ketika aku mau meminjam strika. Kebetulan hari itu Neng Sinta tidak sedang ke luar. Dan aku pun diajaknya untuk masuk ke dalam kamar Neng Sinta. “Kita ngerumpi, yu!” begitu katanya sambil menarik pergelangan tanganku.

Masuk ke dalam kamar Neng Sinta, membuatku tertegun beberapa saat. Betapa tidak? keadaan kamarnya sangat jauh berbeda dengan kamarku. Di kamarnya penuh dengan perabotan yang bagus dan pasti harganya sangat mahal. Dari mulai televisi, komputer, sampai kulkas, semuanya ada di kamar Neng Sinta. Padahal setahuku, Neng Sinta itu belum bersuami. Tapi mungkin saja dikarenakan pekerjaan Neng Sinta jadi sekretaris. Gajihnya pasti besar. Tidak sepertiku, yang hanya mengandalkan uang kiriman dari orang tua di kampung.

“Cuek aja, yah…” kata Neng Sinta sambil mengunci pintu.

Menurut pengakuannya, Neng Sinta itu aslinya dari Tasikmalaya. Merantau ke Bandung sejak tiga tahun yang lalu. Selanjutnya ia pun menanyakan tentang asal-usulku. Sepertinya Neng Sinta tidak percaya, ketika aku mengatakan masih kuliah.

“Dari pada kuliah, mendingan kerja aja!” katanya sambil tersenyum. Tapi aku merasakan suatu keanehan dalam tatapan matanya yang memandangku begitu tajam.

“Gerah, yah…” kata Neng Sinta lagi (sambil tanpa ragu-ragu) membuka baju dan celana panjangnya. Diganti oleh short yang begitu ketat, membentuk tubuh biolanya. Walau aku sama-sama wanita, tetap saja aku memejamkan mata. Bahkan selanjutnya Neng Sinta mengajakku untuk nonton VCD. Sebuah film yang membuatku merasa malu untuk menyaksikannya.

“Ini asli orang Indonesia. Lihat saja wajah pemainnya! Sering lihat kan?” kata Neng Sinta sambil (tiba-tiba) tangannya menyentuh pundakku. Bahkan ia meraba bagian bawah, diiringi oleh dengusan napasnya yang mulai tak beraturan. Tentu saja aku sangat kaget. Tangannya dihempaskan, dan aku cepat-cepat keluar dari kamar tersebut.

Sejak itulah aku tidak berani lagi mendekati Neng Sinta. Tapi Si Mamih dan Si Marni (pegawai pabrik) itu, malah semakin akrab dengan Neng Sinta. Dan aku semakin heran dengan kelakuan Si Marni. Dia selalu pesan buah nenas yang masih muda. Entah untuk apa. Yang pasti, kelihatannya menjadi makanan primer.

Si Marni juga termasuk wanita yang cantik. Tak jauh berbeda dengan Neng Sinta, hanya kulitnya saja yang kalah putih. Membuat Si Kurdi pun sering menelan air liurnya, kalau kebetulan melihat Si Marni keluar dari kamar.

Berbeda dengan cerita Bi Ocih. Sekali waktu (ketika baru selesai bertengkar dengan suaminya), Bi Ocih mengungsi ke kamarku. Kamar nomor 21.

“Neng Asih, maap yah, bibi mau numpang tidur di sini,” kata Bi Ocih sambil terisak-isak.

“Silahkan saja, Bi. Emangnya kenapa bibi ini?”

“Ah, biasa, Si Kunyuk! Anak sudah punya dua, masih suka main sama lonte. Bayangin aja sama Neng Asih, bagaimana Bibi tidak akan sakit hati jika Si Kunyuk berpacaran lagi. Bahkan ada kabar, pacarnya yang ini mau dikawinnya!”

“Memangnya Bi Ocih tidak dinikahi?” mendegar pertanyaanku, sejenak Bi Ocih tertegun. Seperti yang ragu-ragu untuk menjawabnya.

“Yah, begitulah. Bibi memang penuh dengan dosa. Tapi awas, jangan bilang sama siapa-siapa. Selama belasan tahun, bibi hidup dengannya tanpa ada ikatan tali pernikahan. Hal ini diakibatkan karena kedua orang tua bibi yang tidak setuju dengan pernikahanku. Akhirnya bibi nekat untuk kawin lari, dan sampai pada waktu ini pun, bibi belum kembali ke kampung!”

Macam-macam saja kelakuan penghuni asrama Tanis ini. Sampai-sampai bulu kudukku merinding, dan beberapa kali mengucapkan Istighpar. Aku pun menyarankan agar Bi Ocih segera ke KUA untuk meresmikan pernikahannya.

“Iya, bibi juga pingin begitu. Tapi keinginan Si Kunyuk itu sekarang jadi lain lagi…” jawab Bi Ocih sambil meneteskan air matanya.

*

Penghuni Asrama Tanis semakin terlena dalam kehidupannya masing-masing. Si Burhan pekerjaannya tidak berubah, nongkrong sambil merokok dan minum kopi. Hutang-hutangnya ke warung Bi Darti semakin menggunung. Neng Sinta semakin seksi. Bi Ocih berpisah dengan ’suaminya’. Si Marni berhenti dari pekerjaannya di pabrik, sebab ada yang mengajaknya bekerja di diskotik. Si Ayu semakin cerewet. Sedangkan Si Kurdi sudah berhenti dari kebiasaan ngintipnya, sebab sudah bisa membeli VCD player.

Saat ini aku sedang sakit. Sudah dua bulan lamanya aku tidak berani keluar dari kamar. Makanan pun suka dikirim oleh Si Neneng, anaknya Bi Darti yang sudah perawan. Jika mau ke kamar mandi, aku harus menunggu sampai datangnya malam hari. Keadaan di kamar ini terasa sangat sepi dan mencekam. Buku-buku, jam beker, tempat tidur, radio, semuanya menjadi bisu dan tak bisa bersuara. Tiap malam, kupandangi bulan yang warnanya pucat pasi beserta bintang-bintang yang samar. Baju-baju semakin sempit dalam tubuhku.

Malam ini, bulan sudah tidak datang sama sekali. Penyakitku kian parah. Tak kuasa aku menahannya. Mata terpejam. Keringat membanjiri seluruh tubuhku. Kutarik napas. Kucoba untuk mengerahkan sisa-sisa kekuatanku. Sekujur tubuh menjadi letih, hampir tiada berdaya lagi. Sedangkan para penghuni Asrama Tanis sepertinya sedang terlena dalam mimpi-mimpinya. Sehingga ketika aku keluar dari kamar, tak ada seorang pun yang mengetahuinya. Dengan langkah yang tersendat-sendat, kulewati kamar Bi Ocih. Kamar Si Marni. kamar Neng Sinta, kamar Si Kurdi, kamar Si Mamih. Semuanya kamar telah terlewati. Mengantarkan langkahku ke jalan raya yang masih diselimuti oleh belenggu sepi. Langkah-langkahku yang penuh keraguan dan hampir surut ditelan prahara.

Esoknya, ketika aku sedang menunggu bis kota di terminal, mendadak pikiranku teringat kepada Si Mardud Jahanam. Wajahnya rupawan, tapi hatinya adalah setan. Si Jahanam yang saat ini entah di mana. Sesudah sekian lamanya pernah tinggal di kamar kontrakanku. Si Jahanam yang kabur, meninggalkan beban noda dalam diriku.

“Koran, Teh?” kata seorang anak, sambil menyodorkan dagangan korannya. Mulanya aku tidak berminat membeli koran. Namun untuk mengisi waktu (sambil menunggu bis kota) sepertinya lebih baik bila digunakan untuk membaca. Daripada melamun yang tidak karuan. Aku membeli sebuah koran harian.

Tiba-tiba sekujur tubuhku bergetar dengan hebatnya. Rasa khawatir, takut, benci, dan berbagai rasa lainnya merasuki jiwaku. Semuanya berbaur menjadi satu. Tetapi kucoba untuk menenangkan diriku. Di halaman pertama surat kabar, tertera judul berita utama Bayi tak dikenal mati di dalam lemari, di Asrama Tanis, kamar Nomor 21.***

Judul Asli : Asmaranirca (Cerpen Sunda Terbaik (pinilih) Majalah Mangle, Maret 2001.

Diterjemahkan dari Bahasa Sunda oleh NURMAYA KANCANA.

Dimuat di Majalah Seni Budaya No. 144, Oktober 2003