Kategori: Sosok | Diterbitkan pada: 03-10-2007 |
Oleh DHIPA GALUH PURBA
SEBUT saja namanya Asep Berlian (30). Seorang seniman lukis Bandung, yang cakap melukis jenis lukisan Ekspresionisme, abstrak, kaligrafi, hubisme, impresionisme, dan naturaslisme. Lukisannya pernah ditukar dengan mobil jip, land rover, motor cross, dsb. Dan berkat lukisannya pula, Asep berkesempatan melanglang mancanegara. Dari mulai Germanny, Belanda, Australia dan lain-lain. Berbagai pengalaman telah banyak ditemuinya, baik kenangan manis, atau pun kenangan pahit. Contohnya ketika suatu kali Asep sedang mengadakan pameran lukisan di Monash University Australia, ada enam orang pemuda Australia yang menginjak-injak instalansi bendera Merah Putih. Tentu saja Asep marah. Hampir saja terjadi pertengkaran, kalau tidak ada yang melerainya.
Nama lengkapnya adalah R. Asep Hermawan Berlian Sima Anggana Kusumah. Lahir di Bandung, 5 Juli 1972. Putra bungsu dari pasangan Ibu R. Saudah dan Bapa. R. Itang Cece (lurah dago taun 50-an). Selain melukis, kesehariannya banyak dihabiskan untuk membaca buku, karena Asep memang termasuk seorang “kutu buku”.
Sejak kecil memang sudah berbakat untuk menjadi seorang seniman. Waktu sekolah di SDN Ciujung 2 Bandung, Asep sering menjadi juara dalam berbagai perlombaan. Terlebih lagi, ketika melanjutkan sekolah ke SMP Muhammiyah 3 Bandung, bakat dan kemampuannya dalam berkesenian semakin nampak. Asep melanjutkan sekolahnya ke SMA PGII. Lalu ke ITB Seni rupa & UNPAS : Fisip (Hubungan Internasional). Pernah juga menjadi seniman tamu di Khosule Kunshuler Karlsruhe, Berlin Germany selama satu tahun. Kemudian di Monash University Mealbourne, Australia.
Bujang yang menguasai Bahasa Inggris, german, Sunda, dan Indonesia ini mengawali karirnya dengan perjuangan yang begitu gigih. Sebelum terjun ke dunia melukis, Asep pernah berjualan es, menjadi kernet angkot, dsb. Namun lama-kelamaan Asep nekat untuk berguru melukis. Menurut pengakuannya, ada beberapa orang pelukis yang menjadi gurunya, baik secara langsung atau pun tidak langsung, yakni Prof. Sadali, Barli, Rd. Rudiyat, Tisna Sanjaya, Rd. Saleh, Ida Bagus Made Poleng/bali. Termasuk dua pelukis dari luar negeri, seperti Picasso, Prof. Taka (Jepang), Rembran (Belanda), dsb. Lukisan Asep pun banyak dipengaruhi oleh para pelukis tersebut.
Asep juga suka menulis syair puisi. Bermula gara-gara ditolak cinta oleh seorang mojang Arab Saudi, maka Asep mulai menebar kata demi kata hingga menjadi sebuah puisi. Namun Asep mengakui, bahwa puisinya banyak dipengaruhi oleh gaya penyair Taufik Ismail, Rendra, Ikranagara, Rabit Dranatogare, Khalil Gibran, Bu Otih, dan Kang Ibing.
Memang untuk menceritakan perjalanan Asep Berlian, membutuhkan lahan yang banyak. Yang pasti, pelukis yang (bertekad) untuk tidak pernah meninggalkan solat & melaksanakan saum senin-kemis ini, banyak sekali propesinya; Pelukis, Penyair, Pelawak, bahkan menjadi seorang dai. Jika ada yang masih belum puas dengan tulisan ini, silahkan langsung saja menghubungi e-mailnya: asep_berlian@yahoo.com.***
Dimuat di Majalah Seni Budaya No. 142, Agustus 2003







