Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 07-01-2010 |
KOMPAS JABAR, SELASA, 05 JANUARI 2010
Oleh Dhipa Galuh Purba
Jam karet, tulis tonggong, dan kemalasan turut dibudayakan dalam acara penyematan Anugerah Budaya Kota Bandung 2009 yang berlangsung di Grand Pasundan Hotel,
Sepertinya panitia pelaksana acara tersebut tidak menyadari betapa pentingnya menghargai suatu kebudayaan. Penyematan anugerah budaya merupakan penghargaan bagi sosok yang telah berjuang dalam menanamkan nilai-nilai kebudayaan di tengah masyarakat.
Hal pertama, panitia menyebarkan undangan untuk acara penyerahan anugerah tersebut pada pukul 19.00. Namun, tanpa alasan apa pun, acara baru dimulai pada pukul 20.45. Jam karet sudah membudaya, tetapi sangat tidak patut untuk dibudayakan. Padahal, meski saat itu Kota Bandung diguyur hujan, tidak menyurutkan tamu undangan dan wartawan untuk hadir tepat waktu.
Dan, lebih memprihatinkan lagi ketika tidak ada sepatah kata permohonan maaf dari panitia atas molornya acara tersebut selama hampir dua jam. Padahal, mengakui kesalahan dan memohon maaf merupakan suatu sikap yang sangat baik untuk dibudayakan, terlebih dalam acara penyematan anugerah budaya.
Tayangan multimedia
Hal kedua, di kiri-kanan panggung acara terbentang dua layar lebar. Itu tentu dipersiapkan untuk penayangan multimedia, seperti halnya pada acara anugerah budaya tahun-tahun sebelumnya. Penayangan multimedia yang menggambarkan profil para tokoh penerima anugerah budaya turut membantu mengenalkan dan menegaskan bahwa mereka sangat layak menerima anugerah budaya. Dan, yang lebih penting, penayangan multimedia tentang para tokoh penerima anugerah menunjukkan keseriusan panitia dalam menindaklanjuti rekomendasi dari dewan juri anugerah budaya.
Namun, tayangan multimedia itu tidak ada. Dalam bentangan layar hanya terpampang foto kecil dan deretan huruf yang tidak begitu jelas, dengan menggunakan aplikasi MS Word. Kursor berlari ke
Anehnya, dalam rengrengan panitia, sebagaimana terdapat dalam buku panduan anugerah budaya, tercantum nama Dadan Sutisna sebagai seksi multimedia. Saya tidak percaya, tayangan-tayangan di layar merupakan hasil karya Dadan. Sebab, saya sering menyaksikan hasil karya multimedia Dadan yang cukup berkualitas.
Maka, saya langsung mengonfirmasi Dadan melalui SMS. Dadan menjawab tidak tahu-menahu tentang masalah multimedia pada acara tersebut. Jadi, inilah yang dimaksud dengan tulis tonggong, menuliskan nama orang tanpa memberitahukan orang yang bersangkutan.

Foto tokoh
Hal ketiga merupakan yang paling parah karena jelas menunjukkan kemalasan panitia pelaksana. Silakan buka buku panduan Anugerah Budaya Kota Bandung 2009 halaman 25-27. Halaman tersebut memuat dokumentasi para tokoh yang pernah menerima anugerah budaya sejak 2006.
Panitia tidak mampu mendapatkan foto Detty Kurnia, Gugum Gumbira Tirasonjaya, Herry Dimyati, Iwan Abdulrachman, Rachmat Hidayat, Yus Rusyana, Bandung Heritage, Teater Sunda Kiwari, Studio Tari Indra, dan Perpustakaan Dody Tisnaamidjaja. Padahal, tokoh dan lembaga tersebut masih eksis. Untuk sekadar mendapatkan fotonya, mencari di internet pun tidak akan sulit.
Kemalasan panitia pun dapat terlihat pula dalam profil Ibu Iyar Wiarsih, salah satu peraih Anugerah Budaya Kota Bandung 2009, dan satu-satunya profil yang tidak disertai foto. Ibu Iyar atau Mamah Iyar adalah tokoh legendaris yang foto-fotonya bisa diunduh di internet atau diambil di media
Semoga anugerah budaya pada tahun selanjutnya dapat disertai dengan kinerja panitia yang berbudaya pula-menapaki nilai-nilai budaya yang telah ditanamkan para tokoh dan atau lembaga yang mendapatkan anugerah budaya. Akhirnya, saya mengucapkan selamat kepada Kang Ibing, Hendarso, Jeihan Sukmantoro, Purwacaraka, Mamah Iyar, dan Endo Suanda yang menerima Anugerah Budaya Kota Bandung 2009.








Beu…!
Asa Ka cida…pisan, euweuh mendingna batan kalakuan Si Kabayan…., Boa Heueh!!