Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 24-05-2009 |


Oleh  Hernowo

 

            Pada awal Januari 2007, saya mencoba membuat sebuah buku dengan cara memanfaatkan isu yang sedang hangat yang dimunculkan oleh sebuah buku. Buku yang memunculkan isu dan membuat laris buku itu adalah novel karya Dan Brown, The Da Vinci Code. Majalah Gatra, ketika buku Dan Brown itu sedang laris-larisnya di Indonesia, menyebut buku Brown itu sebagai buku yang paling sensasional. Berpijak pada kehebohan buku tersebutlah saya—dengan nama pena, Khulqi Rashid—membuat buku dengan judul Al-Quran Bukan Da Vinci’s Code.

            Isu yang saya angkat tentu bukan kisah yang ada di dalam buku Dan Brown. Buku yang saya ciptakan pun bukan buku fiksi sebagaimana karya Dan Brown. Dalam Al-Quran Bukan Da Vinci’s Code, saya mengangkat sebuah temuan menghebohkan di Masjid Agung San’a di Yaman pada tahun 1972. Ketika masjid tersebut sedang direstorasi, para kuli bangunan yang bekerja di antara struktur bagian dalam dan luar atap, tanpa sengaja menemukan sebuah kuburan. Dari kuburan itulah kemudian ditemukan manuskrip kuno Al-Quran.

            Temuan itu kemudian dimanfaatkan oleh Toby Lester untuk menulis sebuah artikel yang kemudian dimuat di jurnal The Atlantic Monthly edisi Januari 1999, dengan judul “What is the Koran?” Pihak pengelola jurnal rupanya mencium sensasi artikel karya Lester ini dan kemudian secara atraktif memajangnya di sampul depan sehingga memancing tanggapan pelbagai pihak. Artikel Lester, tentu saja memancing banyak tanggapan dari perlbagai pihak—salah satunya seorang penulis banyak buku tasawuf dan filsafat Islam, S.H. Nasr—karena isinya diarahkan untuk menggugat keautentikan Al-Quran.

            Nah, buku saya, Al-Quran Bukan Da Vinci’s Code, membahas isu gugatan tersebut dan berupaya menyampaikan-kembali pokok pikiran para tokoh Islam—khususnya para tokoh yang ahli akan Kitab Suci Al-Quran—terkait dengan keautentikan Al-Quran. Tidak berhenti di situ, saya pun melakukan studi kepustakaan untuk mengumpulkan bangunan peradaban agung nan mulia sebagai hasil pengejewantahan pesan-pesan yang tercantum di dalam Al-Quran. Tulisan yang sedang pembaca hadapi ini merupakan tulisan yang saya angkat dari sebuah bab di buku saya, Al-Quran Bukan Da Vinci’s Code. Saya mencuplik langsung beberapa materi dan menambah materi-materi penting lain yang saya anggap penting untuk diketahui saat ini.

 

Al-Quran yang Menginspirasi Banyak Orang

            Kitab Suci Al-Quran tidak hanya mendorong para pembacanya untuk melahirkan buku-buku yang terkait dengan tafsir Al-Quran. Al-Quran terbukti telah mendorong banyak sekali orang, khususnya para penulis, untuk membahas asbabun-nuzul, kaligrafi, keajaiban, terjemahan, sejarah ataupun ‘ulum Al-Quran untuk menyebut beberapa contoh. Buku tentang tafsir Al-Quran pun tidak stagnan, tetapi terus berkembang dari zaman ke zaman. Abdullah Daraz, sebagaimana dikutip oleh Muhammad Quraish Shihab dalam “Membumikan” Al-Quran, pernah berkata, “Al-Quran bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut yang lain. Tidak mustahil jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, maka dia akan melihat lebih banyak daripada apa yang Anda lihat.”

       Ustad Quraish sendiri, dalam bukunya yang lain, Menabur Pesan Ilahi, secara menarik menunjukkan bahwa banyaknya para penulis yang kemudian menulis tentang Al-Quran merupakan bukti bahwa Al-Quran “dijaga” dengan baik oleh umat Islam. “Bagi umat Islam,” tulis Ustad Quraish, “keyakinan atas keautentikan Al-Quran tidak saja karena didukung oleh fakta-fakta sejarah yang sangat meyakinkan, tetapi juga karena adanya pemeliharaan Allah sesuai firman-Nya dalam Surah Al-Hijr (15): 9. Dari sini, dapat dipahami bahwa Allah Swt. menciptakan dorongan dan sarana bagi sekian banyak manusia untuk menghafal dan mempelajari Al-Quran sehingga apabila terjadi kekeliruan membaca atau menulisnya, pastilah akan ada yang tampil meluruskan kesalahan dan kekeliruan itu. Memang, tidak ada satu kitab pun yang dikenal oleh umat manusia, sejak dahulu hingga kini, yang memperoleh perhatian sedemikian besar sebagaimana Al-Quran. Ia dihafal, bahkan dibaca dengan sangat baik, walau oleh mereka yang bahasa ibunya bukan bahasa Al-Quran. Belum lagi aneka upaya untuk menafsirkan dan memahami artinya yang melahirkan jutaan jilid buku sepanjang masa.”

       “Al-Quran sesungguhnya merupakan kawan yang indah dan agung,” demikian tertulis dalam sebuah pengantar untuk buku karya Profesor Mahmud Ayub tentang Al-Quran, Qur’an dan Para Penafsirnya. Profesor Mahmud Ayub—yang lahir di Lebanon Selatan pada 1935—adalah seorang Guru Besar dalam Kajian Islam di Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat. Karyanya tentang Al-Quran dalam edisi berbahasa Inggris ini dimaksudkan untuk mengungkapkan makna Al-Quran bagi para pembaca Barat, para peneliti Islam, dan kaum Muslim yang tidak berbahasa Arab. Lewat buku Qur’an dan Para Penafsirnya, kita diperkenalkan dengan keragaman dan kekayaan luar biasa terkait dengan buku tafsir Al-Quran dari masa ke masa.

       Sebagai contoh, menurut Profesor Mahmud Ayub, tafsir karya Jarir Ath-Thabari ibn Muhammad, Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayat Al-Qur’an, merupakan karya utama yang pertama dalam perkembangan ilmu-ilmu Al-Quran tradisional. Tafsir Ath-Thabari ini membahas seluruh hadis tafsir secara kritis dan dengan keterampilan dan pengetahuan yang baik. Ia menjadi sumber hadis yang sangat perlu, dan Ath-Thabari masih menambahkan pula pandangannya, kritiknya, penilaiannya, serta analisisnya terhadap berbagai riwayat. Komentar-komentarnya menjadi hal yang penting dalam sejarah ilmu ini.

       Hampir semua ahli setelah dia sangat bergantung pada karyanya dan telah pula menyatakan utang mereka kepadanya. Ath-Thabari tidak hanya menuturkan dan menganalisis hadis, tetapi juga membahas, bila diperlukan, perbedaan pembacaan dan hal-hal mengenai tata bahasa agar dapat menguraikan arti dan tujuan suatu ayat. ”Ini adalah buku yang berisi segala yang diperlukan orang (mengenai penafsiran Al-Quran),” tulis Ath-Thabari mengenai karyanya. ”Ia demikian lengkap sehingga tidak diperlukan buku-buku lain. Kami mencantumkan di dalamnya berbagai dalil untuk perbedaan paham yang mencapai kesepakatan dan perbedaan yang terus bertahan. Kami menyajikan alasan-alasan setiap mazhab atau pendapat serta menguraikan apa yang kami anggap pandangan yang benar secara terus-menerus.”

       Setelah menguraikan karya Ath-Thabari, Profesor Mahmud Ayub kemudian menunjukkan tafsir yang berorientasi pada filsafat yang paling terkenal. Tafsir tersebut adalah karya Fakhruddin Ar-Razi. Ar-Razi merupakan salah seorang yang paling terpelajar dan paling cemerlang dalam sejarah Islam. Dia disebut-sebut pernah menjadi ”salah seorang yang diutus pada awal abad ketujuh untuk memperbarui agama”. Pada umumnya dipercaya bahwa Ar-Razi meninggal sebelum menyelesaikan tafsir besarnya yang dikenal dengan At-Tafsir Al-Mahir tetapi lebih sering disebut Mafatih Al-Ghaib. Karyanya itu diselesaikan oleh salah seorang murid Ar-Razi yang telah mengikuti metodologi dan idiom pendahulunya sedemikian tepatnya sehingga tidak dapat dibedakan antara gaya keduanya.

       Tafsir Ar-Razi sangat sulit karena dua alasan. Pertama, Ar-Razi adalah seorang filsuf cemerlang dan bukan seorang ahli agama. Dia memulai pendapatnya dari ayat-ayat dengan cara yang rumit. Di samping itu, dia melibatkan gaya yang terdiri dari berlapis-lapis pendapat dan sanggahan dan sering tidak mencapai kesimpulan apa pun. Kedua, dia juga bergerak begitu jauh dari masalahnya sehingga kita bisa tersasar dalam pertentangan filsafat dan teologi dan terlepas dari apa yang disebut tafsir. Dikatakan bahwa Mafatih Al-Ghaib karya Ar-Razi ”berisi segalanya kecuali tafsir”. Namun, karya Ar-Razi ini merupakan sebuah karya tafsir yang unik dan terpelajar yang mewakili ragam jenis karya agama mengenai Al-Quran.

       Tentu, kita masih dapat menderetkan buku-buku tentang tafsir Al-Quran selain karya Ath-Thabari dan Ar-Razi. Buku-buku tentang tafsir Al-Quran itu pun kebanyakan ditulis bukan hanya terdiri atas satu atau dua jilid. Buku-buku tentang tafsir Al-Quran ditulis oleh para penulisnya dalam berjilid-jilid buku. Profesor Mahmud Ayub, dalam Bab ”Pendahuluan” bukunya, memetakan secara cukup komprehensif pelbagai ragam buku tafsir Al-Quran sejak awal mula hingga yang paling mutakhir. Misalnya dari mazhab Maliki muncul Muhammad ibn Ahmad Abu Abdillah Al-Qurthubi yang menulis tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an. Lalu dari kalangan Mu’tazilah muncul tafsir A-Kasysyaf an Haqa’iq At-Tanzil wa ’Uyun Al-Aqawil fi Wujuh At-Ta’wil karya Abul Qasim Jarullah Mahmud ibn Umar Az-Zamakhsyari.

       Dari kalangan sufi muncul Nizhamuddin Al-Hasan ibn Muhammad ibnul Husain Al-Qummi An-Nisaburi yang menulis tafsir Gharaib Al-Qur’an wa Raghaib Al-Furqan. Selain An-Nisaburi, Tafsir Al-Qur’an Al-Karim karya Muhyiddin ibn Arabi juga disebut-sebut sebagai tafsir dari kalangan sufi. Dari kalangan mazhab Syi’ah muncul sebuah tafsir yang ditujukan untuk kaum intelektual muda Syi’ah karya Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i, Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an. Sementara dari kalangan Sunni—untuk mengambil sebuah contoh—muncul sebuah tafsir yang berasal dari seorang pemikir asal Mesir dan tokoh penting Al-Ikhwan Al-Muslimun, Sayyid Quthb, dengan judul indah, Fi Zhilal Al-Qur’an. Dari Indonesia tentu ada banyak sekali buku tafsir. Kita bisa menyebut karya Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar, dan karya Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah.

Benar sekali apa yang disampaikan oleh Al-Quran ini: Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (QS Al-Kahfi [18]: 109).

 

Menjadi ”Ahl Al-Kitab” dalam Arti yang Sebenar-benarnya

Peradaban buku atau peradaban baca-tulis adalah peradaban yang sangat tinggi. Sejarah telah membuktikan hal itu. Dan Al-Quran, sebagaimana diamati oleh Martin Lings, telah mendorong lahirnya peradaban yang sangat tinggi itu. Dalam buku-karyanya, Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, Lings menulis, “Wahyu yang kedua kalinya ini dimulai dengan sebuah huruf tunggal. Ini merupakan contoh awal dari beberapa huruf yang mengawali berbagai surah dalam Al-Quran. Huruf itu kemudian diikuti dengan sumpah Tuhan. Allah bersumpah demi pena, yang telah disebutkan dalam wahyu pertama sebagai alat utama Tuhan mengajarkan ilmu-Nya kepada manusia.

“Ketika ditanya tentang pena, Nabi bersabda, ‘Hal pertama yang Allah ciptakan adalah pena. Dia menciptakan lembaran dan berkata kepada pena itu, ‘Tulislah!’ Sang pena menjawab, ‘Apa yang harus kutulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah ilmu-Ku tentang penciptaan-Ku hingga tiba hari kebang­kitan.’ Kemudian sang pena menorehkan apa yang diperintahkan.’ Sumpah demi pena disusul sumpah yang kedua, demi apa yang mereka tulis.

“Di antara yang mereka (malaikat) tulis di langit dengan pena dan lembaran adalah bentuk asli Al-Quran. Disebutkan dalam wahyu-wahyu berikutnya sebagai sebuah bacaan mulia (qur’an) di atas sebuah kertas yang suci (lawh al-mahfuzh) dan sebagai induk dari kitab. Kedua sumpah itu diikuti dengan penegasan Ilahi, Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis. Berkat Nikmat Tuhanmu, kami sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Sebenarnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (QS Al-Qalam [68]: 1-4).”

Tradisi Islam, sejak sangat-sangat awal, tampak sangat menekankan pentingnya penulisan. Dalam sebuah artikelnya yang sangat inspriratif, “Tadwin Al-Hadits”, Rasul Ja‘farian mengisahkan hal itu: Imam Ja‘far Al-Shadiq berkata, “Tulis dan sebarkan ilmumu di antara saudaramu. Jika kamu mati, anak-anakmu akan mewarisi kitab-kitabmu. Kelak, akan tiba suatu masa yang di dalamnya terjadi kekacauan dan orang-orang tak lagi memiliki sahabat yang melindungi dan tak ada penolong kecuali buku-buku.” Imam Ja‘far juga menyatakan, “Peliharalah buku-bukumu karena suatu saat kalian akan membutuhkannya.” Diriwayatkan beliau telah berkata bahwa kekuatan jiwa dan ingatan bergantung pada tulisan.

Abu Basir meriwayatkan bahwa Imam Ja‘far Al-Shadiq berkata kepadanya, “Sejumlah orang yang datang dari Basrah bertanya kepadaku tentang beberapa hadis, lalu menuliskannya. Mengapa Anda tidak menuliskannya juga?” Kemudian beliau menambahkan, “Ketahuilah bahwa Anda tidak akan menjaga hadis tanpa menuliskannya.”

Sejumlah tradisi besar menunjukkan bahwa para Imam mempunyai buku-buku dan tulisan-tulisan yang mereka warisi dari para leluhurnya. Dalam tradisi lain, diriwayatkan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib pernah membuat pernyataan “ikatlah ilmu” (lewat penulisan), yang diulanginya hingga dua kali. Telah diriwayatkan pula dari Jabir bahwa Abu Hurairah memanggil Imam Ja‘far Al-Shadiq dengan “kutubi” (kutu buku) sehubungan dengan kepercayaannya kepada buku-buku, dan Imam bangga dengan julukan itu.

Ketika Taufik Adnan Amal membaca sebuah riwayat yang disampaikan oleh Al-Baladzuri (w. 892) berkaitan dengan berita bahwa pada masa Nabi Saw. hanya terdapat 17 orang lelaki—ditambah segelintir wanita—yang bisa menulis, dia menyangkal. “Pernyataan Al-Baladzuri ini tidak masuk akal,” begitu tulisnya di bukunya, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran, saat membahas pengumpulan pertama mushaf Al-Quran. Taufik kemudian membeberkan bukti-bukti yang menunjang penyangkalannya tersebut. Misalnya, Nabi Saw. sendiri kabarnya memiliki sejumlah sekretaris yang ditugaskan menulis wahyu.

Lebih jauh, kenyataan bahwa orang-orang Makkah, sebagaimana halnya orang Mesir yang sangat menyukai tulis-menulis, telah memanfaatkan berbagai jenis bahan untuk menulis—tentunya merupakan hal yang wajar di kota niaga seperti Makkah—dengan jelas menunjukkan bahwa pengetahuan tentang tulis-menulis dan bahan-bahan untuk menulis telah tersebar dan dikenal cukup luas di kota tersebut. Kemudian, Taufik juga menggali dari Al-Quran sendiri bahwa ada beberapa ayat di dalam Al-Quran yang menyinggung soal tulis-menulis.

“Dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw. (Surah Al-‘Alaq [96]: 1-5),” tulis Taufik, “mungkin bisa ditafsirkan bahwa tulis-menulis di Makkah masih merupakan sesuatu yang asing atau baru dan bersifat supranatural. Tetapi, sejumlah besar bukti tidak langsung dari Al-Quran justru memperlihatkan keakraban orang-orang Makkah ataupun Madinah dengan tulis-menulis ataupun peralatannya. Tamsilan-tamsilan Al-Quran, misalnya, terendam dalam suatu atmosfer niaga, dan menyiratkan penyimpanan catatan-catatan tertulis.

“Contoh lain, hari pengadilan akhirat dikatakan sebagai hari penghisaban, ketika kitab-kitab dibuka, dan ketika setiap orang akan ditunjukkan catatan-catatannya, atau akan diberikan catatannya untuk dibaca; malaikat-malaikat menulis perbuatan manusia, dan segalanya akan dicatat dalam satu kitab. Tamsilan-tamsilan Al-Quran ini—yang mengekspresikan butir-butir doktrinal Islam paling mendasar dalam istilah-istilah perniagaan-teologis dan melibatkan aktivitas tulis-menulis serta penggunaan bahan-bahan untuk menulis—bukanlah sekadar kiasan-kiasan ilustratif.

“Tamsilan-tamsilan semacam itu pasti tidak akan digunakan oleh Al-Quran apabila belum dipahami dan dikenal masyarakat Makkah. Jika butir ini disepakati, dapat disimpulkan bahwa tulis-menulis bukan hal baru, tetapi justru telah cukup dikenal di kalangan penduduk Makkah.”

Demikianlah, dari Kitab lahirlah kemudian pelbagai ragam kitab. Ziauddin Sardar, dalam Tantangan Dunia Islam Abad 21, menulis, ”Tepat seratus tahun setelah datangnya Islam, industri buku maju pesat sedemikian sehingga kaum Muslim menjadi ’ahl al-kitab’ dalam arti sebenar-benarnya; dan membaca, bukan saja Bacaan Mulia (Al-Quran), menjadi salah satu kesibukan utama. Hubungan antara membaca dan Al-Quran adalah penting: ia mempraktikkan gagasan bahwa menuntut ilmu pengetahuan itu merupakan ibadah; bahwa ’ilm dan ibadah merupakan dua sisi dari satu mata uang logam.”[]

 

KEPUSTAKAAN

 

Amal, Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran, Forum Kajian Agama Budaya (FkBA), Yogyakarta, 2001.

Ayub, Mahmud, Qur’an dan Para Penafsirnya I, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1992.

Ja’farian, Rasul, ”Tadwin Al-Hadith: A Historical Study of the Writing and Compilation of Hadith”, dalam jurnal Al-Tawhid, Vo. V, No. 2-4, 1408 H.

Lings, Martin, Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Serambi, Jakarta, Edisi II, 2003.

Pedersen, Johannes, Fajar Intelektualisme Islam: Buku dan Sejarah Penyebaran Informasi di Dunia Arab, Mizan, Bandung, 1996.

Rashid, Khulqi, Al-Quran Bukan Da Vinci’s Code, Hikmah, Jakarta, 2007.

Sardar, Ziauddin, Tantangan Dunia Islam Abad 21: Menjangkau Informasi, Mizan, Bandung, 1988.

Shihab, Muhammad Quraish, ”Membumikan” Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan, Bandung, Cetakan XX, 1999.

______, Menabur Pesan Ilahi: Al-Quran dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, Lentera Hati, Jakarta, 2006.

Thabathaba’i, Muhammad Husein, Mengungkap Rahasia Al-Quran, Mizan, Bandung, Cetakan VII, 1994.

Zanjani, Abu Abdullah, Wawasan Baru Tarikh Al-Quran, Mizan, Bandung, 1986.

 

 

 

Hernowo adalah penulis banyak buku tentang bagaimana menjalankan kegiatan membaca dan menulis (”mengikat makna”) yang memberdayakan; buku-buku bestseller-nya, antara lain, Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Reading, dan Quantum Writing.

 

 

Dimuat di BUKU PANDUAN ”Bandung Islamic Book Fair 2009”