Kategori: Curhat Kawan | Diterbitkan pada: 06-10-2007 |
Diceritakan Kembali Oleh DHIPA GALUH PURBA
Pada bagian pertama diceritakan kedatangan Rina ke rumah kontrakan Aji. Bahkan Rina pun tidak ragu-ragu menceritakan masalah seputar rumah tangganya yang sangat pribadi. Tentu saja hal itu, menjadikan sebuah tanda tanya yang sangat besar bagi Aji. Lalu apa yang akan dilakukan Aji dan Rina selanjutnya? Berikut lanjutan ceritanya untuk seluruh pembaca Galamedia.
*
Kali ini Rina memang seperti yang ragu, untuk menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba matanya memandangku dengan tatapan yang aneh. Matanya seakan ingin menembus ke dalam alam pikiranku. Namun lama-kelamaan akhirnya meluncurlah sebuah ucapan dari bibir merahnya.
“Ji, saya pingin punya keturunan…” begitulah ucapnya. Matanya tak lepas menatapku. Tentu saja aku terkejut. Setelah beberapa saat lamanya Rina menceritakan kesetiaan terhadap suaminya, tiba-tiba Rina mengatakan hal itu. Walau bagaimanapun juga, aku tak percaya kalau Rina benar-benar hanya ingin punya anak. Yang ada dalam pikiranku, Rina tak tahan dengan belenggu sepinya.
“Saya bersumpah, Ji. Saya hanya ingin punya seorang anak.” Tapi Rina tetap bersikeras pada keyakinannya. Bahkan aku pun lambat laun menjadi percaya, ketika Rina mengatakan ‘telah minta ijin’ pada suaminya.
“Lalu suamimu mengijinkan?” aku penasaran.
“Ya. Dia mengijinkannya. Sebab dia pun menginginkan seorang keturunan. Tapi dia mengeluarkan suatu sarat.”
“Apa itu?”
“Anak yang akan kulahirkan nanti, harus keturunan dari satu orang laki-laki. Tidak boleh lebih…” begitulah kata Rina. Dan aku pun mengerti akan arah kata-katanya. Rina menjatuhkan pilihannya kepadaku untuk mengalirkan darah pada keturunannya.
Memang jika aku mau menuruti hawa nafsu, mungkin tidak akan berpikir dua kali. Rina yang sekian lama hanya ada dalam khayalan, saat itu tinggal kupetik dan kuhisap. Tapi didikanku memang agak lain. Aku terlahir dan dibesarkan di kampung terpencil. Sedari kecil, aku sudah digembleng dengan ajaran agama yang cukup kuat. Sehingga ketika dihadapkan pada persoalan Rina, aku tetap berpikir secara matang. Ada suatu perasaan takut dalam diriku. Perkataan para sesepuh Kampung, selalu terngiang dalam telingaku. “Jika melakukan perbuatan zinah dengan seorang wanita yang punya suami, maka hukumannya adalah 40 tahun di dunia dan 40 tahun di akherat.” Kata-kata itulah yang kuingat. “Hidupnya akan sial seumur-umur…” kaliamt itu pun, sempat kudengar dari seorang seniorku di pengajian.
PERNIKAHAN HITAM
“Ya sudah, kalau kamu tidak mau.” Rina terlihat sangat kecewa. Dia segera bangkit, seraya bersiap-siap meninggalkanku. Aku semakin bingung. Di satu sisi, memang aku sangat menginginkan Rina. Tapi di sisi lain, rasa ketakutan itu tak bisa dipupuskan begitu saja. Antara nafsu dan peringatan. Antara kebaikan dan kedholiman. Antara hitam dan putih. Semuanya berbaur dan berperang dalam jiwaku.
Entah bagaimana mulanya. Rina tiba-tiba memelukku, sambil meneteskan air matanya kembali. Rasa iba pun muncul dalam benakku. Tetapi tak dapat kupungkiri, hasrat kelaki-lakianku yang lebih mendominasi. Sebab telah terjadi kontak fisik yang begitu rapat. Mungkin juga Rina sengaja melakukannya. Yang pada akhirnya, aku pun tak bisa bertahan. Kucoba untuk mencari jalan lain, untuk memenuhi hasratku.
Entah darimana aku mendapatkan ide untuk menghadapi Rina. Saat itu, aku cepat-cepat menghempaskan tubuh Rina. Aku tidak mau melakukan perbuatan tercela dengan Rina. Namun aku pun tak mau kehilangan Rina. Hingga pada akhirnya, Aku membawa Rina kepada seorang sesepuh di suatu tempat. Sebut saja namanya H Ali. Di sana aku meminta H Ali untuk men-syahkan pernikahanku dengan Rina secara agama. Aku memang mendustai H Ali, dengan mengatakan Rina seorang janda dan telah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Sehingga H Ali pun, yanpa ragu-ragu lagi memenuhi permohonanku. Namun tak dapat kubayangkan, betapa akan murkanya jika H Ali mengetahui status Rina yang sesungguhnya.
H Ali menyatakan bahwa kami sudah sah menjadi suami-istri, setelah kami memenuhi segala persaratan nikah. Rina terlihat sangat bahagia. Terlebih lagi, ketika menerima mas kawin dariku, sebuah cin-cin yang terbuat dari mas. Walau hanya 2 gram setengah.
RINA PUN MENGANDUNG
Setelah itu, barulah aku berani melakukan hubungan sebagaimana halnya sepasang suami istri. ‘Malam pertama’ kami rayakan di sebuah penginapan sederhana yang terletak di Bandung Timur. Selanjutnya aku dan Rina sering bertemu atau janjian di berbagai tempat rekreasi. Hanya sekali-kalinya Rina tidur di kamar kontrakanku, sebab aku tak mau menimbulkan kecurigaan dari para tetanggaku. Singkat cerita, aku dan Rina telah merengguk kebahagiaan yang sulit dituliskan oleh kata-kata. Semuanya kureguk bersama Rina. Seakan aku merasakan Rina itu hanyalah miliku dan akan kumiliki selama-lamanya.
Bagaikan baru terjaga dari tidur. Mulanya aku berusaha untuk tidak percaya, tapi memang itulah kenyataan. Rina menelponku, dan mengabarkan kalau dirinya telah mengandung. Aku bahagia. Tapi hanya sesaat. Sebab saat itu pula, Rina mengucapkan terimakasih, serta berpamitan kepadaku. Dia tak akan menemuiku lagi. Sungguh suatu pukulan yang sangat berat bagi diriku. Aku belum siap kehilangan Rina. Aku pun begitu merindukan suara tangisan seorang bayi, yang akan terlahir dari rahimnya. Tapi Rina telah pergi. Bahkan dia menghilangkan jejaknya. Entah pindah ke kota mana. Yang pasti, pemilik alamat tempat tinggalnya yang semula, telah berpindah tangan pada orang lain. Seandainya saja aku mempunyai kekuatan hukum, ingin rasanya kuadukan kepergian Rina. Dia telah pergi dengan melarikan anakku. Betapa kejamnya Rina. Tak memberi kesempatan sedikitpun kepadaku, untuk memomong darah dagingku sendiri.
AKU MENIKAH
Satu tahun berlalu, Rina menghilang dari kehidupanku. Ada sebuah kerinduan yang bergejolak dalam jiwaku. Tentu saja, sebagai seorang laki-laki yang pernah merasakan hidup bersama seorang wanita, lama kelamaan sangat wajar jika menginginkan kembali sentuhan lembut seorang istri. Hanya ada satu jalan, yaitu dengan melupakan dan menghapus nama Rina selama-lamanya. Lalu mencari sosok wanita lain, yang akan kujadikan penggantinya.
Perkenalanku dengan seorang gadis Ciamis, merupakan harapan cerah bagi kehidupanku. Rasanya tidak terlalu penting untuk menceritakan perjalanan jalinan asmaraku dengannya. Yang penting, dua bulan setelah pertemuan itu, aku langsung meminangnya. Dia seorang gadis yang lugu. Namanya adalah Ros. Tidak secantik Rina, namun sikapnya yang penuh kasih sayang, mampu meluluhkan hatiku. Aku begitu menyayanginya. Pernikahan pun dilangsungkan dengan sebuah pesta yang cukup meriah. Untuk pertama kalinya aku benar-benar merasakan hidup berumah tangga bersama seorang wanita yang benar-benar kumiliki. *** (bersambung)
Dimuat di Rubrik “Kisah” HU. Galamedia (Tahun 2002)












