Kategori: Curhat Kawan | Diterbitkan pada: 06-10-2007 |
Diceritakan Kembali Oleh DHIPA GALUH PURBA
Bagi Aji, kehadiran Rina tak ubahnya bagai suatu persinggahan. Rina begitu cepat datang, secepat itu pula pergi. Lalu Aji memilih untuk menikah bersama seorang gadis bernama Ros. Seperti yang diceritakan sebelumnya, Aji begitu menyayangi Ros. Namun mampukah Aji menghapus bayangan Rina dan darah dagingnya sendiri? Simak saja petikan cerita selanjutnya.
*
Ros telah menjadi istriku yang baik. Dalam kesehariannya, dia selalu dewasa dalam berpikir dan bersikap. Kasih sayangnya pun begitu tulus, hanya untukku seorang. Tak dapat disangsikan lagi, bahwa aku tidak salah dalam memilih seorang istri. Aku bahagia hidup bersamanya. Ros mau menerimaku apa adanya. Tak pernah sekali pun, Ros menuntut suatu hal yang ada diluar kemampuanku.
Tapi hidup ini selalu saja diwarnai oleh suka dan duka. Setiap kebahagiaan, pasti ada kesedihannya juga. Tak ubahnya dengan roda yang berputar. Kadang di atas. Kadang pula di bawah. Seperti masalah yang menerpa rumah tanggaku dengan Ros. Di satu sisi, kami tidak pernah memperbesar masalah apapun. Jika ada kekurangan, selalu akan saling mengisi. Jika ada kelemahan, pasti akan saling menutupi. Namun tidak termasuk pada masalah yang makin lama, kian menjadi kidung kepahitan bagi kami.
Sudah hampir satu tahun menjalani rumah tangga, kami tak jua mendapat tanda-tanda akan mendapatkan keturunan. Mungkinkah di antara aku dan Ros ada yang mandul? Atau mungkin juga ini suatu hukuman bagi aku, orang yang berlumurkan dosa?
ISTRIKU, TERLALU SUCI UNTUK DISAKITI
Seperti halnya aku, Ros juga begitu mendambakan kehadiran seorang anak. Tapi kami tetap berusaha mencari jalan yang rasional. Tak terlintas sedikit pun dalam benakku, untuk mencari jalan pintas demi mendapatkan seorang anak. Sabar dan sabar, itulah yang membuat aku dan Ros selalu bertahan.
“Mungkin akan lebih baik, jika Kang Aji menikah lagi.” Tiba-tiba Ros berkata seperti itu. Membuat aku begitu terkejut setengah mati. Betapa tidak? Wanita mana yang mau dimadu. Sementara Ros begitu ikhlas merelakan dirinya untuk mendapatkan posisi seperti itu.
Tidak. Aku tak mau melakukan itu. Terlalu kejam, jika aku menikah lagi. Tapi yang jelas, aku semakin tidak tega melakukan hal itu, setelah mendengar ucapannya itu. Mungkin juga Ros mengatakan hal itu, dikarenakan takut aku mendapatkan kekecewaan atas semuanya. Padahal, aku sudah cukup merasa berbahagia untuk bisa hidup seia sekata bersamanya. Aku semakin tahu akan kemuliaan hati istriku. Tak mungkin aku menyia-nyiakannya.
“Kita ambil anak angkat saja, dari panti asuhan.” Ucap istriku lagi. Memang tak dapat kupungkiri, kalau Ros begitu menginginkannya.
“Nah kalau itu, baru akan Papah pikirkan.” Jawabku dengan pasti. Ros pun terlihat sangat gembira.
“Kapan?”
“Nanti ya. Tapi Papah janji, pasti akan secepatnya.” Setelah mendengar perkataanku, Ros terlihat semakin berbunga-bunga. Membuat aku ingin segera melakukan apa yang diminta olehnya. Tapi tentu saja, aku tidak akan terburu-buru.
RINA DATANG KEMBALI
Sebelum aku sempat menginjakan kaki ke sebuah panti asuhan, tiba-tiba aku dikejutkan oleh telepon dari Rina. Kugigit jemariku, untuk memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Tapi memang, Rina tidak datang pada hayalanku. Dia benar-benar hadir dalam realita.
“Saya ingin bertemu dengan anak saya…” itulah kata-kataku yang pertama dilontarkan pada Rina.
“Bukan anakmu, tapi anak kita.” Jawab Rina, dengan gaya bicaranya yang sangat khas.
“Iya. Sama saja.” Aku tak mau menanggapi leluconnya.
“Saya ditunggu di sini…” Rina pun seperti yang mengerti akan keadaanku. Dia langsung menyuruhku datang ke sebuah hotel. Tentu saja, aku tidak membuang waktu lagi. Saat itu pun, aku langsung menuju Rina. Hatiku sudah diliputi oleh berbagai perasaan yang penuh kebahagiaan.
Tidak terlalu sulit untuk menemukan kamar Rina, sebab Rina pun telah memberitahukan nomornya. Tapi yang membuatku kecewa, ternyata Rina hanya sendirian di dalam kamarnya. Tak kutemui sosok seorang anak yang begitu kurindukan.
“Kamu membohongi saya…” untuk pertama kalinya, aku marah kepada Rina.
“Sabarlah. Suatu saat, dia akan kupertemukan pada ayahnya. Kamu harus mengerti, sebab posisi kita sangat sulit.” Rina berkata dengan tenang. Belaian tangannya, mampu membuat amarahku mereda. Hatiku lulujh. Tak dapat kupungkiri, bahwa memang aku juga sangat mencintai Rina.
“Lalu apa maksudmu memanggil saya kemari?”
“Saya rindu…”
“Tidak! Yang membuat sayadatang kemari, bukan masalah ini. Saya hanya ingin bertemu dengan anak saya, dan menjalankan kewajiban saya sebagai seorang ayahnya.” Aku berusaha meredam hasrat yang mulai bergejolak.
“Benar. Memang begitulah seharusnya. Seperti halnya kewajibanmu pada istrimu…”
“Istri?” aku tertegun.
“Ya, saya kan masih istrimu? Saya belum merasa diceraikan sama kamu.” ucap Rina dengan tegas. Dia memang pintar. Sehingga aku pun tak mampu berkata apa-apa lagi. Aku hanya diam, tatkala tangannya mulai memapahku ke dalam pelukannya. Antara benci, rindu, cinta, perasaan berdosa, semuanya berkecamuk lagi dalam jiwaku. Namun walau bagaimanapun, aku tak mampu menolak sentuhan Rina. Dia begitu istimewa bagiku. Sehingga aku pun mulai mendapat keyakinan, bahwa memang benar Rina itu masih istriku.
Ros, istriku yang begitu suci, akhirnya telah kuhianati. Walau dengan alasan apapun, aku tetap berdosa. Tapi memang aku memiliki setitik harapan pada Rina. Telah kutanam benih kedua dalam tubuh Rina. Entah bisa dipercaya atau tidak, Rina berjanji untuk memberikan anakku, jika nanti telah lahir ke dunia ini. Tapi apakah mungkin semua itu bisa terwujud? Sementara untuk menemui anak pertamaku saja, begitu sulit rasanya.
“Ros, tunggu yah, satu tahun lagi…” hanya itu yang kukatakan pada Ros. Aku terpaksa tidak berterus terang. Yang penting, aku sudah bertekad untuk mengambil anakku pada saatnya nanti. Ros tersenyum sambil menatapku dalam-dalam. Ada pancaran kedamaian dalam pancaran matanya. Kutemukan sebuah telaga keteduhan, dalam kehalusan sikapnya. *** (tamat)
Dimuat di Rubrik “Kisah” HU. Galamedia (Tahun 2002)












