Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 03-10-2007 |

Oleh RANI NURCITA WIDYA

Gadis kecil yang duduk di depanku sibuk

mengerjakan tugas sekolahnya

Aku hanya bisa berlindung di bawah selembar selimut,

sedang di luar sana hanya menyisakan suara hujan.

Terlintas bayang-Mu, selalu mengikutiku kemana pun aku pergi.

Aku tambah memikirkan-Mu, makin mencintai-Mu, andai saja aku mengenal-Mu lebih awal, tentu aku lebih awal menyayangi-Mu.

Aku merasa tenang bila sedang dekat dengan-Mu.

Rasanya aku ingin membuat diriku sesempurna mungkin agar dapat dicintai-Mu. Aku yakin badai, petir, bintang, bulan akan membungkuk di hadapan-Mu,

apalagi aku yang butuh cinta-Mu, aku akan lebih

membungkuk.

Bagaimana bisa aku sedetik saja melupakan-Mu,

sedangkan Kau cinta abadiku.

Kau ajarkan padaku bagaimana caranya kuarungi tiap desah nafasku ini.

Sungguh aku akan takut luar biasa bila

ditinggalkan-Mu.

Bagai seorang bayi di atas sampan, di tengah-tengah samudera.

Aku bercermin pada dalamnya laut.

Masih tetap pada wajahku yang dulu yang kehausan akan kasih-Mu.

Hei! ada beribu-ribu sampan mendekatiku.

Mereka semua ingin menolongku, mereka merayuku dengan sejuta kesenangan, tetapi aku tak mau, aku hanya ingin dengan-Mu.

Dari timur sayup-sayup bayang-bayang sebuah awak kapal yang diselimuti cahaya.

Inikah utusan-Mu?

Tanpa ditawaripun aku sendiri yang

akan memberhentikannya.

Aku akan ikut dengannya.

Hima Bahasa Inggris UPI, 29 Januari 2003

Dimuat di Majalah Seni Budaya No. 140, Juni 2003