Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 06-12-2007 |

agus-bebengKONON menurut beberapa orang kawan sealmamaternya di STIKOM Bandung, Agus Bebeng adalah atlit Boxer. Badannya kuat. Ia pernah menggelar demontrasi kekuatan dengan cara digebukin oleh kawan-kawannya dalam acara Ospek di kampus STIKOM, Jl. Lodaya, Bandung. Tapi entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba Agus berbelok untuk terjun dan menekuni sastra Sunda.
Ia mulai menulis di Majalah Mangle, Galura, Cupumanik, dan majalah Sunda lainnya. Sampai akhirnya saya pun berkenalan dengan Agus. Saya memanggilnya Bebeng. Dari perkenalan pertama di Majalah Mangle, lambat-laun hubungan saya dengan Bebeng semakin akrab, dan jadilah ia seorang sahabat yang setia.
Selain rajin berporoses menjadi penulis, Bebeng pun punya hobi memotret. Bahkan bidang fotografi nampaknya lebih harmonis dengan kehidupan Bebeng. Foto-fotonya bagus. Ia sangat serius mendalami fotografi. Sampai akhirnya kini Bebeng lebih dikenal sebagai fotograper daripada pengarang Sunda. Ia lebih banyak memotret daripada mengarang. Meski begitu, Bebeng tidak meninggalkan dunia mengarang begitu saja. Bebeng tetap menulis. Tapi untuk waktu ini, kuantitas tulisannya memang menurun. Tidak apa-apa, karena kuantitas dan kualitas foto-fotonya semakin menjanjikan. Bebeng mau menjadi apapun, tetap akan menjadi sahabat saya.
Foto yang ditampilkan di sini diambil di lokasi Situ Lengkong Panjalu. Bebeng (sebelah kiri) sehari-harinya memang selalu berpenampilan yang super cuek. Bahkan belakangan ini, ke mana pun ia pergi, pasti selalu mengenakan pakaian adat Sunda, lengkap dengan iket-nya.
Kelebihan lain yang dimiliki Bebeng adalah kemampuannya dalam menggaet wanita. Entahlah, mungkin ia punya strategi yang bagus atau memiliki semacam jangjawokan untuk menaklukan kaum hawa. Beberapa waktu yang lalu, saya menyaksikan seorang WNA dari Prancis yang tergila-gila kepada Bebeng. Tapi hanya dalam waktu singkat, gadis Prancis itu harus kembali ke negaranya. Sejak itu, saya sering melihat Bebeng keluar-masuk warnet. Beberapa bulan kemudian, Bebeng sudah punya lagi gandengan yang baru. Waktu jalan-jalan ke Situ Panjalu pun, Bebeng ditemani gandengannya. Saya tidak terlalu banyak bertanya masalah itu, hanya mengandalkan laporan pandangan mata dan pendengaran telinga, tanpa campur mulut.

agus-dhipa

Di masa yang akan datang, saya meramalkan (sekaligus mendo’akan) Agus Bebeng akan menjadi seorang fotograper terbaik. Dadan Sutisna akan menjadi web master ternama. Miftahul Malik akan menjadi Pemimpin Redaksi Galura. Pandu Radea akan menjadi peneliti yang teliti. Gustom akan menjadi sutradara terkenal. Wawan Hermawan akan menjadi pengusaha matrial yang sukses. Jamaliyah akan menjadi psikolog yang bijak. Atep Kurnia akan menjadi kritikus yang cerdas. Lugina Dea akan menjadi pengarang Sunda ternama.DHIPA GALUH PURBA