Kategori: Suatu Hari | Diterbitkan pada: 17-04-2009 |

Catatan PIPIET SENJA
Ikhsan cerita: “Datang lebih cepat sebelum pentas dimulai memang bagus, agar sempat istirahat dulu sebelum pentas. Tapi kalau terlalu cepat bisa repot juga. Pernah SNADA tiba di lokasi acara ketika penyelenggaranya belum hadir. Baru saja selonjoran, tiba-tiba muncul seorang ikhwan, gak tahu kalau yang lagi selonjoran itu SNADA, pengisi acaranya.”
Katanya dengan kesal, “Jangan enak-enakan selonjoran dong. Tolongin kita nih masang spanduk dan umbul-umbul. Biar cepat kelar!”
“Anak-anak SNADA beberapa saat saling pandang, tapi kemudian rame-rame membantu masang tuh spanduk, umbul-umbul dan hiasan lainnya. Sampai akhirnya panitia penghubung datang dan meminta maaf.”
“Ah, gak papa, biar sama-sama lancar…” ujar Ikhsan kalem sekali.
Peace… Man!
Ewink berkisah: “Waktu itu SNADA diminta ngisi acara di
“Ternyata pintu masuk bandara diblokir oleh serombongan pengunjuk rasa. Mereka tampak sangar dengan membawa pentungan dan golok segala. Tidak ada sebuah kendaraan atau seorang pun yang diizinkan masuk. Wah gimana nih? Acara di Palembang tak mungkin ditunda atau dibatalkan…”
“Anak-anak SNADA yang waktu itu memakai seragam koko dan peci haji, sepakat untuk tetap masuk. Dengan deg-degan, mengangkat tas masing-masing, turun dari mobil sambil berdoa…
“Lahaola… kita jalan kaki menuju gerbang yang diblokir, pelan dan tenang tapi sambil degdegan…”
Tiba-tiba, seorang lelaki bertampang sangar berteriak lantang sekali; “Stooop! Dilarang masuuuk!”
“Aduuuh, galak amiiing!”
Teddy maju dan bilang dengan gayanya yang sok gaul itu: “Dialog ya, fren, peace man, peace…”
“Apaan, fran-fren, pas-pis segala? Sok akrab loe!” sergahnya makin galak bin sangar, bikin hati Teddy mengkerut.
Giliran Lukman yang maju: “Assalamu’alikum, sodara-sodara yang dirahmati Allah. Mohon maaf, rombongan kami ini ada tugas dakwah keluar
Tanpa banyak pikir lagi orang yang tampangnya paling sangar itu, langsung menyahut; “Wa alaikumsalam…”
Kemudian ia berseru lantang kepada rekan-rekannya: “Woooi… Kasih jalan buat Pak Haji!”
“Kok lancar amat, ya, hebat nih Lukman,” gumam Teddy cengo abiz.
“Jadi tanpa banyak tanya lagi, kami diberi jalan bahkan dikawal masuk. Meskipun jalan sambil lirik kanan-kiri, khawatir kalau ada yang iseng mentung kepala. Kalau ada seorang saja yang mulai, bakalan bonyok deh!”
Terlalu Percaya
Iqbal yang berkisah: “Memang sesuatu yang serba terlalu ada sisi negatifnya. Setelah negosiasi via telepon, pada hari yang ditentukan berangkatlah SNADA ke lokasi pertunjukan di luar
“Seorang panitia, mungkin seksi acaranya, mendatangi SNADA dan bertanya, Mas, dari mana nih?”
“SNADA menjelaskan bahwa mereka diundang untuk mengisi acara…”
“Sang panitia memeriksa daftar acara di tangannya; maaf Mas, acara sudah penuh. Kalau mau ikut, lain kali aja, ya!”
“Selidik punya selidik, ternyata seorang anggota panitia, saking antusiasnya telah menghubungi SNADA, dan memastikan untuk mengisi acara tanpa berkonsultasi dulu dengan panitia induk…”
“Kami balik deh tanpa manggung, mo gimana lagi?”
Dikerubuti Fans Lain
Teddy yang bertutur: “SNADA sudah siap di atas pentas. Acara berlangsung malam hari. Undangan dan penonton sudah berkumpul di depan panggung. Di belakang panggung, di bawah siraman cahaya rembulan yang keperakan terhampar indah sawah yang sebagian baru dipanen. Saat lampu panggung dinyalakan, SNADA langsung dikerubuti fans dari dunia lain yakni; wereng, belalang, dan serangga malam yang beterbangan dari sawah…”
“Waaaa!”
“Rupanya mereka tertarik dengan cahaya lampu panggung yang terang benderang. SNADA menyanyi sambil menangkis serangan itu. Untung gak ada yang tersedot ke tenggorokan. Panitia gak kehabisan akal. Panggung dibikin gelap, dan lampu di tempat penonton yang dibuat terang. Kini giliran penonton yang heboh oleh serangan udara itu…”
“Aaarrrrggghhh!” ***







