Kategori: VCD Pop Sunda | Diterbitkan pada: 16-12-2007 |

KONON lagu pop Sunda seperti apapun akan menjadi enak jika dinyanyikan oleh Detty Kurnia. Anggapan seperti itu rasanya tidak terlalu berlebihan. Masyarakat pecinta lagu pop Sunda sudah sangat akrab dengan suara emas Detty Kurnia. Dengan demikian secara otomtis nama Detty Kurnia pun dekat di hati masyarakat penikmat lagu pop Sunda. Menurut pengamatan subyektif saya, salah satu kelebihan Detty Kurnia adalah cara penghayatannya terhadap lagu. Detty berhasil dalam menjiwai lagu. Bukan hanya apal cangkem (hapal di luar kepala) pada lagu yang dibawakannya, tetapi ia pun sangat mengerti dan memahami isi lagu yang dibawakannya. Jika Detty membawakan lagu yang bertema sedih, para pendengar akan dipaksa untuk turut terbawa dalam suasana kesedihan. Begitupun sebaliknya, jika Detty membawakan sebuah lagu bertema kebahagiaan.
Dalam VCD album “Cimata Kembang” produksi PT. Valentino Jaya Abadi, Detty Kurnia melantunkan sepuluh judul lagu. Di antaranya “Cimata Kembang” (Ciptaan Oon. B), “Si Kasep” (Ciptaan Detty Kurnia & Yamang), “Ka Angin” (Ciptaan Detty Kurnia & Kirosa), “Kembang Buruan” (Ciptaan Ajang. A), “Bulu” (Ciptaan Yamang), “Dilak Rindat” (Ciptaan Detty Kurnia & Ki Rosa), “Karembong Beureum” (Ciptaan Endang Ogut), “Enjing Deui” (Ciptaan Kubarsah), “1 2 3” (Ciptaan R. Irawan Thea), dan “Panceg” (Ciptaan Oon. B).
Penggarapan musik dalam album ini digarap oleh Edy Lamos dan Agus Little, didukung pula oleh Yano sebagai juru kendang, A. Ahmad dan Yano sebagai juru suling, serta dikerjakan di studio LDR Digital Recording. VCD “Cimata Kembang” telah dinyatakan lulus sensor, dengan nomor: 2528/VCD/R/PA/08.2012/2007.
Setelah menyimak semua lagu-lagu dalam VCD ini, umumnya enak untuk diresapi dan bisa menjadi teman panglipur kalbu pangbeberah manah. Tayangannya pun pantas untuk ditonton. Kita akan menyaksikan bagaimana ekting mempesona Detty Kurnia dalam membawakan sebuah lagu.
Meski judul albumnya “Cimata Kembang”, menurut pengamatan subyektif saya, lagu yang lebih berkualitas justru berjudul “Ka Angin”. Saya mengafresiasi lagu hanya berdasarkan enak atau tidaknya untuk dihayati, ditambah dengan pertimbangan rumpaka (sya’ir). Dalam lagu “Ka Angin” rumpakanya lebih puitis dan banyak mengandung metafor. Ini adalah sebuah kemajuan dalam percaturan lagu pop Sunda, dimana sya’ir sebuah lagu tidak tampak terlalu vulgar—seperti juga yang saya temukan dalam sya’ir “Dadali Manting” yang dilantunkan Darso, “Layung Galunggung” yang dilantunkan Rika Rafika, “Sarebu Bentang” yang dilantunkan Lia Refani. Dengan begitu, daya afresiasi masyarakat pun tentu akan meningkat.
Mari kita baca rumpaka lagu “Ka Angin”:
Ka anjeun angin
Sok hayang ngage(u)ri ceurik
Hayang nyarande
Ditangkeup kadeudeuh
Ngadon seuri
Anu nyeuleukeuteuk ngeunah
Hayang ngahiji
Jeung anjeun tumaninah
Rek milu hiber
Rek milu kabur
Ka nu jauh, nyingkah
Sare di gigireun anjeun
Tibra
Lepas re(re)ged dunya
Sirna
Ka angin arek ngadon ceurik
Ka angin arek ngadon seuri
Jeung angin hayang bareng sare
Nyarande, nyangsaya, cape, ah
Jika diterjamahkan ke dalam bahasa
Kepadamu angin
Selalu ingin menangis
Ingin bersandar
Dipeluk kasih sayang
Untuk tertawa
Yang renyah terasa nikmat
Ingin menyatu
Denganmu tentram
Mau ikut terbang
Sambil menangis tersedu-sedu
Mau turut pergi
Ke tempat jauh, menghindar
Tidur di sisimu
nyenyak
Terlepas belenggu duniawi
Sirna
Kepada angin ingin menangis
Kepada angin mau tertawa
Dengan angin ingin tidur bersama
bersandar, terkapar, lelah, ah
Saya terlalu tergesa-gesa menerjemahkannya. Jadi, kalau nanti saya menemukan kata-kata yang lebih tepat, pasti akan saya ubah lagi. Tidak mudah menerjemahkan bahasa Sunda. Seperti kata “seuri” saja ada berbagai jenis. “Seuri nyeuleukeuteuk”, “Seuri ngagakgak”, “seuri koneng”, “seuri leutik”, dsb. Untuk menerjemahkan “seuri koneng”, tidak mungkin dengan “tertawa kuning”. Begitupun “seuri nyeuleukeuteuk” seperti dalam lagu di atas, membuat saya bingung mencari padananannya. Yaaa… betapa kayanya bahasa Sunda.
Saya pikir, rumpaka “Ka Angin” merupakan sebuah lagu yang tragis. Bukan kesedihan biasa yang tergambar di
Sebagai catatan, saya benar-benar terhenyak sesaat ketika membaca “ingin terbang”. Sebab tadi pagi saya baru saja membuka-buka buku paririmbon Jawa. Sekilas saya membaca arti dibalik mimpi terbang.
Ya, sekali lagi, rumpaka “Ka Angin” memiliki rumpaka yang lebih berkualitas dibanding sembilan judul lagu yang lainnya. Tapi tentu setiap orang akan memiliki pandangan masing-masing pada 10 lagu Detty Kurnia ini. Jadi, yang lebih tepat adalah: MARI KITA BELI VCD-NYA dan kita simak bersama-sama, selanjutnya dipersilahkan untuk berdiskusi di sini.***
DHIPA GALUH PURBA
**
Kepada para pecinta lagu Pop Sunda yang berminat untuk membeli VCD “Cimata Kembang”, silahkan membeli di toko-toko VCD kesayangan. Jika ingin lebih mudah, bisa pesan di situs ini. Silahkan transper Rp 20.000,- (untuk satu keping VCD) ditambah ongkos kirim Rp 10.000,-, ke:
Rekening BCA. No: 2830376812
Atas nama: M. Sudama Dipawikarta
Setelah mentransper, segera informasikan melalui telepon/SMS ke: 081809992699 atau via e-mail: senisunda@yahoo.com. Jangan lupa menyertakan alamat yang selengkap-lengkapnya. Pesanan akan dikirim secepatnya melalui TIKI.
Keuntungan dari penjualan VCD melalui web ini, akan digunakeun untuk membiayai keberlangsungan www.galuh-purba.com, guna menuju website terlengkap mengenai seni- budaya Sunda khususnya, dan seni budaya bangsa umumnya.
MARI KITA HARGAI HASIL KARYA PARA SENIMAN POP SUNDA DENGAN CARA: TIDAK MEMBELI VCD BAJAKAN













Terus ciptakan karya orang sunda semoga sukses selalu
Amiiiiiiiiin
DHIPA GALUH PURBA
selamat yaa semoga sukses
Ya, semoga lebih sukses. Detty Kurnia memang hebaaat…
DHIPA GALUH PURBA
serasa di iris hati ini membaca kalimat-kalimat dalam syair lagu “ka angin”
Saya sejak SMP di Bali jadi sudah 34 tahun di Bali namun kebanggaan akan kesundaan tetap melekat di hati saya dan lagu-lagu sunda membuat saya kangen akan daerah kelahiran saya.
Kalau begitu, sempatkanlah untuk sekali-kali berkunjung ke tanah kelahiran untuk melepas rindu…
DHIPA GALUH PURBA
agus little temen saya tuh